FF “You’re My Precious” [Chapter 2]

part 02

Title : You’re My Precious [Chapter 2]

Author : Sabriena2Dgirl

Cast :

  • Kang Rae Yoo
  • Kim Hyun Joong (SS501)
  • Lee Jaejin (FT Island)
  • Mir (Bang Cheol Yong) (MBLAQ)

*will add another cast in next chapter*

Genre : School life, Angst, Romance

Rating : PG-13

PS :  Happy Reading ^^

***

– Kang Rae Yoo’s POV –

@ Waiting Room of KBS Office

Entah beberapa kali aku terkejut, ada seorang artis lagi!! Orang yang kulihat ini akan debut beberapa hari lagi dengan MBLAQ, yang ada dihadapanku sekarang adalah member MBLAQ! Aku memang sempat melihat mereka sekilas di televisi dan salah satu member yang paling menarik menurutku adalah orang yang ada dihadapanku ini!

“yeppeota!!” serunya saat aku dan Jaejin oppa menghampiri mendekatinya.

“yaa! Kau tidak boleh seperti itu kepada orang yang belum kau kenal!” Jaejin oppa memperingatkannya.

“jwesonghamnida nuna.” Ucapnya sambil membungkuk di hadapanku.

Gila! Aku masih kecil seperti ini, kenapa aku dipanggil nuna?! Apakah wajahku seperti seorang nuna? Aiiisshh jinjja!

“Chul Yong-ah! Agassi ini masih terlihat sangat muda! Bagaimana bisa kau memanggilnya nuna?!” Jaejin oppa masih mengomelinya.

“jeongmal jwesonghamnida.” Sekali lagi ia membungkukkan badannya kepadaku.

Aigoo! Orang ini benar-benar aneh! Aku pikir sifatnya sama seperti Hongki oppa, apalagi wajah mereka mirip sekali! Ternyata sifat mereka sedikit berbeda. Tapi menurutku, Mir oppa orang yang sangat lebih gila dibandingkan dengan Hongki oppa.

“chonun Bang Chul Yong imnida. Temannya Lee Jaejin. MBLAQ Mir maknae imnida!” Mir oppa memperkenalkan dirinya dengan kesombongannya.

“ara.. araa …aku sudah liat di televisi.” Kataku seperti menyepelekannya.

“hahaa. Ohh iya, nuna,, eeh maksudku Agassi, namamu siapa?” ahh aku benar-benar dibuatnya kesal, arrghh!

“Kang Rae Yoo imnida, kelahiran 95, bangapseumnida.” Aku membungkukkan badanku.

“omoo, kau sangat muda! Lebih baik kau jadi adikku saja!” ia malah mencubit pipiku, Jaejin oppa langsung menepis tangannya, ahh untunglah pipiku selamat.

“yaaa! Kelakuanmu tidak baik pada seorang gadis kecil!” bentak Jaejin oppa pada Mir oppa.

“sudahlah oppa, gwaencanha. Hmm, aku harus pulang sekarang, hari sudah mulai gelap.” aku memutuskan untuk pulang karena aku tidak harus berlama-lama ditempat itu.

“maukah aku antarkan sampai kerumahmu?” tawar Mir oppa, aku mau saja. Tetapi aku merasa sedikit tersinggung dengan sifatnya.

“heii, ia orang yang baru kukenal! Aku saja belum pernah mengantarnya pulang sekalipun.” Jaejin oppa mendengus kesal.

“kamsahamnida. Oppadeul, lain kali akan kuizinkan kalian datang ke rumahku. Annyeong!” pamitku pada mereka berdua.

Aku tak tahu harus berpikir apa tentang Mir oppa, dia orang yang sangat humoris! Sampai-sampai aku dibuat kesal olehnya! Tapi ia tampak seperti tipe orang yang sangat ceria, mungkin ia akan menjadi atmosfernya MBLAQ.

***

– Lee Jaejin’s POV –

Jam 8 malam, kini aku mengirim pesan pada Rae Yoo. Jika aku merindukannya, aku akan mengirimnya pesan dan ia membalasnya, berkali-kali seperti itu. Karena ia pernah mengatakan bahwa mulutnya akan kaku jika berbicara lewat ponsel untuk waktu yang lama. Ia bisa berbicara banyak jika bertatap muka langsung dengan orang yang menjadi lawan bicaranya. Sejauh aku mengenalnya, menurutku ia gadis yang tidak banyak bicara, kalau aku harus jujur, ia tidak pandai berbicara banyak. Kadang pembicaraannya akan kaku juga jika di suasana yang biasa-biasa saja. Ia pembuat kondisi canggung. Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri, mengapa aku bisa menyukainya? Cinta pada pandangan pertama menghantuiku.

Balasan pesannya saat ini membuatku khawatir terhadapnya. Ia mengatakan ingin lebih lama di kelilingi kasih sayang oleh kedua orang tuanya, namun mereka lebih memilih kepentingan pekerjaan dibandingkan anaknya, air matanya selalu terbuang sia-sia tak berati. Aigoo, kasian sekali dia. Seharusnya di umurnya saat ini harus mendapat perhatian lebih dari orang tuanya. Di rumah sebesar itu hanya dirinya dan beberapa pengawal dan pengurus rumah yang menemaninya. Lantas saja ia merasa kesepian, lalu teman-temannya? Ia tidak pernah bercerita tentang teman dan sahabatnya, tetapi ia pernah mengatakan ada beberapa teman-temannya yang baik terhadapnya, dan dia menganggap mereka hanya merasa kasihan terhadap dirinya.

Mengingat semua tentang dirinya, aku memutuskan untuk menemuinya sekarang juga, lagipula ia pernah memberikan alamat rumahnya, jadi aku bisa kesana. Ahh iya, aku baru teringat, besok pagi aku akan berangkat ke Jepang. Sebenarnya hari ini sangat melelahkan, menguras pikiranku mengarang lirik, mengcomposed lagu, menghafal atau lebih tepatnya mengingat lirik lagu dan kunci-kunci pada permainan bassku. Sangat lelah? Benar. Tapi sekarang aku tidak merasakannya, padahal kami menyelesaikan pekerjaan hari ini lebih cepat, dan kami di beri waktu banyak untuk beristirahat. Aku menyambar jaketku dan berlangkah menuju pintu dorm, kudengar teriakan hyung manajer melarangku pergi, aku mengacuhkannya saja, toh, aku tidak akan berlama-lama disana.

Tidak berapa lama kemudian aku tiba di rumahnya, kuakui aku sudah gila mendatangi rumah seorang gadis di malam hari, biasanya aku tidak pernah seperti ini sebelumnya kepada mantan kekasihku dulu.

“nuguseyo?” tanya seorang dari intercom, ku yakini seorang pengurus rumah ini.

“aku Lee Jaejin. Aku ingin bertemu dengan Kang Rae Yoo.” Jawabku tidak sabar.

“kau boleh masuk.”

Aku menuju ke ruang tengah yang ditunjukkan oleh pembantunya, Rae Yoo berada di sana sedang duduk di lantai memeluk kakinya dan menyandarkan tubuhnya di sofa, hanya menatap kosong pada TV yang menyala. Aku harus menghiburnya di kala sedihnya.

“annyeong!” ucapku sambil menyunggingkan senyumku, dan ia mendongakkan kepalanya, mata bulatnya kaget saat melihatku. Aku mendekatinya dan duduk di sampingnya. “aigoo.. cengeng sekali dongsaengku ini. Semakin jelek saja kau menangis seperti itu. Lihatlah matamu sudah bengkak seperti bola kaki.” candaku disela-sela omelanku sambil mengusap air matanya yang tersisa di wajahnya. Kulihat dia tersenyum kecil malu-malu dan pipinya memerah, namun matanya tidak berani melihatku. Lucu sekali melihatnya dengan ekspresi tersebut.

“aku sudah disini, jangan menangis lagi, aratji?” kataku sambil merangkul pundaknya dan mendekatkannya ke tubuhku. Aku bisa merasakan ia bergidik kaget karena perlakuanku. Lalu aku memindahkan tanganku memegangi kepalanya agar ia menyandarkan kepalanya di pundakku, dan aku mengusap rambutnya untuk memberikannya ketenangan.

“Gomawo, oppa.” Ucapnya lirih.

Kang Rae Yoo, aku akan menjagamu, semampuku. Aku akan berusaha agar kau bahagia.

***

Kang Rae Yoo’s POV

Di kelas 3, beberapa perubahan telah kurasakan. Karena SS501-lah yang membuatku lebih semangat. Aku selalu menghabiskan waktu luangku bersama mereka. Mendukung mereka saat akan comeback, dan ternyata comeback SS501 malah ditunda, karena Hyun Joong oppa mengalami kecelakaan. Aku takut sekali saat melihatnya terbaring dengan luka-luka ditubuhnya, aku sungguh takut kehilangannya. Syukurlah ia cepat sembuh, namun saat Dream Concert, ia memaksakan diri untuk tetap tampil, dengan alasan karena ia sudah memiliki banyak janji untuk fansnya. Betapa mulia hatinya, aku tidak salah mengaguminya.

Pada bulan Juni, kontrak SS501 telah berakhir. Namun mereka tidak bubar, mereka hanya menjalankan aktifitas solo untuk sementara. Walaupun mereka terpisah, aku selalu mengunjungi mereka satu-persatu jika mereka tidak terlalu sibuk. Di sela-sela kesibukan, Hyun Joong oppa menyempatkan dirinya untuk bertemu denganku. Ia mengaku bahwa perhatianku sungguh banyak untukknya, jadi dia ingin membalasnya. Aku sungguh merasakan kasih sayangnya untukku. Ia sekaligus sebagai pengobat rasa kesepianku. Aku benar-benar nyaman didekatnya.

Ada seorang lagi yang memberikan pengaruh besar terhadapku adalah Jaejin oppa, diam-diam aku menyukainya. namun aku tidak berani membicarakan hal ini padanya. Ahh, hanya perasaan suka saja, aku sungguh berlebihan!

Sejak aku mengenal Mir oppa, ia juga menjadi dorongan hidupku. Ia sering memberikan keceriaan yang tak terduga. Ia memang orang yang periang. Di balik itu, ia memiliki masa kelam karena kekasihnya dahulu, hingga ayahnya sangat keras terhadapnya. Itu sudah menjadi masa lalunya, sekarang ayahnya sudah bangga dengannya karena Mir oppa sudah menjadi orang yang sukses.

Benar, hidupku di kelilingi orang-orang yang terkenal di Korea. Mulai sekarang aku harus waspada dengan appa, ia akan menjadikanku seorang artis jika aku banyak mengenal artis-artis di sini.

***

Februari 2011 …

“oppa!! Aku lulus!” aku berlari kearah seorang lelaki tampan yang sedang berdiri disamping mobilnya.

“chukae!” ia langsung memelukku erat, membuatku sungguh tak percaya. “ayo masuk ke mobilku!” ia membuka pintu mobilnya dan mempersilahkanku masuk.

“Hyun Joong oppa~ kita mau kemana?” tanyaku penasaran.

“temani aku memancing.” Jawabnya lembut masih terfokus dengan setir dan pandangannya kedepan.

“aiishh jjinja..” gerutuku pelan.

“apakah kau tidak mau?”

Sejujurnya aku memang tidak mau, ini untuk yang ke3 kalinya aku menemaninya memancing. Tetapi hari ini rasanya aku tidak ingin melakukan itu, seharusnya aku ditraktir makan olehnya untuk merayakan hari kelulusanku. Aku heran, padahal tidak ada yang menarik dari memancing. Hanya menunggu mendapatkan ikan, setelah mendapatkan ikan, apakah mendapatkan kebahagiaan? Apakah ada kepuasan tersendiri? Aku tak pernah merasakan seperti itu. Aku mau menemaninya memancing karena bertemu Hyun Joong oppa adalah kesempatan emas. Aku tidak bisa sering bertemu dengannya, karena profesinya. Bukan aku saja fansnya, masih banyak juga fansnya diluar sana.

“baiklah oppa. Aku mau menemanimu.” Jawabku pasrah.

“gomawo.” Ia mengacak-acak rambutku dengan sebelah tangannya sambil tersenyum.

Tempat ini sangat sepi, hanya ada kami berdua. Danau yang sering kami singgahi untuk memancing. Walaupun bagiku memancing itu sangat membosankan, tetapi karena keindahan danau ini, aku tidak terlalu merasa bosan, ditambah lagi memancing bersama Hyun Joong oppa, aaahhh tampannya oppaku! Orang lain tak akan bisa merasakan keberuntunganku seperti ini!

Langit sore disini begitu indah, Hyun Joong oppa pandai memilih tempat yang bagus. Ini hanya danau biasa, namun memiliki banyak ikan di dalamnya, lantas saja Hyun Joong oppa senang berkunjung kesini.

“oppa, aku bosan. Kita pulang saja yuk.” Pintaku karena hari mulai menjelang malam.

“ahh kita baru 2 jam disini. Tunggu 1 jam lagi.” Katanya yang tidak menggubris permintaanku.

Aku benar-benar kesal! Ini hari spesialku! Kenapa dirayakan dengan kebosanan seperti ini? Hyun Joong oppa terlalu fokus dengan pancingannya, sehingga kami tidak ada yang mengeluarkan kata-kata sedikitpun. Seharusnya ia mengerti, seharusnya ia mengajakku bertemu dengan SS501 dan merayakan hari kelulusanku. Ia malah mengajakku ketempat sunyi senyap, lama-lama perasaanku menjadi agak buruk. Aku takut!

“yaa, wajahmu kenapa murung seperti itu?” ia memecah pikiranku  yang kacau.

“aniyaa.. gwaencanha.” Aku tersenyum paksa ke arahnya, dan aku kembali menatap air danau yang tenang.

Entah mengapa, Hyun Joong oppa tiba-tiba memelukku.

“waeyo oppa?” tanyaku heran dengan sikapnya.

“hatiku hancur!”

“karena?”

“cintaku ditolak dengan seorang yeoja idamanku!”

“oppa….. mengapa tidak kau katakan lebih awal masalahmu itu? Masa’ aku harus ikut meratapi kesedihanmu? Aku ‘kan baru lulus, seharusnya aku merayakannya.” Komentarku jengkel padanya.

“ayolah, tunggu sebentar lagi. Tunggu sakit hatiku reda. Hatiku akan sembuh jika kau ada di sampingku.” Hyun Joong oppa melengos memeluk lenganku manja, arghh, membuatku geram saja!

“kalau tahu begini, aku akan merayakannya dengan Jaejin oppa, pasti akan seru.”

“Lee Jaejin? Memangnya dia siapamu? Kau lebih dekat denganku daripada dia!” sungutnya kesal.

“ia, namjachingu.” Jawabku malu-malu.

“MWO?! Kalian tidak cocok bersanding.” Protesnya tajam.

“wae? Oppa tidak menyetujui hubungan kami?” tanyaku lemas.

“bukan begitu, aku takut hubungan kalian akan cepat berakhir. Lee Jaejin-ssi bukan orang biasa sepertimu, ia cukup terkenal juga seperti aku. Sudah berapa kali aku putus dengan pacarku karena karirku yang selalu sibuk. Maka dari itu, bersabarlah jika ia tidak menemuimu sampai berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Ingat! Kau masih sangat muda, masa depanmu masih panjang, jangan terlalu memikirkan masalah cinta. Ok?” jelas Hyun Joong oppa memandangku lembut.

“arraseoyo oppa. Tapi jangan anggap aku anak kecil lagi. Aku seorang gadis remaja!” desisku kesal, ia tertawa jahil.

“aniyo. Aku tidak mengatakan kau anak kecil. Makanya, dengar baik-baik nasihatku.” Ia mengacak-acak rambutku gemas. Hyun Joong oppa, saranghaeyo. Tetaplah menjadi oppa yang terbaik dimataku dan fansmu.

***

If your two eyes could always look at me, I’d like it

Every time you think of me, I wish a smile at your lips would begin to spread

If your lips could always call me, I’d like it

Everytime you call my name, I wish happiness would overflow

“Rae Yoo-ya, apakah kau tahu tempat yang bagus untuk berkencan?” Tanya seorang namja yang sangat manis disampingku.

“bagaimana kita ke taman bermain disana?” ajakku sambil menarik tangannya.

“apakah tidak ada tempat lain? Malam ini sangat dingin. Apa lagi itu tempat anak-anak kecil.” Keluhnya.

“oppa, ini pasti akan menyenangkan! Aku rindu masa kecilku.” Kataku yang masih membujuknya dengan menarik lengannya.

“baiklah.” Akhirnya ia menuruti permintaanku.

Hari sabtu ini, sudah seharian aku menghabiskan waktuku bersama Jaejin oppa. Ia adalah namja yang pertama kali mengatakan cinta kepadaku. Entahlah, mungkin karena aku suka melihat wajah manis dan suara merdu Jaejin oppa, sehingga aku luluh saat ia mengatakan cintanya kepadaku dan memintaku untuk menjadi kekasihnya.

Aku teringat saat ia mengatakan cintanya. Di bulan agustus, ia mengajakku ke SMPku jam 8 malam. Kuakui dia sungguh gila mengajakku kesana  pada waktu itu. Yang mengherankan, ia membawa gitar, entah untuk apa. Di atap gedung sekolah, ia memainkan gitarnya, dan menyanyikan lagu yang sungguh romantis. Dan kusadari bahwa ia sangat keren bila bernyanyi seperti itu, dan ia mengatakan, dia sudah mengeluarkan isi hatinya lewat lagu-lagu yang ia nyanyikan. Permintaannya kepadaku untuk menjadi yeojachingunya kuterima. Itu memang cara pengungkapan cinta yang sederhana, tapi aku menghargainya.

Tempat ini tidak cukup buruk, kami bermain sepuasnya di taman bermain ini. Taman ini bagaikan milik kami berdua, karena hanya ada aku dan Jaejin oppa disini, benar-benar sepi tak ada seorangpun selain kami!

“oppa! Awas ada meteor!” aku melempar bola plastik yang sebelumnya kutemukan di dekat kakiku ke arah Jaejin oppa.

“aaaahhhh!!” tiba-tiba ia langsung tergeletak di tanah yang berhamburan kumpulan dedaunan kering seolah-olah ia pingsan karena terkena bola plastikku, lucunya.

“oppa, kejar aku kalau kau bisa!” aku segera berlari menjauhinya ke perosotan yang selalu dinaiki anak-anak kecil.

Aku menaiki perosotan itu, kulihat Jaejin oppa yang ternyata menungguku dibawah, di ujung perosotan itu. Kemudian aku meluncur dengat cepat sampai tiba di bawah, aku berhenti diujung perosotan tersebut, aku tertahan karena ada Jaejin oppa yang tepat dihadapanku saat ini. Aku mulai gugup, jantungku semakin berdebar-debar, keringat dingin sudah mengucur di pelipisku. Wajah kami sangat berdekatan. Situasi apa ini? Aku takut, ditambah lagi udara yang sangat dingin, mengerikan! Apa lagi tangan Jaejin oppa masih memegang erat kedua lenganku, aku tidak bisa berkutik! Aku tidak bisa bergerak! Tatapannya itu sangat tulus, puppy eyes nya benar-benar meluluhkanku, aku terpaku melihat matanya. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya dan reflek perlahan aku menutup mataku. Sebuah kecupan kurasakan di keningku.

“paboya! Kau tidak boleh mengharapkan yang seperti itu dariku, kau masih kecil!”

Dengan cepat aku membuka mataku, dan Jaejin oppa hanya tertawa geli melihatku. Astaga, kupikir ia akan menyentuh bibirku!

“oppa! Kau mempermainkanku!” aku menjitak kepalanya, dan dia tersungkur ke belakang kemudian segera berlari.

“mehrong!” ledeknya sambil menjulurkan lidahnya, dan aku kembali melempar kerikil kecil ke arahnya. Oh Tuhan, betapa malunya aku, jika ia tahu bagaimana yang aku pikirkan.

***

Maret 2011 …

Hari senin tiba. Ini hari pertamaku masuk SMA. Sekolah seni yang aku idam-idamkan. Aku berusaha berpakaian serapi mungkin, aku tidak akan berdandan secara berlebihan dan seperti biasanya aku biarkan rambut panjangku yang ikal tergerai. Aku merasa hari ini jauh lebih baik dari hari-hari kemarin, apalagi Jaejin oppa penambah semangatku sejak kejadian malam minggu lalu, hehehee.

Aku mengambil tas dan beranjak dari meja makanku, tak lupa aku memakai earphone dan memutar beberapa lagu di ipodku, dan aku segera masuk ke mobil yang ada tepat di depan rumahku sambil bernyanyi-nyanyi kecil mengikuti alunan lagu yang ada di ipodku. Saat sudah di dalam mobil, aku mengecek sms yang masuk ke ponselku. Ada 2 sms.

From     : Hyun Joong oppa

Subject :

Dongsaengie!

Chukae! Akhirnya kau masuk School of Performing Arts Seoul. Jadilah anak baik disana ^^

 

From     : Jaejin oppa

Subject :

Jagiya, Hwaiting!

Semoga hari pertamamu bersekolah akan menyenangkan. ^^

Hanya satu permintaanku, jangan mencoba melirik lelaki lain! Kau masih punya aku! Mianhae, sepertinya sedikit egois. Kkkkkkk

Aku tersenyum membaca sms dari kedua orang yang sangat aku sayangi itu, kemudian aku membalasnya satu persatu.

Reply to : Hyun Joong oppa

Subject :

Yaksokhe! Gomawo oppa ^^

 

Reply to : Jaejin oppa  

Subject :

Gomawoyo oppa.

Ne, aku hanya akan tetap melihat pada oppa saja. ^^

 

Setelah menyelesaikan balasan smsku, lalu aku berlanjut bernyanyi-nyanyi kecil lagi.

You’re my last love, you’re the love of my live …

“Waaah, ternyata kau A+ juga ya?”

Aku melirik ke arah kiriku dan ……haaissh jjinja!! Bagaimana bisa ia ada di dalam mobil ini secara tiba-tiba? Buatku kaget saja!

“YAA, UNTUK APA OPPA DISINI?!” aku berteriak ke arahnya.

“Anda salah mobil, Agassi. Itu bukan supir anda kan?” tunjuknya ke arah pengemudi mobil, benar! Supir yang mengendarai mobil ini bukan supirku! Jinjja! Tolol sekali aku, hingga tidak mengetahui orang yang berada di sebelahku, hhhh..

“Turunkan aku disini!” pintaku masih dengan nada tinggiku.

“Tenang saja, mobil ini akan menuju School of Performing Arts Seoul.” Ya ampun, kapan aku memberitahukan sekolahku padanya? “aku ingin tanya suatu hal yang sangat penting padamu.” Lanjutnya yang membuatku menjadi takut dari perkataannya karena matanya berubah serius.

“Kau punya hubungan apa dengan Jaejin?” ia bertanya dengan penuh rasa ingin tahu, aku bingung.. apakah aku harus memberitahukannya? Tapi aku tidak ingin orang mengetahui hubunganku dengan Jaejin oppa.

“Yaa, jawab pertanyaanku!” ia memaksaku, aku malah terdiam, tertunduk dengan kebingungan yang berputar-putar dikepalaku.

“Sebenarnya, kau tidak mengatakannya pun aku sudah tahu semuanya. Hanya karena sebuah pertemuan, aku bisa menyukaimu. Dan aku berusaha mengejarmu, tidak peduli walaupun Jaejin dekat denganmu. Aku berencana mengalihkan perhatianmu hanya untukku saja. Namun aku sungguh tak punya nyali untuk jujur padamu. Aku bodoh! Kenapa aku bisa mencintaimu?” ia sangat jujur, aku tak menyangka ia menyukaiku seperti ini, sekarang ia hanya menatap nanar pada jendela kaca mobil yang ada disampingnya.

“Jeongmal mianhae, Mir oppa. Maaf, aku sudah menyakitimu. Karena aku sama sekali tidak tahu bagaimana perasaanmu.” Aku menatapnya iba, aku merasa seperti orang jahat karena aku tidak merespon perasaannya.

“Kau tidak salah. Dan aku minta maaf juga karena aku mengintai kalian malam itu. Inilah diriku, aku tidak pandai menunjukkan perasaanku kepadamu. Sudahlah lupakan saja, tidak ada alasan bagiku untuk memisahkan kalian, aku tidak mungkin mendapatkanmu lagi. Mana mungkin aku merampasmu dari Jaejin. Kalau begitu, betapa jahat sekali aku dengan teman terbaikku. Kalau aku tidak punya teman lagi, bagaimana? Apakah kau mau menanggungnya?”

Sekarang ia malah terkekeh kecil, dan diiringi senyumannya yang lebar sambil melihatku, dan aku juga membalas senyumannya. Betapa tegarnya Mir oppa. Padahal ia sudah tersakiti karena aku, tapi ia masih bisa menyunggingkan senyuman di wajahnya, dan sifat humorisnya tetap tidak hilang walaupun dalam keadaan sedih, benar-benar Mir oppa yang kuat.

– TBC –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s