FF “You’re My Precious” [Chapter 5]

part 05

Title : You’re My Precious [Chapter 5]

Author : Sabriena2Dgirl

Cast :

  • Kang Rae Yoo
  • Kim Hyun Joong (SS501)
  • Lee Jaejin (FT Island)
  • Mir (Bang Cheol Yong) (MBLAQ)
  • Lee Taemin (SHINee)
  • Jo Kwangmin (Boyfriend)
  • No Minwoo (Boyfriend)
  • Kim Nam Joo (A Pink)

*will add another cast in next chapter*

Special Appearance :

  • MBLAQ members

Genre : School life, Angst, Romance

Rating : PG-13

PS :  Ahahaa, udah masuk 2013, teringat tahun lalu ngepost YMP ini di FB tepat tgl 1 2012, kkkkkkk

Happy Reading ^^

***

I’m missing you, missing you, the person I miss to death

Even missing you so much, yearning so much, the words I cannot say

I’m missing you, the person I loved that extent

Won’t you return to me again? I’m missing you..

– Lee Jaejin’s POV –

Aku sudah seperti seorang Paparazzi, menyelinap masuk sekolah ini. tetapi aku berjubah, berkacamata hitam, dan memakai topi, sehingga tidak akan ada orang yang mudah mengenaliku. Aku melihat tujuanku untuk datang ke tempat ini, yaitu Kang Rae Yoo. Aku bergegas mengikutinya menaiki tangga dan berjalan di koridor, ia memasuki sebuah ruangan, tempat latihan dance. Ia tetap tidak mengetahui keberadaanku, aku hanya di luar dan mencoba mengintip lewat jendela agar bisa melihatnya.

“Ohh mian..” terdengar ia sedikit terkejut karena menemukan seseorang di dalam ruangan itu.

“Gwaencanha, masuklah. Kau ingin berlatihan juga ‘kan?” balas seorang lelaki yang penuh keringat di tubuhnya, sepertinya aku kenal.

“Gomawo.” ucap Rae Yoo lembut.

 Aku memperhatikan anak itu, ternyata ia dari Boyfriend, No Minwoo, kalau tidak salah. Hebat sekali Rae Yoo bisa mengenalnya, mungkin ia juga mengenal Jo Twins. Namun, Rae Yoo terlihat canggung saat berbicara, sehingga hanya Minwoo saja yang mengajaknya mengobrol.

“Apakah kau sering kemari?”

“Ne. Aku lebih memilih untuk berlatihan saja disini daripada berteman yang tujuannya entah apa. Aku tidak suka dikhianati.” jadi kau hanya sendirian di sekolah? Omona… Kang Rae Yoo ~

“Jika ku tebak, pasti kau memiliki pengalaman buruk sebelum kau masuk SMA ‘kan?” tebak Minwoo dan Rae Yoo hanya mengangguk. “Aku yakin tidak semua orang memiliki tujuan yang buruk untuk berteman. Termasuk orang yang ada dihadapanmu.” Rae Yoo tertawa mendengar perkataan Minwoo.

“Yaa, aku serius. Kau bisa berteman dekat denganku, juga Youngmin dan Kwangmin, jika kau mau. Aku tidak memaksamu.”

“Jinjjayo? baiklah, aku berteman dengan kalian. Tapi, jangan sekalipun kalian mengkhianatiku!”

“Ne, kami bukan orang jahat yang seperti kau pikirkan.”

Mereka mengakhiri perbincangan mereka, Minwoo berjalan mendekati kipas angin di dekat cermin dan ia menghidupkan kipas angin tersebut dengan speed yang kencang, dan ia duduk tepat di depannya seakan pemiliknya hanya dia seorang, hahaa.. lucu sekali anak itu. Sedangkan Rae Yoo mengambil sepatu high heels di rak sepatu, aku yakin itu berukuran 9 inci. Ia memakainya dan mulai berlatihan. Tidak kusangka, ia mahir sekali dalam dance, kupikir ia hanya bisa bermain piano saja. Lantas saja ia di terima di sekolah ini.

Yang tidak terduga, Rae Yoo terjatuh karena sepatunya. Astaga, kenapa gadis itu? rasanya ingin sekali aku berlari dan segera menolongnya. Minwoo langsung bergegas menghampirinya, wajahnya terlihat khawatir. Rae Yoo memegang kakinya yang perih, dan Minwoo membantunya dengan memijatnya.

Aku melihat ke arah tangga, ada seorang siswa yang akan menuju tempatku kurasa. Tapi, sepertinya aku kenal. Dia..dia.. Jo Kwangmin Boyfriend!!! ottohke? Jangan sampai kedokku terbuka! Dia semakin mendekat, aku tidak boleh panik!

“Ajussi, kau sedang apa?” tanyanya karena aku berpura-pura sibuk melihat ke jendela.

“Kau nak! Jangan sampai aku ketahuan, aku tidak mau bertemu guru-guru disini, aku hanya ingin melihat keadaan sekolah ini.” gertakku berbisik padanya, ia tetap tidak mengenali wajahku karena sedikit tertutup dengan jubahku, suaraku terdengar seperti suara seorang ajussi.

“Oh mianhae ajussi, kau pasti pernah mengajar disini. Aku akan diam dan tak memberitahukan pada siapapun keberadaanmu.” anak ini penurut sekaliii.

“Baguslah, kau cepat mengerti.” kataku memuaskannya.

“Ajussi tidak mengenaliku?” tanyanya polos, rasanya agak geram!! Cerewet sekali dia.

“Kau hanya seorang siswa, aku tidak peduli kau siapa, berasal dari mana.” aku pura-pura memarahinya sedikit.

“Ajussi ini tidak modern. Padahal sudah berapa kali aku muncul di televisi, ia tidak mengetahuiku sama sekali.” gumamnya kecil, rasanya aku ingin tertawa mendengar perkataannya, lucu sekali anak ini.

“Ajussi sedang melihat apa?” tanyanya dan ia ikut mengintip jendela juga sepertiku. Di dalam ruangan, Minwoo terlihat masih memijat kaki Rae Yoo, namun ia segera membalikkan tubuhnya dari jendela, raut mukanya terlihat kusut, kenapa dia? Dan ia pun langsung melangkah pergi. Aneh sekali anak itu. membuatku heran saja.

Aku memutuskan untuk segera pergi dari tempat ini. Aku tidak perlu berlama-lama disini. Rae Yoo tidak perlu melihatku lagi, aku malah akan membuatnya mengulang kejadian pahit lalu.

***

Love just has to go on

As I go closer, you get even further away

As I go closer, leaning on the sunlight

You become more hidden

– Lee Taemin’s POV –

Disaat jam pelajaran masih berlangsung, seorang guru memanggilku, ia hanya mengatakan bahwa aku sedang di tunggu oleh guru danceku. Apakah ada sesuatu yang tidak menyenangkan hari ini? Tiba-tiba perasaanku mulai sedikit memburuk, kuharap tidak akan terjadi apa-apa.

“Lee Taemin, hari ini saya akan melihat sejauh mana kau telah berlatihan untuk showcase ini.” kata guru danceku tegas.

“Kang Rae Yoo, masuklah.”

Aku terkejut ketika nama itu di panggil. Ia memang Kang Rae Yoo. Tentu saja aku harus dance didepan guruku, ia ingin melihat kemampuanku dan Rae Yoo dance bersama. Guruku tidak mudah percaya walaupun aku adalah artis yang tergabung dalam grup dan termahir dalam dance, baginya diantara itu semua tidak terlalu memenuhi kemampuan seseorang jika kesombongan diri masih tersembunyi di hatinya, dan kesombongan itu akan membuat semuanya gagal. Aku percaya itu.

Mati aku! Setiap aku sedekat ini bersama Rae Yoo, aku selalu gugup. Tidak boleh! Kali ini aku tidak boleh gugup! Seharusnya gerakan dansa ini tidak semestinya ada, karena menurutku ini kuno sekali, karena aku tidak pernah berdansa jika tampil di stage secara berpasangan sedekat ini.

Kami sudah sampai di gerakan maju mundur, perasaanku semakin gelisah, dan tiba-tiba saja aku merasa seperti menabrak kakinya, dan yang benar saja,  kakinya tersandung oleh kakiku, pegangannya dariku pun terlepas dan ia jatuh seketika. Ia langsung meringis kesakitan sambil memegangi kakinya. Omona, apa yang telah kulakukan?

“Gwaencanhayo?” tanyaku panik.

“Paboya! Mengapa kau melakukan kesalahan, haah?! Seharusnya dalam posisi sedekat itu kau harus segera memperkirakan langkah-langkah kakimu!” decaknya marah dengan suara meninggi. Omo, baru kali ini ia memarahiku. Mulutku menjadi kaku dan tidak bisa menjawab pernyataannya.

“Sebaiknya kau ke UKS agar kakimu segera di obati.” kata guruku.

“Kamsahamnida. Lebih baik aku pulang saja sekarang. Aku sudah menyuruh supirku untuk menjemputku.” ia memegang ponselnya dan menyimpannya di sakunya.

“Songsaengnim, tolong bantu aku berdiri.” Ia mengulurkan tangannya, dan segera di bantu oleh guruku, mengapa aku yang tepat disampingnya tidak meminta bantuanku? Aku merasa bersalah padanya.

“Rae Yoo-ya, mianhae.” ucapku setengah berteriak saat dia keluar dari ruangan ini, namun dia mengacuhkanku.

Tak berapa lama, bel sekolah berbunyi, tanda sudah waktunya untuk pulang. Dengan kejadian buruk hari ini, sedikitnya terasa lega karena hari ini tidak ada schedule sama sekali, membuatku bisa menenangkan pikiran dan hatiku sejenak. Lebih baik aku pulang dengan subway saja, karena aku ingin merasakan berjalan kaki dengan bebas seperti pelajar-pelajar biasanya. Mengingat kenyataan bahwa aku bukan orang biasa yang bisa menikmati hidup selancar mungkin, namun aku tidak boleh menyesal, karena menjadi seorang yang di kenal publik sudah menjadi impianku sejak kecil. Kini aku masih berjalan tidak terlalu jauh dari jarak sekolah, ternyata subway dari sekolah ini masih terlalu jauh.

Kudengar tapak kaki yang berjalan dari arah belakangku, mungkin hanya orang yang berlalu-lalang saja. Tiba-tiba saja ada yang menarik tas ranselku dari belakang, membuatku menghentikan langkahku karena hampir terjatuh ke belakang. Aku shock! Mereka langsung menarik kerah bajuku dan melayangkan kepalan tangannya ke arah wajahku. BUUUUK! Rasanya nyeri sekali ujung bibirku. Dan aku menerima pukulan sekali lagi di perutku. BUUUUUK! Argghhhh sakit sekali. Membuat badanku menjadi lemah tak berdaya. Aku melihat 2 orang yang menyiksaku, dan salah satunya menarik kerah bajuku lagi. Ahh mereka…

“Yaaa! Kau ini jangan sok jujur pada semua guru. Aku capek sudah berlari keliling lapangan, membersihkan halaman sekolah, membersihkan WC.. ” siswa tersebut memarahi ku keras di depan wajahku, ternyata mereka teman sekelasku.

“Ak.. aku hanya mengatakan yang sebenarnya, semua murid pun sudah mengerjakan PRnya.” aku berusaha berbicara sambil menahan sakitku.

“Jangan kau pikir kau seorang artis dan aku tidak berani memukulmu. Aku bisa saja membunuhmu.” ia akan memukulku lagi, aku memejamkan mataku kuat-kuat, kuharap akan ada seseorang yang menolongku, Tuhan, tolong aku!

“HENTIKAN!”

“Mau apa kau kesini? Menolongnya?”

“Kalau kau ingin membunuhnya, lewati aku terlebih dahulu! AJUSSI!!”

Kudengar suara lantang dari seorang perempuan, ia Kang Rae Yoo. Dan beberapa namja bertubuh besar datang dari arah Rae Yoo. Ajussi-ajussi itu segera memelintir kedua orang yang menyiksaku tadi tanpa ampun.

“JIKA KALIAN MENGANGGU TAEMIN LAGI, KALIAN AKAN BERURUSAN DENGAN LEE SO MAN SONGSAENGNIM. JIKA IA TAHU KALIAN MENYIKSA ANAK DIDIKNYA INI, KALIAN AKAN TAHU SENDIRI AKIBATNYA!” ucap Rae Yoo murka kepada kedua siswa itu, dan mereka meminta ampun padanya untuk dilepaskan dari jeratan para pengawalnya. Kemudian mereka langsung berlari pergi ketakutan setelah mendapatkan ampunan dari Rae Yoo.

Rae Yoo langsung menyuruh pengawalnya untuk membantuku berdiri.

“Kau pulang ke rumahku dahulu, aku harus mengobati lukamu. Setelah itu, pengawalku akan mengantarmu pulang ke dorm mu.” ucapnya.

“Ne, gomawo.” aku tersenyum ke arahnya, wajahnya tanpa ekspresi sama sekali. Ia segera masuk ke dalam mobil, dan pengawalnya membantuku untuk masuk juga ke dalam mobil.

Di dalam mobil, Rae Yoo hanya diam tidak menoleh ke arahku sama sekali, ia hanya sibuk memandang jendela mobil dan sesekali memperhatikan ponselnya. Melihat tingkahnya seperti itu, aku tidak ingin menganggunya dengan perkataan atau pun pertanyaan dariku.

Tetap di bantu oleh para pengawalnya Rae Yoo, aku turun dari mobilnya setelah sampai di rumahnya yang cukup megah. Sesuatu yang tidak aku perhatikan sejak melihatnya saat menolongku tadi, ia berjalan agak pincang, dan aku perhatikan ada perban yang terbalut di kaki kirinya. Astaga, aku sungguh melukainya separah itu!

Aku di bawa ke ruang tamu Rae Yoo, rasanya lega sekali saat menyandarkan tubuhku di sofa empuknya. Setidaknya rasa perih di perutku sudah agak menghilang sekarang.

“Chamkaman. Aku harus mengambil kompresan untuk lukamu.” ucapnya.

Tak berapa lama kemudian ia kembali. Ia duduk di sampingku dan segera mengobati lukaku dengan kompresan handuk yang di peras dengan air dingin. Ia sangat berhati-hati hingga aku tidak merasakan nyeri yang sangat sakit di ujung bibirku. Aku terus memperhatikannya, ia tidak menunjukan ekspresi apa-apa, datar saja, mungkin ia marah atas perlakuanku hingga menyebabkan kakinya terkilir atau entahlah. Sebaiknya aku bersuara duluan untuk memecah kecanggungan ini.

“Jeongmal mianhae. Apakah kakimu baik-baik saja?”

“Kau tidak perlu menyesal, karena ini sudah terjadi.” jawabnya dingin.

“Lupakanlah 3 tahun yang lalu. Aku tidak akan mengungkitnya lagi.” ucapku menatapnya serius.

“Baguslah kalau begitu.” jawabnya enteng, masih tanpa ekspresi dan dia bergegas beranjak dari sofa, dengan cepat aku mencegahnya dengan memegangi tangannya.

“Nan saranghamnida. Neon arayo?” kata-kata yang selama ini tercekat di tenggorokanku akhirnya keluar, betapa sulitnya mengatakan kalimat itu.

“Untuk hari ini, jangan mengulang lelucon anehmu. kalau kau ingin pulang, minta pengawalku untuk mengantarmu pulang. Aku tidak mau yang lain akan mengkhawatirkanmu.” ujarnya dingin tanpa menoleh padaku dan dengan kuat ia menghempaskan tangannya hingga terlepas dari genggamanku dan melangkah pergi dari ruang tamu ini.

***

Why does it have to be you?

Why did I end up loving you?

Even if i am shaking my head

Even if I try to deny it

Now i can’t let go of you

Kang Rae Yoo’s POV

Mengingat kejadian kemarin, rasanya seperti cerita di drama saja. Lee Taemin menyukaiku? Cih, sungguh tak di percaya. Apa maksudnya membuatku menderita saat di SMP? Sejahat itukah perbuatannya karena menyukaiku? Dia sangat membuatku trauma akan hal pertemanan. Dengan mudahnya ia mengungkapkan perasaannya, seperti mempermainkanku saja. Jika waktu itu aku dapat menjawab perkataannya, sekalipun ia seorang artis, terkenal dengan imagenya yang cute dan keren, aku tidak akan ragu menolaknya!

Waktu itu emosiku masih meluap-luap, ketika keluar dari Fine Arts School dan supirku segera membawaku ke rumah sakit terdekat untuk mengobati kakiku. Dan yang benar saja, kakiku memar dan hampir membengkak karena 5 hari yang lalu aku terjatuh karena sepatu high heels dan di kaki yang sama juga Taemin menyandungnya. Jika terjadi kecelakaan ketiga kalinya di kaki kiriku ini, akan berdampak fatal dan tulangnya menjadi memar dan bisa saja aku akan terkena kanker tulang dan tidak bisa berdance lagi, andwae!!!

Karena kesal dengan hal itu, kemarahanku hingga sampai kedua berandalan yang menyiksa Taemin. Bukan niat hatiku untuk menolongnya, aku hanya kebetulan lewat di jalan itu. Dan sebenarnya aku ingin memaki Taemin karena dia telah melukai kakiku.

Sudah dalam beberapa hari terakhir Kwangmin, Youngmin, dan Minwoo sudah menjadi teman dekatku di sekolah. Namun kami tidak selalu bertemu karena kesibukan mereka yang sungguh padat, wajar saja karena mereka grup baru di tahun ini yang penggemarnya membludak, tidak di Korea saja, juga di luar negeri. Biasanya kami bertemu di saat jam istirahat dan kami duduk di kantin, mengobrol sambil menikmati makanan dan bercanda, menyenangkan sekali.

“Kwangmin-ah!” aku mengejutkannya yang baru saja keluar dari kelasnya, ia tertawa.

“Kajja.” ajaknya sambil tersenyum.

“Minwoo, Youngmin, eoddiga?” tanyaku sambil melihat ke arah kelasnya.

“Mereka sedang ada keperluan. Ya sudah, kita pergi berdua saja.” ucapnya enteng, membuatku tercengang! Bagaimana jika Kwangmin terkena rumor yang tidak-tidak karena aku. Kantin sekolah adalah tempat yang umum!

“Kakimu kenapa?” sergahnya saat melihat ke bawah menemukan kakiku di balut perban.

“Gwaencanha. Hanya cedera kecil.” jawabku tenang.

“Jeongmal? Apakah kau bisa berjalan?” tanya Kwangmin dengan nada penuh kekhawatiran, ahh hanya dugaanku saja.

“Jo Kwangmin!” seorang gadis dengan rambut yang di sanggul ke atas memanggilnya dan dia semakin mendekati kami, siapa dia?

“Ohh, Nam Joo-ah..” jawab Kwangmin pelan.

“Hei! Apakah kau lupa tentang latihan untuk special stage kita minggu depan?” tanya gadis itu pada Kwangmin dengan mengerling ceria dan seolah ia berbicara dengan Kwangmin saja, tidak menganggap kehadiranku di sini, apa-apan perempuan ini?

“Boyfriend dan A Pink?” tanya Kwangmin ling-lung.

“Ahh kau pasti melupakannya.” ucap gadis itu kecewa.

“Manager hyung belum memberitahukan apapun sepertinya. Mungkin saat pulang sekolah, kami di berikan schedule terbaru.” jelas Kwangmin agar gadis itu tidak kecewa lagi.

“Baiklah. Oh iyaa, ayo kita ke ruangan dance, di sana ada Minwoo sekarang. Sudah lama kita tidak berkumpul bersama.”

Omo! Setan apa yang ada di otak gadis itu, haah?! Seenaknya dia langsung memegang tangan Kwangmin begitu saja! Bagaimana aku? Apakah aku hanya patung yang berdiri di sini? Arghhh! Sadarlah Kang Rae Yoo! Apa yang kau pikirkan? Apakah kau cemburu? Tapi rasanya sakit sekali melihat mereka sedekat itu. Lebih baik aku pergi dari sini, aku semakin gila saja!

Ia segera di tarik oleh gadis itu, tidak ada sepatah kata pun yang aku dengar. Kwangmin sungguh bodoh hingga menuruti gadis itu! Aku memutuskan menjauhi mereka. Aku melangkah dengan kakiku yang terpincang dan melihat ke arah belakangku, ternyata Kwangmin melihatku dengan pandangan redup, seakan tidak ingin aku menjauhinya. Dan aku berharap nanti ia akan kembali lagi dan meminta maaf padaku dan dengan mudahnya aku akan memberikan maafku. Sekarang aku merutuki diri sendiri bagaimana bisa aku berpikiran seperti itu, dan mengharapkannya agar ia kembali lagi kepadaku. Apakah rasa sakit ini menandakan aku mencintainya?

Kubenamkan wajahku ke kedua tangan yang kutumpukan di atas mejaku. Memikirkan betapa dekatnya mereka berdua, dan mungkin Kwangmin lebih dulu mengenal gadis itu, mereka pun sama-sama dari kalangan artis, jadi wajar saja Kwangmin lebih mengutamakan orang yang telah lama di kenalnya, aku tak berhak menahan kebersamaan mereka. Tanpa sadar bahwa air mataku mengalir, dan rasanya ingin melempar semua barang yang tampak di hadapanku kini untuk mengeluarkan semua emosiku. Hanya merasa cemburu, aku sampai menangis hingga mataku sembab. Dasar konyol! Konyol sekali kau bisa menangis lagi untuk seorang lelaki, Kang Rae Yoo! Kau sudah menyandang gelar gadis cengeng!

Jam pelajaran sudah masuk, aku meminta izin pada guruku untuk pergi ke toilet. Tidak mungkin aku belajar dengan pikiran yang kacau balau, maka aku menenangkan diri sebentar di sana.

“Kang Rae Yoo?”

“Ne?” tanyaku mendongakkan kepalaku yang sedari tadi aku tundukkan, omona…

“Apa yang terjadi padamu?” tanya seseorang di hadapanku yang kaget dengan keadaanku.

“Gwaencanha. Lebih baik kau segera kembali ke kelas.” jawabku tersenyum pahit sambil mengusap sisa-sisa air mata di pelupuk mataku.

“Chamkan!” ia menarik tanganku, menahanku pergi, namun selama di detik itu, di detik itu juga ia cepat melepaskan tanganku, hanya di sentuh sedikit saja membuatku hampir gila!

“Apakah karena hal tadi? Kalau begitu aku sungguh minta maaf. Aku pergi tanpa pamit dahulu kepadamu.” ucapnya dengan suara lirih. Astaga, itulah yang ingin aku dengar dari mulutnya!

“A.. aniyo. Gwaencanha. Besok kita berbicara lebih banyak lagi, oke?” aku berusaha tersenyum seperti biasa terhadapnya dan aku bergegas memasuki toilet.

“Rae Yoo-ya, jika aku punya salah, tolong maafkan aku.” ucapnya dengan suara besar yang dapatku dengar, aku menoleh dan melihat wajahnya yang tersirat rasa bersalah dan menyesal. Jika aku bisa menjawab, aku akan memaafkannya tanpa berpikir panjang.

***

Untuk hari ini saja aku meminta pulang lebih cepat. Pikiran kacau, hati serasa terjepit, kaki yang sakit, lengkaplah penderitaanku hari ini. Untunglah, Hyun Joong oppa berjanji berkunjung ke rumahku karena beberapa hari yang lalu aku sudah memberitahukan kondisi kakiku kepadanya. Dengan jadwalnya yang begitu padat, ia menyempatkan waktunya untukku.

“Gwaencanhayo? Bagaimana keadaanmu?” tanya Hyun Joong oppa yang duduk di depanku. Aku duduk di atas sofa yang panjang dengan menyelonjorkan kakiku.

“Hari ini tidak terlalu baik.” jawabku dengan miris.

“Wae? Sesuatu terjadi padamu?” tanya Hyun Joong oppa yang langsung khawatir mendengar perkataanku.

“aniyaa. Aku tidak bisa menceritakannya pada oppa. Sulit.” rengekku tak karuan, ahh apa-apaan aku, rasanya ingin terjun dari gedung kantor ayahku!

“Ceritakanlah. Apakah masalah dengan Jaejin?” tanya Hyun Joong oppa yang semakin penasaran.

“Aniyo. Ini masalah di sekolah. Oppa tidak berhak mengetahuinya!” aku masih dengan suara rengekkanku, karena mengingat kejadian di sekolah tadi rasanya ingin menangis seharian.

“Arraseo. Tapi, berhentilah kau merengek seperti itu, suaramu cempreng sekali!” sungut Hyun Joong oppa yang mulai kesal dengan tingkahku.

“Oppaaa… biar begini, ibuku pernah mengatakan bahwa suaraku bagus dan pantas untuk masuk Hallyu Wave. Namun aku menolaknya saja.” jawabku sengit.

“Kau tak pernah bernyanyi, bagaimana aku tahu suaramu? Berteriak saja sudah cempreng sekali.” balasnya semakin menyerangku.

“Terserah oppa. Aku menyerah, aku kalah dalam perdebatan ini.” ucapku mengalah, dan ia tertawa penuh kemenangan, aigoo Hyun Joong oppa.. baru mengalahkan anak remaja sepertiku saja sudah senang sekali.

“Rae Yoo-ya, sebenarnya aku ingin menyampaikan sesuatu.” kata Hyun Joong oppa yang mulai bersuara serius.

“Hmmm.. tapi aku takut akan terjadi sesuatu nantinya, dan jika kau mengetahui orangnya, kau akan membencinya.” lanjut Hyun Joong oppa menarik nafas.

“Tentang apakah itu oppa?” tanyaku penasaran. Apakah sangat mengancamku?

“Karena kau tidak memberitahukan permasalahanmu hari ini, jadi aku tidak memberitahukan juga ceritaku padamu.” jawabnya santai, dan membiarkan aku merengut dengan rasa penasaran dengan perkataannya tadi.

***

Be happy, you’re no longer my person

Don’t worry, i am confident

When time passes, i will forget

You have to be happier than me

12 Juli 2011,

–  Lee Jaejin’s POV –

Entahlah, tiba-tiba saja aku merindukannya, lagi. Aku ingin sekali menemuinya lagi. Dosakah aku jika aku merindukannya seperti ini? Entahlah, aku bingung dengan perasaanku sendiri, aku seperti mengharapkannya lagi. Tapi aku ingin menentang perasaanku untuk tidak menyukainya lagi. Aku ingin menemuinya, harus menemuinya! Aku ingin mengobrol lebih banyak pada dirinya, memberitahukan bagaimana perasaanku saat ini. bukan berarti aku mengharapkannya kembali kepadaku.

Tidak ada schedule malam ini, aku langsung mengendarai mobilku dan menuju ke rumah Rae Yoo. Sepertinya cukup egois, saat ini sudah jam 9 malam, seharusnya aku tidak datang dalam waktu seperti ini. Kuberanikan diri untuk menunggu terbukanya pintu dari dalam sana. Rae Yoo yang membukakan pintu, ia sedikit kaget dengan kehadiranku.

“Annyeong haseyo, apakah aku menganggumu?” tanyaku berusaha tersenyum, sepertinya agak canggung.

“Aniyo. Masuklah.” jawabnya ramah.

Ia mengajakku ke balkon rumahnya. Kami berdiri membelakangi pagar pembatas dan menghadap ke arah ruangan rumahnya. Untunglah langit malam ini dipenuhi bintang, aku benar-benar teringat malam-malam terindah yang pernah kulewati bersama yeoja yang ada disampingku.

“Ada perlu apa oppa datang kesini?” tanyanya memecah keheninganku.

“Bolehkah aku jujur?” balasku mengalihkan pandanganku untuknya, ahh dia benar-benar cantik sekali.

“Ne, tentang apa?”

“Aku sangat merindukanmu.” jawabku tulus, ia terdiam. “Apakah kau pernah merindukanku?” tanyaku ingin tahu.

“Ne, sama sepertimu. Aku sangat merindukan oppa. Sejujurnya, sudah berapa kali aku merindukanmu. Aku sungguh tidak bisa membohongi perasaanku.” ia tertunduk, sedari tadi ia tidak berani melihat ke arahku.

“Aku juga tidak bisa membohongi perasaanku, maka dari itu aku datang kesini.”

“Apakah oppa mengharapkanku lagi?”

“Aniyo. Kau dan aku akan terpuruk jika kita bersama lagi. Banyak kenangan manis disaat kita bersama, aku masih ingat sekali disaat pertama kali bertemu denganmu. Aku memlihmu karena aku terpukau dengan permainan pianomu.” Aku bercerita, ia tertawa kecil.

“Oppa, kau tahu? Biasanya aku akan bersikap dingin pada semua laki-laki, tidak terlalu memperdulikan mereka. Maka aku menyukai hallyu wave dan memutuskan menjadi penggemar SS501 agar aku tidak terlalu canggung dengan sekitarku. Namun saat bertemu denganmu, di saat kau menenangkanku malam itu, aku merasa sangat nyaman saat kau memelukku. Di saat itu aku mulai memiliki perasaan pada oppa.”

“Ternyata rasa nyaman itu hanya sesaat, untuk pertama kalinya aku jatuh cinta, dan berakhir sangat fatal pula. Sekarang aku sadar, Jaejin oppa bukan orang yang ditakdirkan oleh Tuhan untukku. Maka dari itu, aku tidak boleh mengharapkan Jaejin oppa kembali ke sisiku.” ucapnya sambil memandang ke arahku, senyumannya sungguh dipaksakan.

“Mianhae, mianhae, jeongmal mianhae…” aku segera merangkulnya dan mendekapnya ke pelukanku, kurasakan sesuatu yang membasahi bajuku, pasti itu adalah air matanya. Tanpa kusadari air mataku jatuh yang selama ini aku tahan, aku memeluknya sangat erat. Pelukan yang sangat aku rindukan, tetapi ia bukan milikku lagi. Ini seperti pelukan terakhir yang kurasakan waktu itu.

“Oppa, jika aku menyukai orang lain, bagaimana menurutmu?” ia sambil bergegas menghapus air matanya tanpa sisa.

“Baguslah.” jawabku setengah hati, mengapa rasanya sungguh berat sekali?

“Dia adalah orang yang dapat membuatku tidak tahu keadaan, membuatku tidak bersikap dingin saat berhadapan dengannya, membuatku selalu gembira saat bersamanya, dan ia membuat jantungku berdetak kencang jika menyentuhku sedikit saja.” ucapnya dengan kilat matanya yang cerah, dan aku akui cara berbicaranya semakin dewasa.

“Siapa orang itu?” tanyaku penasaran.

“Jo Kwangmin.”

Aku terdiam, sudah kuduga dari awal melihat mereka. Terlihat jelas di saat waiting room MCountdown 1 bulan lalu. Saat Rae Yoo terperangah melihat Boyfriend dan ia hanya menyapa Kwangmin satu-satunya, dan ia langsung menyapanya tanpa pamit pergi padaku dan Hongki hyung saat itu.

“Yaa, oppa! Kau cemburu?” sergahnya karena melihatku terdiam saja.

“A.. aniyo. Jangan sok tahu!” sambil aku mencubit hidungnya, dan ia meringis kesakitan dan mengerucutkan bibirnya karena kesal terhadapku.

“Hei, jangan marah seperti itu. mianhae.” kataku sambil memeluknya.

Sulit membiarkannya dengan orang yang telah diyakininya akan membuatnya bahagia lebih dari pada yang aku lakukan untuknya. Bukan keinginanku melepaskannya begitu saja, tapi aku yang melepaskannya, dengan keterpaksaanku, membuatnya terluka sangat dalam. Semua kulakukan dalam keadaan masih mencintainya, sungguh hal terberat dalam hidupku, karena aku sudah menentukannya sebagai pilihan hatiku. Pemikiran yang sama yang tidak memisahkan kita, walaupun ia tidak mencintaiku lagi, namun ia masih memiliki pemikiran itu. Benar, aku masih mencintainya, sampai di detik ini. Aku akan membuka hatiku selebar mungkin jika kau kembali kepadaku, di suatu saat kau terluka dengan pilihanmu yang lain.

***

I wasn’t talented but I made you laugh for a little while

If you were hurt from our love,

And there were no good memories,

Would you remember them at least just once?

Kang Rae Yoo’s POV –

Jaejin oppa merangkulku dan aku menyandarkan tubuhku di sampingnya. Posisi kami menjadi sangat dekat sekali. Tetapi kami tidak mempunyai perasaan yang sama seperti dahulu, Jaejin oppa hanya kenanganku.

Aku mendengar suara gesekan kaki kursi berpindah, aku tersentak kaget  dan melihat 3 orang yang sudah ada di depanku dan Jaejin oppa, mereka terlihat kaget juga. Cepat-cepat aku sedikit menjauh dari Jaejin oppa dan segera aku membungkukkan tubuhku. Appa dan umma, tumben mereka cepat sekali kembali ke rumah, tapi untuk apa Mir oppa datang kesini? Mereka telah melihatku dengan Jaejin oppa, apa yang akan aku katakan jika mereka menanyakan tentang halnya? Appa langsung mengajak kami semua duduk di ruang tengah. Pasti akan mengomeliku atau entahlah.

“Kenapa artis-artis seperti mereka berada di rumah?” tanya appa sambil melihat Jaejin oppa dan Mir oppa, tetapi pandangan appa tidak tampak murka.

“Jwesonghamnida.” kata Jaejin oppa, diikuti Mir oppa juga, mereka menundukkan kepala mereka, mereka terlihat takut pada appa.

“Oppadeul, gwaencanhayo.” kataku untuk menenangkan mereka.

“Appa, apakah appa lupa bahwa aku pernah muncul di acara Televisi saat aku SMP?” tanyaku berharap appa tidak akan marah padaku.

“Oh, Yeobo… aku menonton acara School of Rock itu, karena Rae Yoo menyuruhku untuk menontonnya. Rae Yoo berada di acara itu, dan ia memenangkan perlombaan dengan beberapa murid. Akhirnya sebagai hadiah, ia berkencan dengan seorang personil dari FT Island tapi aku lupa nama anak itu siapa.” jelas umma.

“Keurae umma! Inilah orang yang di saat itu bersamaku.” aku menunjuk ke Jaejin oppa.

“Ne, Lee Jaejin imnida.” ucap Jaejin oppa gugup.

“Ne, ne. Kalau anak ini siapa?” mata appa berganti melihat Mir oppa.

“Bang Chul Yong, atau sering di panggil Mir. Ia teman Jaejin oppa.” jelasku pada appa.

“Aku tahu, kau dari MBLAQ ‘kan?” tanya appa pada Mir oppa.

“Ajussi, bagaimana engkau mengetahuiku?” kaget Mir oppa.

“MBLAQ pernah syuting CF dan CF tersebut ada kerja sama dengan JiHyuk Production, perusahaanku.” kata appa sambil tersenyum simpul.

“Keuraeyo? Bagus sekali anakku mengenal artis seperti kalian.” celoteh umma tertawa kecil, dan yang lainnya ikut tertawa.

“Apa kau mempunyai hubungan special dengan anakku?” umma menatap Jaejin oppa penasaran dan ia pun terkaget tampak bingung harus menjawab apa. Aigoo, kenapa umma bertanya seperti itu?

“A.. an.. aniyaa.. umma, ada-ada saja.” jawabku terkekeh kecil.

“Bohong. Memangnya apa yang kalian lakukan tadi sebelum appa dan umma pulang?” sorot mata appa melihatku penuh selidik.

“Appa, sungguh kami tidak melakukan apa-apa.” jawabku merengek pada appa seperti anak kecil, aku tidak akan mengatakan bahwa aku adalah mantan kekasih Jaejin oppa.

“Ne, appa percaya. Kalau begitu, karena appa membutuhkan 2 orang sepasang untuk sebuah CF, maka lebih baik kau, Rae Yoo dan kau Lee Jaejin-ssi, harus menerima tawaran syuting CF tersebut.”

“MWO?!” kagetku dan Jaejin oppa.

“Appa, aku bukan artis! Kenapa aku harus melakukan itu?” protesku pada appa.

“Ajussi, pekerjaan itu harus di setujui dahulu dengan manajemenku. Dan belum tentu  penawaran itu akan di terima.” dengan sopan Jaejin oppa juga ikut memprotes pengajuan appa.

“Tenang saja. Itu bisa kuurus lebih lanjut.” kata appa tersenyum ramah pada Jaejin oppa.

“Tetapi, mengapa harus aku yang syuting untuk CF itu? Bukankah member FT Island bisa diikutkan juga? Maaf, aku bertanya seperti ini karena aku terbiasa syuting CF secara ber-5 dengan member FT Island.” Jaejin oppa sepertinya memang tidak menginginkan pekerjaan ini. Aku ingin ia tahu bahwa aku takut akan jatuh kedua kalinya jika aku dekat dengannya kembali.

“Ajhumma, ajussi, aku harus pulang sekarang, ada keperluan yang harus kuselesaikan.”

“Nak, bukankah dirimu ada kepentingan dengan Rae Yoo?” tanya Umma ramah.

“Ne, besok-besok aku bisa datang kembali bukan? Hehee, annyeong haseyo.” Mir oppa menatapku sekilas dengan ragu dan bergegas pergi, namun aku mengejarnya sampai di depan pintu rumahku.

“Oppa, ada keperluan apa datang ke rumahku? Mengapa kau tidak berbicara padaku, dan langsung ingin pulang?” tanyaku heran.

“Chukae. Akhirnya kau telah kembali bersamanya. Tidak ada alasan bagiku untuk memisahkan kalian.” Mir oppa memegang kedua bahuku dan ia tersenyum sekilas dan pergi.

Tanpa sepengetahuannya, aku mengikutinya sampai di depan pintu pagarku, karena aku begitu penasaran. Aku melihat Mir oppa berhenti di depan sebuah mobil, dan beberapa orang keluar dari dalamnya.

“Yaa, mireu-ah. Otteyo? Apakah kau sudah betemu dengannya?” tanya G.O oppa.

“Apakah dia senang? Merindukannmu?” tanya Seungho oppa yang penasaran.

“Hehee, biasa saja. Bahkan ia mengatakan bahwa aku semakin tampan.” Jawab Mir oppa sambil tertawa.

“Apakah kau tidak mengutarakan perasaanmu?” tanya Lee Joon oppa dengan sorot mata tajam.

“Hyung, ia hanya dongsaengku, aku tidak akan mendesaknya dan mengatakan bahwa aku mencintainya.” jawab Mir oppa merengek.

“Ayo kita pergi, schedule kita masih banyak. Aku ingin tidur cepat malam ini.” sambungnya dengan suara yang lelah dan mereka semua masuk ke dalam mobil.

Ahh, ternyata Mir oppa gagal menemuiku seorang diri. Mir oppa, mianhae. Suatu saat nanti aku akan menjelaskan semuanya. Kuharap kau tidak akan salah paham.

***

My cold heart….suddenly a little bit

seems melted when you come to me

And then secretly ..you filled my heart

– Jo Kwangmin’s POV –

Hari ini Boyfriend syuting sebuah CF. Kali ini kami ke sebuah gedung tinggi dan mewah, kantor perusahaan yang kudengar sangat sukses memproduksi semua CF, film, ataupun drama, satu-satunya produksi yang hanya di Korea yang mengurus hal sebanyak itu. Pasti pemiliknya sangat kaya raya. Kami berjalan memasuki ruangan studio, di dalamnya ada beberapa studio lagi, tempat ini sungguh luas! Sebelum kami memulai syuting, kami harus menyiapkan diri untuk di rias oleh nuna cordy, setelah itu kami memulai syuting sebuah iklan produk minuman, untunglah aku tidak banyak membuat kesalahan, karena biasanya setiap syuting CF, aku melakukan kesalahan berulang-ulang kali di saat aku kecil dahulu. Mungkin karena waktu itu aku masih kecil jadi wajar saja. Kkkkkkk~

Setelah syuting selesai, semua member sedang beristirahat, namun aku memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di sekitar studio karena aku terlalu bosan jika berlama-lama beristirahat. Aku menyinggahi sebuah studio dengan latar belakang keistanaan, membuatku penasaran, jadi aku langsung masuk ke dalam sana. Mungkin keberadaanku tidak di ketahui karena para staff sangat sibuk menyiapkan peralatannya. Tidak mungkin juga aku akan di suruh keluar, karena aku hanya bermaksud untuk melihat syutingnya saja. Saat aku mengedarkan pandanganku, aku melihat seorang perempuan yang begitu menarik perhatianku, padahal aku hanya melihatnya dari belakang saja, seakan ia mempunyai aura kecantikannya. Ia memakai gaun putih, wujudnya seperti tuan Putri dari istana negeri dongeng. Ia menolehkan tubuhnya ketika seorang lelaki menghampirinya, ternyata perempuan itu Kang Rae Yoo, cantik sekali dia. Apakah ia menjadi role model? Sepertinya aku mengenali lelaki yang berada di sampingnya, ia sunbaenimku, dari FT Island, seingatku namanya Lee Jaejin. Ia memakai baju formal, jas berwarna hitam, yang sangat cocok di tubuhnya, dan rambutnya yang berwarna blonde melengkapi wujudnya seperti seorang pangeran. Tiba-tiba saja aku merasa tidak suka melihat mereka berdampingan seperti itu. Reflek tanganku mengepal menahan amarah. Kenapa aku ini? Apakah aku cemburu?

“Neomu yeppeota ..” ucapnya kagum, Rae Yoo tertunduk malu, tersenyum kecil. Sesungguhnya aku ingin mengatakan seperti itu juga kepadanya.

“Aku tahu, ini sangat berat bagimu. Tetapi, ini hanya sebuah pekerjaan. Jangan terlalu menganggapku sebagai mantan kekasihmu. Jika kau menganggapku seperti itu, seakan kau membenciku.” Mantan kekasih? Mereka pernah mempunyai hubungan yang sangat dekat?

“Kenapa begitu? Aku tidak seburuk yang oppa pikirkan. Hanya saja, aku merasa ini sangat aneh, kenapa kita harus dipertemukan kembali sedekat ini?” respon Rae Yoo seperti tersinggung.

“Yaa, tidak perlu di bahas lagi. Aku hanya memperingatkanmu saja. Cerewetmu itu masih saja seperti anak TK.” ejeknya pada Rae Yoo dan Rae Yoo hanya merengut kesal karena perkataannya.

“Hei, makeup mu akan luntur jika ekspresimu seperti itu.” sambung Jaejin sunbaenim menertawainya.

“ROLE MODEL! SYUTING AKAN DI MULAI!”

Staff berteriak memanggil mereka, dan mereka bergegas ke latar belakang yang telah disiapkan. Akan lebih baik jika aku tidak melihat proses syuting itu. Membuatku kesal saja! Kesal? Aku menyukainya? Tanpa sadar aku sudah menggaruk-garuk rambutku frustasi. Begitu menarikkah ia dimataku? Tetapi, wajahnya, begitu familiar bagiku. Aku ingin bertemu dengan anak perempuan itu lagi.

***

– Kang Rae Yoo’s POV –

Akhirnya syuting CF ini selesai. Perasaan canggung menyerangku selama proses syuting. Entahlah, aku bingung, aku merasa bahwa aku seharusnya tidak boleh leluasa bersama Jaejin oppa. Beginilah, aku terlalu memaksakan hatiku untuk tidak mencintainya lagi. Dan sejak datangnya Kwangmin di kehidupanku, bayangnya selalu muncul di pikiranku jika aku dekat dengan Jaejin oppa. Kwangmin-ah, apakah aku egois mengikuti kata hatiku?

Sebaiknya aku kembali ke changing room, namun saat sebelum aku ke ruangan itu, aku berjalan melewati beberapa staff yang sibuk membereskan alat-alat perlengkapan mereka, tetapi ada juga staff yang sibuk dengan komputernya, mungkin sedang mengedit hasil rekamannya atau mengedit photoshoot tadi. Ada 3 orang staff yang sibuk dengan satu computer, lalu aku mendekati mereka. Ternyata mereka sibuk mem-browsing dengan kata kunci ‘Boyfriend’, tentu saja nuna-nuna juga banyak yang tertarik melihat grup itu, pikirku. Karena aku penasaran, aku juga ikut bergabung dengan ke tiga staff tersebut.

“Ohh, Kang Rae Yoo-ssi!” seorang staff terkejut dengan kehadiranku.

“Gwaencanha, aku ingin melihat juga.” Aku tersenyum.

“Kau juga menyukai mereka?”

“Bukankah kalian di satu sekolah yang sama?” tanya staff bertubi-tubi, aku hanya mengangguk dan tersenyum malu, apa-apaan aku?

Aku terus memperhatikan, info apa saja yang mereka cari tentang Boyfriend, dan staff yang menggerakkan kursor mousenya mulai mengetik dengan kata kunci ‘Jo Twins Pre-debut’, dan hasil yang dicari telah keluar. Beberapa foto bermunculan, di hasil pencarian. Tunggu.. aku kenal anak itu! Bocah laki-laki yang sangat aku tunggui! Tapi, mengapa dua orang? Mereka kembar? Wajah mereka mirip sekali! Mereka adalah Youngmin dan Kwangmin! Jadi, siapa anak laki-laki diantara mereka yang pernah kukagumi dahulu?

– TBC –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s