FF “You’re My Precious” [Chapter 9]

part 9

Title : You’re My Precious [Chapter 9]

Author : Sabriena2Dgirl

Cast :

  • Kang Rae Yoo
  • Kim Hyun Joong (SS501)
  • Lee Jaejin (FT Island)
  • Mir (Bang Cheol Yong) (MBLAQ)
  • Lee Taemin (SHINee)
  • Jo Kwangmin (Boyfriend)
  • No Minwoo (Boyfriend)
  • Jo Youngmin (Boyfriend)
  • Choi Sulli (f(x))
  • Kim Nam Joo (A Pink)
  • Oh Sehun (EXO)

Special Appearance :

  • MBLAQ members

Genre : School life, Angst, Romance

Rating : PG-13

PS :  Happy Reading ^^

***

There are so many memories that we had
That is become a important history
I can’t forget it in hurry
Because that’s our destiny to have a meet

– Author’s POV –

“Oppa, kau sungguh tega sekali kepadaku.” Rae Yoo menghela nafas lega, seakan ia tadi merasakan situasi kritis tanpa jalan keluar.

“Kau sendiri yang mengatakan bahwa kau ingin kembali dengan si bassist itu.” balas Hyun Joong yang merasa tidak bersalah dengan memasang wajah polosnya.

“Tapi mengapa cepat sekali? Yang kukatakan tadi adalah perkataan di ambang batas pikiranku!” rewel Rae Yoo yang sungguh kesal pada namja tampan itu.

“Kutanya siapa yang kau sukai sebenarnya, tapi kau tidak menjawabku, padahal tidak masalah jika kau memberitahukannya kepadaku.” Hyun Joong berkata pelan.

“Jo Kwangmin. Aku menyukainya. Otte? Apakah oppa puas?”

“Mengapa harus bocah fanboy yang mirip denganku? Seperti tidak ada namja lain saja.” balas Hyun Joong dengan sengit, ia sengaja memancing emosi Rae Yoo.

“OPPA!! Aku menyukai Kwangmin bukan atas dasar karena ia mirip denganmu! Aku sungguh menyukainya, aku tidak main-main dengan perasaanku! Youngmin, ia kembarannya yang sangaaaat mirip, malah aku sering menjelek-jelekkan hyungnya itu, karena Kwangmin yang lebih tampan! Dan ia pangeran di negeri dongeng khayalanku!” seru Rae Yoo agar tidak kalah dengan Hyun Joong.

“Wuiiiih, keren sekali penanggapanmu. Aku yang sudah tua begini saja tidak seperti itu menyukai seorang yeoja.”

“Karena oppa sudah terlalu tua maka oppa tidak memiliki kisah cinta yang keren seperti remaja sekarang.” ledek Rae Yoo untuk Hyun Joong yang akhirnya menyerah dengan perkataan Rae Yoo yang lebih tajam darinya.

“Oppa, mianhae.. setidaknya kali ini aku harus menang darimu.” ucap Rae Yoo pelan, Hyun Joong hanya membalasnya dengan tersenyum lebar. Tiba-tiba saja terlintas di pikiran Rae Yoo untuk berfoto bersama Hyun Joong. Gadis itu langsung beranjak dari sofanya dan mengambil kameranya, kamera pengganti yang pernah di berikan oleh Hyun Joong untuknya.

“Mengapa membawa kamera?” dahi Hyun Joong berkerut saat gadis itu membawa kamera di tangannya.

“Oppa, ayo kita foto bersama!” pinta Rae Yoo berdecak senang.

“Wae?” tanya Hyun Joong yang masih heran.

“Sudah lama aku tidak memakai kamera ini sejak aku masuk SMA.” ujar Rae Yoo menyengir.

“Karena itu adalah pemberianku, jadi kau tidak sering memakainya lagi?” ucap Hyun Joong memajukan bibir bawahnya.

“Haissh oppa.. kau kekanak-kanakan sekali.. Jika kameraku waktu itu tidak hancur, mungkin sampai sekarang kita tidak akan pernah saling mengenal seperti ini.” sungut Rae Yoo sambil menggelengkan kepalanya menatap Hyun Joong.

“Waah, benar juga. Ayolah kita berfoto.”

***

Hari ini Rae Yoo pergi ke kantor SM, apalagi kalau bukan untuk urusan trainingnya. Hari ini pelatih trainingnya menguji hasil latihan Rae Yoo dalam beberapa hari ke belakang. Gadis itu sebenarnya malas sekali jika menerima pengujian-pengujian seperti ini. Dan setelah ia mengetahui bagaimana kerja keras Kai di SM, ia sungguh begeleng kepala, orang sehebat Kai saja yang ahli dalam berbagai dance malah menghabiskan waktu 7 tahun di SM. Ternyata impas sekali, teaser-teaser EXO yang telah diekspos oleh SM banyak menampilkan dance dari Kai, impas dengan waktu trainingnya selama 7 tahun itu, dan ia berpikir bahwa wajar saja SM lebih membanggakan Kai, walaupun sebenarnya Kai hanya di agung-agungkan sewajarnya seperti halnya member EXO yang lain oleh Lee So Man seongsaengnim langsung. Bukan Kai saja, tetapi juga dari Super Junior, mereka juga memiliki proses training yang sangat lama sebelumnya.

Sekarang Rae Yoo hanya berpasrah pada dirinya sendiri, bekerja keras dalam latihan, menunggu debut dan rekan yang akan bersatu dengannya nantinya. Karena tentu saja suatu hal yang akan terjadi membutuhkan proses, dan dalam hal satu ini, membutuhkan proses yang sulit untuk menembus industri hiburan di Korea.

“Haisssh.. lelah sekali!” umpat Rae Yoo sambil mengelap keringatnya dengan handuk kecilnya. Ia segera keluar dari ruangan trainingnya setelah selesai pengujian. Ia lebih memilih berlama-lama di salah satu ruangan dance yang berlatar belakang langit-langit biru untuk kumpulan artis SM, dan ruangan itu sering di jadikan tempat syuting dance Practice. Apalagi SHINee dan EXO sering di sana, membuatnya semakin betah.

Gadis itu sekarang berkutat dengan kameranya, memotret member SHINee yang sedang berlatihan untuk persiapan comeback mereka, dan rasanya ia ingin menertawakan dirinya sendiri karena kameranya terlalu banyak menjepret gambar Taemin.

“Ohh, jadi kau sudah beralih profesi menjadi paparazzi, begitu?” cibir Key yang menghampiri gadis itu saat jeda istirahat latihan mereka.

“Key oppa, aku adalah penggemar Lee Taemin-ssi!” seru Rae Yoo dan Taemin langsung menghampiri gadis itu seraya tersenyum senang karena mendengar ucapannya.

“Ayo berfoto denganku!” pinta Taemin bergerling ceria. Rae Yoo langsung memberikan kameranya kepada Key, dan Key hanya berpasrah karena ia sudah tahu maksud gadis itu menyuruhnya memotret dirinya bersama Taemin.

***

“Astaga, mereka keren sekali!!” decak Rae Yoo kegirangan melihat EXO berlatihan dengan judul lagu mereka, History. Ia merekam langsung gerakan dance mereka karena menurutnya koreografinya sangat bagus.

“Yaak, siapa namanya? Wufan? Nicknamenya Kris oppa? Benar kan? Rapnya keren sekali! How cool his face!” tanya Rae Yoo sambil berseru pada Taemin yang sibuk mengamati 12 lelaki yang bergerak dengan lincah.

“Ne. kau menyukainya? Apakah tidak cukup Sehun saja yang kau sukai?” kesal Taemin pada Rae Yoo, karena sikap fanatic fangirlnya kembali kumat.

“Kau juga masuk daftar idolaku, Lee Taemin! Jadi kau tidak perlu secemburu itu!”

“Tapi…” ucapan Taemin langsung dipotong Rae Yoo.

“Setidaknya kau harus bangga dengan dirimu sendiri. Dancemu sangat keren, suaramu sudah semakin bagus hingga kau masuk di Immortal Song, dan wajah tampanmu merupakan nilai yang lebih di dalam dirimu untuk melengkapi kemampuanmu.”

“Wuaah, aku tersanjung sekali dengan kata-katamu!” ucap Taemin meninggikan nada suaranya, seakan ia memang menyukai perkataan Rae Yoo. Namun Rae Yoo tidak merespon apa-apa, ia kembali berkutat dengan kameranya, memotret Kris.

Rae Yoo langsung bergidik terkejut karena Kris menangkap sosoknya dengan sorot mata yang sangat tajam yang tengah memotretnya dirinya seperti Paparazzi. Padahal Kris melihatnya dengan pandangan yang biasa saja, namun Rae Yoo takut, mengira bahwa sorotan matanya seakan ingin membunuhnya, sampai-sampai gadis itu reflek menyembunyikan kepalanya di balik badan Taemin. Taemin menertawakannya sekeras-kerasnya karena ia tahu hal itu.

***

Keesokan harinya, Rae Yoo menyempatkan dirinya untuk mengunjungi MBLAQ yang sedang comeback di SBS Inkigayo. Ia semakin heran saja dengan dirinya karena lagi-lagi ia berniat untuk berfoto sepuasnya dengan Mir.

MBLAQ menyambutnya dengan hangat, karena mereka tidak pernah dikunjungi oleh seorangpun saat mereka sedang beristirahat, hanya keluarga saja yang sempat mengunjungi mereka, apalagi Rae Yoo membawa lunch box untuk mereka, sama seperti yang dilakukannya kepada SS501.

“Gomawo yeodongsaeng!!” seru Mir hingga mencubit sebelah pipi Rae Yoo, Rae Yoo cemberut seketika dan mengusap-usap pipinya yang sedikit perih.

“Wuaaah, aku tidak menyangka kau kemari. Apalagi jika kau sering berkunjung di masa comeback ini, kami akan merasa bahagia sekali.” celoteh Lee Joon sambil mengunyah makanannya.

“Hehee, aku tidak bisa sering-sering melihat oppadeul. Aku sibuk dengan Training. Oppa tau sendiri kan bagaimana kerasnya di SM itu?” jawab Rae Yoo dan menyenggol badan Mir dengan sikutnya.

“Ne.. ne..” Mir hanya sibuk dengan makannya, mulutnya menggembung penuh.

“Haaish! Oppa…! Apakah aku harus mengajarimu makan yang benar?” gusar Rae Yoo melihat Mir makan tanpa sonpan santun.

“Kami yang hyungnya saja sangat kesusahan menghadapi anak ini.” ujar G.O yang geleng kepala dengan sikap Mir.

“Maknae kan harus bertindak se-cute mungkin.” Mir mengimut-imutkan suaranya.

“Lebih imut Lauren, Leo dan Dayoungie. Mir oppa kalah!” ujarku sambil tertawa karena Mir memajukan bibirnya, keempat hyungnya hanya terkekeh geli melihat tingkah Mir yang kekanak-kanakan.

“Ohh, Rae Yoo-ya. Kau tau kan FT Island akan comeback?” sela Mir, saat ia sudah menyelesaikan makannya.

“Ne, aku tahu. Waeyo oppa?” tanya Rae Yoo sambil mengutak-atik kameranya.

“Jaejin mengatakan, bahwa dia ingin sekali  kau datang saat comeback FT Island nanti. Dia tidak memintamu, ia hanya mengatakan ingin saja karena ia sering mencurahkan isi hatinya kepadaku.” ujar Mir santai.

“Dia berkata seperti itu? Hmm.. bagaimana aku bisa datang, aku saja sudah stres dengan training.” umpat Rae Yoo.

“Jadi kau berniat untuk datang jika kau tidak sibuk? Waah kau akan rugi jika tidak datang, namja itu semakin tampan karena rambut warna hitamnya, kau tahu?” selidik Mir untuk gadis itu.

“Bagaimanapun aku suka FT Island! Lagu mereka bagus! Maka dari itu aku ingin datang! Tapi itu tidak mungkin bagiku karena jadwal trainingku mulai padat! Dan memangnya ada apa dengan rambut hitamnya? Oppa ingin menggodaku? Aku tidak tertarik!” decak Rae Yoo emosi, ia menutup telinganya dengan kedua tangannya.

“Ohh baiklah kita harus berfoto sekarang.” tanggap Mir cepat karena ia tidak tahan mendengar suara gadis itu yang melengking. Lelaki itu segera mungkin berpose aneh bersama Rae Yoo, hingga mau tidak mau gadis itu juga berpose konyol seperti Mir.

***

Every single day, guard by my side and look upon me only
Because I love you too much
Will you say that one sentence that you love me now?
Everyday I love you, you love me only

Februari 2012,

– Jo Kwangmin’s POV –

Aku heran sekali dengan gadis itu. Hari ini kami berkumpul secara berempat seperti biasanya, tiba-tiba saja mengatakan bahwa ia lupa membawa kunci ruangan dance, jadi kami memutuskan untuk sementara berkumpul di atap sekolah. Kami tidak menyangka bahwa tempat ini benar-benar sepi, pilihan yang sangat tepat, bukan?
Ahh iya, aku memikirkan sebuah rencana agar aku dapat berdua saja dengan Rae Yoo, yaitu besok, di hari pengumuman kenaikan kelas, dan sepertinya disini tempat yang tepat untuk mengungkapkan perasaanku.

“Kwangmin-ah, aku ingin memberitahukan sesuatu besok, tapi….. hanya diantara kita berdua saja, setelah pembagian rapor kenaikan kelas. Apakah kau bisa?” tanya Rae Yoo secara berbisik tepat ditelingaku sampai-sampai ia bersusah payah berjinjit. Ia terlihat malu-malu karena tersenyum canggung kepadaku. Bukankah permintaannya manis sekali? Tepat sekali ia memintaku seperti itu, buatku penasaran saja.

“Ne, aku bisa. Kita bertemu di tempat ini saja.” ucapku sambil mengangguk mantap.

“Baiklah. Gomawo!” ucapnya yang masih tersenyum dengan manis. Saat ia berbalik ternyata Minwoo dan Youngmin menatap curiga kepadaku dan Rae Yoo.

“Aku penasaran.” ucap Youngmin pelan.

“Aku juga.” sambung Minwoo dengan menyipitkan matanya. Aku dan Rae Yoo terkekeh garing melihat mereka berdua.

“Opseoyo~ aku hanya membicarakan kalian saja.” ucap Rae Yoo membalikkan fakta yang bukan sebenarnya.

“Keurae! Keurae!”

“Biasanya kau selalu memihak kepadaku, mengapa sekarang pada Kwangmin?” tanya Minwoo memicingkan matanya pada Rae Yoo.

“Kurasa, tidak apa-apa jika mereka menyembunyikan sesuatu secara berdua. Aku tidak terlalu mempermasalahkan hal itu.” ucap Youngmin pelan, aku cukup tidak menyangka dari setiap perkataannya, seperti sudah mengetahui apa yang kurasakan.

“Kuakui mereka cocok untuk menjadi sepasang kekasih.” sambung Youngmin hingga aku terbatuk dan Rae Yoo membelalakkan matanya dan tiba-tiba ia tertawa keras.

“Hahahaa, kau menggunakan feeling ikatan darahmu dengan Kwangmin? Apakah itu akurat?” tanya Rae Yoo masih tertawa geli. Aigoo, tidak kusangka ia sampai berpikiran sejauh itu, hahahaa.

“Jika itu benar, maka aku tidak salah kan?” tanya Youngmin meyakinkan.

“Itu terserah padamu saja.” Rae Yoo menanggapi pernyataan Youngmin dengan enteng.

Gadis ini semakin lama rasa canggungnya tidak terlihat lagi, namun jika bersamaku, ia masih sering canggung denganku, padahal sudah berbulan-bulan kenal atau hanya berteman?

***

You keep coming into my heart
I seemed to have gone crazy
You don’t know why my heart is like this
You don’t know why my feeling like this

Keesokkan harinya ….

– Kang Rae Yoo’s POV –

Setelah pengumuman penilaian Rapot di kelas selesai, aku, Youngmin, Kwangmin, dan Minwoo menyempatkan diri untuk berfoto bersama, karena aku ingin sekali mengumpulkan koleksi foto-fotoku dari kamera pemberian Hyun Joong oppa ini. Aku cukup heran dengan diriku sendiri, aku sungguh ingin sekali cepat-cepat berfoto. Sebuah foto memang menjadikan bukti sebuah kenangan, ahh tapi aku kan tidak berniat meninggalkan mereka.

Aku memanggil Sehun oppa yang kebetulan berpapasan olehku, ia terlihat terburu-buru.

“Oppa, sekali saja. Kita sesama anggota SM setidaknya harus memiliki foto bersama, apalagi kita di satu sekolah yang sama.” pintaku dengan rengekkan khasku yang cukup buruk. Sejak mengenal Sehun oppa, aku dekat sekali dengannya karena humornya yang cukup tinggi, sama sepertiku. Bahkan ia tahu bahwa aku menyukainya sebagai sunbaenim yang sangat tampan. Hahaa..

Posisiku dengan Sehun oppa saat berpose begitu dekat, sampai ada juga pose dimana Sehun oppa merangkulku. Kali ini aku begitu khawatir hingga memperhatikan Kwangmin, ia hanya menundukkan kepalanya tampak masih menungguku, aku yakin pasti ia sudah melihat pose ini. Heuuuh ….. mati-matian aku menghindari namja-namja di dekatku demi Kwangmin.

“Kau ini aneh sekali. Seharusnya kita berfoto setelah berkumpul dari aula, maka sepuasnya kau bisa berfoto bersamaku.” ujar Sehun oppa heran, dan aku hanya terkekeh menerima pernyataan sunbaeku itu yang cukup percaya diri.

“Setelah itu aku akan menghapus semua hasil fotonya!” seruku sarkastis.

“Kau!” geram Sehun oppa dan sedikit mendorong tubuhku dengan bahunya. Aku hanya tertawa lepas karena ini kali pertamanya aku mengalahkan Sehun oppa dalam berbicara.

“Ahh iya, kau tidak berfoto bersama Sulli?” tanya Sehun oppa.

“Aku tidak melihatnya, yang pasti aku tidak akan tidak berfoto bersamanya.” jawabku tulus, aku berpikir bahwa tidak seharusnya aku berlama-lama menjadikannya musuh bebuyutannya.

“Baiklah, aku pergi.”

Sehun oppa dengan ramah menaikkan tangannya untuk Ketiga member Boyfriend tersebut, dan di balas oleh mereka dengan anggukan dan senyuman.

“Kalian dekat sekali..” ledek Minwoo cepat setelah aku berhambur kepada mereka bertiga.

“Ahh, masa kau tidak mengerti. Kami adalah keluarga SM, SM Town Family. Maka dari itu kami dekat seperti layaknya keluarga sendiri.” ujarku semangat. Setidaknya Kwangmin bisa mengerti, karena sedari tadi aku melihat raut wajahnya sedikit gusar, aku jadi menduga-duga ia kesal terhadapku.

“Waah, jika kau training di StarshipEnt, pasti kita bisa menjadi sebuah keluarga.” balas Minwoo, membuatku mengangguk maklum. Jika aku satu keluarga di StarshipEnt, maka aku tidak akan bisa menyukai Kwangmin. Namun aku menyukai kenyataan sekarang bahwa aku mencintainya.

“Yaa~ mengapa tidak pakai kamera Polaroid?” Youngmin mengalihkan pembicaraan.

“Aku tidak punya. Kau artis kan? Pasti kau memilikinya.” sergahku.

“Tapi kau anak orang kaya, pasti kau memilikinya.”

“Tapi aku tidak sekaya yang kau pikirkan. Kalian artis, dan orang tua kalian adalah orang kaya. Kameraku ini saja di berikan oleh Hyun Joong oppa, hebatkan? Kalau tidak ada dia pasti aku tidak memiliki kamera sampai sekarang.”

“Jinjja?!” tanya Kwangmin secara tiba-tiba yang sedari tadi terdiam mendengar celotehan kami, syukurlah dia mengeluarkan suaranya.

“Tidak mungkin aku berbohong. Kau bisa tanyakan langsung pada Hyun Joong oppa.” jelasku kepadanya.

“Ya sudahlah, kita harus berfoto sekarang!” ucap Minwoo tidak sabaran.

Di koridor ini tidak banyak siswa-siswi yang berlalu lalang, jadi kami dapat berfoto sepuasnya tanpa gangguan murid-murid lain. Tapi kami menemukan 1 orang murid yang bersedia menjadi fotografer kami. Kami mengatur posisi berdiri masing-masing, dari Kwangmin, aku, Minwoo, hingga Youngmin sebelah paling kanan. Sebelumnya aku langsung menyelip di antara Minwoo dan Kwangmin agar aku dapat berada di posisi itu, hahaa.. saat si fotografer mulai menghitung untuk mengambil sebuah frame, dihitungan ke 2, Kwangmin langsung merangkulku mendekat ke tubuhnya. Jantungku berdetak lebih cepat, dia sungguh mengagetkanku, namun aku bisa mengendalikan diri dengan memasang senyum di wajahku, untunglah bukan wajah tololku yang melongo karena perbuatannya. Hingga beberapa kali jepretan, Kwangmin tidak melepaskan tangannya dari bahuku. Aigoo, sejak pertama kalinya ia merangkulku, hingga sekarang ia sering sekali merangkulku, bagaimana perasaanku bisa berpaling jika ia secara terus menerus berbuat seperti ini kepadaku? Aku benar-benar terperangkap olehnya.

Setelah selesai berpose secara berempat, aku meminta kembali kameraku, karena aku ingin berfoto secara berdua dengan Kwangmin.

“Sudah selesai kan?” tanya Youngmin.

“Belum. Kalian, foto berdua. Aku harus mendapatkan hasil foto dua kembaran langka seperti kalian.” ujarku seraya mengatur 2 tubuh tinggi ini untuk berpose secara berdua dan Minwoo segera berdiri di belakangku.

“Kalian kurang dekat!” seru Minwoo sambil menyeringai dengan wajah tanpa-dosanya.

Jo Twins berpose secara berdua, mereka begitu canggung satu sama lain, aku heran sekali dengan kembaran ini. Terlebih Kwangmin, aku jadi ingin tahu apa yang ada dipikirannya tentang hyungnya satu ini. Hanya memerlukan beberapa detik saja untuk mengambil sebuah jepretan yang bagus, aku kagum dengan sosok Youngmin yang segera merangkul tubuh adiknya itu dan mereka melakukan ‘V sign’ bersama-sama sambil tersenyum lebar mungkin. Aku puas sekali mendapatkan hasil foto ini dan memilikinya secara pribadi, foto ini sungguh Jo Twins moment yang keren sekali!

“Inilah kembaran. Aku senang melihat kalian sedekat ini!” decakku kesenangan.

“Aku punya caraku sendiri bagaimana menyanyangi adikku.” balas Youngmin sambil tersenyum malu.

“Ahh, bicaramu panjang sekali.” ledek Kwangmin untuk hyungnya itu.

“Nah, sekarang giliranmu berfoto bersama adikku. Kau akan tahu bagaimana canggungnya saat bersama dengannya.” Youngmin langsung merampas kamera yang berada di tangan kananku.

Astaga, mengapa seperti itu yang dikatakan Youngmin? Aku malah semakin canggung di dekatnya dan betapa susah payahnya aku mengontrol diri sendiri untuk tidak meledak kesenangan. Sekarang aku tidak tahu bagaimana ekspresi wajahku, mungkin memalukan sekali, dan Kwangmin hanya menyengir dan mengangkat tangan dan bahunya, menandakan bahwa ia pasrah saja. Mataku membulat mengamati Youngmin dan Minwoo yang tersenyum dan cekikikan secara bersamaan saat melihat kameraku. Haissh, jangan-jangan mereka melihat-lihat hasil jepretanku selama ini. Hasil jepretan dan pekerjaanku setiap Kwangmin berada di mana saja, sebisaku saat dia di pandanganku, aku memotretnya bagai Paparazzi mencari mangsa.

“Kapan kau akan memotret kami?” tanyaku dengan nada kesal.

“Waah, sepertinya Rae Yoo kita tidak sabaran. Ayolah hyung, kau jangan membuatnya menunggu terlalu lama.” cengir Minwoo.

“Baiklah, aku pastikan dia tidak kesal dengan jeda waktu yang sedikit lama.” sambung Youngmin yang ikut-ikutan.

Demi Tuhan, aku ingin menelan mereka bulat-bulat! Awas saja jika mereka membuka kedokku selama ini, dan aku pastikan mereka tidak akan hidup dengan tenang!

“Agassi, tersenyumlah. Kameramu akan segera pecah jika kau merengut seperti itu.” goda Minwoo yang membuatku semakin memanas. Anak itu …!

“Rae Yoo-ya.. aku akan kecewa jika kau tidak senang berfoto denganku.” suara bisikan namja itu yang sangat jelas kudengar, bisa-bisa aku terlena hingga pingsan jika aku tidak bisa bertahan dengan diriku sendiri, hembusan nafas dan suara yang sangat dalam, Omona, Jo Kwangmin!!

Aku tersenyum semanis mungkin agar tidak mengecewakan namja itu, aku tidak peduli pada Minwoo dan Youngmin, mereka pasti sudah mengetahui semuanya. Toh, aku tidak rugi jika mereka memberitahukan hal ini kepada Kwangmin, malah aku mendapatkan peluang besar agar namja itu juga menyukaiku, oh tidak.. mencintaiku yang lebih tepatnya.

“Hana.. dul.. set..” hitung Youngmin. Kwangmin menarikku cepat dan merangkulku lebih dekat dengan tubuhnya. Kaki kiriku berjinjit, hanya kaki kananku yang membuatku bisa berdiri normal. Jika ia melepas rangkulannya, maka aku bisa terhuyung ke belakang dan jatuh.

“Hhh.. mianhae.” Kwangmin menyengir dan aku dapat berdiri normal dengan kedua kakiku kembali. Namja itu membuatku gila hari ini.

“One more!” ucap Minwoo dan aku mendelik ke arahnya, bisa-bisanya bahasa Inggris keluar dari mulutnya untuk mengerjaiku. Kali ini aku membentuk tanganku menjadi bentuk setengah hati dan Kwangmin menurut, lalu langsung menautkannya hingga berbentuk hati yang sempurna.

“One more!” perintah Youngmin, yang membuatku ingin meledak sekarang juga!

“YAAA! Kau bilang sekali lagi, tapi mengapa meminta sekali lagi? Kalian tidak pandai berbahasa Inggris jangan gunakan bahasa itu seenaknya!” decakku kesal dan mengejar mereka untuk merebut kembali kameraku.

***

Well there’s a time for giving up
Didn’t wanna have to say it
All we’re doing is building walls
And now there’s too many barriers

– Author’s POV –

Hasil kenaikan kelas sangat memuaskan. Tidak ada satupun murid yang tertinggal kelas. Semua murid berbondong-bondong masuk dan berkumpul di aula untuk mendengarkan beberapa pengarahan dari Kepala Sekolah dan guru-guru. Hingga seorang songsaengnim memberikan nasihatnya.

“Kalian harus bersungguh-sungguh dan serius dalam bidang masing-masing. Dan jangan meniru perbuatan dari Dance Queen kita yang sedikitpun tidak bertanggung jawab atas perbuatannya.” ucap Songsaengnim tersebut. Rae Yoo yang mendengarkan pidato dari gurunya itu terkelu dan menatap gurunya tersebut dengan pandangan tidak percaya. Kwangmin, Youngmin dan Minwoo yang berada di dekat Rae Yoo langsung menolehkan mata mereka ke arah gadis itu.

“Benarkah?” tanya Minwoo tidak percaya.

“Kau tidak mengikuti Showcase kemarin?” tanya Youngmin yang turut heran.

“Sudahlah, tidak perlu dibahas, itu sudah lewat.” Rae Yoo beranjak berdiri dari kursi penonton, ia ingin pergi dari gedung itu secepatnya, karena ia merasa malas mendengarkan perihal yang tidak mengenakkan untuknya. Tiba-tiba Kwangmin memegang tangan Rae Yoo, maksud untuk menahannya pergi.

“Janji kita?” Rae Yoo terhenyak sesaat mendengar perkataan Kwangmin, dan ia menatap genggaman lelaki itu di tangannya. Kwangmin mengkhawatirkannya, ia sungguh senang atas sikap lelaki itu.

“Aku hanya di luar saja. Aku tidak akan melupakan hal itu.” jawab Rae Yoo tersenyum sebisa mungkin, ia sungguh tidak ingin melepaskan genggaman Kwangmin, tapi ia harus keluar dari tempat itu segera.

Namun saat melepaskan genggaman tadi, Kwangmin merasakan ada sesuatu yang sangat mengganjal. Ia tidak ingin melepaskan Rae Yoo begitu saja. Ketika Rae Yoo keluar dari kerumunan kursi-kursi penonton, ada seorang namja yang menahannya pergi di dekat pintu, namja itu adalah Sehun, sunbaenimnya di sekolah tersebut dan di SM. Sehun merangkul gadis itu dan keluar dari gedung tersebut. Kwangmin yang melihatnya tidak hanya tinggal diam saja, ia sesegera mungkin beranjak dari tempat duduknya dan berusaha untuk menyusul Rae Yoo. Youngmin dan Minwoo sungguh keheranan dengan sikap Kwangmin yang sungguh tidak biasanya terhadap seorang yeoja, apalagi Youngmin, kakaknya yang lumayan mengerti sikapnya, melihat kembarannya tersebut jatuh cinta untuk pertama kalinya.

Kwangmin sungguh geram dengan pandangan yang ada dihadapannya. Ia sungguh sulit untuk menahan rasa cemburunya itu saat ini. Ia melihat Rae Yoo begitu nyaman saat Sehun merangkulnya dan menepuk bahunya kecil, maksud untuk menenangkan gadis itu.

“Mengapa bukan aku yang berada di posisi namja itu? Mengapa bukan aku yang mengetahui apa yang kau rasakan saat ini? Mengapa bukan aku yang menenangkanmu? Apakah aku tidak pantas diposisi itu saat ini?” batin Kwangmin bertanya-tanya dengan rasa kecewa.

“Oppa, lebih baik kau  masuk segera. Teman-temanmu pasti sudah menunggumu.” ucap Rae Yoo tersenyum kecil.

“Yakin? Kau tidak mau aku temani?” tanya Sehun dan gadis itu hanya mengangguk ringan.

“Baiklah. Hubungi aku jika kau membutuhkanku.” ujar Sehun yang segera berjalan ke arah gedung aula.

“Sekarang aku sendirian. Harus kemanakah aku pergi?” tanya Rae Yoo dalam hati, ia bingung harus melangkah kemana lagi.

Rae Yoo menatap gedung aulanya dan tersenyum kecil. Ini semua yang telah dilakukannya hanya atas nama Jo Kwangmin, namja yang setiap harinya mengisi otaknya. Sekalipun mengorbankan apa yang telah ia sandang selama beberapa bulan dan melepaskannya begitu saja hanya demi untuk tidak mengecewakannya. Ini sungguh hal yang ternekat yang pernah di lakukan Rae Yoo hingga menyangkut dengan gurunya yang membencinya.

“Apapun kulakukan adalah karenamu. Sekecil apapun agar kau mengerti bahwa aku sangat mencintaimu, walaupun kau belum mengetahui hal ini.”

Tanpa Rae Yoo sadari, ada seorang namja berhoodie hitam yang melangkah tenang mendekatinya. Dan sontak Rae Yoo bergidik kaget karena ada seseorang yang memeluknya dari belakang, memeluknya dengan sangat erat. Kwangmin yang masih berada di dalam gedung dan melihat gerak gerik Rae Yoo dari kejauhan, menatap nanar dan geram pada pemandangan di hadapannya, hingga ia mengepalkan tangannya dan menghempaskannya ke udara.

“SIALAN!” umpat Kwangmin dengan memejamkan matanya kuat-kuat dan menggigit bibir bawahnya. Gadisnya, dipeluk oleh mantan kekasihnya.

“Aku, sangat merindukanmu.” bisik namja itu tepat di telinga Rae Yoo.

“Jaejin oppa?” tebak Rae Yoo, gadis itu memang sangat hafal pada suara mantan kekasihnya itu.

“Ne.”

“Oppa… “

“Tunggu sebentar.”

“Tapi …… ” ucapan Rae Yoo langsung di potong oleh Jaejin.

“Terima kasih sudah memaafkanku.”

“Kita ….. ” lagi-lagi Jaejin tidak memberi kesempatan kepada Rae Yoo untuk mengeluarkan suaranya.

“Tidak perlu kau bahas, aku mengerti. Ini terakhir kalinya, aku memelukmu seperti ini. Aku tidak bisa menahan rindu ini.” ucap Jaejin pelan, namun begitu terserap pada hati Rae Yoo, kali ini ia sungguh bingung. Jaejin kah? Kwangmin kah?

“Oppa, ini di sekolah. Semua orang akan mengenalimu, aku tidak mau akan terjadi skandal yang seperti dulu lagi. Pahamilah aku, oppa.” pinta Rae Yoo dan jemarinya perlahan melepaskan tangan Jaejin dari tubuhnya. Jaejin begitu tidak ingin melepaskan gadis itu secepat mungkin.

“Oppa, tak sepantasnya kau seperti ini kepadaku!”

“Mianhae. Mianhae.. aku tidak memaksamu, hanya saja aku mengikuti kata hatiku. Aku tetap saja tidak bisa menerima bahwa kau melupakanku dan akan menggantikanku dengan namja lain. Aku tidak bisa menerima kenyataan itu.”

“Berkali-kali aku mengingatkan diriku sendiri setiap bertatap denganmu. Mengatakan ‘ini terakhir, menjadi yang sangat terakhir’. Dan aku tidak bisa menganggap semua hal tentangmu untuk dijadikan perpisahan.” Pernyataan Jaejin sungguh membuat Rae Yoo tertegun, tidak sepantasnya ia kembali hanya karena merasa kasian pada Jaejin,

“Oppa…” ucap Rae Yoo lirih, namun Jaejin dengan gerak cepat mengecup lembut dahi gadis itu.

Kwangmin menggertakkan giginya, menahan semua emosi dan rasa cemburunya. Ia menatap lemah pada pemandangan yang sangat menyakitkannya. Bagaimana jika benar gadis itu sudah kembali pada mantan kekasihnya tersebut?

Jaejin berusaha mengunci janjinya, inilah yang terakhir, terakhir kalinya ia mencintai gadis yang sangat berpengaruh dalam hidupnya. Sebuah kecupan terakhir di dahi gadis itu menandakan bahwa ia masih sangat menyayanginya, merelakan apapun agar gadis itu dapat hidup dengan bahagia tanpa dirinya yang selalu mengganggunya. Namun ia tidak cukup yakin, tidak bisa menjamin semua hal itu adalah untuk yang terakhir kalinya. Setidaknya ia harus berusaha semampunya.

“Kwangmin-ah, ottohke? Kuharap kau tidak melihat apa yang dilakukan Jaejin oppa terhadapku. Aku takut sekali …. ” cemas Rae Yoo dalam hati. Ia menoleh ke kiri-kanannya setelah Jaejin melepas kecupannya. Jaejin menatap bingung dengan ekspresi Rae Yoo yang sangat terlihat jelas seperti mengkhawatirkan sesuatu. Rasanya Rae Yoo ingin sekali memaki namja yang ada dihadapannya sekarang, entah harus bagaimana ia melampiaskan kekesalannya, namun ia tidak tega berbuat kasar pada namja itu.

“Oppa, aku pergi.”

“Wae?”

“Mengejar yang seharusnya aku kejar sekarang juga.” ucap Rae Yoo singkat dan meninggalkan Jaejin yang menatapnya bingung. Dia sungguh tidak peduli pada mantan kekasihnya itu, yang ada dipikirannya sekarang adalah Jo Kwangmin, menepati janji mereka yang tidak boleh dilewatkan begitu saja.

Rae Yoo mencari-cari sosok Kwangmin di aula, tetapi ia tidak menemukan lelaki itu.

“Kwangmin kesal sekali saat kau pergi tadi. Sekarang aku tidak tahu ia pergi kemana, karena ia meminta kami untuk tidak mengikutinya.” Jelas Youngmin kepada gadis itu yang sedang sibuk mengatur nafasnya, padahal ia hanya berlari  dengan jarak 10 meter, namun keadaannya sekarang seperti sesudah berlari marathon.

“Hhhhh… kemana anak itu? Aku akan mencarinya lagi.” ujar Rae Yoo yang segera berlari kembali untuk keluar dari aula.

“YAAK! Chamkan! Kami ikut juga!” seru Minwoo sambil menarik tangan Youngmin agar lelaki itu ikut menyusul Rae Yoo secara bersama.

***

If уου lіkе mе, look back аt mе, јυѕt a small qυісkеr
Hold mу hand before I gο οn, before mу lіkе dies out
Cаn’t уου bе οn mу side ѕο уου саn endlessly laugh аnd endlessly wеер wіth mе?
Bесаυѕе I wіll οnlу lіkе уου even though іt hυrtѕ ѕο much

Rae Yoo berlari hingga sampai di depan gedung sekolahnya, ia berhenti dengan menundukkan badannya 90 derajat dan menumpukan tangannya di lututnya untuk menahan tubuhnya, karena ia sungguh lelah sekali, gadis itu memang lemah sekali dalam hal berlari. Setelah memastikan sudah cukup mengambil nafas, ia berlari kembali menuju kelasnya. Cepat-cepat ia merogoh tasnya, menemukan kontak pensilnya dan membukanya. Ia menatap suatu benda yang tidak boleh dilupakannya, pensil Pikachu pemberian Kwangmin dahulu, ia mengambilnya dan menggenggamnya erat-erat di tangannya.

Youngmin sengaja memberi pengarahan pada Minwoo agar mereka tidak terlihat oleh Rae Yoo, karena Youngmin ingin mengamati bagaimana Rae Yoo berusaha untuk adiknya itu.

Kali ini Rae Yoo sungguh kelelahan setengah mati dan secara perlahan dengan satu-persatu langkah kakinya menaiki tangga yang menuju ke atap gedung sekolah.

“Astaga! Dengan keadaan seperti ini aku bertatap muka dengan Kwangmin?” serunya dalam hati. Ia mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Ketika sudah yakin, ia membuka pintu yang berada di hadapannya secara perlahan. Rae Yoo terkaget karena ada seorang siswi yang berdiri tepat di depan pintu dengan posisi membelakanginya.

“Namjoo?”

“Ohh, kau kaget mendapatiku disini?” tanya Namjoo sengit

“Apa urusanmu disini?” tanya Rae Yoo dengan membulatkan matanya, ia kesal sekali pada gadis itu karena sudah mengetahui tempat rahasianya.

“Urusanku? Sebenarnya apa yang kau lakukan terhadap temanku? Itu yang menjadi urusanku agar ia tidak hancur!” seru Namjoo dengan nada suara yang meninggi seakan ingin menerkam Rae Yoo sekarang juga.

Rae Yoo heran dengan perkataan Namjoo, dan ia mendelik ke arah lain dan mendapati seorang lelaki yang tengah berdiri sembari mendongakkan kepalanya menatap langit yang mendung melukiskan perasaan hatinya yang persis sama dengan awan-awan hitam tersebut. Tangan kanannya menggenggam erat sebuah buku yang tidak terlalu tebal, seakan buku itu tidak boleh terkoyak, tergores, ataupun terkotori sedikitpun, buku yang sangat berarti bagi hidupnya.

Rae Yoo berjalan perlahan mendekati lelaki itu, perasaannya sungguh buruk, ia takut jika lelaki itu mengabaikannya.

“Kwangmin-ah.. ” panggil Rae Yoo lirih, dan Kwangmin mengalihkan tatapannya ke arah gadis itu, semburat kekecewaan yang mendalam sangat kontras terlihat dari wajahnya. Membuat Rae Yoo merasa bingung dan bersalah secara bersamaan. Tangan Kwangmin bergetar saat mengulurkan buku di genggamannya untuk Rae Yoo dan Rae Yoo menerimanya dengan hati-hati.

“Kuharap kau membacanya, dan jangan pernah mengembalikannya untukku. Mungkin hari ini akan menjadi kisah terakhir yang akan tertulis di buku itu. Tetapi aku tidak akan menulisnya, karena aku tidak tahu kisah hari ini yang sebenarnya. Hanya sedikit bagian yang aku tahu, bahwa namja dalam tokoh utama itu sangat terluka saat mengetahui yeoja yang di cintainya bersama mantan kekasihnya, hingga mulai hari ini ia akan berusaha untuk tidak mencintainya lagi walaupun itu adalah hal tersulit yang tidak memungkinkan baginya. Mungkin juga menjadi menjadi hal tersulit karena ia masih bisa melihat yeoja itu di sekolah. Tapi persepsi dalam mencintai seseorang kan harus tetap merelakan apapun asalkan orang yang dicintainya tersebut hidup bahagia di bumi ini, hanya melihatnya bahagia sudah cukup, tanpa menyakitinya. Bisa disimpulkan bahwa namja itu adalah seorang namja yang sangat bodoh, karena tidak bisa mengungkapkan perasaannya secara langsung kepada yeoja yang dicintainya.” tutur Kwangmin jelas hingga ia meneteskan air mata kekecewaannya. Ia sungguh hancur hanya karena gadis itu.

Rae Yoo yang memahami maksud perkataan Kwangmin terkelu dan menatapnya tidak percaya. Tanpa ia sadari air matanya mendesak keluar. Lelaki itu mencintainya, ia menyesal dengan kenyataan bahwa ia telah menyakiti lelaki yang sangat dicintainya, lelaki yang ia temui di masa kecilnya dahulu, lelaki yang sangat ia kagumi hati dan ketampanannya yang tidak terhingga. Beribu, mungkin tidak akan pernah terhitung penyesalannya yang ia anggap benar-benar sia-sia jika ia keluarkan dari air matanya saja. Kwangmin menatapnya nanar, sebenarnya ia tidak tega mengatakan hal itu secara langsung, namun seperti itulah yang dirasakannya, ia tidak bisa menyembunyikan apa-apa lagi, ia sudah cukup kuat menahan gejolak hatinya setiap hari yang terpendam kukuh. Hari ini rasa cemburunya benar-benar meledak, ia tidak dapat menahan emosinya, dan sekarang ia sudah lelah, tidak sanggup menghabiskan hati dan pikirannya hanya untuk gadis itu saja.

“Apakah sebaiknya aku harus pergi dari hadapanmu hingga kau sepenuhnya bisa melupakanku dan tidak mencintaiku lagi. Bahkan kau tidak akan tersakiti lagi karena aku, benar kan?”  batin Rae Yoo.

Ia mengulurkan tangan kanannya yang sedari tadi ia genggam dengan sebuah pensil bercorak Pikachu yang diujungnya terdapat boneka Pikachu kecil. Gadis itu memberanikan dirinya untuk meraih jemari Kwangmin dan menggenggam keseluruhannya agar Kwangmin memegang pensil itu sepenuhnya. Lelaki itu menahan nafas berat saat tangannya disentuh oleh Rae Yoo.

“Benda kecil itu sudah bertahun-tahun lamanya denganku. Aku menyimpannya dengan sangat baik, dan tidak kubiarkan seorangpun meminjam bahkan menyentuhnya sedikit saja. Hingga aku tidak pernah menggunakannya sejak kau berikan, karena benda itu sangat berharga artinya. Karena itu adalah hak milikmu, aku menjaganya dengan baik dan pada hari ini, aku mengembalikannya kepadamu seutuhnya. Dan buku yang kau berikan ini, sungguh terima kasih. Aku akan menjaganya sebaik mungkin, karena ini adalah pemberianmu, maka ini akan menjadi benda yang akan kujaga hingga aku mati. Jika ada yang bertanya, aku akan menjawab, buku ini adalah pemberian seorang namja yang pernah kucintai.”

Gadis itu berbicara dengan diiringi isak tangisnya yang tertahan-tahan, membuat Kwangmin semakin tidak sanggup melihat gadis itu menangis karenanya. Ia tidak habis pikir bahwa gadis itu juga mencintainya. Terbersit dipikirannya, ingin sekali ia merengkuhnya ke dalam pelukannya, tapi itu hanya hal bodoh, ini tentang perasaannya yang sudah beberapa kali tertindas karena gadis itu, namun rasa cintanya sungguh tidak bisa dipungkiri lagi, memang sungguh hal yang tidak mungkin dihapus begitu saja.

“Maafkan aku..” ucap Rae Yoo sesunggukkan. Ia berbalik dan memutuskan untuk pergi dari hadapan Kwangmin. Semakin cepat ia pergi, maka tidak akan terlalu menyakitinya, menurutnya.

“Menyedihkan! Lebih baik kau pergi sejauh mungkin, agar Kwangmin tidak melihatmu dan bisa dengan mudah melupakanmu. Jika kau tetap muncul di pandangannya, kau hanya semakin menyakitinya saja. Kau tidak ingin Kwangmin menderita karenamu kan?” seru Namjoo sarkastis.

Rae Yoo sungguh mengiyakan pernyataan Namjoo untuknya. Pergi dan menghilang dari kehidupan Kwangmin, tidak akan pernah muncul lagi. Namun hal itu sungguh berat baginya, di saat itu juga ia ingin Kwangmin secepatnya merubah jalan pikirannya.

“Kwangmin-ah, aku ingin kau menahanku pergi, kumohon.” gumamnya dalam hati. Kaki Rae Yoo memang sangat lemah, sistem kerja tubuhnya melemah karena air mata dan isakan tangis yang ditahannya yang tidak kunjung berhenti.

Kwangmin justru merasa ada beban yang sangat berat di hati kecilnya, melihat gadis itu memunggunginya dan melangkah perlahan dengan kaki yang lemah menjauhinya, semakin tidak tega dan menyalahkan dirinya sendiri karena membuat gadis itu menjadi lemah seketika.

“Rae Yoo-ya, mianhae. Aku sungguh egois mengutamakan perasaanku.” Kwangmin terkulai lemas hingga jatuh terduduk, hanya kakinya yang menahan tubuhnya. Pikirannya mulai mengambang bagaimana jika hari ini adalah sebuah perpisahan yang akan terjadi selamanya?

***

“Yaa Namjoo!! Kau tidak boleh berkata seperti itu pada Rae Yoo!” pekik Minwoo pada Namjoo. Minwoo sungguh tidak menyangka pada ucapan gadis itu. Namun Namjoo tidak peduli, secepatnya ia memilih menghampiri Kwangmin.

“Rae Yoo-ya, kau tidak mungkin melewati tangga-tangga itu!” ucap Youngmin khawatir melihat kondisi Rae Yoo yang terlihat dari wajahnya yang basah karena air matanya hingga memucat dan tubuh yang bergetar, sampai-sampai gadis itu memeluk dirinya sendiri beserta buku pemberian Kwangmin tadi seperti sedang kedinginan.

“Kau hanya membahayakan dirimu sendiri jika kau berkeras kepala seperti itu!” sambung Minwoo yang geram pada sikap gadis itu.

Rae Yoo memberanikan diri untuk mendongakkan wajahnya untuk melihat kedua temannya, yang sudah ia kenal beberapa bulan lamanya. Wajah Youngmin terlihat sisa-sisa air mata yang membekas, dan ia meyakini bahwa Youngmin menangis karena saudara kembarnya yang telah disakitinya, ia menjadi begitu merasa bersalah pada teman akrabnya tersebut. Minwoo yang telah menjadi sobat karibnya dalam hal dance, dan menghabiskan waktu istirahat di practice room secara berdua hanya untuk sekedar berlatih dance jika Jo Twins tidak kunjung datang ke ruangan itu. Mereka adalah teman yang sangat berarti bagi Rae Yoo, ia tidak pernah mendapatkan teman semenyenangkan seperti mereka.

“Aku tidak akan pernah menyesal bahwa aku pernah mengenali kalian sebagai temanku. Maafkan aku, jika aku mempunyai beberapa kesalahan..” ucap Rae Yoo terbata-bata. Youngmin dan Minwoo meneteskan air mata mereka untuk gadis itu, berpikir bahwa perkataannya akan menjadi ucapan terakhir yang di dengar oleh mereka.

Gadis itu segera melewati kedua tubuh tinggi yang menghalanginya pergi, menuruni anak-anak tangga itu secara perlahan dengan memegang pegangan tangga tersebut agar ia tidak mudah terjatuh begitu saja karena tubuhnya yang lemah.

Saat gadis itu telah sampai di lantai bawah, Sehun yang melihatnya terkejut dan segera menghampirinya, membantu Rae Yoo berjalan karena langkah kakinya yang sudah tertatih-tatih.

“OMONA?! WAE? Biar aku yang tangani! Kau ambil tasnya di kelas!” seru Sulli yang juga terkejut saat melihat Sehun membawa Rae Yoo ke dalam mobil van mereka. Sehun berlari kembali ke gedung sekolah dan cepat-cepat kembali ke mobil.

“Rae Yoo-ya, wae?” tanya Sulli, kali ini ia sungguh khawatir melihat Rae Yoo dengan keadaan seperti itu.

“Katakanlah. Apa yang terjadi kepadamu?” tanya Sehun yang juga penasaran dengan keadaan Rae Yoo yang parah saat ini.

Rae Yoo tidak sanggup menjawab pertanyaan mereka. Ia merasa bahwa tubuhnya sungguh lemah, dan ia ingin mengumpulkan energinya kembali.

“Aku sudah khawatir saat mendengar pidato dari Cho songsaengnim tadi. Aku tidak habis pikir pada guru satu itu.” Sulli menghela nafas beratnya, ia merangkul tubuh Rae Yoo dan mengusap bahunya, gadis itu memang berniat baik untuk menenangkan Rae Yoo.

“Untunglah kau menenangkan Rae Yoo setelah itu.” sambung Sulli berbicara pada Sehun.

“Tapi keadaannya tadi tidak seperti ini. Tadi ia tidak seburuk ini.” rungut Sehun, ia kesal pada dirinya sendiri.

Rae Yoo sungguh tersentuh atas perlakuan Sulli dan Sehun terhadapnya, ia membayangkan bagaimana jika ia memiliki kakak kandung seperti sosok mereka, menenangkannya di saat ia terpuruk, mendapatkan perhatian yang sangat lebih. Tidak seperti kedua kakak-kakak kandungnya yang sedang sibuk di luar negeri. Bahkan untuk 1 bulan saja tidak pernah menelponnya sekalipun.

Ia sungguh tidak menyangka ternyata Sulli seorang yang sangat baik, ia salah menduga bahwa Sulli orang yang arogan, suka menantangnya, pencemburu besar, dan ia sungguh tidak menyukai Sulli yang tidak mau kalah dengannya, yang sudah dia anggap musuh bebuyutannya. Tapi gadis itu benar-benar membuatnya sedikit bisa bernafas lega hari ini, setidaknya beban satu ini tidak terlalu memberatkannya lagi karena ia akan pergi, tidak ingin meninggalkan begitu banyak bekas keburukan di tempat ini.

“kau tidak perlu berbicara, tenangkanlah dirimu. Semuanya akan baik-baik saja, aku dan Sehun akan mengantarmu pulang sekarang juga.” Sulli memegang kepala Rae Yoo agar gadis itu meletakkan kepalanya di bahunya. Sehun menatap kagum pada kedua gadis itu, perlakuan Sulli bagai seorang kakak yang sedang menenangkan adiknya kepada Rae Yoo.

Sebenarnya Sulli sangat penasaran dengan benda persegi empat yang berada di tangan Rae Yoo, cover depannya tertulis sebuah nama bertuliskan “Jo Kwangmin” di sudut bagian paling bawah.

“Gomawo. Aku tidak akan pernah melupakan kebaikan kalian.” Rae Yoo berkeras diri untuk turun sendiri dari mobil van SM itu, padahal Sulli dan Sehun telah menawarkan diri mereka untuk membantu Rae Yoo sepenuhnya. Namun gadis itu tidak ingin merepotkan mereka.

Saat memasuki rumahnya, Rae Yoo mengambil ponselnya, menghubungi seseorang..

“Appa, aku ingin pindah sekolah, ke LA.” ucapnya getir

“MWO?!”

“Kontrakku dengan SM, dibatalkan saja.”

– TBC –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s