FF “You’re My Precious” [Chapter 10] [END]

kwangyoo

Title : You’re My Precious [Chapter 10]

Author : Sabriena2Dgirl

Cast :

  • Kang Rae Yoo
  • Kim Hyun Joong (SS501)
  • Lee Jaejin (FT Island)
  • Mir (Bang Cheol Yong) (MBLAQ)
  • Lee Taemin (SHINee)
  • Jo Kwangmin (Boyfriend)
  • No Minwoo (Boyfriend)
  • Jo Youngmin (Boyfriend)
  • Choi Sulli (f(x))
  • Kim Nam Joo (A Pink)
  • Oh Sehun (EXO)

Genre : School life, Angst, Romance

Rating : PG-13

PS :  KELAAAAAR!!! SAY GOODBYE TO THIS FF XD

Biar jangan bingung, bagian awal di buka dengan cerita di buku Kwangmin.

Happy Reading ^^

I’m not broke, I’m just a broken hearted man
I know it makes no sense, but what else can I do
I’m confused, you keep on my mind
How can I move on when I’ve been in love with you

***

The Begginner

Aku tidak akan pernah tahu bagaimana cerita ini akan berlanjut atau tidak. Jika ia adalah cinta sejatiku, maka cerita-cerita di waktu yang akan datang akan berlanjut, dan buku ini aku tetapkan sebagai buku kisah cintaku yang abadi. Entah mengapa aku begitu yakin dengan diriku sendiri, bahwa gadis yang pernah kutemui di masa kecilku itu akan bisa menjadi milikku.

Saat pulang sekolah di siang hari, kebetulan aku pulang sendirian karena Youngmin bermain bola dengan teman-temannya. Saat aku berjalan di jalanan perumahanku, aku melihat seorang anak perempuan yang kira-kira seumuran denganku yang tidak jauh dari jarakku, aku melihat pensilnya terjatuh dari tasnya hingga tergelinding masuk ke dalam selokan, ia tidak menyadari hal itu.

Aku memanggilnya, dan perempuan itu berbalik menoleh ke arahku. Entah bagaimana bisa aku mengganggap perempuan ini adalah perempuan termanis yang pernah aku lihat. Aku merasa seperti sedang bermimpi di siang hari bertemu dengan perempuan itu. Kira-kira seperti itulah yang kurasakan saat itu, terdiam seakan membeku di tempat hanya karena sorot mata besarnya. Dan aku belum bisa mendefinisikan bahwa itu adalah sebutan Love at the First Sight yang aku rasakan.

Dikepalaku hanya bersarang sebuah pemikiran bahwa aku harus memilikinya di saat dewasa nanti. Saat itu aku malah mempercayai beberapa dongeng terkenal, seperti kisah Putri Salju dan Putri Tidur yang pernah aku lihat di televisi. Tentu saja aku mengingat bagaimana setiap pangeran bisa memiliki putrinya tersebut, mencium putrinya tepat di bibirnya. Dan itu langsung kulakukan pada perempuan kecil yang mempesona itu. Hal yang sangat menggilakan, bukan?

Aku bersumpah pada diriku sendiri bahwa aku harus mengenalnya lebih dalam setelah hari itu, aku harus menemuinya esok hari lagi, karena di hari itu aku lupa menanyakan namanya. Sangat di sayangkan, sejak saat itu aku mulai sibuk untuk berhadapan dengan kamera beserta sinar bliztnya. Hingga hal tak terduga, aku pindah rumah ke daerah lain, membuatku berkecil hati bahwa aku tidak bisa mencari perempuan kecil itu lagi, dan aku merasa sedih, pasti akan sangat sulit untuk menemuinya lagi.

Kisah diatas aku tulis disaat aku masih kelas 3 SMP. Terlintas di pikiranku bahwa aku pernah mengalami hal itu, dan aku menulisnya di buku ini karena aku sempat bercita-cita menjadi Novelist, dan setidaknya ungkapan perasaan yang kumiliki bisa aku tuangkan di lembaran ini. Mungkin tampak seperti sebuah diary, namun ini adalah kisah cinta yang kumiliki walaupun belum jelas bagaimana kelanjutannya yang aku tidak ketahui.

 

A Pretty Girl

Aku sudah memasuki jenjang SMA, kini aku bersekolah di SOPA, sekolah yang cukup familiar dengan beberapa artis yang bersekolah disini, termasuk aku. Di hari pertama bersekolah, aku tidak bisa menyempatkan diri untuk mengikuti acara Tahunan yang dilakukan setiap tahun untuk memilih beberapa murid yang sangat berbakat dalam bidangnya. Namun setelah acara itu, beberapa minggu kemudian, Cho seongsaengnim menyuruh beberapa artis dan murid-murid yang berbakat untuk berkumpul di ruangan dance secara bersama-sama. Di antara beberapa orang yang kuamati, ada seorang siswi yang menurutku begitu menarik di mataku, aku terpaku seketika melihat sosoknya.

Seongsaengnim mengumumkan bahwa sekolah akan mengadakan Showcase akhir tahun, tentu saja aku tidak akan bisa ikut, karena sebentar lagi aku akan debut. Ada nama seorang siswi yang disebutkan, dan ternyata siswi yang kuamati sedari tadi yang menyahut pembicaraan seongsaengnim, ohh.. namanya Kang Rae Yoo. Dia adalah Dancing Queen yang terpilih tahun ini, dan seongsaengnim menyuruhnya untuk berkolaborasi dengan Lee Taemin sunbaenim dari SHINee, waaah, hebat sekali. Ia sangat terkejut saat mengetahui hal itu.

Aku bingung mengapa diriku menjadi begitu terpesona dengan seorang gadis, auranya begitu menyeruakkan perasaanku hingga aku merasa bahagia saat bisa melihatnya. Astaga, perasaan yang sama yang pernah kurasakan di saat aku kecil dahulu.

 

Love At The First Sight

Jari jempol di tanganku cedera saat sedang berlatihan, aku sungguh ceroboh dengan hal satu itu. Walaupun aku cedera, aku harus bersikeras untuk tetap tampil di masa debut ini. Aku tidak ingin mengecewakan para member, dan aku cukup bersyukur karena ini bukan cedera yang sangat serius. Sungguh kasian jari malangku satu ini, setelah beberapa hari akan sembuh, tubuhku di tabrak oleh seorang siswi, dan jariku rasanya sungguh seperti mati rasa hanya karena tersenggol sedikit saja.

Karena insiden kecil itu, posisi kami berdua saling berhadapan saat jatuh secara bersamaan, membuatku terdiam sesaat. Jantungku berdetak kencang, membuatku bersusah payah hanya untuk menelan ludah di tenggorokan. Paras wajahnya begitu cantik dan indah, matanya yang membulat karena terkejut, dan entah mengapa membuatku kehilangan akal pikiran. Kang Rae Yoo, gadis itu sungguh merusak pikiranku. Aku tidak menyangka bahwa ia sama sekali tidak mengenaliku, apakah Boyfriend belum cukup banyak di ketahui oleh masyarakat?

Gadis ini lucu sekali, menurutku. Apakah karena aku bisa tertawa atau tersenyum hanya karena gadis ini? Aku tidak pernah merasa sebahagia ini saat berhadapan dengan seorang gadis manapun, hingga ini bisa saja menjadi pertanda bahwa aku menyukainya? Ohh, kau harus memikirkan dan tidak boleh langsung memutuskan suatu hal penting ini, Jo Kwang Min, kau tidak akan bermain-main tentang cinta.

 

The 2nd Meet

Aku melihatnya lagi. Aku tidak menyangka bahwa ia akan menyapaku saat baru saja keluar dari Waiting Room, ia mengerling ceria saat menghampiriku. Ada rona merah yang bisa kudapati di pipinya, dan entah mengapa itu malah terlihat semakin menarik pada dirinya. Sebegitu telitinya aku menatap gadis ini?

Ahh, ternyata ia adalah salah satu penggemar terspesial SS501 dan mereka sudah mengganggapnya seperti adik sendiri, betapa beruntungnya gadis ini. Tampak sekali, Kim Hyun Joong sunbaenim sangat menyanyanginya dengan caranya mengacak-acak rambut Rae Yoo dengan gemas.

Donghyun hyung berbicara padaku setelah sampai di Dorm, ia mengatakan bahwa caraku mengobrol sungguh berbeda kepada Rae Yoo. Ahh, itu hanya prediksinya saja, aku mengelaknya, mana mungkin aku jatuh cinta terlalu cepat dengan orang yang baru saja aku kenal?

 

What’s The Meaning Of Jealous?

Bosan sekali tidak ada Minwoo. Ke manakah dia? Aku mendapat soal latihan tambahan pada pelajaran matematika, itu sungguh membuatku sakit kepala. Youngmin seenaknya saja meninggalkanku dengan keadaan kritis seperti itu, huh.

Aku berjalan dan memutuskan untuk naik ke lantai 2 gedung sekolah ini. Aku penasaran karena belum pernah melihat seluk beluk ruangan apa saja yang terdapat di lantai atas ini. Aku melangkah di koridor dan mendapati seseorang berjubah hitam yang sedang mengintip pada jendela sebuah ruangan, langsung saja aku memanggilnya dengan sebutan Ajussi, ternyata benar, aku tidak salah, ia memintaku untuk diam karena ia tidak ingin bertemu dengan guru-guru di sekolah ini. Aku langsung meyakini bahwa ajussi ini adalah seorang guru yang dulu pernah mengajar disini.

Karena ajussi ini, aku ikut mengintip pada jendela tersebut. Ternyata ada pemandangan yang cukup membuatku semakin gusar. Minwoo sedang memijat kaki Rae Yoo. Aku merasa sesak melihat mereka berdua, aku tidak mengerti apa yang kurasakan. Cemburu? Ohh tidak, sebaiknya aku pergi dari tempat ini.

Did I Hurt Her?

Lagi-lagi, Youngmin dan Minwoo pergi entah kemana. Mereka selalu beralasan memiliki kepentingan dengan masalah pelajaran di setiap jam istirahat. Padahal istirahat adalah waktu senggang kami untuk bersantai dan menenangkan tubuh karena terlalu lelah dengan aktivitas akhir-akhir ini, hingga kami sering meninggalkan waktu sekolah hanya untuk berlatihan dan tampil.

Aku berdiri di luar kelasku, dan Rae Yoo menyapaku. Oh iya, kami berempat baru saja menjadi teman baik, dan selalu bersama untuk makan siang di kantin. Aku melihat kakinya yang terbalut perban, membuatku cemas seketika, namun ia mengatakan bahwa itu hanyalah cedera kecil, dan ia masih saja bisa menjawabnya dengan tenang dan tersenyum. Aku merasa lebih khawatir karena ia hanya tersenyum seperti itu.

Tadinya aku ingin mengajaknya ke kantin, tanpa kuketahui Namjoo datang dan mengajakku pergi bersamanya. Astaga, bukan waktu yang tepat Namjoo muncul begitu saja. Dan bodohnya aku hanya menuruti permintaannya untuk pergi bersamanya karena ia telah menarik tanganku cepat.

Bukankah aku terlalu kejam? Aku meninggalkan Rae Yoo tanpa sepatah kata pun. Aku melihatnya berlalu pergi membelakangiku. Kakinya.. Oh Tuhan.. Lebih baik aku di kutuk saja sebagai pembalasan atas perbuatan kejiku ini. Ia berjalan dengan kakinya yang terpincang, dan aku membiarkannya tanpa membantunya berjalan sedikitpun.

Saat jam pelajaran, aku meminta izin untuk pergi ke toilet karena tidak berkonsentrasi, rasanya aku ingin memberi hukuman pada diriku sendiri karena terlalu merasa bersalah pada gadis itu. Ketika aku keluar dari toilet, aku menemui Rae Yoo yang akan masuk ke toilet perempuan. Aku menegurnya karena ia menundukkan kepalanya. Saat ia mendongak, ia langsung mengusap-usap wajahnya. Ia tampak sehabis menangis karena matanya yang merah, apakah ini penyebabnya adalah aku? Aku menyentuh tangannya karena ia bergegas akan pergi, aku sedikit terkejut walaupun hanya sentuhan yang sedikit saja. Padahal ini pertama kalinya aku bersetuhan kulit dengannya, namun membuatku terkejut seperti terkena sengatan listrik daya kecil. Aku tidak mengerti sentuhan yang hanya 1 detik ini terjadi.

Ia hanya tersenyum paksa ke arahku, sepertinya aku benar-benar menyakitinya. Tapi aku bisa sedikit merasa lega karena dapat mengatakan maaf kepadanya, dan ia memintaku untuk mengobrol lebih banyak lagi esok hari. Ia sungguh tidak memiliki mood yang baik hari ini. Ini semua karena ulahku sepertinya.

 

I knew what the jealous is..

Boyfriend memiliki  shoot CF di sebuah studio, nama perusahaan ini JiHyuk Production, tempat yang paling termegah yang pernah aku datangi. Setelah syuting selesai, aku memanfaatkan waktu istirahat untuk berkeliling di sekitar studio. Dan aku menemukan salah satu studio yang menarik perhatianku, latar belakang Keistanaan, aku menyukai itu. Hingga aku langsung masuk saja ke dalam sana.

Ada seorang perempuan bergaun putih, yang wujudnya menyerupai seorang putri di negeri dongeng, tidak usah berkata cantik, perempuan itu memang sangat cantik walaupun masih memunggungiku, aku yakini ia adalah role modelnya. Dan yang benar saja, yang kulihat itu adalah sosok Rae Yoo. Bagaimana dia bisa cantik, ahh tidak, lebih cantik dan membutakan mata? Aku bisa melihat wajahnya ketika ia menoleh karena ada seorang lelaki yang menghampirinya. Aku kenal lelaki itu, Lee Jaejin sunbaenim, member FT Island. Ia berjas hitam lengkap, dan rambutnya yang berblonde melengkapi perannya sebagai pangeran. Mengapa bukan aku saja yang menjadi peran itu?

Aku mendengar pembicaraan mereka, terdengar begitu jelas olehku, karena aku berdiri hanya sekitar 3 meter di dekat penutup latar hitam. Dan sebuah kata yang sangat membuatku tercengang adalah ‘mantan kekasih’. Mereka dulunya sepasang kekasih? Aku merasa berkali-kali lipat kecewa dengan hal itu, kesal, sangat kesal. Aku tak tahu apakah aku harus marah, inikah cemburu? Mungkin benar, mungkin aku sudah total menyukainya.

 

Finally, I Find Her

Makan siang di kantin, ini benar-benar makan siang terburukku. Karena Minwoo dengan jahilnya menggoda Rae Yoo dan Youngmin. Banyak kesamaan di antara mereka berdua? Cih, memangnya kesamaan akan menyatukan segalanya? Itu akan benar jika Tuhan menghendaki!

Aku tidak selera makan sama sekali. Namun tetap saja aku harus mengunyah makanan-makanan ini karena badanku sudah terlalu kurus, mungkin aku akan menjadi tulang hidup jika aku tidak makan sekarang.

Rae Yoo yang pertama kali menyelesaikan makannya, ia langsung menyambar buku-buku yang telah di bawanya, mengerjakan PRnya. Karena aku terlanjur kesal dengan keadaan aneh tadi, tanganku secara asal mengambil kotak pensil Rae Yoo dan merogoh isi di dalamnya.

Aku terpaku saat menemukan sebuah pensil Pikachu yang begitu familiar bagiku. Astaga.. gadis ini, perempuan kecil itu? Aku bertemu lagi dengannya? Aku tidak menyangka bertemu lagi dengan gadis impianku. Jika ini sungguh, maka impianku kali ini tidak boleh aku lewatkan dan sia-siakan begitu saja.

 

Slowly, try to close her

Berita hari ini sungguh mengejutkan, dan menyangkut pada Rae Yoo. Bagaimana bisa? Hati kecilku terluka begitu saja saat mengetahui Rae Yoo dahulu memiliki seorang kekasih. Ternyata mereka cukup meninggalkan beberapa kebersamaan yang istimewa, salah satunya di saat syuting CF lalu.

Aku tahu, aku sudah sangat bodoh. Seharusnya aku menyerah dan tidak akan mendekati gadis itu. Aku hanya menyakiti diri sendiri dengan menyukainya. Dunia ini masih memiliki perempuan-perempuan yang lebih cantik dari gadis itu. Dengan bodohnya aku berjalan dan menghampiri kelasnya, hanya ingin memastikan reaksi gadis itu terhadap berita tersebut.

Aku yakin, waktu sudah cukup di atur untukku. Gadis itu tampak tidak berkeadaan baik, hingga aku langsung mengikutinya yang mendadak berlari ke arah atap sekolah. Mungkin ini karena aku berprinsip bahwa jika aku bertemu dengan gadis idamanku dahulu, aku akan menetapkannya sebagai pilihanku, tanpa ragu.

Aku tidak tahu apa yang dirasakannya sekarang, aku melihatnya berdiri tegang dengan mengepalkan tangannya dan ia berusaha menahan air matanya yang sudah menumpuk di pelupuk matanya. Apakah ia tidak menyukai berita itu? Aku sangat bersyukur jika kenyataannya seperti itu.

Aku memutar pikiran di otakku, dia seorang gadis, mengapa hanya untuk menjatuhkan air mata saja menjadi hal tersulit baginya? Bukankah dengan menahannya hanya akan membuat penderitaan berkali-kali lipat beratnya?

Aku meraih kepalan tangannya, menggenggamnya dengan erat, berharap ia bisa lebih membaik walaupun ini sangat sederhana, karena ini pertama kalinya aku menghadapi seorang gadis yang menangis. Di detik itu juga, air matanya langsung mengalir melewati pipinya. Syukurlah ia menjadi lebih baik, walaupun semua yang kulakukan tidak berarti apa-apa, aku hanya akan membuatnya menyukaiku tanpa paksaan, aku tidak akan tergesa-gesa dengan hal satu ini.

 

Can you forget him?

Aisssh,  Namjoo menemukanku. Ia langsung memintaku untuk menyusul ke ruangan dance dengan cepat. Anak ini sepertinya menyukai Minwoo.

Setiba kami di tempat yang kami tuju, aku setengah berteriak agar seseorang membuka pintu ruangan dance secepat mungkin. Tanpa kusadari, ada seorang lelaki yang menghampiri ambang pintu ini, seketika nyaliku menciut hanya karena melihatnya. Mengapa ia harus datang kesini?

Pintu bergeser, ternyata Rae Yoo yang membukanya. Oh ini bukan waktu yang tepat, gadis ini sudah menatapku gusar, mungkin karena disampingku ada Namjoo, dan ia terkejut saat mendengar suara mantan kekasihnya menyapanya. Walaupun ucapan Rae Yoo sangat dingin terhadap Jaejin sunbae, hal itu tetap saja membuatku ingin marah, karena selanjutnya gadis itu menarik tangannya dan membawanya ke tepi tangga, emosiku sudah naik di ubun-ubun.

Entah bagaimana keadaanku saat itu. Meluapkan kemarahan dengan meledak begitu saja? Tidak, aku masih bisa mengontrol diriku agar tidak menjadi orang gila. Dan aku terus-terusan berharap agar Rae Yoo tidak kembali kepadanya lagi, ohh Tuhan, hanya itu permintaanku sekarang.

Dia kembali, dengan tergesa-gesa ia berbicara dan memintaku untuk menemaninya pergi ke kelas Chaejin, si member dari MYNAME. Hanya untuk pergi ke kelas lelaki lain, ia bersusah payah menarik tanganku? Astaga, ia sungguh tidak tahu apa yang kurasakan, sakit sekali rasanya, dengan kenyataan bahwa aku menyukainya.

Chaejin cukup heran dengan sikapku yang hanya terdiam saja, tidak seperti biasanya seorang Jo Kwangmin yang selalu ceria saat berjumpa dengannya. Tapi yeoja ini membuatku tidak mengerti, aku merasa bahwa ia seperti sedang memanas-manasiku. Aku menilainya buruk? Mungkin aku benar, tapi aku sangat bodoh hingga menyukainya. Dan dengan begitu banyak lelaki yang ia dekati atau yang mendekatinya, hal itu membuatku ingin mati saja, apalagi Lee Jaejin sunbaenim, namja itu sungguh membuatku panas-dingin ketika ia mendekati Rae Yoo.

Ohh, aku harus berbuat apa, jika Lee Jaejin sunbaenim bersusah payah ke sekolah ini hanya untuk meminta kembali kepada gadis itu, bagaimana? Masi adakah peluangku untuk merebutnya? Bagaimana jika gadis itu menerimanya kembali? Astaga… pikiranku!

Aku membuang jauh-jauh perasaan burukku. Begitu senang dan lega ketika ia merasa bersalah dan meminta maaf kepadaku karena kejanggalan tadi. Namun di waktu yang bersamaan, ia malah menumbuhkan kembali perasaan burukku. Gadis itu dengan mudahnya berbohong kepadaku, apakah ia tahu apa yang kurasakan? Tahukah ia bahwa aku begitu sakit ketika mendengar setiap perkataan yang tidak perlu disampaikan kepadaku karena semua itu hanya sia-sia belaka? Aku sudah tahu semuanya.

 

I miss you so deeply ..

Terlalu sibuk untuk comeback, sudah lama sekali aku tidak melihatnya. Sebelumnya aku menawari Rae Yoo untuk menjadi model MV Don’t Touch My Girl, aku terlambat, ternyata sutradara sudah menemukan model lain untuk MV itu. Ahh, menyebalkan! Di salah satu adegan, aku harus mengendarai sepeda, membonceng model tersebut dan ia memelukku dari belakang karena aku mengendarai sepeda dengan laju cepat, itu adalah permintaan sutradara.

Senang sekali pertama kalinya Rae Yoo menonton pre-recording Boyfriend dan duduk di barisan paling depan. Ia langsung melambaikan tangan sambil tersenyum ke arahku, begitu pun aku membalasnya. Namun para fans berteriak memanggil namaku dan ada yang membalas lambaianku. Hehee, mereka pasti mengira bahwa aku menyapa mereka.

Promosi lagu Don’t Touch My Girl sangat menyibukkan, dan kami juga harus menyiapkan single di bulan Desember. Di sekolah pun aku jarang bertemu dengan gadis itu. Minwoo rewel sekali karena ia sudah jarang berlatihan dengan Rae Yoo, dan ia ingin cepat-cepat bertemu dengannya.

Lagu I’ll Be There adalah single ke-3 Boyfriend. Untuk MV lagu tersebut, aku harus berperan dengan seorang model perempuan, dan syukurlah aku tidak menyentuhnya sedikitpun.

Sebulan tidak bertemu dengannya. Bukan aku saja, Youngmin dan Minwoo juga menggebu ingin bertemu dengan teman satu itu. Kami menyempatkan waktu untuk berkumpul di kantin. Kami saling bercerita dan hingga sampai di mana Minwoo menanyakan tentang dance couple Rae Yoo bersama Taemin sunbaenim. Sebenarnya aku tidak ingin mendengar sama sekali tentang hal itu, membuatku gusar saja.

Baguslah Rae Yoo mencairkan suasana dengan membicarakan insiden terburuk yang dialami Minwoo saat Boyfriend comeback dengan lagu I’ll Be There. Karena gadis itu terlalu senang mengejek Minwoo, tanpa sadar ia memegang bahuku, membuatku tersentak kaget hingga Youngmin dan Minwoo menatap aneh kepada kami berdua. Dan aku segera merangkulnya untuk menghilangkan kecanggungan kami, baru kali itu aku memberanikan diri dan merasakan bahwa hanya sekedar rangkulan membuatku ingin tetap berada di dekatnya.

 

I really really hurt

Pelampiasan? Merutuki diri sendiri bahwa hal itu sungguh menyakitkan. Hari ini Boyfriend berlatihan dengan A Pink untuk penampilan Gayo Daejun besok. Dan hari ini juga bertepatan pada Showcase di SOPA, tentu saja Rae Yoo dan Taemin sunbaenim tampil dengan Dance Couple mereka, pasti akan menakjubkan mengingat Rae Yoo adalah Dancing Queen sekolah dan Taemin sunbaenim adalah Dancing Machine SHINee.

Aku menamakan ini adalah pelampiasan karena gadis itu bersama lelaki lain, dan aku juga bersama perempuan lain. Bodoh. Kau bodoh, Jo Kwangmin. Aku begitu stres memikirkan gadis itu dan tidak menyangka bahwa penampilan kami dengan A Pink ternyata harus melakukan ‘skinship’ dengan menyentuh kaki mereka. Ohh, ini perbandingan yang sama. Kuharap ia tidak melihat SBS Gayo Daejun besok karena aku juga tidak menyaksikan Showcase sekolah.

Selama latihan, aku merasa lemas. Dan untung saja latihan tidak berlangsung lama dan aku segera mencari sudut ruangan untuk mengistirahatkan tubuhku. Youngmin datang dan duduk di sampingku, tanpa sadar kepalaku sudah jatuh ke bahunya, dan pandanganku meredup hingga segalanya sudah tidak tampak lagi.

Esoknya, aku hadir dalam SBS Gayo Daejun. Kondisi tubuhku sedang tidak baik, maka aku harus berhati-hati agar tidak tumbang begitu saja saat tampil nanti. Rae Yoo-ya, apakah kau melihatku? Apa kau mengetahui bahwa aku sakit karenamu? Kuharap kau tidak tahu apa-apa, jadi kau hanya tidak perlu merasakan apapun.

Saat kembali sekolah, aku berpapasan dengan gadis itu. Tapi ia mengabaikanku atau tidak melihatku sama sekali? Padahal aku ingin memberikan cake yang kutitip dari Managerku sebagai hadiah ultahnya. Ahh, mengapa kau bersikap seperti itu?

 

Please wait the next day

Aku ingin menyampaikan seluruh perasaanku di hari kenaikan kelas besok. Karena kurasa tidak perlu berlama-lama menyimpan hal ini, karena semakin aku memendamnya, aku akan menyakiti diri sendiri karena melihatnya bersama lelaki lain. Lagi pula, kenyataannya bahwa ia adalah perempuan kecil yang aku idamkan sejak pertama kali bertemu dengannya, menetapkannya sebagai satu-satunya yang aku inginkan.

***

 Even if my heart is broken when loving you
Even if my heart is separated when waiting for you
It’s okay because I love you
It’s okay even if I get hurt

– Author’s POV –

Dalam waktu 30 menit, gadis itu menghabiskan lembaran-lembaran buku yang di bacanya dengan teliti dan hati-hati. Butiran air jatuh tiba-tiba di atas lembaran tersebut, dan butiran yang selanjutnya sudah di tahan olehnya. Kini ia menatap ke arah buku itu, menelan rasa pahit ketika bayangan seorang Kwangmin yang tengah menatapnya dengan kecewa, terlalu kecewa karena ia tak memahami perasaannya.

Akhirnya ia telah menemukan kelemahannya pada lelaki itu. Jo Kwangmin yang masih melekat di kehidupannya, membuatnya menjadi gila dan tidak sanggup untuk bernafas dengan baik hanya karena menahan air matanya yang tidak diinginkannya untuk jatuh.

Ia melihat kembali foto-foto yang telah tersimpan di kameranya seminggu yang lalu. Kenangan terakhir yang telah menjadi gambaran-gambaran yang hanya dapat di simpan dengan baik. Orang-orang yang telah mengubah kehidupannya menjadi lebih menyenangkan dan ekstrim, kini ia tidak bisa bertemu dengan mereka lagi. Mengusir dan membuang jauh-jauh keinginannya untuk kembali ke Seoul dan satu nama yang sangat dicintainya, Jo Kwang Min.

***

– Jo Kwangmin’s POV –

“Rae Yoo sudah pindah sekolah. Dan ia tidak memberikan informasi apapun tentang di mana sekolah yang ditempatinya sekarang, dan yang pasti bukan di Negara ini. Ia tidak memberitahukannya.” tutur Minwoo mendapatkan informasi dari teman-teman sekelas Rae Yoo.

“kau lihat? Kau sungguh membiarkannya pergi begitu saja. Hanya karena kau, ia memutuskan untuk pergi. Bukankah ini sekolah idamannya? Bukankah SM Entertainment itu perusahaan yang sangat sulit dimasuki? Bukankah kau dapat memberikannya secercah harapan untuk mencintaimu? Mengapa kau lemah sekali? Kau namja, tapi kau tidak bisa bertahan dengan semua hal tentang dirinya, dan kenyataannya kau sungguh mencintainya hingga dengan bodohnya kau memutuskan untuk tidak mencintainya lagi? Sampai sekarang saja kau tidak bisa mempungkiri bahwa kau tidak bisa melupakannya. Kau bodoh! Aku malu memiliki adik bodoh sepertimu!” geram Youngmin merecokiku.

“Youngmin…” aku ingin menyahut pernyataannya, namun ia tidak memberiku kesempatan.

“kau itu bodoh sekali! Setiap harinya kau menulis di buku itu, sambil bersusah payah mentraslate beberapa kata ke dalam B. Inggris, namun akhirnya kau menyerahkan buku itu kepadanya. Kau hanya meninggalkan luka yang dalam hingga tak bisa diobati lagi! Apakah kau tidak memikirkan bagaimana sakitnya dirinya? Sama sepertimu, ia juga mencintaimu tapi justru kau yang membuyarkan semuanya dan menghentikan harapan kalian. Kau terlalu menyayangi perasaanmu hingga kau tidak memikirkan bagaimana perasaannya. Ia telah membuktikan bahwa ia memiliki perasaan yang sama seperti dirimu, maka dari itu ia sudah pergi jauh menghindarimu, untuk melupakanmu, dan lagi-lagi itu adalah tujuan yang sama seperti milikmu.”

“Dan intinya, aku sungguh tidak suka melihatmu dengan sikap paling bodoh seperti itu. kau bodoh!” akhirnya Youngmin bisa semarah ini, aku tidak menyangka ia membuang energi hanya untuk mengomeliku.

“Sudahlah, kau tidak perlu memakinya.” ujar Minwoo menghentikan Youngmin.

“Aku sudah terlanjur…” tanggapan Youngmin langsung dipotong ole Minwoo.

“Kuminta kau berhenti memakinya.”

“Dia adikku. Aku harus memberikan pelajaran tentang menghargai seseorang.”

“Tetapi kau tidak perlu mengomelinya seperti itu. Semuanya tidak bisa dikembalikan seperti dulu, kita tidak bisa memutar ulang waktu yang sudah berjalan. Aku juga merasakan kepergian Rae Yoo, aku ingin sekali ia kembali dan berkumpul bersama kita. Apakah kalian tahu? Kita diyakini olehnya, maka ia menerima saat aku mengajaknya menjadi teman kita. Sesungguhnya aku tidak tahu harus merasakan apa. Apakah aku juga harus bersikap seperti kakakmu, Jo Kwangmin? Seharusnya aku juga mengomelimu. Tapi aku tahu, bukan kau saja. Jika kita tidak mengenalnya, kau tidak akan pernah jatuh cinta kepadanya, dan aku juga tidak akan pernah menemukan seorang teman yang memiliki hobbi yang sama dan dengan semangat yang sama untuk menjalani hobbi kami. Yeoja itu, jika kau lebih mengerti tentang dirinya, ia adalah seorang yeoja yang jika kau lebih dekat dengannya, kau akan merasa dan ingin melindunginya dengan senang hati tanpa ia minta. Namun kau tidak melindunginya.” ucap Minwoo mengeluarkan uneknya dan merendahkan nada suara di kalimat terakhirnya.

“Kuminta, jangan menyudutkanku.” ucapku pelan. Aku berjalan perlahan ke sebuah area di mana aku berdiri di saat terakhir kalinya aku melihat gadis itu menangis, berbalik badan, dan berjalan memunggungiku. Tidak bisa dipastikan apakah ia kembali atau tidak, gadis itu sudah pergi.

Aku menatap lurus pada pemandangan langit di hadapanku, kurasakan angin kecil yang berhembus ringan menerpa tubuhku, sambil menutup mata untuk merasakan ketenangan itu. Otakku merenungi semua hal yang telah terjadi. Gadis itu, kini aku merasa terpuruk karena ia pergi begitu saja. Youngmin benar, aku memang sungguh bodoh. Bodoh dan egois, membiarkannya merasa sakit dan meninggalkan semua hal terpenting di hidupnya. Aku benar-benar jahat. Dari tempat ini, semuanya berhenti di sini. Kang Rae Yoo, mengapa aku masih mengharapkanmu?

***

– Author’s POV –

Sulli mencari tahu penyebab pengunduran diri Rae Yoo dari SM, ia tidak sengaja melihat Lee So Man membuang kertas yang tampak seperti berkas-berkas yang amat penting di tempat sampah dekat ruangan pintu masuk pemilik SM itu. Pria berparuh baya tersebut tampak menghela nafas beratnya saat membuang kertas-kertas itu, membuat rasa ingin tahu Sulli semakin besar.

Setelah memastikan bahwa Lee So Man sudah tidak tampak lagi, Sulli secepat mungkin mengambil kertas-kertas itu kembali dari tempat sampah. Tanpa Sulli sadari, ternyata Taemin melihatnya mengambil kertas-kertas itu secara mengendap-endap, hingga lelaki itu merasa curiga.

“Sulli-ah.”

“Ne?” decak Sulli terkejut melihat kehadiran seorang lelaki yang di kaguminya.

“Bukankah kertas-kertas di tanganmu sedikit kotor karena dari tempat itu?” tanya Taemin mengernyit heran sambil menunjuk tempat sampah yang tidak jauh dari keberadaan mereka di depan PD room.

“Haisssh..” seru Sulli kesal.

“Kertas-kertas apa itu?” tanya Taemin dan matanya cepat menangkap tulisan biodata yang tertera pada kertas itu.

“Kang Rae Yoo?” ucapnya mendelik terkejut.

“So Man Seongsaengnim membuang kertas-kertas ini. Kurasa, aku memerlukannya.” jawab Sulli santai.

“Untuk apa?”

“Aku penasaran dengan Rae Yoo. Aku ingin mengetahui mengapa ia pergi begitu saja dan membatalkan kontrak disini. Bukankah oppa merasa kepergiannya aneh sekali? Oppa begitu mengenalnya, namun ia tidak mengatakan apapun ketika ia pergi. Begitu juga denganku, aku baru saja melupakan semua hal yang aku benci dari dirinya dan memulai untuk menjadikannya seorang teman baik, tetapi ia yang malah pergi.” tutur Sulli mengeluarkan keluh kesahnya tentang gadis itu. Taemin menatapnya sendu. Benar yang dikatakan oleh Sulli, ia merasa sangat kehilangan sekarang.

“Aku akan berkompromi lebih lanjut dengan Sehun tentang hal ini.”

“Mengapa kau tidak mengajakku?” keluh Taemin yang merasa diabaikan oleh gadis itu.

“Jika aku bekerjasama dengan oppa, kau terlalu sibuk. Jadi, walaupun aku dan Sehun sibuk, tapi kami dapat menjalankan rencanaku dengan lancar. Mianhae oppa.” mata Sulli berbinar untuk meyakinkan Taemin.

“Aku janji, setelah kami mendapatkan hasilnya, aku akan dengan cepat memberi tahu kepada oppa.” sambung Sulli tidak ingin mengecewakan lelaki itu.

“Ingat itu, aku tidak ingin kau mengingkari apa yang telah kau ucapkan.”

***

If I fill up my heart and send it to you,
Will you be able to accept it?
Even if time plays a joke on us and blocks us
I want to hold your hand and win

June 15th, 2012
KBS Music Bank

Sulli dan Sehun bersepakat untuk menjalani rencana mereka. Mereka menuju Waiting Room Boyfriend. Disana mereka meminta untuk bertemu dengan Jo Twins dan Minwoo dengan alasan kepentingan tentang sekolah mereka.

“Sunbaenim, ada perlu apa dengan kami?” Minwoo yang memberanikan diri mengajukan pertanyaan.

“Sebenarnya, kami hanya perlu dengan Kwangmin saja. Tapi kurasa kalian harus mengetahui masalah ini juga, karena kalian teman dekatnya Rae Yoo.” jawab Sulli jelas, ketiga member Boyfriend tersebut begitu terkejut mendengar nama Rae Yoo di sebutkan, terutama Kwangmin.

“Tanggal 28 Desember lalu, adalah hari ulang tahunnya dan juga bertepatan pada D-Day Showcase sekolah kita. Sebelumnya, ia memberikan alasan bahwa ia harus pergi ke California untuk menghadiri acara peresmian perusahaan keluarganya, jadi aku bersedia untuk berlatih keras menggantikan posisi Couple Dance-nya bersama Taemin oppa. Sebenarnya aku sudah merasa curiga karena dengan mudahnya ia mengundurkan diri tanpa pamrih kepada guru dancenya. Dan di hari upacara kita, aku tidak menyangka bahwa Rae Yoo sudah di pandang tidak baik oleh gurunya.”

Youngmin dan Minwoo saling pandang karena mengingat dengan jelas ketika mereka berlatihan untuk Gayo Daejun.

“Kemudian, aku melihat Rae Yoo terakhir kali. Saat itu ia menangis hebat, dan sedikitpun ia tidak memberi alasan. Aku begitu khawatir dengan keadaannya, dan di hari-hari berikutnya, aku tidak melihatnya lagi dan mendapat kabar bahwa ia sudah keluar dari SM.”

“Saat ia menangis, aku melihatnya membawa sebuah buku, dan di sudut kanan buku itu tertera jelas nama Jo Kwangmin. Jadi aku ingin tahu apa sebenarnya yang telah terjadi.”

“Apakah alasan Rae Yoo pergi begitu saja adalah karena dirimu, Jo Kwangmin?” tanya Sulli dengan nada yang dingin. Kini emosinya sudah naik di ubun-ubun.

“Benar. Rae Yoo pergi karena kesalahanku.” jawab Kwangmin lirih. Berjuta penyesalan yang kini ia rasakan. Sulli mendecak kesal, dan menghela nafas dengan keras. Sehun langsung menyentuh bahu Sulli, meminta gadis itu untuk mengontrol emosinya.

“Tidak ada yang perlu disalahkan, ini semua kesalahan kita. Seharusnya kita dapat menahannya untuk tidak pergi.” tutur Sehun meredamkan suasana.

“Mianhae.” ucap Kwangmin dengan suara yang sangat pelan, kentara dengan rasa bersalahnya.

“Kau harus meminta maaf kepada Rae Yoo, bukan kepada kami.” ujar Sehun bijaksana. Kwangmin terhenyak dan menatap kosong. Benar yang dikatakan Sehun, namun ia merasa bimbang, tidak yakin akankah Rae Yoo memaafkannya. Untuk menemukannya saja ia merasa nihil karena sama sekali tidak tahu menahu Rae Yoo berada di mana.

“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, apalagi jika gadis itu adalah takdirmu, dan tidak ada salahnya kau harus mencoba untuk mencarinya jika kau mencintainya.” petuah Sulli untuk Kwangmin. Gadis itu langsung mengajak Sehun untuk keluar dari ruangan itu.

Kini Kwangmin terdiam. Minwoo dan Youngmin hanya menatapnya prihatin, merasa bingung dengan Kwangmin yang hanya mematung di tempat, tidak bergerak sedikitpun. Kwangmin mengepalkan sebelah tangannya, seakan mengumpulkan kekuatannya kembali untuk bertahan dengan semua hal yang di hadapinya akhir-akhir ini. Gadis itu, ia bertekad untuk mendapatkannya kembali, bagaimanapun caranya, ia tidak akan menyerah.

***

After a long time, I am here right now
Because I long for that time
Though I tried to live without knowing
I’ll be back to love you as I did

Februari 2017,

– Kang Rae Yoo’s POV –

Ini permintaan appa, aku di minta untuk kembali ke Korea. Kali ini dengan paksaan. Mengancamku bahwa aku tidak akan pernah lagi bertemu dengan appa dan umma. Dan aku di minta untuk bekerja di Negara kelahiranku ini, mungkin aku akan menawarkan diri untuk dikontrak menjadi koreografer.

Setelah beberapa tahun lamanya aku bersembunyi, memendam semua kenangan silam, aku menduga-duga bagaimanakah setibanya aku di sana. Apakah mereka masih mengingatku dengan baik? Apakah mereka merindukan aku? Mungkin tidak. Aku tidak istimewa untuk mereka. Aku kembali bukan untuk mereka.

Jo Kwangmin. Bagaimana wujudnya sekarang? Apakah ia semakin keren dan tampan? Apakah aku dapat bertemu dengannya? Setidaknya aku ingin mendapatkan sebersit kesempatan untuk melihatnya saja. Aku tidak yakin akankah ia dapat memaafkanku atau tidak. Mungkin sulit baginya dan aku tidak mengharapkan yang lebih, aku ingin melihat bagaimana eksistensinya.

Aku melangkah dengan cepat. Kutatap jadwal keberangkatan yang tertera di layar digital, 30 menit lagi. Pandanganku beralih ke  tanganku yang menggenggam buku tebal penuh dengan kenangan yang penting, buku dari si Kwangchu itu. Kemudian aku beralih melihat sekelilingku. Tunggu! Kenapa di sana ada Jaejin oppa? Aku segera memalingkan wajahku dan memakai hoodieku agar tidak terlihat mencolok olehnya, aku takut bertemu dengannya lagi.

Aku baru melangkah dengan kepala yang di tundukkan dan tanpa kusadari seseorang menabrak bahuku. Bukuku jatuh ke lantai, sial! Mengapa ini harus terjadi? Aku melihat ke bawah, bukan bukuku saja yang jatuh, namun ada juga sebuah pensil yang sangat familiar olehku, Kwangmin?

Aku mendongakkan kepalaku, dan didepanku tepat seorang lelaki berkacamata hitam yang juga tengah menatapku terdiam, benarkah aku tidak salah? Lelaki itu membuka kacamatanya, matanya tercengang menatapku. Ia keren sekali. Apakah aku bermimpi sekarang? Ia tepat di hadapanku, entah sejak kapan jantungku berdebar lebih cepat, membuatku merasa gugup karena tatapannya yang lekat.

Dengan cepat aku menyambar buku itu dan beranjak berdiri, mengontrol diri agar aku tidak langsung melonjak senang. Begitu juga dengannya, ia juga berdiri, dan ia tersenyum lebar ke arahku.

“O.. oraenmaniya …” ucapku sambil membalas senyumnya.

“Mianhae, aku sudah membuatmu pergi begitu saja.” jawabnya dan ia semakin mendekatiku, merengkuh tubuhku ke pelukannya dengan sangat erat. Ini pertama kalinya ia memelukku seperti ini dan aku merasa sangat nyaman.

“Maafkan aku. Aku sangat merindukanmu.” ucapku lirih, terdengar jelas olehnya. Lalu ia melepas pelukannya dan menatap mataku dengan lekat.

“Mengapa kau tidak menyimpan buku ini?” tanyanya mengalihkan keadaan. Ahh, Jo Kwangmin, apakah sikap polosmu itu belum hilang, hah?

“Aku bersusah payah menyimpannya baik-baik. Maka dari itu, buku ini tidak boleh lepas dari tanganku.” jawabku mengomel kecil.

“Jika jatuh seperti tadi bagaimana? Untung saja tidak hilang. Apa kau bisa membelinya lagi di toko buku?” ia merecokiku dengan wajah serius. Aku sedikit merasa jengkel kepadanya, dan aku juga mencari kesalahannya.

“Pensil itu. Mengapa kau tidak menyimpannya juga? Kau pikir pensil ini masih terjual? Pensil ini sudah cukup tua, tidak mungkin masih di produksi.” aku balas merecokinya tidak mau kalah. Aku salah, ia sudah cukup dewasa sekarang.

“Jadi harus bagaimana, eo?” tanyanya bingung. Hahahaa, mengapa dia menjadi bodoh seperti ini?

“Biar aku yang menyimpannya.” aku menyeringai agar tawaku tidak meledak begitu saja. Aku meraih pensil yang berada di tangannya dan menyimpannya beserta buku tebal itu ke dalam tas sampirku.

“Ahh, 15 menit lagi. Aku akan berangkat ke Seoul. Kalau begitu, aku harus bersiap-siap.” ujarku melirik jam keberangkatan.

“Jjinja? Kita di pesawat yang sama.” ucap Kwangmin tersenyum cool.

“Benarkah?” tanyaku tidak percaya.

Selangkah aku ingin pergi, Kwangmin mencegat tanganku, aku heran menatapnya. Ia membenarkan posisiku agar berdiri tepat di hadapannya, dari raut wajahnya seperti ada hal yang sangat penting.

“Ini tidak akan lama, aku ingin menanyakan sesuatu.” ucapnya pelan dan aku mengangguk mengerti.

“Kau ingat masa lalu kita kan? Hanya menyimpan yang baik-baik saja dan meninggalkan hal yang tidak perlu di ingat, jadi kita tidak punya alasan untuk saling menyalahkan. Maaf, jika ini terdengar sangat egois. Dan aku minta kau tetap berada di dekatku.”

“Karena, ketika aku mendapatkan yang sudah lama aku dambakan, yaitu kau, menjadikan kau sebagai hadiah yang aku dapatkan di hidupku. Saranghae..”

Aku terpana mendengar kata-katanya, rasanya bumi ini tidak memiliki gravitasi dan seakan aku melayang karena terlalu bahagia menerima kalimat yang dilontarkan olehnya. Kwangmin perlahan menyentuh kedua bahuku, dan mendekatkan wajahnya ke wajahku, jantungku semakin berdebar keras. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang hangat membuatku mematung di tempat. Kini semakin dekat, segera aku menutup mataku, dan merasakan bibirku yang di lumat lembut oleh bibirnya.

“Ayo kita pulang.” ucap Kwangmin sambil menghela nafas setelah menyelesaikan kegiatan yang hanya sepersekian detik tadi.

“Kwangmin-ah. Nado saranghae.” ujarku membalas pernyataannya. Ia hanya tersenyum lebar sambil merangkulku dan menuntunku berjalan menuju ke pesawat.

– THE END –

Advertisements

One thought on “FF “You’re My Precious” [Chapter 10] [END]

  1. Kyaaa…. Jinjja keren banget awalnya aku belum terlalu excited karena boyfriend blum muncul. Tapi pas baca dari part ke part aku makin takjub baik dri moment maupun konfiknya dpt banget feel nya. Daebaaakk

    Oiya mian lngsung RCL di ending soalnya aku baca sekaligus takutnya klo leave per part malah nge spam

    Pkoknya daebak dah ceritanya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s