FF “A Dumber” [Chapter 2]

baru

Title : A Dumber [Chapter 2]

Author : Sabriena2Dgirl

Cast :

Main Cast

  • Kris [Wu Yi Fan]
  • Kang Rae Yoo

Support Cast

  • Park Chanyeol
  • Oh Sehun
  • Kai [Kim Jongin]
  • Choi Hyemin

(Mungkin ada penambahan)

Genre : Romance, Humor, Sad

Rating : PG-13

PS : seharusnya di post lebih cepat, too much schedule, jadi waktu banyak tersita hanya untuk dance aja.

Happy reading ^^

***

Kini jam sudah menunjukkan pukul setengah 6 sore, dan seperti biasanya di dalam mobil itu terdapat seorang supir dan Chanyeol di bagian depan kemudian Kris dan Rae Yoo di bagian belakang. Keadaan sangat sepi, tidak ada yang terlebih dahulu membuka suara, Kris menoleh memperhatikan Rae Yoo yang sibuk dengan ponsel dan earphone yang tersangkut di telinganya. Kris meneliti gadis itu, dia memiliki kecantikan yang membuat lelaki di sekitarnya bisa saja berlekuk lutut kepadanya melalui garis tegas di wajahnya. Dan hal itu cukup membuat Kris sedikit gugup sejak saat tadi melakukan kontak mata kepadanya, entah karena sorot matanya yang terlalu tajam atau sorotnya yang mengintimidasi siapa saja termasuk dirinya?

Mengingat kejadian memalukan tadi, ia menarik kembali pikirannya yang mengatakan bahwa ia seperti malaikat polos, gadis itu bahkan tidak memiliki bahkan satu dari semua sifat malaikat, dan itu terlukis di wajah tegasnya. Malaikat tidak memiliki wajah yang sangar, namun penuh keramahan, dan Rae Yoo tidak memenuhi kriteria tersebut menurutnya.

Setelah merasa cukup mengumpat tentang gadis itu, Kris membuka ponselnya, earphone yang tidak pernah lepas dari telinganya itu mengeluarkan suara yang sedikit besar setelah ia mengatur volume music playernya dan wajahnya di hadapkan ke arah kaca jendela di sampingnya.

Dan kemudian giliran Rae Yoo yang membalas bagaimana Kris tadi memperhatikannya. Ia menyeringai kecil, seharusnya Kris benar-benar tertangkap basah sekali lagi, jika ia tidak membalas menolehnya. Rae Yoo mengumpat dalam pikirannya, mengatakan bahwa yang di milikinya hanya ketampanan saja tetapi otaknya seakan kosong seperti planet di luar sana yang tidak memiliki kehidupan.

Mereka berdua tidak mengetahui apapun bahwa Chanyeol sedari tadi memperhatikan gerak-gerik mereka melalui kaca cermin di depannya. Tingkah mereka yang terlihat saling memandang merendahkan itu tidak biasanya terlihat begitu intens, seakan ingin menyerang satu sama lain mencari siapa pemenangnya. Chanyeol menyeringai kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, bagaimana jika mereka menjadi pasangan dan itu akan menjadi hal yang tersulit, pikirnya.

“Ohh ayolah, aku tidak tahan dengan keadaan hening seperti ini. Kalian sudah saling berbicara kenapa tidak berbicara?” tanya Chanyeol yang membalikkan tubuhnya ke arah mereka bermaksud menganggu ketenangan mereka.

Dengan kepala yang tertunduk, Rae Yoo menatap tajam ke arah Chanyeol dengan pandangan marah. Setelah melihat reaksi Rae Yoo, Chanyeol tersenyum lebar ke arah Kris dan senyuman itu memudar begitu saja saat Kris membalasnya dengan gerak tangannya yang menyuruh Chanyeol untuk menghadap ke depan saja, kemudian Kris mengacuhkannya lagi dengan menghadap ke jendela.

“Aku salah besar di sini, aku tidak sama seperti kalian yang bertingkah seperti patung lilin yang hanya diam di tempat tidak bergerak.” frustasi Chanyeol karena Rae Yoo dan Kris membiarkan orang seperti dirinya untuk membisu, mereka tetap saja mengacuhkan Chanyeol, tidak ingin mengatakan sepatah kalimatpun.

“Ajhussi, apa aku bisa mengajakmu berbicara?” Chanyeol berbicara kepada supir di sampingnya. Dengan mata yang masih terfokus pada jalanan di depannya, lelaki berparuh baya itu menyunggingkan senyumnya hendak tertawa.

“Hahaa, anda pasti merasa bosan. Baiklah, saya bersedia menemani anda.” ucap supir itu bersenang hati melihat tingkah ceria Chanyeol yang membuatnya tidak segan terhadapnya.

***

Setelah sampai di rumah, sekali lagi Rae Yoo mengecek ponselnya dan tidak menyangka saat melihat daftar panggilannya ada tulisan nama ‘Oh Sehun’ disana.

“Jadi dia menghubungi nomornya sendiri untuk mendapatkan nomorku?! Senekat ini dia mendapatkan nomorku?”

Rae Yoo melemparkan tubuhnya ke kasur dan memandangi nama Sehun beserta nomornya yang tertera di layar ponselnya. Sehun sungguh luar biasa, ia tidak menyangka Sehun sudah berusaha sejauh ini terhadapnya, entah itu adalah sebuah permainan atau memang Sehun tidak akan bermain untuk menyukainya seperti sejauh ini yang sudah dipikirkannya sejak pertama kali bertemu dengan Sehun. Tetapi ia tidak ingin menyerah pada Kai, namun hati kecilnya sangat mengganjal dan mengatakan bahwa ia tidak bisa berharap lebih banyak pada Kai, dan hal ini membuatnya takut terlalu menyukai Kai.

Tiba-tiba nomor yang diperhatikan Rae Yoo terganti dengan panggilan dari nomor tersebut. Rae Yoo tampak terdiam sejenak, tidak yakin mengangkat panggilan itu. Nada dering ponsel Rae Yoo terus berdering, hingga suara deringan itu tidak terdengar lagi. Gadis itu tidak mengangkatnya, terlalu banyak pemikiran yang merayap di kepalanya, ia merasa belum siap untuk menghadapi Sehun. Ia tahu Sehun memiliki ketampanan yang mampu membuatnya gugup namun ia belum mampu menggetarkan hatinya secara langsung.

Tepat pada malam hari dan jam menunjukkan pukul 9 malam, ayah Chanyeol dan Chanyeol berkunjung ke rumah Rae Yoo, tentu saja apalagi kalau bukan membicarakan bisnis keluarga dan Chanyeol berusaha menghindari mereka ke sebuah ruangan hiburan milik Rae Yoo. Di sana menjadi ruangan penghilang stres baginya karena terdapat computer game, radio tape beserta loud speaker besar, dan cermin besar di sisi kanan ruangan untuk Rae Yoo berlatih dance. Di sana Chanyeol menghidupkan loud speaker dengan volume yang tidak terlalu keras. Chanyeol menghidupkan lagu favoritnya, dan ia mengikuti nada cepat dan menge-rap dengan suara dalamnya. Chanyeol sangat mahir dalam rap, dengan wajah tampannya seharusnya ia bisa menjadi kpop-star, namun orang tuanya tidak mengizinkannya masuk ke dalam dunia hiburan tersebut dan ia terpaksa menyerah dan masuk di jurusan Manajemen.

“Oh, ternyata kau di sini.” Rae Yoo membuka mulutnya sedikit terkejut karena keberadaan Chanyeol di ruangannya. “Bersama ayahmu?” Chanyeol tidak menjawab apapun, Rae Yoo menghampirinya dan duduk di samping Chanyeol yang sedang berhadapan dengan loud speaker itu.

“Oppa, aku tahu rap adalah salah satu kegemaranmu. Tapi bagaimana kau mempertahankannya? Kau tidak bisa seperti ini, selalu saja menyembunyikan kesedihan dengan berpura-pura tersenyum sepanjang waktu seakan kau adalah manusia terbahagia di dunia ini. Lihatlah, di saat sendirian kau tampak baru saja jatuh dari ketinggian lantai 3.” Chanyeol menoleh kepada Rae Yoo.

“Jika kau berada di posisiku, rambutmu akan rontok dan kepalamu akan botak tanpa sisa.” ucapan Chanyeol membuatnya mendengus kesal.

“Mereka membiarkanku bebas saat di sekolah. Aku memiliki sebuah band dan juga rap menjadi hobiku dan aku sempat tampil beberapa kali di sekolah. Mengingat hal ini ternyata dulu aku sebahagia itu.”

Rae Yoo tidak tega melihat Chanyeol beberapa kali terpukul dalam masalah pribadinya ini. Masalah yang selalu saja ia tutupi dengan senyum dan tawanya tanpa seorang pun yang tahu, kecuali sahabat terbaiknya dan bagian dari keluarganya yaitu hanya Rae Yoo seorang. Lain cerita Rae Yoo yang sedikit lebih beruntung dari Chanyeol. Gadis itu tidak di perbolehkan memilih jurusan dance karena ia sudah menghabiskan masa sekolahnya hanya untuk event dance di mana-mana. Melihat hal itu, orang tua Rae Yoo menyuruhnya memasuki jurusan lain, bermaksud agar Rae Yoo memiliki ilmu tidak hanya pandai dalam dance saja, tetapi juga dalam bidang lain. Selain dari dance, Rae Yoo sangat menyukai bahasa Inggris hingga akhirnya ia memutuskan memilih jurusan ini. Setelah merasakan hari-harinya di kampus, Rae Yoo merasakan hambatan untuk memiliki fokus ke dance, pembelajaran di jurusannya kini membuatnya harus mengasah otak lebih dalam dan memintanya untuk serius. Ia sangat berharap setelah ia masuk ke club dance di kampusnya, semuanya akan berubah seperti di awal, seperti masa sekolahnya dahulu.

Karena masalah mereka masing-masing, Chanyeol dan Rae Yoo merasa cocok dan kompak, seolah mereka adalah kakak adik kandung di dalam satu keluarga, mereka sering berbagi keluh kesah, saling merahasiakan apapun kecuali dalam masalah percintaan mereka, namun dalam hal itu hanya Rae Yoo yang tidak akan membuka mulutnya, berbeda dengan Chanyeol yang akan menceritakan segalanya.

“Aku merasa bodoh. Setiap kali aku merasa sedih, aku membuka ponselku dan melihat fotonya. Jika saja ia ada di sampingku, mungkin aku tidak akan perlu merasa terbebankan oleh masalah ini.” Chanyeol kembali larut, Rae Yoo merasa kesulitan jika ia sudah menjadi emosional seperti itu.

“Oppa, sampai kapan kau mengharapkannya? Ia bahkan tidak melihatmu.” tanggap Rae Yoo tanpa memikirkan Chanyeol yang sudah memicingkan mata kepadanya.

“Mwo?! Kau ingin memujinya dan membandingkannya denganku? Aku berbeda dengannya, bahkan wajah dan nama kami berbeda.” gerutu Rae Yoo. “Dia bahkan tidak pernah menghubungiku lagi sejak dia lulus sekolah. Apalagi kalau bukan dia sudah sesombong itu.”

“Kau tidak boleh menjelekkannya di hadapanku.” lirih Chanyeol tidak terima.

“Aku bukan menjelekkannya, aku mengatakan kebenaran.” jawab Rae Yoo mempertahankan tanggapannya.

“Beritahu aku jika kau melihatnya, mungkin saja suatu hari ia kembali ke sini.” pinta Chanyeol dengan sepenuh hati mengharapkan gadis yang ia sukai datang kembali ke kehidupannya.

***

“Pikirkan masa depanmu, selesaikan skripsimu dengan baik, lulus dengan hasil baik, dan mendapatkan pekerjaan yang baik, setelah itu menikah dengan wanita yang baik dan setia kepadamu.” Kris mengangkat wajahnya mendengar anjuran dari ibunya yang berada di hadapannya.

Kedua anak dan ibu itu seperti biasanya makan malam bersama. Baru kali ini Kris mendengar ibunya mengingatkannya selengkap itu, hingga membicarakan masa depan. Kris merasa bingung, mulutnya terus mengunyah makanannya.

“Tentu saja, ma. Aku akan membuatmu menjadi ibu yang sangat bahagia di dunia ini.” senyum yang sangat bahagia terpancar di bibir ibunya setelah mendengar jawaban anaknya. Ibunya melipat tangannya di atas meja dan memperhatikan Kris dengan tatapan kagum yang lekat.

“Aku mempercayaimu, nak.” Kris hanya tersenyum kulum dan merasa puas dengan jawabannya. “Apa kau sedang menyukai seseorang? Katakanlah, aku tidak pernah melihatmu jatuh cinta.” sambung ibunya membuat Kris mengerutkan dahinya.

“Belum, aku belum menyukai siapapun, ma.” jawab Kris setengah tertawa setelah menghabiskan kunyahan makanan di mulutnya.

“Aku malah mengkhawatirkanmu karena kau selalu saja bersama Chanyeol.”

“Hahaa.. Ma, Chanyeol hanya sahabatku.” Kris tertawa geli tentang kesalahpahaman ibunya. “Wanita yang pertama kali aku cintai adalah mama, dan aku masih merasa berat untuk mencintai seorang lagi, karena jika aku sangat mencintai seorang lagi, artinya perasaanku akan merasa lelah karena harus mencintai dua orang sekaligus.” jelas Kris dan ibunya tertawa kecil.

“Baiklah, anakku yang tumbuh sangat tampan ini akan memilih perempuan yang terbaik dan memiliki cinta yang sama sepertimu untukku.” ucap ibu Kris penuh harap, senyumnya tidak lepas kepada Kris.

Kris masuk ke kamarnya saat jam menunjukkan pukul 11 malam. Ia melemparkan tubuhnya ke kasur dan menghadap ke arah jendela kamarnya tanpa di tutupi sehelai tirai. Langit malam ini sangat indah, bintang-bintang begitu banyak bertaburan di langit. Tersimpul senyum kecil di bibir Kris mengagumi keindahan di hadapannya. Ia tidak bisa menghentikan pikirannya saat melihat bintang-bintang itu seakan mereka adalah cita-citanya. Sejak kecil ia memiliki banyak cita-cita sejak di tinggalkan oleh ayahnya. Setelah berpindah-pindah negara dari Cina, Kanada, hingga tempat terakhir di Korea ini akhirnya ia menetap di sini. Ia anak lelaki tunggal yang di besarkan oleh ibunya, satu-satunya orang tua yang bersusah payah menjaganya sejak lahir hingga sekarang. Tanpa seorang ayah, Kris tumbuh dengan seorang ibu, single parent yang terkuat yang pernah Kris lihat. Dengan fakta ini, Kris merasa berat jika harus mencintai seorang perempuan, karena ia masih belum mampu membahagiakan ibunya dengan tenaganya sendiri. Semua hal yang di lakukannya saat ini hanyalah untuk ibunya, tidak lain.

***

Baru pertama kalinya semua mahasiswa jurusan Bahasa Inggris di minta untuk berkumpul di aula kampus secara mendadak tanpa pemberitahuan sebelumnya dari pihak manapun. Disana juga terdapat beberapa dosen penting yang tidak asing lagi bagi mereka.

“Saya harap sekarang saya melihat seluruh mahasiswa yang berada di jurusan ini dan beberapa akan berkesempatan untuk mendapatkan nilai yang unggul.”

“Di sini saya akan mengumumkan suatu proyek yang disudah di rangkai dan di nantikan oleh para dosen untuk meningkatkan pembelajaran para mahasiswa yang lebih efektif.”

“Tidak perlu berlama-lama, saya akan menjelaskannya. Proyek ini di lakukan antara sesama Sunbae dan Hoobae. Kami meminta kalian semua untuk saling bekerja sama.”

Riuh dari para mahasiswa terdengar sangat keras atas ketidaksukaan mereka dengan proyek yang baru di sampaikan oleh dosen tersebut.

“Ini akan memakan waktu cukup lama, berikut saya jelaskan penentuannya dan dengarkan baik-baik.”

“Ini akan seperti sebuah undian, satu persatu akan saya pangil nama dari setiap hoobae, dan hoobae mengambil kertas yang berisikan nama sunbae kalian. Setelah kalian mendapatkan nama sunbae kalian, maka kalian berhak bekerja sama dalam pembelajaran Bahasa Inggris, dan tentu saja di sini adalah sunbae yang lebih terbebankan karena harus membantu partner kalian jika ada materi yang tidak dipahami oleh hoobae.”

Riuhan tadi kembali meramaikan suasana di aula, Rae Yoo menghela nafas berat, ia berharap Kris tidak akan menjadi partnernya dalam urusan ini. Rae Yoo beranjak dari tempat duduknya setelah beberapa orang dan akhirnya namanya di panggil, ia berjalan ke sebuah tempat untuk mengambil sebuah kertas kecil bergulung di dalam sebuah akuarium kecil. Rae Yoo mengambil salah satu kertas dari sekian banyak, ia hendak akan memberikan kepada seorang petugas yang akan membacakan isi kertas tersebut, namun ia sangat ragu dengan kertas piilihannya hingga ia berbalik untuk mengganti kertas lain dan mengambilnya dengan asal.

“Aku yakin, kertas sebelumnya berisikan nama Kris.” tebak Rae Yoo dalam hati

Petugas pembaca kertas tersebut membuka isi kertas Rae Yoo yang sudah di gantinya.

“Partner Kang Rae Yoo adalah Wu Yi Fan.”

Rae Yoo mengerutkan dahinya, siapa Wu Yi Fan? Apa dia memilih orang yang benar? Ia melihat ke arah para mahasiswa, di antara kerumunan ia dapat melihat Kris dengan tubuh tingginya yang memudahkannya menemukannya disana. Lelaki itu menyeringai kecil terhadapnya, dan Rae Yoo membalasnya dengan tatapan tajam. Rae Yoo sama sekali tidak mengerti dan berfirasat akan ada suatu hal buruk yang terjadi. Setelah gilirannya, ia kembali ke tempat duduknya bersama teman-temannya dan mereka menyambutnya dengan heboh.

“Jangan-jangan….”

“Rae Yoo-ya, pilihanmu keren sekali!” seru salah seorang temannya dan Rae Yoo memandangnya bingung.

“Nugu? Aku tidak mengenalnya.” tanya Rae Yoo dengan wajah polos.

“Hey, bagaimana kau tidak tahu? Dia bintang basket kebanggaan kampus kita!” sambung temannya yang lain.

“Kris oppa, Kris oppa… kau pasti tahu.” Rae Yoo memandang temannya nyaris membuatnya sulit bernafas.

“KRIS? KRIS?!!!” tanya Rae Yoo frustasi, ia menggeram dan memegang kepalanya yang mendadak terasa berat baginya.

“MENGAPA HARUS DIA?!”

***

Setelah pertemuan tadi, Rae Yoo memiliki mata kuliah dan menghabiskan waktu dalam 1 jam. Saat keluar kelas, ia langsung menahan dosennya yang baru saja keluar dan hendak menanyakan sesuatu yang sudah ia pikirkan sejak tadi.

“Permisi, aku ingin tanya suatu hal.” ucap Rae Yoo.

“Katakanlah.” dosen perempuan itu tersenyum ramah kepadanya.

“Apakah aku boleh mengganti partnerku dengan partner yang lain?”

“Wae? Siapa partnermu?”

“Kris. Anii.. Wu Yi Fan sunbaenim.” jawab Rae Yoo sempat salah menyebutkan hingga ia membenarkannya.

“Ne, Kris itu..” dosen itu menggantungkan kata-katanya. “Kau beruntung mendapatkan partner seperti dia, dia termasuk mahasiswa favoritku yang sangat rajin.” mendengar perihal tersebut, Rae Yoo tersenyum canggung, ia mencurahkan pemikirannya kepada orang yang salah.

“Menurut kesepakatan semua dosen, kami tidak akan menukar partner dari siapapun, karena kalian berjumlah banyak dan itu akan sangat merepotkan kami. Keputusan tadi tidak bisa di ganggu gugat.” jelas dosen itu dan Rae Yoo menunduk menggigit bibir bawahnya. “Aku sudah melihat kemampuanmu, Kang Rae Yoo-ssi. Kau akan menyerap ilmu lebih banyak dari Kris, dia akan membuatmu semakin pintar.”

“Dia.. sepintar itu?” gumam Rae Yoo dalam hati, merasa tidak yakin karena Kris terlihat sangat bodoh di matanya.

“Ku harap kalian dapat bekerja sama dengan baik karena akan ada suatu tugas yang akan kami berikan sebagai nilai tambahan.” dosen itu tersenyum manis sambil memegang bahunya, kemudian ia melangkah meninggalkan Rae Yoo yang hanya terdiam.

Rae Yoo berbalik hendak berjalan dan tidak sengaja berpapasan dengan Kris yang menghentikan langkah kakinya karena melihat Rae Yoo di hadapannya.

“Kebetulan sekali, kita tidak bersusah payah untuk bekerja sama karena rumah kita tidak cukup jauh.” ucap Kris yang pertama kali membuka suara.

“Benar..” ujar Rae Yoo santai walau sebenarnya ia menutupi ketidaksukaannya. “Seperti yang telah dikatakan dosen tadi, sepertinya kau harus lebih banyak membantuku untuk menuntaskan setiap materi yang tidak aku pahami.” Rae Yoo melipat tangannya di depan dadanya.

“Tentu saja, itu sudah menjadi tugasku.” jawab Kris penuh percaya diri dengan memasang wajah sombongnya yang sangat Rae Yoo benci.

Gadis itu hanya mengangguk enteng karena tidak tahu berkata apa lagi. Ia melihat sosok Sehun yang berjalan mendekatinya sambil tersenyum kepadanya. Tanpa ragu Rae Yoo membalas senyumnya.

“Ohh.. hyung.” sapa Sehun yang datang dari belakang Kris, Kris menepuk bahu Sehun sambil tersenyum kecil.

Rae Yoo tidak heran Kris dan Sehun saling kenal satu sama lain, tetapi ia tidak tahu bagaimana Kris dan Sehun saling kenal karena Chanyeol. Dan Rae Yoo tidak tahu bahwa kenyataan yang sebenarnya adalah Sehun merupakan kandidat untuk Rae Yoo, yang Chanyeol jodohkan untuknya.

“Sudah lama tidak melihatmu, hyung. Sepertinya kau sibuk sekali.” ujar Sehun dan Kris mengangguk pelan.

“Aku baru mengerjakan skripsiku, jadi akhir-akhir ini waktuku banyak tersita untuk hal itu saja.” jawab Kris kepada Sehun. Dan Rae Yoo menatap Kris tidak suka.

“Aaa… Rae Yoo-ya, aku menelponmu semalam sepertinya kau tidak tahu, ya?” Rae Yoo membulatkan matanya menatap Sehun. “Hari ini ada penentuan untuk dance partner, aku tidak tahu mengajak siapa jadi aku menelponmu.” jelas Sehun dan membuat Rae Yoo tersenyum kaku kepadanya.

“Mianhae, oppa.” Rae Yoo merasa gugup dan memegang tengkuknya.

Keberadaan Kris di antara mereka seperti hama yang menghalangi mereka. Ia merasa muak setelah mendengar pembicaraan Rae Yoo dan Sehun. Ia ingin segera pergi menjauh, tidak tahu pasti mengapa kali ini ia merasa ingin marah di situasi seperti ini.

“Aku akan pulang telat, beritahu Chanyeol oppa, kalian bisa pulang terlebih dahulu tanpa aku.” ucap Rae Yoo kepada Kris. “Kajja, oppa.” Rae Yoo melangkah meninggalkan Kris, diikuti Sehun di belakangnya yang menyeringai kecil seakan baru saja memenangkan sesuatu yang berharga.

“Aku bahkan bingung di antara kalian siapa yang mencoba membuatku cemburu, dan hal itu sama sekali tidak bekerja untukku.” pikir Kris dalam hati, menganggap tingkah mereka sangat konyol baginya.

***

Ruangan dance tidak terisi oleh satu orangpun, Sehun dan Rae Yoo mendecak gembira karena mereka orang pertama yang tercepat dan tepat waktu datang ke ruangan penuh cermin itu. Rae Yoo tidak mengetahui apapun tentang dance partner yang dibicarakan Sehun sebelumnya, hingga ia menatap Sehun.

“Aah, dance partner..” ucap Sehun yang membaca raut wajah Rae Yoo yang meminta penjelasannya. “Bulan depan akan ada kompetisi dance, Lay hyung baru saja mengatakannya kepadaku dan Kai, jadi hal ini hanya baru kami yang mengetahuinya, dan sekarang kau.” jelas Sehun.

“Kenapa yang berhubungan dengan kampus ini selalu saja membutuhkan partner?” frustasi Rae Yoo dalam hati. “Mengapa bukan Kai sunbae yang memintaku tetapi Sehun oppa?”

“Apa kau keberatan? Mian, aku hanya bingung mengajak siapa, dan aku tidak tahu sampai akhirnya aku memutuskan memilihmu.” ujar Sehun, Rae Yoo merasa semakin bingung, ingin menolak namun melihat wajah polos Sehun yang sangat memohon kepadanya membuatnya tidak tega.

Belum sempat menjawab, pintu ruangan terbuka dan muncul Kai di sana yang membuat Rae Yoo merutuki dirinya sendiri.

“Sehun-ah, aku sudah mendapatkan dance partnerku.” ucap Kai sambil berjalan ke ruang ganti memberitahu Sehun.

“Curang sekali, mengapa selalu saja kau yang tercepat.” omel Sehun tidak terima.

Rae Yoo tidak tahu bagaimana mengekspresikan kekesalannya, merasa marah dan sedih secara bersamaan. Ia menganggukkan kepalanya pelan, setidaknya ia memiliki Sehun, jadi ia tidak perlu cemburu kepada Kai.

“Oppa, aku setuju. Aku tidak keberatan.” gumam Rae Yoo seolah berbisik agar Kai tidak mendengarnya.

“Jinjja?” tanya Sehun berbisik, dan Rae Yoo mengangguk berkali-kali.

“Assaa!” decak Sehun senang dan memegang kedua tangan Rae Yoo. “Gomawo.” Rae Yoo terpaku pada wajah ceria Sehun, genggaman erat Sehun membuatnya sangat gugup, ia tersenyum kaku saat Sehun melepaskan tangannya.

“Jongin-ah! Aku juga sudah memiliki dance partner!” teriak Sehun, dan Kai keluar dari ruang gantinya.

“Nugu?” tanya Kai.

“Tentu saja aku memilih Rae Yoo.” tunjuk Sehun kepada Rae Yoo dan Rae Yoo tersenyum paksa kepada Kai. “Aku tidak akan kalah lagi, aku akan mengalahkanmu.” ujar Sehun percaya diri dan Kai tersenyum hambar yang tertuju kepada Rae Yoo, ia menyadari hal itu.

“Hahaa oppa, kau tidak boleh sesombong itu, kita bahkan belum memiliki koreografi.” ujar Rae Yoo mencoba mengalahkan rasa kesalnya terhadap Kai.

“Dia sedikit keras kepala, jadi kau harus bersabar, kuharap kau dapat meluluhkannya dan mengaturnya.” ujar Kai kepada Rae Yoo, dan gadis itu tertawa kecil.

“Baiklah kita akan berlatih dan Lay hyung akan datang dan mengumumkan tentang hal ini hari ini.” ucap Kai yang mulai melakukan pemanasan pada tubuhnya.

Setelah beberapa mahasiswa hadir di dalam ruangan, mereka semua berlatih kelenturan tubuh untuk semua hoobae. Dari semua hoobae, Sehun tidak henti-hentinya memandang Rae Yoo yang sangat mahir dalam setiap gerakan. Ia tersenyum kecil mengagumi setiap tingkah Rae Yoo, satu-satunya yang sangat di sukai dari dirinya adalah saat gadis itu menari dan ia melihatnya sangat indah.

Pelatih memberikan waktu istirahat dan Rae Yoo terduduk sangat kelelahan tidak jauh dari sudut ruangan. Ia mengecilkan pandangannya saat pintu ruangan terbuka, mulutnya sedikit terbuka saat melihat seorang perempuan yang datang. Temannya, teman lamanya yang bahkan sudah ia anggap seperti kakaknya.

“Hyemin-ah!”

Mata Rae Yoo beralih ke sumber suara yang sangat di kenalnya, lelaki si pemilik suara itu berjalan menghampiri perempuan yang tengah tersenyum bahagia melihat si lelaki itu datang kepadanya.

“Bogoshipoyo Jongin-ah,” perempuan itu langsung meraih tubuh Kai dan memeluknya dengan erat dan Kai pun turut membalasnya, wajahnya terlihat bahagia.

Kini Rae Yoo menatap nanar kepada mereka, mereka tampak seperti sepasang kekasih yang saling melepas kerinduan. Seakan pertahanannya runtuh seketika, Rae Yoo menundukkan kepalanya dan tiba-tiba saja pandangannya menjadi gelap gulita, seseorang menutup matanya dengan tangannya di belakang Rae Yoo. Gadis itu terkejut sambil memegang tangan yang menutupi matanya.

“Nuguseyo?” suara Rae Yoo bergetar, hingga air matanya mulai menumpuk di pelupuk matanya, walau sedikit namun si pemilik tangan dapat merasakan air itu di tangannya.

“Rae Yoo-ya, mian. Aku tidak bermaksud apa-apa, aku hanya sedang bercanda.” lelaki itu panik, Rae Yoo membalikkan tubuhnya dan menemukan Sehun.

“Gwaencanha.” Rae Yoo berusaha tersenyum, sambil mengusap air mata yang masih berada di pelupuk matanya, suaranya yang masih terdengar bergetar membuat Sehun semakin merasa bersalah.

“Jinja mianhae, Rae Yoo-ya.”

“Oppa, apa aku boleh pulang sekarang? Ada acara penting di rumah.” ucap Rae Yoo meminta izin, ia merasa kekuatannya sudah hilang jika harus berlatih lagi karena harus melihat Jongin bersama Hyemin di sini. Ia segera memakai hoodie untuk menutupi kepalanya dan memaksa dirinya untuk tersenyum kepada Sehun. “Kau tidak salah apa-apa, oppa. Kau bisa menelponku nanti malam untuk memastikanku.” Rae Yoo yakin sudah mengatakan hal yang benar, dia tidak butuh siapa-siapa, namun Sehun akan memperhatikannya walaupun ia tidak memintanya.

– TBC –

Advertisements

2 thoughts on “FF “A Dumber” [Chapter 2]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s