FF “A Dumber” [Chapter 3]

baru

Title : A Dumber [Chapter 3]

Author : Sabriena2Dgirl

Cast :

Main Cast

  • Kris [Wu Yi Fan]
  • Kang Rae Yoo

Support Cast

  • Park Chanyeol
  • Oh Sehun
  • Kai [Kim Jongin]
  • Choi Hyemin

(Mungkin ada penambahan)

Genre : Romance, Humor, Sad

Rating : PG-13

PS : PLS, SORRY, KALO ADA BEBERAPA TYPO ATAU MEMANG ADA KESALAHAN, INI TANPA SENGAJA, KALO EMANG SALAH, SALAHKAN JARI-JARI INI XD

Happy reading ^^

***

“Oppa, apa kau sudah pulang?”

“Belum, aku masih bersama Kris hyung di restoran biasa.” jawab Chanyeol yang masih mengunyah makanan di mulutnya.

“Aku ke sana.” ucap Rae Yoo cepat dan langsung mematikan ponselnya.

“Nugu?” tanya Kris kepada Chanyeol.

“Siapa lagi kalau bukan Rae Yoo.” jawab Chanyeol santai dan mengetahui hal itu, Kris langsung merasa risih.

“Kau pasti terkejut jika aku memberitahukanmu hal ini.” ujar Kris dan Chanyeol memasang wajah bertanya kepadanya.

“Rae Yoo adalah partnerku untuk pembelajaran Bahasa Inggris yang baru saja di bentuk oleh seluruh dosen.”

“Bagus sekali, sepertinya kalian berjodoh.” ucap Chanyeol enteng yang hanya terpaku pada makanannya.

“Tidak. Sehun sudah bergerak lebih dahulu. Ia benar-benar mendekati Rae Yoo dengan sangat cepat.”  jawab Kris serius.

“Jadi Sehun benar-benar serius terhadapnya?” gumam Chanyeol.

“Yaa, mengapa kau harus menyesal, bukankah kau sudah lama mengharapkan ini?”

“Bukan seperti itu, hyung. Kupikir Sehun tidak menyukainya lagi. Dan setelah mengenalmu lebih dalam, aku lebih mempercayaimu daripada Se…” Chanyeol menghentikan kata-katanya saat melihat Rae Yoo berjalan menghampiri tempatnya.

“Oppa, pesankan aku sesuatu yang pedas.” Rae Yoo langsung mengambil tempat duduk di samping Chanyeol, ia sekilas melihat ke arah Kris dan sengaja memiringkan posisi duduknya untuk menghindari kontak mata Chanyeol dan Kris.

Chanyeol hendak bertanya saat Rae Yoo memasang earphone di telinganya hingga membatalkan pertanyaannya kepada gadis itu. Ia bersandar di tempat duduknya dan terfokus pada ponselnya secara tertunduk. Chanyeol segera memesan makanan  yang sesuai di minta Rae Yoo, ia kemudian melihatnya dengan pandangan cemas. Rae Yoo tidak bisa memakan makanan pedas, ia akan mengeluarkan air mata merasakan rasa yang berbahaya itu untuk lidahnya. Walau begitu, ia sangat menyukai pedas dan memakan makanan tersebut di rumah saja karena jika ia memakannya di tempat umum, ia merasa malu karena harus menangis. Memahami situasi ini, Chanyeol menebak ada sesuatu yang tidak beres hingga Rae Yoo tampak berbeda dari biasanya.

“Wae?” bisik Kris kepada Chanyeol  memandang Rae Yoo.

“Molla..” Chanyeol menggelengkan kepala dan mengangkat bahunya.

Tidak beberapa lama, makanan pesanan Rae Yoo sampai. Ia tidak menyadarinya hingga Chanyeol menyikutnya memberitahu. Dengan malas, Rae Yoo melepas earphonenya dan menyimpannya di dalam tasnya.

“Makanlah pelan-pelan. Seharusnya kau tidak memakan ini.” ujar Chanyeol yang sangat memperlihatkan perhatiannya kepada Rae Yoo.

“Tidak apa-apa jika tidak membuatku sakit perut.” jawab Rae Yoo datar. Ia mengambil kotak tisunya dan meletakkannya di samping piringnya, kemudian mulai memakan makanannya.

Rae Yoo makan perlahan-lahan sesuai anjuran Chanyeol, tangan kanannya sibuk menyendok dan di tangan kiri memegang tisu yang ia siapkan. Rasa pedas di lidahnya mulai mengeluarkan air matanya. Ia menutupi wajahnya sambil menghilap air matanya dengan tisu di tangan kirinya. Ia tahu ini sangat memalukan karena Kris berada di hadapannya, dan ia tidak tahu sejak kapan ia tidak mementingkan imejnya dalam hal ini. Sepertinya, untuk saat ini keadaan hatinya harus lebih diutamakannya.

***

Aura kelam dan dingin gadis itu masih terlukis di wajahnya. Matanya hanya terfokus pada ponsel dan tidak lupa earphone juga tersangkut di telinganya dengan suara musik yang mengalir dari benda hiburan kecilnya itu. Rasa marah bercampur sedih itu sulit sekali di hilangkannya, untungnya untuk saat ini rasa sedihnya sudah menghilang sejak ia memakan makanan pedas untuk mengeluarkan air matanya. Kini amarahnya masih merajalela di kepala dan hatinya, memikirkan Kai adalah pacar Hyemin dan ia bertanya-tanya sejak kapan Hyemin berhubungan dengan Kai tanpa dia dan Chanyeol ketahui. Matanya melirik ke arah Chanyeol yang berada di kursi depan, bukan waktu yang tepat untuk memberitahukan bahwa Hyemin sudah berada di sini, ia khawatir Chanyeol akan berakhir dengan keadaan yang sama seperti dirinya, mungkin saja lebih.

“Rae Yoo-ya, sukmo (bibi) menyuruhku mengantarmu ke restoran eomma, mereka mengharapkan kehadiranmu.” Chanyeol berbalik ke arah Rae Yoo setelah mendapatkan sebuah pesan dari ponselnya.

“Shireo!” suara Rae Yoo yang bergetar masih terdengar jelas hingga Kris menoleh melihatnya.

“Mian, aku tidak bisa memberikan alasan apapun, nuna juga berada disana, mungkin akan membicarakan hal penting tentang kaum perempuan?”

“Haiissh, JINJA!” umpat Rae Yoo yang menghadapkan wajahnya ke arah jendela, Chanyeol memandangnya merasa bersalah karena tidak bisa mengantarnya pulang dan membiarkannya menenangkan diri.

“Gwaencanha.” ucap Kris tanpa suara kepada Chanyeol yang memahami situasi temannya tersebut.

“Aku akan mengantarmu duluan, hyung.” Chanyeol tersenyum hambar dan Kris hanya mengangguk pelan.

Mobil Mercedez Benz hitam itu berhenti di suatu rumah yang asing bagi Rae Yoo, Kris yang berada di sampingnya keluar dari mobil dan memutar untuk menemui Chanyeol untuk membicarakan suatu hal yang singkat. Pemandangan rumah di jendela samping Rae Yoo membuatnya terkesima untuk beberapa saat. Kris memiliki desain rumah yang hampir sama seperti rumahnya walau ada beberapa titik dan penghiasan halamannya yang berbeda. Ia menganggapnya wajar saja karena rumah Kris berjarak 5 rumah dari rumah Chanyeol, berpikir bahwa sebelum rumah mereka di bangun memiliki pekerja bangunan yang sama.

“Ajhuma, annyeong haseyo.” ujar Chanyeol yang masih di dalam mobil, saat melihat seorang wanita berparuh baya yang baru saja keluar dari pagar rumahnya.

“Ne. Bagaimana kabarmu? Terima kasih sudah mengantar Kris.” wanita itu mendekat ke mobil dengan berjarak 1 meter dan ia merangkul Kris yang mendekat ke ibunya itu.

“Selalu baik, ajhumma. Aku akan selalu mengantar Kris hyung selamat sampai di rumah.” wanita itu tertawa kecil mendengar perjanjian Chanyeol, “Rae Yoo-ya, buka jendelamu, kau harus menyapa ajhuma.” ucap Chanyeol menghadap ke arah belakang, membuat wanita itu mengerutkan dahinya.

“Sial kau Park Chanyeol, kau ingin mengenalkannya kepada ibuku?!” umpat Kris dalam hati dan menatap kesal kepada Chanyeol.

“Wae?” tanya Rae Yoo bingung.

“Ajussi, tolong turunkan jendela Rae Yoo.” pinta Chanyeol kepada supirnya.

“Yaa Park Chanyeol, andwae!” desis Rae Yoo, ia tidak bisa berteriak.

Jendelanya perlahan terbuka, Rae Yoo menatap Chanyeol geram hingga jendela itu sepenuhnya terbuka, ia tersenyum pada ibu Kris.

“Ajhuma, ini sepupuku dari pihak ibuku, ia Kang Rae Yoo.” ujar Chanyeol dengan sopan memperkenalkan Rae Yoo.

“Annyeong haseyo, ajhuma, bangapseumnida.” Rae Yoo dengan sopan menyapanya, ia tersenyum dengan rasa canggung.

“Ne, kau cantik sekali, nak.” ibu Kris menjawabnya dengan pujian, Kris membulatkan matanya menatap ibunya.

“Kamsahamnida.” Rae Yoo tertawa kecil mendengar celotehan ibu Kris, Chanyeol merasa lega karena gadis itu dapat tertawa setelah situasi tadi.

“Baiklah, ajhuma, mianhamnida, kami harus pergi sekarang, lain kali aku akan berkunjung kesini. Annyeong haseyo.” Chanyeol mengucapkan selamat tinggalnya, dan mobil itu berderap dengan laju setengah kencang.

“Sepertinya ini awal yang bagus.” gumam Chanyeol menyeringai kecil.

***

Lagi-lagi aktivitas kampus menyapanya di hari berikutnya. Menjelang siang di waktu istirahat, Rae Yoo makan di sebuah restoran bersama teman-temannya, mereka saling mengobrol dan bersendau gurau, sedangkan Rae Yoo sangat terfokus pada makanannya. Ia tidak peduli hingga seseorang memanggilnya.

“Kang Rae Yoo?” Rae Yoo menoleh mendengar suara itu, dan perempuan itu tanpa segan duduk di sampingnya.

“Hyemin eonni..” lirih Rae Yoo sedikit terkejut atas kehadirannya.

“Sudah lama sekali, apa kabar? Aku sudah mencarimu di penjuru kampus dan akhirnya menemukanmu di sini.” omel Hyemin pada Rae Yoo yang tertawa kecil mendengarnya.

“Kau yang lebih lama menghilang di Busan tanpa kabar sama sekali.” ujar Rae Yoo dan Hyemin memegang tengkuknya sambil tertawa.

“Bagaimana kabar Chanyeol oppa? Aku sangat merindukannya.” mendengar ucapan Hyemin, Rae Yoo bergedik melihatnya.

“Tidak perlu menanyakan kabarnya, kau pasti sudah tahu.” ujar Rae Yoo bermaksud tidak ingin membahasnya. “Beberapa hari lalu aku melihatmu bersama Kai sunbae, sepertinya kalian dekat sekali.” Rae Yoo mengalihkan pembahasan mereka dan Hyemin tersenyum kaku.

“Tentu saja kami dekat, kami sudah lama di salah satu agensi.” jawab Hyemin dan Rae Yoo semakin penasaran di balik pengakuannya yang tidak tepat.

“Ohh.. begitu. Jadi kau kuliah di sini?” Rae Yoo sekali lagi mengalihkan pembicaraan lain.

“Ne, mulai hari ini, aku berkuliah di sini.” ujar Hyemin mengangguk cepat.

.

.

Rae Yoo masuk ke ruangan dance dan tidak ada seorang pun di sana. Secepat mungkin ia ke ruang ganti untuk mengganti bajunya dan setelah itu kembali ke ruangan bercermin itu. Ia melakukan pemanasan sejenak dan menghidupkan lagu. Setelah beberapa hari akhirnya ia dapat masuk ke ruangan ini dengan keadaan yang benar-benar kosong, karena ia ingin dapat menikmati suasana kesendirian di dalam ruangan ini. Seiring lagu yang menggema, ia melakukan dance sembarang dari tiap lagu yang di hafalnya. Rae Yoo tidak mengetahui ada seseorang yang mengintip dari pintu, lelaki itu tak hentinya mengagumi setiap gerakan Rae Yoo yang menurutnya sangat keren dan memiliki khas tersendiri, berbeda dari dancer perempuan lain. Di tengah-tengah gerakannya, Rae Yoo mengurangi tenaganya karena merasakan sakit yang menggerogoti lutut kirinya. Rae Yoo berdecak kesal dan sengaja menjatuhkan tubuhnya ke lantai, ia menyelonjorkan kakinya dan perlahan memijat lutut kirinya untuk mengurangi rasa sakitnya.

“Kang Rae Yoo, gwaencanha?” lelaki yang berada di pintu langsung masuk segera dan menghampiri Rae Yoo.

“Kai sunbae?” kaget Rae Yoo, ia sejenak menatap Kai yang memasang wajah khawatir kepadanya.

“Sepertinya kakimu sakit, benarkah?”  tanya Kai cepat dan melihat tangan Rae Yoo tidak lepas dari lutut kirinya.

“Ne.” jawab Rae Yoo, ia hanya mengangguk merasa gugup.

“Apakah kau tadi melakukan pemanasan dengan benar?” tanya Kai dengan raut wajah yang tampak serius menurut Rae Yoo.

“Ada. Mungkin aku melakukannya dengan tidak benar.” ucap Rae Yoo seakan menyalahkan dirinya sendiri, sejujurnya semalam ia berlatih sangat keras di rumahnya.

“Lututku akan sakit jika aku tidak bisa mengontrol gerakan kakiku saat dance.” jelas Rae Yoo, Kai tampak berpikir.

“Ini tidak buruk, cukup di pijat dan beristirahat kau akan sembuh.” ucap Kai sambil tersenyum menenangkan Rae Yoo. Kai akan memijat lutut Rae Yoo saat mendengar pintu terbuka dan melihat Sehun masuk hingga Kai perlahan menjauhkan tangannya. Rae Yoo memandang Kai heran karena ia tampak sedikit panik.

“Wae geurae?” tanya Sehun yang menghampiri mereka dan merasa heran. Kai langsung berdiri dan berhadapan dengan Sehun.

“Lutut Rae Yoo cedera, aku tidak bisa menolongnya, kebetulan kau datang, jadi aku bisa memenuhi janjiku dengan Hyemin.” ujar Kai menjelaskan.

“Jinjja? Rae Yoo-ah, gwaencanha?” Sehun langsung mengabaikan Kai dan mendekati Rae Yoo, gadis itu hanya mengangguk mengiyakan, dan ucapan Kai tadi seakan menusuknya.

“Yaa, kau pintar memijat, pijatlah lututnya, cederanya tidak serius.” ujar Kai kepada Sehun, “Aku pergi. Cepatlah sembuh, Kang Rae Yoo-ssi.” ucap Kai terakhir kepada Rae Yoo.

“Ne.” jawab Rae Yoo dengan suara kecil seolah kehilangan tenaga, bahkan Kai tidak dapat mendengarnya karena lelaki itu pergi dengan terburu-buru.

“Rumah sakit kampus kurasa terlalu jauh, tidak mungkin aku mengajakmu berjalan. Ruang ganti itu cukup luas, sebaiknya kita di sana karena sebentar lagi ada beberapa orang yang akan berlatihan di sini.” ujar Sehun dan Rae Yoo hanya mengangguk lemah mendengarnya membuat Sehun semakin mengkhawatirkannya.

Sehun membantu Rae Yoo berjalan dengan merangkulnya, gadis itu menuruti apa yang dilakukannya jika itu menyangkut hal yang baik untuknya. Jika saja Kai tidak menggunakan alasan apapun untuk pergi begitu saja, mungkin dia tidak akan merasa sesedih ini. Sehun melihat raut wajah Rae Yoo yang tanpa ekspresi sama sekali, ia tetap membantunya mendudukkannya di sebuah sofa di sudut ruangan di dekat pintu. Seharusnya ruangan itu bukan di namakan sebagai ruang ganti, karena ruangan itu cukup luas hingga memungkinkan menempatkan loker, meja beserta kursinya, dan 2 sofa, dan para anggota mengganti baju di toilet.

Sehun mengambil obat berupa gel di dalam lokernya, Rae Yoo meluruskan kakinya di atas sofa kemudian Sehun menarik sebuah kursi dan ia duduk di tepi sofa. Sehun tampak berpikir sejenak merasa ragu, karena biasanya ia hanya memijat lelaki tidak pada perempuan, namun kali ini ia harus mengurus Rae Yoo yang sedang kesakitan.

Rae Yoo hanya tertunduk saat Sehun memijat kakinya dengan telaten, sedikit merasa perih namun ia menahannya semampu mungkin, sesungguhnya perih di kakinya tidak seberapa perih dari pada hatinya. Seharusnya Kai sekarang yang berada di hadapannya, mengurusnya dan bertindak sangat peduli, sayangnya orang itu di gantikan oleh Sehun.

“Mianhae, ini memang terasa sedikit perih, kuharap besok tidak memburuk dan kau dapat beraktivitas.” ujar Sehun dan Rae Yoo mengangkat wajahnya, sambil mengangguk ia membersihkan tetes air matanya yang jatuh.

“Apakah sakit sekali? Apa aku harus berhenti saja?” khawatir Sehun, ia tidak tega melihat mata Rae Yoo meneteskan air matanya, hingga sejenak ia menghentikan pijatannya.

“Dadaku terlalu sakit. Kenapa harus kau yang menggantikan Kai sunbae?” umpat Rae Yoo dalam hati.

“Gwaencanha, oppa. Kakiku lebih penting daripada air mata ini.” jawab Rae Yoo mencoba tegar dengan tersenyum kecil, dan Sehun menatapnya riang.

“Benar sekali. Karena kau adalah partnerku jadi aku harus lebih memperhatikanmu dan aku tidak akan membiarkanmu mengalami cedera seperti ini lagi.” ujar Sehun seakan berjanji, setiap ucapannya membuat Rae Yoo merasa dapat bernafas lebih baik dari pada tadi.

“Dan cobalah mulai saat ini kau menyadari bahwa aku menelponmu, hanya mengangkatnya sekali saja agar aku berhenti mengkhawatirkanmu.” Rae Yoo terhenyak mendengar paksaan manis itu, seakan ia menyadari bagaimana Sehun selalu mencoba melindunginya dan memberikan banyak perhatiannya namun ia selalu mengabaikannya tanpa memikirkan perasaannya.

“Mianhae oppa, aku ..”

“Ssstt! Kau tidak perlu meminta maaf, seharusnya aku yang berada di posisi yang mengatakan kata itu. Permintaanku terlalu serakah, kau tidak perlu merasa terbebani, katakan saja jika aku sudah melakukan hal yang salah. Dan tentang teleponku, aku menarik lagi permintaan itu, kau boleh mengabaikannya saja jika sedang tidak ingin.” Sehun merasa sudah mengucapkan segala apa yang dipikirkannya, ia tahu ia terlalu cepat dan seakan memaksa gadis itu untuk segera menyukainya kembali, namun ia tidak akan mengatakannya setelah gadis itu nyaman bersamanya, ia akan mengorbankan penantiannya selama 2 tahun untuk membuatnya perlahan-lahan datang kepadanya.

***

Lagi-lagi Kris berlatihan sendirian di lapangan basket indoornya. Ia merasa bosan karena tidak dapat mengikuti turnamen disebabkan kesibukkannya dengan urusan skripsinya, ia harus menyelesaikan semester akhirnya secepat mungkin kemudian menjalankan rencana masa depannya yang di mulai dengan melakukan suatu pekerjaan. Untuk sejenak, ia melupakannya semua itu ke dalam permainan basketnya seperti saat ini. Keringatnya bercucuran hingga menyebabkan bajunya basah karena ia menguasai seluruh lapangan, berlari ke sana ke mari sambil men-dribble bola dan memasukkannya ke dalam ring dengan jarak yang jauh.

Sebelumnya ia mendapatkan pesan dari Chanyeol yang memberitahu bahwa ia menyuruh Rae Yoo untuk datang ke lapangannya, namun sedari tadi pintu itu tidak terbuka sama sekali dan Kris tidak sadar selama bermain ia sesekali melirik pintu itu, seakan mengharapkannya untuk datang.

Kris sangat kelelahan hingga memutuskan beristirahat dan duduk di bangku dekat tribun. Ia mengelap keringat dengan handuknya dan ia juga mengambil botol airnya, meminumnya beberapa teguk. Ia melihat ke arah sampingnya yang kosong, bayangan Rae Yoo muncul begitu saja di matanya saat dulu ia memerhatikan gadis itu dan sempat mengaguminya hingga menyebutnya seorang malaikat.

“Astaga, apa yang aku pikirkan? Mengapa ia muncul begitu saja di kepalaku?” omel Kris pada dirinya sendiri. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan bayangan Rae Yoo tetap terbersit di pikirannya. Ia merasa kasihan saat mengingat pertama kalinya ia melihat Rae Yoo dalam keadaan sangat sedih hingga ia memaksa dirinya untuk menjatuhkan air matanya dengan memakan makanan pedas.

“Mengapa aku harus mengkhawatirkannya? Mengapa seakan ia sangat berpengaruh dalam hidupku?” Kris terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri. “Kris, dia bahkan bukan siapa-siapamu, lebih baik kau memikirkan hidupmu terlebih dahulu yang lebih penting.” umpat Kris seakan berbicara sendiri.

Akhirnya pintu itu terbuka, Kris tersentak dan langsung beranjak dari tempat duduknya dan ia menghela nafas kecewa saat Chanyeol yang masuk.

“Rae Yoo eodisseo?” tanya Chanyeol menghambur ke arah Kris setelah matanya menerawang ke penjuru lapangan.

“Molla, dia tidak datang ke sini. Apa dia tidak membalas pesanmu?” Kris mengangkat bahunya .

“Biasanya dia memang tidak membalas pesanku. Astaga, di mana dia? Setidaknya dia memberitahukanku jika ia pulang lebih awal. Aku khawatir, dia bisa saja melakukan tindakan bodoh jika emosinya tidak turun sejak kemarin.” geram Chanyeol, lagi-lagi ia bertindak seperti seorang ayah mengkhawatirkan anak perempuannya.

“Apakah dia tipe seperti itu?” tanya Kris di luar pikirannya.

“Apa kau tidak ingat bagaimana bodohnya dia memakan makanan pedas untuk pertama kalinya di tempat umum? Kau orang asing pertama yang melihatnya melakukan tindakan bodoh itu.” jelas Chanyeol mengingatkan Kris.

“Aku?” tunjuk Kris pada dirinya sendiri.

“Hyung, bisakah untuk sementara kau berpikir lebih logis? Aku cukup lelah, menghadapi Rae Yoo yang perlahan-lahan seperti orang bodoh karena telah mengenalmu.”

“Yaaa!” decak Kris kesal setelah mendengar kalimat frustasi Chanyeol.

“Akan lebih baik membantuku mencari Rae Yoo sekarang. Ini sudah hampir malam.”

“Berikan aku waktu mengganti bajuku.” Kris hendak melangkah ke ruang ganti sebelum mengambil tas di tempat duduknya.

Chanyeol merogoh saku jaketnya saat mendengar deringan di ponselnya berbunyi dengan singkat. Ia membacanya dan membelalakkan matanya seketika hingga ia menghentikan Kris yang akan ke ruang ganti dengan memanggilnya.

“HYUNG!! RAE YOO PULANG BERSAMA SEHUN!”

“Jinja?” gumam Kris tidak percaya.

***

“Oppa, hari ini aku sungguh merepotkanmu. Mianhae.” ujar Rae Yoo sebelum turun dari mobil Sehun.

“Haiissh, bukankah aku sudah katakan jangan pernah meminta maaf kepadaku?” geram Sehun memperingatkannya.

“Gomawo.” ucap Rae Yoo dengan nada lembut.

“Arraseo.” Sehun memakluminya dan tersenyum tenang.

“Aku keluar sekarang.”

“Tunggu, biar aku yang membukakan pintu untukmu.”

Sehun dengan berderap cepat keluar dari mobil dan membuka pintu untuk Rae Yoo. Gadis itu menurunkan kakinya, dengan reflek cepat, Sehun memegang tangan Rae Yoo untuk membantunya turun dari mobil bak seorang tuan putri. Padahal lututnya sudah mulai pulih, namun Sehun memperlakukan dan menjaganya dengan sangat hati-hati, seakan menjaga sebuah kristal mahal yang tidak boleh jatuh dan hancur.

“Oppa, apakah ini caramu mengambil hatiku?” gumam Rae Yoo dalam hati, Sehun benar-benar pintar membuatnya tersanjung dengan kebaikan hatinya.

“Jangan terlalu banyak bergerak, tidurlah cepat, aku sarankan untuk besok kau tidak perlu masuk kuliah dan kau bisa banyak beristirahat.” petuah Sehun untuknya.

“Aku tidak bisa melewatkan kelasku, oppa.” jawab Rae Yoo dengan nada mengeluh.

“Baiklah, berhati-hatilah besok, aku tidak mau melihatmu cedera sekali lagi, ingat, kau adalah dance partnerku, aku sangat membutuhkanmu,” ucap Sehun mengingatkannya sambil mengelus lembut kepala Rae Yoo, “Aku pulang.” Sehun menepuk kecil bahu Rae Yoo dan tersenyum meninggalkannya yang tercengang dengan perlakuan Sehun barusan.

“Apa aku bisa mempercayaimu? Apakah aku akan tersakiti kembali jika aku mencoba menyukaimu? Sehun oppa, apakah kau bisa mengatakan maksud di balik semua kebaikanmu ini?” Rae Yoo bertanya-tanya sambil melihat mobil Sehun yang sudah menghilang di ujung jalan.

Sebelum masuk ke rumahnya, Rae Yoo melihat sebuah mobil di depan rumah tetangganya, ia hanya menoleh sekali dan kemudian tidak peduli tentang mobil itu hingga akhirnya ia benar-benar masuk ke dalam rumahnya.

“Hyung! Kau lihat, hyung! Itu jelas sekali!” seru Chanyeol tidak menyangka atas pemadangan yang di lihatnya tadi.

“Sudahlah, kau tidak sia-sia mengenalkan Rae Yoo kepadanya.” ujar Kris dengan lagak cuek.

“Ambil tindakan, hyung! Rebut dia dari Sehun!” Chanyeol tersentak heboh kepada Kris.

“Bisakah kita pulang sekarang? Ibuku menungguku.” Kris mengalihkan pembicaraannya.

“Tidak bisa. Kau harus berjanji kepadaku bahwa kau akan merebutnya dari Sehun.”

“Aku pulang.” Kris membuka pintunya namun tidak terbuka, supir di depannya sudah mengunci seluruh pintu mobil, tentunya atas permintaan Chanyeol sebelumnya tanpa di ketahui oleh Kris.

“Ajussi, jalankan mobil ini dan bawa kami berputar-putar di perumahan ini.” perintah Chanyeol kepada supirnya, Kris membelalakkan matanya kepada Chanyeol.

“Chanyeol-ah, kau gila.”

“Jawab pertanyaanku dengan jawaban ‘iya’, maka aku akan memperbolehkanmu pulang.” ucap Chanyeol mengeluarkan nada yang sangat serius pada suaranya.

“Ige mwoya??” tanya Kris dengan nada kesal.

“Rebut Rae Yoo dari Sehun atau kau tidak akan pulang dan membuat ibumu mengkhawatirkanmu?”  Chanyeol mengajukan pilihan.

“Apa kau berusaha menjebakku?” tebak Kris, merasa tidak terima.

“Kau tidak perlu ambil pusing untuk memilihnya, dunia ini tidak sulit.” ujar Chanyeol santai, Kris menatapnya tajam

“Tentu saja aku memilih pulang.”

***

Oppa, sampaikan kepada sahabat horrormu itu, aku membutuhkan pertolongannya di perpustakaan jam 4 nanti.

Chanyeol menerima sms dari Rae Yoo, ia tersenyum riang karena tidak bersusah payah lagi untuk mendekatkan sahabatnya dengan sepupunya itu. Di dalam satu jurusan dan menjadi partner dalam belajar merupakan suatu hal yang kebetulan dan memudahkan mereka untuk menjalin kebersamaan yang terlalu sering.

“Sudah kukatakan, kalian memang seharusnya berjodoh.” ucap Chanyeol sambil mengetik sebuah pesan di ponselnya dan mengirimkannya kepada Kris.

.

.

Jam sudah menunjukkan pukul 5, Rae Yoo semakin merasa bosan menunggu kedatangan Kris, ia berjalan ke arah rak buku bahasa Inggris dan mencoba mencari buku yang tepat namun tidak dapat menemukannya. Ia mendengus kesal dan memilih duduk di lorong kecil tepat berhadapan dengan sisi lorong rak buku bagian bahasa Inggris tersebut. Seharusnya ia sudah pulang kalau bukan karena ia ingin buru-buru mengerjakan tugasnya. Tugas yang seharusnya masih lama untuk di kumpulkan dan ia ingin menyelesaikannya dalam waktu singkat tanpa ingin bekerja sama dengan teman-temannya yang lain. Dan maka dari itu sejak masuk ke dalam perpustakaan, ia berkali-kali mengumpat karena tidak bisa meminta pertolongan orang lain selain Kris. Untuk mengurangi kebosanannya, ia menyalakan music player-nya dan memasang earphone di telinganya hingga suara alunan lagu memenuhi gendang telinganya. Ia mellihat di sekitarnya, isi dalam perpustakaan ini tampak semakin sepi, ia tidak peduli, ia harus membawa setidaknya 1 buku kemudian ia baru beranjak keluar dari tempat ini. Tidak beberapa lama kemudian, Rae Yoo merasakan kelopak matanya yang ingin tertutup segera, kepalanya beberapa kali terjatuh karena kantuknya yang hebat. Rae Yoo berusaha membulatkan matanya dan tetap saja nihil. Hingga tanpa di sadarinya Kris datang dan memperhatikannya dengan pandangan heran.

“Sepertinya dia sudah menunggu lama dalam waktu 1 setengah jam.” gumam Kris dalam hati, ia baru saja kembali dari penelitian perkelompoknya yang mendadak.

Mata Rae Yoo sudah tertutup rapat sejak kedatangan Kris, rasa kantuknya sangat sulit untuk di kalahkan. Kris mendekatinya tanpa suara, ia berjongkok di hadapan Rae Yoo dan tersenyum geli menatapnya. Wajah Rae Yoo sedikit tertutupi oleh rambut panjangnya hingga Kris tidak hentinya mengejek tentang gadis itu karena tidur di sembarang tempat.

“Apa kau di sebut seorang perempuan?” ejek Kris dengan suara dalamnya yang terdengar kecil, ia memegang lengan Rae Yoo dan mengguncang-guncangkan tubuhnya. “Chogiyo, Rae… Yoo… Rae-ya…”

Rae Yoo tersentak mendengar sebuah suara dan guncangan di tubuhnya. Matanya yang masih redup dapat melihat Kris di hadapannya yang setengah tersenyum hingga membuatnya membeku beberapa detik manatapnya. Senyum kecil itu terlihat sangat manis dan menawan, pikirnya, dan juga suaranya yang memanggilnya dengan nama yang singkat sempat terekam di kepalanya.

“Mianhae, sepertinya kau sudah lama menungguku.” ucap Kris hingga Rae Yoo tersadar dan tersenyum ringan kepadanya sambil sedikit mengucek matanya.

“Gwaencanha, setidaknya kau datang dan akan membantuku.” balas Rae Yoo, ia akan berdiri namun Kris yang sudah berdiri terlebih dahulu mengulurkan tangannya untuk Rae Yoo.

“Bukankah kakimu masih sakit?” Kris bermaksud membantunya, ia mengetahui hal tersebut saat melihatnya berjalan sedikit tertatih ketika pergi ke kampus tadi siang.

“Aku sudah merasa baikan.” ucap Rae Yoo sambil beranjak berdiri menolak bantuan kecil itu. Ia berjalan ke arah rak buku sebelumnya mendahului Kris dan membelakanginya yang sedang menatapnya jengkel.

“Mengapa harus ada perempuan seangkuh dia?”

“Apa yang bisa kubantu?” tanya Kris melupakan kekesalannya, dan tanpa berkata, Rae Yoo memperlihatkan tugasnya yang tertera di ponselnya kepada Kris.

“Ahh, tugas itu, aku pernah mengerjakannya dan kau memilih orang yang tepat untuk membantumu.” ujar Kris menjentikkan jarinya.

“Baguslah, tidak salah aku menghandalkanmu.” ujar Rae Yoo untuknya, Kris menyeringai kecil seakan puas mendengarnya, matanya melihat-lihat ke arah rak bagian atas dan kemudian ia meraih salah satu buku.

“Aku mendapatkannya.” ujar Kris sambil mengambil buku tersebut dan gerakannya terhenti saat pandangannya turun ke bawah melihat Rae Yoo yang tepat berada di sampingnya yang mendongak melihatnya. Untuk beberapa detik mereka terdiam, lagi-lagi sorotan mata Rae Yoo membuat Kris tidak berkutik untuk beberapa alasan.

“Matanya, mengapa harus matanya? Mengapa matanya menarik dan menenggelamkanku di sana?”

– TBC –

Advertisements

2 thoughts on “FF “A Dumber” [Chapter 3]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s