FF “Destiny Of Love” [One Shot]

edit krisyooooooo

Title : Destiny of Love

Author : Sabriena2DGirl

Cast :

  • Kang Rae Yoo
  • Kris (Wu Yi Fan) [EXO]

Genre : Romance, Angst

Rating : PG-17+

PS : klo bisa pas baca sambil denger lagu dari Yiruma – Destiny of Love biar berasa ‘sad’nya. *Pdhl ga sedih bangetlah* XD

Ini FF aku tahun 2012, maaf kalo FF ini ga trlalu NC, atau memang ga NC sama sekali. Saya sebagai author sudah brusaha sekeras mgkin utk membuat cerita ini. FF ini merupakan pelampiasan saya saat SMTOWN Indonesia yg lalu, saya desperato ga bisa nonton, dan habis-habisan tergila-gila sama Kris.

Ulzzangnya masi pake Moon Ya El, berhubung ini FF lama :3

Happy reading ^^

***

Setiap tetesan hujan yang tidak terhingga hitungannya, turun dengan lebat hingga membasahi setiap lingkungan kota. Rerumputan, pohon dan bunga di sebuah taman terlihat sangat segar karena tetesan air dari awan hitam di atas sana. Namun membuat beberapa orang menyibukkan dirinya untuk mencari perteduhan yang akan melindungi mereka. Tapi tidak bagi seorang gadis yang sedang duduk di sebuah kursi taman yang nyaman tersebut, gadis itu mempertahankan dirinya untuk tetap berdiam di kursi itu. Hingga orang-orang yang tidak sengaja lewat dengan tergesa-gesa melihat keadaan gadis itu dan langsung mengganggap bahwa gadis itu sudah tidak waras.

Gadis itu sama sekali tidak berniat untuk berteduh walaupun hujan tetap mengguyur dengan sangat lebat. Menurutnya tidak ada gunanya ia beteduh, toh ia sudah nyaman berduduk di kursi itu, membiarkan baju kaos putih ditutupi jaket berwarna pink tipis dan hotpants putihnya menyerap air hujan hingga sungguh membasahi sekujur tubuhnya. Tubuhnya kini sudah cukup bergetar karena menggigil merasakan efek dinginnya.

Hanya karena cinta, gadis itu menjadi lemah, ia benci hal itu, apalagi hingga menangis, hal yang dianggapnya sangat kekanakkan. Sedari tadi ia terus menahan dirinya untuk tidak mengeluarkan air mata kesedihannya dengan menundukkan kepalanya. Ia tidak bisa memprediksi akan sampai kapan ia terus melakukan kegiatan duduknya itu, hanya beribu kepasrahan yang bertumpuk dihatinya.

Seorang pria berjas hitam dengan kaos abu-abu di dalamnya yang ia kenakan, berhenti tepat di hadapan gadis itu. Pandangan pria itu sungguh terluka saat melihatnya, karena terlalu merasa bersalah atas perbuatannya. Merasa ada sesuatu hal yang sangat wajib untuk dilihatnya sekarang, gadis itu perlahan mendongakkan kepalanya. Tatapan lemahnya tertuju lurus ke arah pria bermata tajam yang berada di hadapannya.

Pria itu menjulurkan tangan kanannya dan meraih tangan gadis itu yang tadi berada di atas pahanya. Wajah pria itu tetap terlihat tanpa ekspresi sedikitpun, ia menggangukkan sekali kepalanya dan gadis itu seolah sudah mengetahui isyaratnya sehingga ia mencoba dengan perlahan bangkit dari tempat duduknya. Mungkin ini sangat bodoh, karena pria itu, ia menyiksa dirinya sendiri. Tanpa berpikir panjang pun ia menerima perlakuan pria itu untuk mengajaknya berteduh. Hatinya sungguh membutuhkan pria itu di hidupnya.

Tidak peduli bagaimana basahnya tubuh gadis itu sekarang, pria itu mengalungkan tangannya di tubuh gadis itu dan mendekapnya di tubuhnya. Gadis itu merasakan kehangatan yang berbeda, rasa nyaman yang membuatnya ingin tetap terus di dekat pria tinggi itu.

Pria itu semakin merasa bersalah, karena telah membuatnya menjadi lemah. Ia tidak bermaksud sama sekali untuk menyakiti gadis itu, justru ia ingin melindungi gadis itu di sisinya dan membahagiakannya. Sekarang ia melanggar perjanjiannya, ia sudah melukai gadis itu hingga membuatnya tidak berdaya.

Pria itu menemukan Telephone Box untuk perteduhan mereka, karena tidak memungkinkan mencari tempat perteduhan yang lain, dan melihat kondisi gadis itu dengan wajah yang sudah pucat pasi dan tubuh yang bergetar hebat. Tempat itu tidak cukup luas untuk mereka berdua, namun meneduhkan diri jauh lebih penting untuk gadis ini. Pria itu melepas jas hitamnya dan memakaikannya di tubuh gadis itu, namun ia menepisnya, tidak ingin mengenakan apapun untuk menghangatkan dirinya. Pria itu menatapnya tidak percaya, tidak menyangka bahwa gadis ini akan sekecewa ini kepadanya.

“Rae Yoo-ya, jeongmal mianhae..” ucapnya pelan.

“Apa gunanya kau meminta maaf lalu kau tetap meninggalkanku?” gadis bernama Rae Yoo itu menatapnya lemah.

“Aniyaa..” elaknya.

“Apa gunanya aku hidup jika orang-orang kesayanganku meninggalkanku?” ucap gadis itu pelan.

“Aku tidak akan meninggalkanmu, Kang Rae Yoo!” jawab pria itu mempertahankan teguh hatinya.

“Aku tidak memiliki seseorangpun di sini! Jika kau pergi, mengapa kau tidak membiarkanku mati saja?!” ucap Rae Yoo dengan keras, bersamaan dengan sakit yang ia rasakan di dalam hatinya, kepasrahan hidup yang tidak memungkinkan untuk ia lanjutkan, rasanya ia tidak sanggup menahan beban hidupnya lagi.

“Wu Yi Fan-ssi, kau harus menjadi anak yang berbakti kepada orang tua. Kau memiliki kesempatan untuk berbakti kepada mereka. Jangan seperti diriku, sejak kedua orang tuaku tiada, hingga sekarang aku sama sekali tidak bisa merasakan kasih sayang mereka dan tidak bisa membuktikan hasil kerja kerasku selama bersekolah dan mewujudkan cita-cita. Kasian sekali, bukan?”

“Rae Yoo-ya, dengarkan aku. Aku akan berusaha, walau bagaimanapun ayah menentang hubungan kita. Semuanya akan aku lakukan, tenanglah. Kita hadapi bersama-sama, semuanya akan menjadi mudah.” pria itu menatapnya lekat sambil memegang kedua bahunya, meminta gadis itu untuk tetap bertahan pada hubungan mereka.

“Oppa, apakah kau tidak lelah menjalani hubungan ini? Apakah ada hal yang tidak kau sukai tentangku? Setidaknya hal itu harus ada, agar kau bisa membenciku.” Rae Yoo mengalihkan matanya ke lantai yang mereka pijaki. Pria yang berada di hadapannya sekarang sungguh membuatnya berpikir dua kali, memintanya berhenti mencintainya atau bertahan untuk tegar di kehidupannya.

Pandangan tajam pria itu tetap lekat pada gadis di hadapannya, ia mendekatkan wajahnya dan gadis itu sedikit tersontak kaget dan pria itu mengunci bibirnya dan menekan bibir gadis itu dengan semakin mendekatkan tubuh gadis itu di tubuh tegapnya.

Rae Yoo menutup matanya, dan butiran air dari matanya turun seketika. Pria itu melumat bibirnya dengan lembut, sangat membuainya dengan sensasi bahagia dan manis dari ciuman mereka membuatnya tidak akan bisa berkutik dari pria ini. Ia tidak akan mampu jika gadis ini menghilang dari kehidupannya, 2 tahun lamanya mempertahankan sebuah hubungan tidaklah mudah rasanya, begitu banyak hal yang mereka lalui, hingga meninggalkan suatu kesan yang tidak dapat dilupakan.

Pria tinggi itu memeluk Rae Yoo dengan erat, seakan tidak akan bisa melepaskan gadis itu sedetik saja dari kehidupannya. Sulit sekali jika gadis itu tidak dapat dilihatnya lagi.

***

*Flashback*

“Yaaa, Kris! Mari kita ke ruangan dance. Di sana ada beberapa yeoja yang menarik, mungkin kau bisa menjadikan salah satunya untuk menjadi kekasihmu.” ajak beberapa teman-teman Tim basketnya.

“Aniyo..” enggan pria bernama Kris itu.

“Ikut saja lah.. masa’ kau tidak pernah sekalipun menggoda gadis korea selama 2 tahun? Kau bisa dianggap tidak normal!” tubuh Kris langsung di seret oleh teman-temannya, mereka pergi ke ruangan dance yang sering di datangi oleh Tim basket tersebut.

Tim basket itu memang selalu menjadi pemandangan yang risih bagi yeoja-yeoja yang berlatihan di ruangan itu. Apalagi mereka sedang berlatihan dengan salah satu teman mereka yang suka mengomel dengan keras, semakin memperparah keadaan. Diantara yang lain, gadis yang suka mengomel itu adalah yeoja yang sangat terbaik dalam dance, bahkan pernah memenangkan kompetisi dalam segala jenis Dance dan mendapatkan juara 1. Jadi tidak ada alasan bagi mereka untuk menentang setiap perkataannya, karena gadis itu telah ditunjuk oleh dosen mereka agar menuruti semua yang di ajarkannya.

“Siapa nama perempuan itu?” tanya Kris penasaran

“Namanya Kang Rae Yoo. Kau menyukainya?” tanya balik salah seorang temannya dengan tatapan takjub.

“Ohh, aniyo. Aku belum memutuskan hal itu.” hindar Kris dengan separuh tersenyum.

“Bilang saja kau gengsi, benar bukan? Hahahaa.” teman-temanya menertawakan Kris yang masih sering menolak kehadiran gadis-gadis di sekitarnya.

***

“Kang Rae Yoo-ssi. Bisakah untuk sementara kau tidak mengikuti beberapa kompetisi dan memberikan beberapa kesempatan untuk hoobae-mu sebagai pengalaman mereka?” tanya seorang dosen.

“Ngg..” Rae Yoo berpikir sejenak.

“Bukannya aku meragukan kemampuanmu, dan aku juga tidak terlalu menjamin dengan beberapa mahasiswa yang akan aku percayakan. Setidaknya mereka dapat merasakan bagaimana berkompetisi itu, dan aku ingin kau bisa membantuku sedikit terhadap hoobae-mu.”

“Ne, seongsaengnim.”

“Kamsahamnida. Kau sungguh muridku yang terpercaya!” ucap dosen berparas cantik tersebut dan meninggalkan Rae Yoo yang terpatung dengan pandangan kosong.

“Astaga.. ia tidak memakaiku?! Harusnya ia tidak menyuruhku untuk mengajari anak-anak tidak patuh itu!” geram Rae Yoo sambil mengacak-acak rambutnya dengan sebal.

Gadis itu melangkah menuju sebuah ruangan yang sangat luas. Ruangan Basket, tempat favoritnya hanya untuk sekedar berduduk, menghilangkan letihnya setelah berlatihan dan menghilangkan penatnya jika ia memiliki masalah. Ia selalu mendatangi tempat itu disaat yang bertepatan ketika tim basket terbaik di universitas ini sedang berlatihan atau hanya sekedar bermain saja.

Kalau boleh jujur, alasan gadis itu mendatangi tempat itu bukan karena ia menyukai permainan basket tersebut, karena ia hanya ingin melihat salah seorang pria di Tim basket tersebut yang berada di posisi depan dan baju sisi bagian belakangnya terdapat tulisan `Kris` dan nomor `8`.

Kegiatannya mengamati pria itu bermain basket hanya sekedar mengagumi sosoknya hingga ia berpikir bahwa pria itu merupakan ciptaan Tuhan yang sempurna. Wajah yang sangat dingin, sorot mata tajam yang mematikan, tubuh tinggi ideal, jemari tangan yang indah dan sangat lihai saat men-dribble bola, yang di nilai oleh gadis itu sejauh ini hingga membuatnya selalu betah hanya sekedar memandangnya dari jarak jauh.

Di sisi lainnya, pria itu sering tertawa lepas dengan teman-temannya, bercanda, dan kompak satu sama lain. Dan satu hal yang di sukai gadis itu adalah pria itu seorang yang sangat baik, peduli terhadap teman-temannya. Ia pernah melihat di saat Tim Basket itu berlatihan, salah seorang temannya memiliki cedera dan ia langsung menanganinya dengan membantu sebisanya. Pria itu sering mengarahkan kepada temannya yang membuat kesalahan ketika berlatihan dan memberikan koreksi agar mereka tidak mengulanginya lagi.

Entah sampai kapan ia akan berhenti melakukan kegiatannya itu. Sesungguhnya sia-sia saja ia duduk dan mengamati pria itu namun pria itu tidak mengetahui sedikitpun keberadaannya yang sibuk mengamatinya sejak 6 bulan sampai sekarang. Ia selalu duduk di sudut atau di ujung dari beberapa kursi yang ada, sehingga keberadaanya tidak akan terlalu tertangkap mata, lagipula ada beberapa mahasiswa yang juga berada diantara kursi-kursi penonton itu.

Gadis itu berpikir “aku hanya mengidolakannya”. Tidak pernah terlintas di pikirannya untuk memiliki kekasih, ia hanya ingin menyelesaikan kuliahnya dan semua target yang ingin diselesaikannya secepat mungkin. Gadis ini terlalu sulit untuk di dekati, padahal sudah beberapa pria menyatakan cinta kepadanya, dan ia menolak semuanya. Sesungguhnya tidak bisa dikatakan tidak pernah berpikiran untuk memiliki kekasih, karena ketika ia melihat pria pemain basket itu, ia ingin sekali memiliki pria itu, atau jika tidak dapat memilikinya, maka ia ingin seorang pria yang karakter dan ciri-ciri yang sama persis seperti pria itu. Dia hanya seorang gadis, aneh sekali jika ia sama sekali tidak tertarik dengan seorang priapun.

Seorang wanita berparuh baya, namun tampak sangat masih muda. Ia mendekati Rae Yoo dan duduk di sebelah gadis itu tanpa mengatakan apapun. Rae Yoo terbangun dari lamunannya, dan segera menghilangkannya dengan tersenyum ramah kepada wanita itu.

“Aku tidak mengganggumu, kan?” tanya wanita itu sambil membalas senyum dari Rae Yoo.

“Kkkk.. sama sekali tidak, ajhuma.” ucap Rae Yoo tersenyum kecil.

Wanita itu membuka tas sampingnya dan mengambil sebuah Handycam di dalamnya, Rae Yoo mengira-ngira, apakah ia akan merekam permainan basket ini?

“Sepertinya sudah beberapa kali aku melihatmu. Apakah aku benar?”

“Ne, aku sering kesini.”

“Apakah diantara mereka ada seorang kekasihmu?”

“Aniyo. Aku tidak punya kekasih. Bahkan untuk saat ini, aku tidak berpikiran seperti itu, aku ingin menyelesaikan kuliahku terlebih dahulu.”

“Waaah, kau sungguh Mahasiswi yang rajin. Tapi, bukankah berduduk disini hanya akan membuang waktumu saja?”

“Sungguh tidak mengganggu waktuku. Aku berada disini karena keinginanku.”

“Ohh begitu.” wanita itu mengangguk, dan ia mulai mengalihkan kegiatannya kepada handycamnya.

Kini Rae Yoo tersenyum senang saat melihat salah seorang pemain basket itu merentangkan tangannya dan mengangkat tangan kanannya lalu menghentakkannya sambil mengatakan ‘Yes!’. Gadis itu menyukai saat pria itu tersenyum bangga, tampak lebih manusiawi daripada memperlihatkan wajah dinginnya.

“Siapa namamu?” tanya wanita itu mulai memasukkan Handycamnya kembali ke dalam tasnya.

“chonun Kang Rae Yoo imnida.” jawab Rae Yoo terperangah pada wanita paruh baya itu.

“Besok-besok, jika aku datang, aku ingin duduk bersamamu, boleh tidak?” ungkap wanita itu dan Rae Yoo langsung mengangguk semangat.

“Tentu saja, ajhumma.”

“Kamsahamnida, aku akan pulang sekarang. Annyeong.”

“Annyeong!”

***

“Wufan, apa kau tidak berencana untuk memiliki seorang kekasih? Aku terlalu takut karena kau hanya bergaul dengan teman-teman priamu.”

“Don’t worry, mom.”

“Seharusnya kau menemani kekasihmu berbelanja seperti yang kau lakukan bersamaku sekarang.”

“Lebih baik aku menemani mama saja.” jawab pria bernama Wufan tersebut dengan diplomatis.

“Astaga.. aku sungguh mengkhawatirkanmu.” ucap ibunya bergeleng kepala dan anak prianya itu hanya tersenyum sekilas mendengarnya.

Kedua ibu dan anak itu tengah terpaku pada produk-produk kosmetik yang terpajang rapi. Wufan hanya sekedar menemani kesibukan ibunya sambil melihat barang-barang tersebut. Wanita paruh baya berparas cantik itu menangkap sosok seorang gadis yang pernah ditemuinya, tanpa berpikir panjang, ia langsung meninggalkan kesibukannya mencari kosmetik yang akan di belinya.

“Mom, where do you go?” panggil pria itu terheran melihat ibunya beranjak meninggalkannya.

Wanita itu begitu semangat menegur seorang gadis yang berhasil ia temukan tanpa di cari olehnya.

“Namamu Kang Rae Yoo, benar kan?”

“Ohh, ajhumma! Annyeong haseyo!” Rae Yoo begitu terkejut saat mengetahui siapa yang menegurnya.

“Senang bertemu denganmu lagi. Kau sedang apa disini?”

“Aku sedang mencari sebuah kado untuk ibuku, tapi aku bingung, aku tidak mengetahui kegunaan kosmetik-kosmetik ini yang cocok untuk ibuku.”

Wanita paruh baya itu mengamati gadis di hadapannya dari ujung rambut hingga ujung kaki, dan menilai bahwa penampilan gadis itu tidak seperti penampilan gadis pada umumnya. Baju kaos berlengan panjang, leijing panjang, sepatu sneakers, tas ransel yang menempel di punggungnya, dan rambut panjang bergelombang yang tergerai begitu saja, membuat gadis ini terlihat begitu keren dengan caranya sendiri.

“Berikan saja 1 paket kosmetik untuk perawatan wajah.” ujar Ibu Kris menyarankan.

“Ahhaa, ajhuma keren sekali. Kamsahamnida!” ucap Rae Yoo senang karena telah menemukan benda yang akan di jadikan sebuah kado untuk ibunya.

“Ajhuma sedang apa di sini? Apakah hanya sendirian saja?” sambung Rae Yoo balik bertanya, sambil menunggu benda tersebut dibungkus kertas kado oleh pegawai toko.

“Aku disini bersama anakku. Dia ada disana.” wanita itu menunjuk salah seorang bertopi dan berkaos putih dengan postur badan yang tinggi dan dengan posisi memunggungi mereka.

“Ohh, wajahnya tidak terlihat.” ucap Rae Yoo dan ia merasa seperti pernah melihat postur badan itu.

“Ckk, Wufan itu!” decak wanita itu kesal.

“Gwaencanha ajhuma.” ujar Rae Yoo menenangkan wanita itu, walaupun sebenarnya ia sangat penasaran pada wajah anaknya.

“Mari kukenalkan.” seru wanita itu meraih tangan Rae Yoo dan menariknya.

“Tidak perlu, ajhuma. Aku masih punya janji untuk bertemu dengan teman-temanku. Terima kasih ajhuma telah membantuku memilih kado untuk ibuku.” tolak Rae Yoo dengan hati-hati, ia merasa tidak perlu untuk terlalu mengenal seorang wanita yang hanya di kenalnya baru-baru ini.

“Ahh, sayang sekali. Lain kali akan aku perkenalkan kepadamu, pasti kau tidak akan menyesal.” Ucap wanita itu meyakinkan. Namun Rae Yoo hanya tersenyum kecil dan mengangguk, kemudian ia berpamit untuk segera keluar dari toko kosmetik tersebut.

“Ajhuma itu… mengapa ia ngotot sekali untuk memperkenalkan aku kepada anaknya? Kalau saja anaknya adalah Kris sunbae pasti aku akan bersenang hati untuk berkenalan….” oceh Rae Yoo saat berjalan menjauhi toko tadi, kemudian langkahnya terhenti karena ada perkataannya yang mengganjal.

“Kris sunbae? Wufan?” lirihnya sambil memikirkan bayangan siluet Kris yang sedang bermain basket. Postur badan yang sama seperti anak dari wanita yang ia kenal ketika memunggungi orang. Gadis itu tercengang tidak percaya.

“Jika itu adalah Kris sunbae, maka aku akan benar-benar menyesal tidak berkenalan dengannya.”

***

“Astaga! Apa yang harus kulakukan? Bagaimana caranya agar aku tidak bisa mengikuti lomba ini? Aku paling menghindari dance tango ini, menjijikkan!” umpat Rae Yoo geram sambil berjalan bolak balik seperti setrikaan di backstage. Ia emosi berat dan ingin menghancurkan riasan rambutnya sekarang juga, namun ia tidak tahu harus berbuat apa untuk membatalkan lombanya ini.

From :  Song Songsaengnim

Subject :

Aku akan menemuimu sekarang. Tunggu sebentar lagi.

“Mati aku!” desah Rae Yoo dengan nafas berat. Ia ingin membanting handphonenya, namun ia tidak ingin berpasrah begitu saja.

“Neo! Come here!” Rae Yoo setengah berteriak karena melihat seseorang yang berjalan mendekatinya, dan ia menelan ludah dengan susah payah karena orang tersebut sudah tampak jelas di hadapannya. Ia bergeleng sekali untuk menyadarkan dirinya.

“Jwesonghamnida, sunbaenim.”

“Gwae.. gwaencanha.” ucap pria itu tampak kesusahan.

“Bisakah sunbae menolongku? Jebal.. waktunya sudah sangat mendesak.”

“Minta tolong apa?”

“Pukul pergelangan kakiku sekarang juga! Jebal..” pinta Rae Yoo sedikit merengek, pria itu menatapnya terkejut.

“Tolong jangan mengganggapku gila. Ini demi kebaikanku, lagi pula hal ini aku yang memintamu, jadi tidak akan menjadi kesalahanmu.”

“Tetap saja, ini adalah tindakan kriminal. Kau ingin memasukkanku dalam penjara?”

“Bukan begitu. Arggghh! Tolong pukul aku sekarang, sunbae! Jika aku sendiri yang memukul tidak akan terasa apa-apa, jadi aku minta sunbae yang memukulku. Jebal”

“Aku tidak tega, aku tidak pernah memukul orang lain!” tegas pria itu, tidak ingin melakukan tindakan brutal itu.

“Anggap saja hari ini aku adalah orang jahat. Jadi kau harus menghukumku.” Rae Yoo tetap berusaha untuk meyakinkan pria itu, namun di dalam hatinya ia ketakutan jika kakinya akan terluka parah.

Pria itu meraih sebuah batangan kayu yang tersembunyi di bawah sebuah meja rak. Ia mengambil ancang-ancang sebelum memukul kaki gadis itu, membuat Rae Yoo memejamkan matanya kuat-kuat karena kayu yang diayun-ayunkan oleh pria itu semakin membuatnya ketakutan.

“Aku bersumpah, tidak ingin berjumpa dengan Kris oppa dalam keadaan seperti ini lagi. Ini adalah hal terburukku!” batin Rae Yoo.

“Gadis ini berbahaya sekali. Baru saja aku melihatnya untuk pertama kalinya, dan aku malah akan memukulnya sekarang. Aku tidak ingin terjebak di situasi seperti ini lagi, namun sebaiknya aku tidak mencoba untuk melihatnya lagi.” pikir Kris dalam hati.

>> BRAAAAAAAKKK <<

“Mianhae.. mianhae.” panik pria itu hingga tampak dahinya bercucuran keringat.

“Hhhh.. gwaencanha, jangan mengkhawatirkanku.” Rae Yoo sedikit meringis, padahal sakit yang ia rasakan sangat berkali-kali lipat. Ia berusaha tersenyum untuk pria itu, namun hal itu sama sekali tidak mempan baginya, mengumpat dirinya sendiri karena untuk pertama kalinya memukul seseorang.

“Itu dosenku. Sunbaenim, berpuralah kau sedang menolongku.” ucap Rae Yoo gagap sambil menahan rasa sakitnya. Pria itu kebingungan setengah mati, gelisah dengan keadaan kaki gadis itu yang sudah meninggalkan memar.

Dosen yang semakin mendekat ke arah mereka sangat terkejut saat melihat kondisi Rae Yoo yang terduduk di lantai seakan baru terjatuh karena sepatu high heelsnya yang masih terpasang di kedua kakinya.

“OMONA! Kang Rae Yoo! Ottohke? Mengapa seperti ini?” panik dosen tersebut.

“Jeongmal jwesonghamnida songsaengnim.” sesal Rae Yoo, ia tidak tahu harus berkata apa lagi.

“Kris, untunglah ada dirimu. Bawa Rae Yoo ke rumah sakit kita, dia harus di rawat secepatnya. Aku harus cepat-cepat memberitahukan bahwa pembukaan dance Tango ini akan batal.” ucap dosen itu yang masih panik.

“Bagaimana aku harus menggendongmu? Di depan atau belakang?” tanya pria itu terburu.

“Gendong? Mengapa kau tidak menbantuku berjalan saja?” tanya gadis itu memicingkan mata.

“Kakimu! Kau itu seorang dancer, jadi kau ingin membiarkan kakimu terluka seperti itu? Jadi apa gunanya kau berkuliah disini?” suara tegas pria itu cukup membuat Rae Yoo tercengang. Dalam gerakan cepat, Kris mengangkat tubuh gadis itu tanpa aba-aba sedikitpun, gadis itu membulatkan matanya saking terkejut atas perlakuan pria itu. Karena gerakan cepat itu, secara reflek tangan Rae Yoo mengalungkan tangannya di leher jenjang Kris, kemudian menenggelamkan wajahnya di dada pria itu.

“Sunbae, mianhae. Aku sungguh merepotkanmu.” Rae Yoo mengeluarkan suara kecilnya di saat Kris masih melangkah keluar dari gedung auditorium.

Sesungguhnya ia sangat gugup dalam posisi sedekat ini dengan Kris, orang yang membuatnya selalu membuang waktunya hanya untuk menatapnya dari kejauhan. Ia tidak berani mendongakkan wajahnya untuk melihat wajah Kris sedekat itu, karena ia tahu, ia takut tidak akan bisa mengontrol diri untuk sekedar menatapnya. Di tambah degup jantungnya yang berpacu tidak beraturan, dan ia juga merasakan getaran di dada Kris, mengira detak jantung pria itu sama lajunya dengan miliknya.

“Gwaencanha. Ini juga kesalahanku. Lagipula kau tidak terlalu berat, jadi tidak merepotkanku sama sekali.” terang Kris tersenyum kaku. Sebenarnya pria itu juga sama halnya dengan gadis itu, tidak sanggup melihat gadis itu dari dekat. Hatinya berdesir hebat karena sentuhan tangan gadis ini yang berada di lehernya. Ia mengumpat pada dirinya sendiri, bahwa ia tidak seharusnya mengangkat gadis ini dengan terburu-buru.

***

“Nanti malam anda sudah bisa keluar dari sini. Dan berhati-hatilah saat berjalan, karena untuk kedua kalinya akan menyebabkan cedera yang lebih parah.” terang seorang dokter memberikan penjelasan.

“Kamsahamnida, dokter.” ucap Rae Yoo tersenyum pasrah, ia merasa malu terhadap Kris, karena perbuatannya sungguh tidak di masuk oleh akal. Gadis itu menghelas nafas dengan keras saat dokter sudah keluar dari ruangannya.

“Untunglah pukulanku tidak menyebabkan kakimu terluka parah.” Kris menatapnya lega.

“Ne.” Rae Yoo gugup dan langsung menundukkan kepalanya. Posisi tidur duduknya di ranjang cukup membantunya. Dia terlalu malu untuk menatapnya, melihat kondisi mereka sedang berada di dalam satu ruangan secara berdua.

“Mengapa kau menyuruhku untuk memukul kakimu?” Kris mencairkan suasana canggung itu, namun matanya tidak selalu tertuju kepada gadis itu, ia hanya melihat-lihat sekeliling ruangan.

“Aku sangat membenci dance tango. Bagiku, dance itu terlalu menjijikkan jika harus berpasangan dengan seorang yang tidak aku kenal dan suka. Aku tidak suka tubuhku di sentuh, atau diangkat-angkat oleh orang yang tidak aku suka. Selain dance Tango, ataupun dance lain secara berpasangan, aku tidak suka jika harus ada skinship di dalamnya. Astaga, itu vulgar sekali.” Rae Yoo berbicara to the point, kepalanya masih di tundukkan, Kris menatapnya lekat.

“Lalu kau tidak suka aku mengangkatmu tadi, benar?” sergah pria itu saat mengingat ia meminta untuk membantunya dengan memapahnya saja.

“Aniyo. Bukan seperti itu, hanya saja..” Rae Yoo tersentak begitu saja, dan membalas tatapan Kris. Pembicaraannya dipotong.

“kau tidak mengenaliku sama sekali.” Potong Kris dengan yakin bahwa gadis itu tidak mengenalinya.

“Aishh, kau itu pemain basket yang terkenal di kampus kita, bagaimana aku tidak mengenalimu sedikit pun, sunbae? Aku tidak sekolot yang kau kira!” Rae Yoo tidak ingin mengakui pernyataan Kris yang salah.

“Dan aku pun mengenalimu sebagai seorang dancer yang terkenal di kampus kita, aku juga tidak sekolot yang kau kira! Aku tahu, kau tidak suka aku mengendongmu hingga kau berusaha menolakku. Karena aku mengenalmu, tidak mungkin aku bertindak dengan tidak peduli terhadapmu.” jawab Kris semampu mungkin, gadis ini sungguh nyata, berbahaya, menurutnya.

“Maka dari itu, aku ingin berterima kasih kepadamu. Aku sama sekali tidak menyesali atas semua yang kau lakukan terhadapku. Kau terlalu baik.” Kris menatapnya, tertegun sesaat, mendengar lontaran kata-kata yang diucapkan gadis itu.

“Mianhae, kau sampai harus bertindak sebrutal itu terhadapku. Kau tidak bersalah sama sekali, akulah yang melibatkanmu ke dalam masalah ini, jeongmal mianhae.” Rae Yoo tertunduk lagi, ribuan kesalahan bersarang di kepalanya. Ia terus mengumpat kepada dirinya sendiri, mengapa harus di pertemukan dengan pria ini dengan cara yang tidak tepat. Takdir merencanakan sesuatu yang tidak diketahui oleh siapapun.

“Jangan menyalahkan dirimu. Bagaimanapun aku harus bertanggung jawab atas apa yang kulakukan. Dan aku akan menemanimu disini hingga malam.” balas Kris pelan. Pria itu tidak melepaskan pandangannya dari Rae Yoo. Ia duduk di dekat jendela, tidak ingin menyeret kursinya untuk duduk di tepi ranjang tidur yang di tempati Rae Yoo. Karena hanya sekedar menatap gadis itu saja sudah membuat jantungnya berdetak kencang, hal yang tidak pernah dirasakan olehnya, inilah pertama kalinya, hari ini.

“Ne. Gomawoyo.” lirih Rae Yoo, gadis itu tersenyum kecil kepada pria tinggi itu. Kris hanya menggangguk mengiyakan.

“Kau orang yang sangat kuizinkan untuk mengangkat tubuhku. Itu hanya penolakan awalku, setelah kau mengangkatku dengan cepat, aku menyadari bahwa aku sangat membutuhkanmu, bersyukur bahwa kaulah yang mengurusku dan menemaniku hingga detik sekarang ini. Mungkin di tubuhnya terdapat malaikat yang bersembunyi di dalamnya, hingga kau begitu sempurna di mataku.” batin Rae Yoo dalam hati, ingin sekali rasanya ia mengatakan hal seperti itu secara gamblang kepada pria yang tengah menatapnya.

***

“Sunbae, kau tidak perlu repot-repot mengurus obat-obatanku.”

“Kau tidak bisa mengurus obat-obatan ini untuk dirimu sendiri.”

“Aku tidak tahu bagaimana membalas kebaikanmu.”

“Kau tidak perlu memikirkan hal itu. Naiklah ke punggungku.” perintah Kris sambil berjongkok.

“Untuk apa? Aku sudah baik-baik saja, aku bisa berjalan.”

“Kakimu belum pulih.” ucap Kris singkat, dan Rae Yoo terdiam sesaat, pria itu sungguh bisa membuatnya untuk tidak menolak semua kebaikannya.

Rae Yoo pelan-pelan menyentuh bahu Kris dan Kris memegang kaki Rae Yoo yang berada di sisi kanan-kiri tubuhnya. Masing-masing mereka merasa gugup dan mencoba beberapa kali untuk membuang nafas yang tiba-tiba saja terasa begitu tersangkut di tenggorokan, hal yang aneh sekali.

Kris secara perlahan berjalan di koridor rumah sakit hingga mereka menuju pintu keluar bangunan itu. Tanpa ia sadari, Rae Yoo sudah terlelap begitu saja.

“Kang Rae Yoo-ssi.” panggil Kris pelan, namun tidak ada jawaban dari gadis itu.

“Kang Rae Yoo-ssi? Ahh, pasti kau sudah tertidur. Bagaimana aku menemukan sopirmu?” bingung Kris tidak tahu harus bagaimana untuk mengurusinya.

Kris menghentikan langkahnya di gerbang rumah sakit, merasa pasrah karena tidak tahu harus melakukan apa lagi untuk gadis itu. Gadis itu sungguh terlelap di atas tubuh Kris, namun pria itu sama sekali tidak bisa merasa kesal dengannya, mengganggap bahwa gadis itu perangkapnya sekarang, dan dengan bodohnya ia tidak ingin terlepas dari perangkap itu.

Seseorang menemukan Kris dan mengatakan kepadanya bahwa sopir itu adalah sopirnya Rae Yoo. Kris dengan sigap dan hati-hati meletakkan Rae Yoo dengan posisi yang nyaman dan agar tidurnya tetap terjaga di dalam mobil.

“Untunglah ada seorang sepertimu, bisakah kau tetap menjaga yeoja ini? Aku terlalu bingung, orang tuanya sedang dalam keadaan kritis karena kecelakaan.”

“KECELAKAAN?” kaget Kris tidak menyangka.

“Ne. Kecelakaannya terjadi menjelang malam tadi, kabar yang baru saja kudapatkan adalah ayahnya sudah tiada.”

“MWO? Apakah kau yakin?” tanya Kris menggebu, lalu sebuah panggilan berdering, sopir tersebut mengangkat handphonenya.

Kris melirik ke arah Rae Yoo yang terlelap di dalam mobil, menatapnya prihatin, bagaimana setelah ia bangun nanti ia mendengar kabar buruk ini?

“Ne, ne.. kamsahamnida.” sopir tersebut menutup pembicaraan di handphonenya.

“Ajhussi, bagaimana jika Rae Yoo mendengar hal ini?” tanya Kris penuh tanya.

“Kau tahu? Ibunya juga baru menyusul ayahnya.” jawab sopir Rae Yoo tersebut dengan menghela nafas berat, Kris membulatkan matanya dan mengalihkan pandangannya ke arah Rae Yoo yang tertidur dengan wajah malaikat tanpa dosa.

“Oh Tuhan, sekejam inikah dirimu memberikan cobaan kepada gadis itu?” pikir Kris dalam hati.

“Ajhussi, aku begitu khawatir karena kakinya belum begitu sembuh, aku ingin menjaganya malam ini, bolehkah?”

“Tentu saja. Itu ide yang bagus, karena aku sibuk mengurusi persoalan kecelakaan ini. Aku akan mengantar kalian secepatnya, dan aku percayakan kepadamu, karena kaulah satu-satunya pria yang berani mendekatinya.”

“Ne?” heran Kris kebingungan.

“Aku mempercayaimu. Selebihnya kau cari tahu sendiri.” ucap sopir itu meyakinkan Kris.

Kris meletakkan Rae Yoo di atas tempat tidurnya dan menyelimuti gadis itu dengan hati-hati. Ia menarik kursi ke tepi ranjangnya, mendudukinya dengan tenang.

Pria itu menatapnya dengan cermat, ingin mencari tahu akankah ia menyukai gadis itu atau tidak. Dan tidak membutuhkan beberapa detik saja, ia langsung merasakan desiran yang aneh di jantungnya, dan menyadari bahwa gadis ini begitu indah jika ditatap secara terus-menerus. Bukan niat hatinya, tangannya secara reflek menggapai tangan gadis itu dan menyentuhnya. Ia menggenggamnya secara perlahan, merasakan sesuatu yang sangat nyaman dan membuatnya betah untuk tidak melepaskannya.

***

Kris tertidur dengan posisi yang masih terduduk di tepi ranjang tidur Rae Yoo, hingga tangannya masih menetap memegang tangan Rae Yoo. Gadis itu terbangun dari tidur lelapnya, dan matanya yang sungguh terasa berat mencoba untuk melihat ke sekitarnya. Ia melihat seseorang yang memegang tangannya, dan matanya membulat begitu saja ketika tahu bahwa tangan itu adalah milik Kris.

Sungguh tidak menyangka bahwa jemari indah dan panjang dari pria itu menyentuh tangannya dengan erat. Menebak beberapa kali, apakah pria ini menyukainya? Atau sekedar menjaganya untuk tadi malam saja, atau hanya karena merasa kasian karena sudah melukai kakinya? Ia terlalu senang karena pria ini selalu bersamanya seharian penuh kemarin, ataukah ia juga menjaganya untuk hari ini?

Tiba-tiba terdengar suara Handphone berbunyi, membuat Kris terbangun dari tidurnya. Ia membuka matanya dengan perlahan dan menemukan sebuah genggaman tangan yang saling bertautan. Rae Yoo buru-buru mengatupkan kembali matanya, berpura belum terbangun, karena ia tidak terlalu berani menghadapi pria itu.

Kris mengambil  handphonenya yang berada di dalam saku jaketnya yang sengaja ia letakkan di punggung kursi di meja komputer Rae Yoo.

“hallo?”

“mengapa kau tidak pulang ke rumah? Apa yang kau lakukan, hah?” suara yang lumayan keras dari handphone itu.

“maaf ma, aku sedang merawat seseorang. Jadi aku perlu menemaninya.” Jawab Kris pelan.

“siapa orang itu?”  Tanya ibu Kris dengan nada sengit.

“Kang Rae Yoo.”

“really?”

“tidak mungkin aku berbohong untuk suatu hal yang sangat penting ini, mama. Aku akan menceritakan lebih lanjut tentang hal yang sudah terjadi kepadanya. Jadi jangan khawatir terhadapku.”

“baiklah. Aku akan mempercayaimu. Jaga gadis itu baik-baik.”

Kris mengakhiri pembicaraan dari handphonenya. Ia sedikit terkejut saat melihat Rae Yoo yang sudah terbangun dan menatapnya dengan mata besarnya.

“ahh, apakah kau tidur dengan baik?” Tanya Kris yang langsung beralih menatap gadis itu sambil tersenyum. Kemudian ia berjalan mendekati tepi ranjang tidur gadis itu.

“n..ne..” jawab Rae Yoo yang mendadak gugup membalas pertanyaan pria itu.

“baguslah.  Sebaiknya kau harus banyak beristirahat. Kau tidak boleh datang ke kampus karena kakimu belum pulih.” Ucap pria itu sambil tersenyum kaku, merasa semakin sulit untuk memberitahukan tentang kedua orang tuanya. Ia memutuskan untuk segera keluar dari kamar itu. Namun Rae Yoo segera mencegat tangannya, memintanya untuk tidak pergi.

“apakah orang tuaku sudah pulang? Bagaimana sunbae bisa berada di kamarku?” Tanya gadis itu penuh tanya. Orang tua Rae Yoo memperingatinya untuk tidak pernah memasukkan pria ke dalam kamarnya, dan Rae Yoo pun setuju karena ia tidak terlalu peduli dengan pria manapun. Sikapnya yang terlalu keras, membuat pria lain tidak ingin mendekatinya.

“bisakah aku keluar sebentar?  Aku tidak bisa memberikan penjelasan itu sekarang.” Kata Kris dengan maksud menghindari pertanyaannya.

“Wae?”

“apakah ada sesuatu yang terjadi pada appa dan umma?” sambung Rae Yoo memaksanya. Kris begitu tidak tega jika ia harus memberitahukannya.

“sunbae, jebal.” Paksa Rae Yoo yang mulai curiga melihat pria itu hanya terdiam masih memunggunginya.

“Rae Yoo-ya, ini begitu cepat. Orang tuamu, keduanya telah meninggal dalam kecelakaan.” Ucap Kris bergetar. Kini ia membalikkan tubuhnya dan melihat gadis itu terisak, butiran air mengalir melewati pipinya dengan lurus hingga aliran itu semakin lama semakin banyak tanpa di rencanakan.

Kris mendekatinya, dijulurkan tangannya dan menyentuh pundak gadis itu, mengusapnya dengan lembut, berniat untuk menenangkan gadis itu dari ucapan yang telah dilontarkan olehnya. Tanpa sadar Rae Yoo mengangkat kedua tangannya dan memeluk tubuh Kris dengan erat, di pejamkan matanya, kini ia terlalu lemah hingga menemukan pegangan untuk bertahan. Kris semakin ingin tetap berada di dekat gadis itu, ingin melindunginya, menjaganya, dan tidak ingin melihat gadis itu menangis.

***

Kris menemani Rae Yoo saat Pemakaman kedua orang tuanya. Gadis itu tidak memiliki siapa-siapa lagi sekarang. Kakaknya pergi begitu saja saat tahu bahwa kedua orang tua mereka sudah meninggal, dan segera menghilang dari hadapan Rae Yoo. Ia tidak berharap pada kakaknya, kerena ia tahu, tidak ada gunanya jika kakaknya berpura-pura berbaik hati terhadapnya.

Sudah 3 hari Kris menemani gadis itu untuk menunggu kakinya pulih dari insiden kecil itu. Dan hari ini ia bersedia menemani gadis itu ke pemakaman orang tuanya.

“Sunbae, jika kau tidak ingin menungguku, kau bisa  pergi. Karena aku akan terlalu lama.”

“Gwaencanha. Aku akan tetap menunggumu disini.”

“Appa, umma. Mengapa kalian cepat sekali pergi meninggalkanku? Minkyung eonni tidak mepedulikan aku sama sekali, apakah ia benar-benar kakakku? Namun ada seseorang yang mengurusiku dengan baik. Ia begitu tampan dan hatinya yang sangat indah. Tapi kedatangannya tidak tepat, kalian pergi dan ia datang, apakah Tuhan benar-benar adil kepadaku? Ini sungguh rencananya yang tidak dapat kita pikirkan dengan logika. Kuharap appa dan umma dapat tersenyum dari tempat kalian, di saat aku menemukan kembali kebahagiaanku di dunia ini. Wu Yi Fan, ia terlalu baik, menemaniku ketika aku terpuruk karena kalian telah pergi meninggalkanku, semoga kalian dapat mengizinkanku untuk menyukainya dan mencintainya. Selamat tinggal appa, umma.”

***

~ 3 Weeks ~

Rae Yoo sudah pindah ke sebuah apartemen, karena rumah orang tuanya terlalu besar baginya. Dan ia tidak mungkin membiayai pengurus di rumahnya dengan rutin, karena ia sudah hidup sendiri. Harta warisan orang tuanya sudah di jatuhkan untuk dirinya saja, karena kakaknya yang tidak pernah menampakkan batang hidungnya untuk urusan satu itu. Jadi, biaya tanggungan hidupnya hanya dari uang orang tuanya, ia akan bekerja jika sudah menyelesaikan kuliahnya.

“Sunbae, terima kasih sudah mengantarku.” ucap Rae Yoo tersenyum kecil sambil membuka pintu dan keluar dari mobil. Rae Yoo telah kembali berkuliah dan di jam 9 hari ini ia memiliki jadwal untuk masuk ke kelas.

“Ne. Mulai sekarang kau jangan memanggilku sunbae. Itu terlalu formal.” ujar Kris yang sedikit terganggu ketika Rae Yoo memanggilnya dengan sebutan ‘sunbae’.

“Mianhae. Jadi aku harus memanggilmu oppa?” tanya Rae Yoo mengusulkan.

“Boleh. Nanti hubungi aku jika kau ingin pulang. ” perintah Kris, dan mobilnya berjalan untuk mencari pemarkiran. Kini ia semakin mengagumi sikap pria itu terhadapnya.

***

Kris membawa gadis itu ke sebuah restoran besar. Setelan Kris dengan baju kaos biru tua pudar dan jas hitam yang sederhana malah semakin membuat gadis itu gugup seketika saat berada di dalam mobilnya dan ia terpaku memandangi pria itu yang sedang menyetir mobil dengan fokus.

“Berhenti menatapku seperti itu, kau membuatku tidak fokus.” sergah Kris saat mengetahui  Rae Yoo yang  tengah menatapnya.

“A..aniyo. Kau terlalu percaya diri.” dusta gadis itu dan beralih menatap kaca jendela mobil di sampingnya. Kris menyeringai kecil dan puas bahwa gadis itu tampak sedang mengaguminya.

Mereka sampai di tujuan.  Rae Yoo berjalan menyamai langkah kaki Kris yang besar, membuat gadis itu harus berjalan dengan terburu-buru.

“Sorry. Aku berjalan terlalu cepat.” ucap Kris yang tersadar bahwa sedari tadi gadis itu berjalan secara tidak tenang.

“Aku cukup lelah menyamai langkahmu.” kesal Rae Yoo dengan suara rewelannya.

“Kita tidak jauh lagi.” ujar Kris. Rae Yoo langsung berlari mencapai pintu masuk restoran, membuat pria itu hanya menggeleng heran dan terkekeh menatap Rae Yoo. Gadis itu berhasil membodohinya.

Mereka bersama-sama masuk ke dalam restoran dan duduk di sebuah meja yang sudah di tunggui oleh seorang wanita paruh baya yang terlihat masih muda.

“Kang Rae Yoo, Annyeong haseyo.” sambut wanita itu dengan senyum ramah di wajahnya.

“Ne, annyeong haseyo.” jawab Rae Yoo gugup, tidak menyangka bertemu lagi dengan wanita itu.

“Akhirnya untuk ketiga kalinya kita bertemu.” kagum wanita itu tampak sangat merindukan Rae Yoo.

“Benar.” Rae Yoo hanya menjawab dengan malu, karena sungguh tidak menyangka ia berhadapan dengan ibunya Kris.

“Rae Yoo-ya, apakah Wufan menjagamu dengan baik? Aku begitu khawatir bahwa kau terkena musibah besar.” Rae Yoo hanya menunduk ringan, kali ini ia tidak ingin menangis. Kris menatapnya khawatir yang berada di sebelahnya, takut gadis itu akan bersedih lagi.

“Mulai sekarang, anggap saja aku ini adalah ibumu. Aku tidak memaksamu, hanya saja aku sangat menyukaimu.” Rae Yoo segera mengangkat kepalanya, menatap ibu Kris dengan terlalu banyak pemikiran yang mengambang di kepalanya.

“Menganggapnya sebagai ibuku? Jika ia menjadi ibuku, aku akan menjadi adiknya Kris oppa? Astaga, aku menyukai namja itu! Bagaimana ini? Ajhuma ini terlalu baik kepadaku dan Kris oppa juga begitu.” pikir Rae Yoo yang sangat bingung dengan situasi itu.

“Kang Rae Yoo, apakah kata-kataku ada yang salah?” sergah Ibu Kris memandangnya heran. Rae Yoo tersadar dari lamunannya.

“Jika ajhuma menyukaiku, tidak salah kan aku menerima kebaikan itu?” Rae Yoo berusaha tersenyum untuk wanita paruh baya itu, menurutnya ia harus mengikuti takdir yang telah terjadi kepadanya. Dan Kris hanya sebatas orang yang ia inginkan.

“Kalau begitu, kita mulai saja makan sekarang.” Kris memecahkan suasana kelabu tadi dan Rae Yoo terkekeh kecil mendengarnya.

“Hahaa, benar.. mari kita makan.” ucap ibu Kris yang tersadar bahwa mereka telah cukup lama mendiamkan makanan yang sudah tergeletak di depan mereka.

***

~ 6 Months ~

Dengan langkah pelan, Rae Yoo menuju pintu keluar dari ruangan yang sering digunakannya untuk berlatihan. Kelasnya hari ini sudah selesai dan ia cukup kelelahan berlatih gerakan baru yang di usulkan oleh dosennya. Baru saja menarik kenop pintu, di depannya terdapat 4 orang mahasiswi yang menghalau jalannya.

“Biarkan aku keluar.” ucap Rae Yoo dengan nada ingin, merasa risih melihat keempat orang itu.

“Astaga. Mengapa kau bisa sesombong itu? Apa karena kau telah mendapatkan Kris oppa?” Rae Yoo berjalan mundur karena mereka menghadangnya. Salah satu gadis tersebut mendorong Rae Yoo hingga terhempas keras ke dinding. Rae Yoo meringis kesakitan kerena tubuhnya terasa perih.

“Kau harus meninggalkannya, kau tidak cocok berada di dekatnya!” kecam gadis itu tajam. Rae Yoo menolak bahu gadis di hadapannya dengan kuat, namun dengan gerakan cepat ia menampar pipi Rae Yoo, membuat gadis itu melemah tak berdaya.

“Kau justru membahayakan dirimu sendiri!” sambung gadis itu sambil tersenyum licik.

“HENTIKAN!” sebuah suara berat yang familiar terdengar menggema di ruangan tersebut. Keempat mahasiswi itu terperangah pada sumber suara tersebut. Merasa bersyukur bahwa ada seseorang yang melepaskannya dari jeratan Mahasiswi jahat itu, Rae Yoo membuang nafas berulang kali, paru-parunya terasa begitu sesak menahan perih di tubuhnya dan pipinya, ia begitu lunglai hingga hanya bisa bersandar di dinding untuk menahan beban tubuhnya.

“Kalian tidak berhak melarangnya. Ini adalah kemauanku untuk selalu berada di dekatnya.” telak Kris hingga keempat gadis itu ternganga mendengar pernyataan Kris yang sungguh membuat mereka tidak menyangka. Rae Yoo menatap pria itu, tidak percaya bahwa ia akan menemukannya disini. Kris segera merangkul Rae Yoo dan menuntunnya ke dalam mobil, tanpa berpikir panjang, Kris segera melajukan mobilnya menuju apartemen Rae Yoo.

“Gwaencanhayo?” saat mobil sudah berhenti, Kris mengajak gadis itu berbicara, karena selama di perjalanan Kris hanya terdiam dan membiarkan gadis itu tenang, namun wajahnya tampak merengut dan kesal, membuat Kris tidak ingin berlama-lama dan ingin menuntaskan apa yang di rasakan gadis itu.

“Tidak perlu memikirkanku. Terima kasih atas pertolonganmu.” jawab Rae Yoo singkat. Ia melepaskan sabuk pengamannya dan tangannya sudah di cegat oleh Kris saat ia ingin memegang gagang pintu mobil.

“Aku tidak akan mengizinkanmu masuk ke dalam sebelum kau mengatakan apa isi di dalam pikiranmu itu.” paksa Kris menahan Rae Yoo untuk tidak keluar dari mobil.

“Aku tidak ingin diperlakukan seperti itu lagi oleh orang-orang di kampus. Banyak orang yang menyukaimu, dan aku bukan siapa-siapa bagimu.” jawab Rae Yoo pelan. Pria itu menatapnya lekat dengan mata tajamnya, gadis itu seakan terperangkap di manik matanya.

“Ibumu. Ibumu yang menyuruhmu untuk selalu menjagaku, kan? Apakah kau tidak kerepotan atau merasa kesal karena kau harus memperhatikanku hanya karena menuruti permintaan dari ibumu? Jangan lakukan itu jika kau tidak menginginkannya, kau bisa mengatakan yang sejujurnya bahwa kau tidak perlu menjagaku.” jelas Rae Yoo, meminta pria itu untuk menjauh darinya. Namun, sebaliknya, sesungguhnya ia tidak ingin hal itu terjadi.

“Aku akan pergi jika kau memintaku untuk pergi. Apa kau bersungguh-sungguh dengan ucapanmu?” tanya pria itu sambil menghela nafas berat. Gadis ini, dengan ucapannya saja ia sudah merasakan sakit yang tidak bisa di deskripsikan sama sekali.

“Hanya tetap bersamaku, kemudian kau akan tahu maksudku. Bisakah?”  ujar Kris sambil menggenggam tangan gadis itu dengan sangat erat, tatapannya tidak lepas pada gadis itu.

“Namja ini. Membuatku tidak bisa berhenti mengaguminya. Bagaimana aku harus tetap bersamamu, Wu Yi Fan-ssi? Apakah kau memiliki perasaan yang sama sepertiku?” batin Rae Yoo sambil membalas tatapannya. Terlalu sulit untuk mencerna perkataannya dan maksud genggamannya ini.

“Percayalah kepadaku. Aku akan menjamin kebahagiaan di dalam hidupmu.” ucap Kris lirih, ia mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu. Di kecupnya bibir gadis itu dengan cepat hingga Rae Yoo membeku di tempat dan tercengang dengan kecupan sekilas itu.

Kris. Pria rupawan itu berhasil menaklukan hatinya.

***

~ 1 Year 10 months ~

“Wufan, kita harus menghadiri acara makan malam bersama calon tunanganmu.” ujar ayah Kris.

“Tidak. Aku sudah lama menyukai seseorang.” jawab Kris dengan nada dingin, hingga seketika ayahnya geram mendengar jawabannya.

“Bagaimana bisa kau membantah perkataanku?” ayah Kris menggertaknya. Anaknya sudah berani melawannya.

“Sudah kukatakan bahwa aku hanya menyukai 1 orang gadis, dan aku hanya menetapkannya sebagai salah satu orang yang harus menjadi pendamping hidupku yang sebenarnya.” ucap Kris mantap dan ia beranjak dari sofa ruang tamu, menyampirkan jas di bahunya dan pergi mengabaikan ayahnya yang berdiri geram melihat sikap anaknya.

“Ada perlu apa oppa datang kemari?” tanya Rae Yoo heran melihat sesosok pria yang berada di depan pintunya.

“Aniyo, aku hanya ingin bertemu denganmu.” jawab Kris bingung, tidak tahu ingin memberi alasan yang tepat.

“Ne. Oppa, sebaiknya kau duduk disini, aku akan mengambil minum untukmu.”

“No, just stay here, I don’t need it.” cegah Kris dengan memegang tangannya, lalu Rae Yoo menurutinya dan mereka duduk berdua di sebuah sofa besar.

“Ada suatu hal yang ingin kukatakan..”

Kris merangkul gadis itu perlahan agar mereka saling berdekatan, dan menatapnya dengan lekat, membuat jantung Rae Yoo berpacu begitu cepat ketika membalas tatapannya. Kris mendekatkan wajahnya dan meraih bibir Rae Yoo. Ia melumatnya lembut dengan tempo cepat dan Rae Yoo mulai membalasnya.

“Bagaimana jika kita merencanakan pernikahan secepat mungkin?” tanya Kris disela-sela ciuman mereka.

“Shireo!” jawab Rae Yoo kesusahan. Ia mulai kehabisan nafas karena ciuman mereka yang semakin lama semakin memburu.

“C’mon, what do you think? This is great idea to do it.” balas Kris hingga semakin menarik tubuh Rae Yoo menempel di badannya dan ia pun mengusap-usap punggung gadis itu.

“I don’t want it. Kris, please.” Rae Yoo berusaha untuk menolak tubuh Kris sesegera mungkin.

“Are you scared?” bisiknya secara samar, terdengar begitu menggoda.

“I’m so scared,  please.  This is not the time.” lirih Rae Yoo secara fasih, ia merasakan kepalanya sudah sangat pusing karena ciuman mereka. Namun Kris tetap meneruskan keinginannya.

Rae Yoo sungguh khawatir atas tindakan Kris yang menurutnya tidak pantas dilakukan. Gadis itu terlalu takut jika Kris bersikap gegabah, namun perlakuannya tersebut sungguh membuatnya terbuai dan menjadi gila hingga secara spontan menerima apa saja yang di lakukan olehnya.

Kris perlahan merebahkan badan Rae Yoo diatas sofa untuk memudahkan kegiatannya dengan leluasa. Sistem kerja urat saraf gadis itu kini seakan menegang dan akan berhenti beberapa saat lagi. Beribu prasangka merekat di kepalanya, bagaimana jika Kris langsung menyerangnya dengan cepat? Ia menindih Rae Yoo sambil menciumnya, gadis itu sungguh kewalahan, dan dengan bodohnya ia mengalungkan tangannya ke leher Kris, menerima tindakan terlarang tersebut.

Mereka pun berhenti, nafas mereka tersengal-sengal kelelahan. Sebenarnya Kris sungguh tidak bisa menahan keinginannya untuk melanjutkan yang lebih dari itu, namun ia tahu bahwa kegegabahan hanya merusak pandangan ke depannya. Dan gadis ini bukan mainannya sama sekali melainkan seorang yang ia butuhkan dan tulus mencintainya.

Kris memandangnya lama dengan sangat memuja, Rae Yoo pun balas menatapnya, kini mereka berdua hanya terdiam dengan posisi Kris yang masih menindih tubuh Rae Yoo. Kemudian tangan Kris bergerak menyelip di balik tubuh Rae Yoo dan gadis itu langsung bergidik kaget dengan nafas yang tertahan secara mendadak. Kris menariknya dan kini posisi mereka sudah berbalik dengan tubuh Rae Yoo menimpa tubuh Kris. Pria itu memeluk tubuh mungil gadisnya dengan erat, ia menyampirkan helain rambut Rae Yoo di telinganya untuk mempermudah melihat wajah yang di kaguminya.

“menurutmu, apakah aku tega terhadapmu?”

“I don’t know. Aku hampir mati karenamu!”

“I want more, Kang Rae Yoo..” Kris melepaskan pelukannya, dan cepat-cepat Rae Yoo merubah posisinya membelakangi Kris, merasakan hawa panas di wajahnya saat mendengar suara rendah pria itu.

“But I’m so tired.” Kris menjulurkan tangan kanannya dan melingkarkannya ke tubuh Rae Yoo, membuat gadis itu tersentak kaget hingga Kris tersenyum saat menyadari hal itu.

“Oppa, kau mencintaiku, benar?” Rae Yoo kesusahan menelan ludah. Dan akhirnya ia berhasil membuka suaranya.

“Tentu saja. Wae?” balas Kris dengan suara rendahnya.

“Hanya bertanya saja. Goodnight, Kris.” Rae Yoo tersenyum bahagia, merasa lega bahwa pria itu dapat berpikir secara positif. Matanya tertuju pada tangan Kris yang melingkar manis di pinggangnya dan ia memegang punggung tangannya dengan lembut.

“Goodnight too, I Love You, my girl, Kang Rae Yoo.” ucap Kris sambil memejamkan matanya. Begitu bahagia untuk pertama kalinya pria itu mengucapkan kata yang sudah lama di nanti-nantinya, kini terucap secara tulus.

Pria itu sangat bersyukur bahwa gadis itu merupakan energy hidupnya. Tempatnya melepaskan stresnya karena pernyataan ayahnya yang tidak setuju akan pernikahannya dengan Rae Yoo. Hanya ibunyalah yang selalu mendukung apa saja yang ia kerjakan dan berkatnya juga ia meyakini semua hal tentang Rae Yoo.

***

Rae Yoo memutuskan untuk berkunjung ke rumah Kris yang tidak terlalu jauh dari apartemennya, karena ia ingin menemui ibu Kris untuk menanyakan resep masakan yang ingin dipelajarinya. Saat tiba di tujuannya, ia memasuki ruang tamu dan mendapati 2 keluarga yang sedang berkumpul. Sebuah pemandangan yang membuat Rae Yoo terkulai lemas, di sana terdapat 3 orang yang berdiri. Seorang pria paruh baya yang sangat di kenalnya sedang menautkan 2 tangan yang berbeda, tangan Kris dan seorang gadis yang di yakininya akan di jodohkan untuk Kris.

Mata Kris membesar saat melihat gadisnya menatapnya dari pintu ruang tamu, menatapnya nanar, tampak begitu terluka. Kemudian gadis itu berlari kencang, menghilang dari penglihatannya.

*Flashback End*

***

“Rae Yoo-ya, gwaencanha?”

Tanya Kris melihat wajah gadis itu sudah sangat pucat dan merinding kedinginan. Tanpa pikir panjang, Kris membawanya ke apartemen Rae Yoo yang tidak jauh dari tempat mereka berteduh.

“Astaga. Mengapa kau harus membiarkan dirimu di siram air hujan? Tubuhmu terlalu gampang sakit, aku selalu mengkhawatirkanmu.” Ucap Kris gelisah, ia membalutkan tubuh gadis itu dengan selimut tebal. Rae Yoo hanya tersenyum lemah mendengar pernyataan Kris. Suara handphone berdering, memecahkan suasana mereka, seketika Kris tercengang melihat nama panggilan yang tertera namun ia segera menjawab panggilannya.

“Wufan, aku menyetujui pernikahanmu dengan Kang Rae Yoo.”

“Really?” kaget Kris tidak menyangka.

“Kau tidak perlu banyak bertanya. Aku akan merubah pikiran lagi jika kau tidak yakin kepadaku.”

“Terima kasih, ayah.” ucap Kris menggebu.

“Ternyata aku mengenal ayah Rae Yoo. Kami sempat dekat di saat kuliah. Jadi aku tidak akan segan menerima gadis itu untukmu. Kau harus menjaganya karena ayahnya sangat baik kepadaku.”

“Iya, aku berjanji akan membahagiakannya.” jawab Kris mantap dan rasa bahagianya sudah tidak bisa di bendung lagi.

Kris menatap Rae Yoo dengan lekat. Dan ia memeluk gadis itu penuh kelegaan. Sangat lega, menerima jawaban setuju dari ayahnya, karena gadis ini bisa menjadi miliknya. Terukir senyum di bibir gadis itu, kini ia dapat mempertahankan hubungan mereka.

“Would you marry me?”

– END –

Advertisements

4 thoughts on “FF “Destiny Of Love” [One Shot]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s