FF “A Dumber” [Chapter 4]

baru

Title : A Dumber [Chapter 4]

Author : Sabriena2Dgirl

Cast :

Main Cast

  • Kris [Wu Yi Fan]
  • Kang Rae Yoo

Support Cast

  • Park Chanyeol
  • Oh Sehun
  • Kai [Kim Jongin]
  • Choi Hyemin

Genre : Campus Life, Romance, Sad, Humor

Rating : PG-13

PS : Maaf atas keterlambatan ini, soalnya rada malas pas nge-post di blog karena perlu di edit lagi :3

Happy reading ^^

***

Keduanya mendapatkan kesadaran masing-masing hingga untuk beberapa saat mereka merasa canggung dan berbalik saling membelakangi. Rae Yoo sedikit menjauh dan membuka ponselnya sedangkan Kris berpura-pura menyibukkan dirinya kepada buku yang di ambilnya dengan membaca isi dalamnya.

“Aku sudah memeriksanya, ini adalah buku yang tepat untuk membantumu mengerjakan tugas.” Kris mencairkan suasana dan ia berbalik terlebih dahulu, mengulurkan buku yang di dapatkannya kepada Rae Yoo.

“Kamsahamnida, sunbaenim.” jawab Rae Yoo sambil mengambil buku itu dari Kris namun Kris menariknya kembali, hingga Rae Yoo berdecak kesal karena Kris tidak memberikannya kepadanya.

“Kenapa kau harus meminta tolong kepadaku? Memangnya kau tidak bisa meminta pertolongan temanmu?” tanya Kris penasaran, ia menyembunyikan buku itu di balik tubuhnya.

“Bukankah kau partnerku? Sesama partner harus saling membantu, bukan?” Rae Yoo melipat tangannya di depan dadanya, merasa geram namun ia tersenyum tenang kepada Kris, menyembunyikan kenyataan sebenarnya.

“Ahh… begitu.” gumam Kris dan ia mengulurkan buku itu kepada Rae Yoo dan gadis itu mengambilnya dengan cepat lalu kemudian memukul lengan Kris dengan buku tersebut secara halus.

“Tenanglah, aku tidak akan mengganggumu lagi.” Kris terkekeh kecil melihat Rae Yoo sangat berhati-hati terhadapnya.

“Sebenarnya, aku tidak terlalu dekat dengan teman-teman kelasku, aku ingin menyelesaikan tugas ini lebih cepat, jadi aku memerlukan bantuanmu. Dan maaf jika aku merepotkanmu.” jelas Rae Yoo yang akhirnya mengaku kepada Kris. Lelaki itu tampak terdiam sesaat.

“Aniyo. Kedepannya kita akan saling membantu seperti ini.” jawab Kris yang tadi sempat terhenyak saat gadis itu mengatakan yang sejujurnya tentang masalahnya. “Jangan berbicara terlalu formal kepadaku, aku tidak terbiasa.” sambung Kris, karena sebelumnya Rae Yoo mengucapkan terima kasih secara formal.

“Hahaaa, ne..” Rae Yoo terkekeh kecil, ia tidak menyangka Kris sesungguhnya tidak semenyebalkan yang di kiranya selama ini.

“Apa yang harus kubantu lagi?” tawar Kris tanpa segan, Rae Yoo tersenyum lega.

“Eopsoyo. Aku akan mengerjakannya terlebih dahulu, jika aku kesulitan, aku akan meminta pertolonganmu lagi.”

.

.

Jemputan mereka sudah menunggu, mereka masuk ke dalam mobil dan tidak menemukan Chanyeol di kursi depan, sang supir memberitahukan kepada mereka bahwa Chanyeol sudah pulang lebih awal karena ada keperluan yang sangat penting. Keadaan di dalam sangat canggung, hanya earphone yang mengeluarkan suara di telinga mereka masing-masing. Di dalam keadaan hening itu Rae Yoo merasa canggung sejak kejadian di perpustakaan tadi. Ia ingin sekali mengeluarkan sepatah kata atau kalimat kepada Kris untuk menghindari kantuknya yang mulai menyerang matanya, sepertinya lagu-lagu R&B dan Rock sekalipun tidak mempan untuk menyadarkannya. Kebiasaan buruk Rae Yoo yang sering terlambat tidur menyebabkan ia cepat mengantuk di manapun jika ia terdiam atau sedang memperhatikan dosen yang bukan merupakan mata kuliah favoritnya. Kebiasaan ini sudah berlangsung sejak ia di SMA, sejak ia menyukai dance.

Setelah beberapa saat kemudian, Rae Yoo sudah tidak bisa lagi menahan kantuknya, kepalanya beberapa kali terjatuh.

“Gadis ini benar-benar.. Aku tidak akan membangunkannya lagi.” gumam Kris dengan nada mengumpat seakan mengancamnya setelah menoleh melihat Rae Yoo yang sudah menundukkan kepalanya dengan mata yang sudah tertutup rapat, tertidur.

Dengan berjalannya mobil yang mengikuti beberapa belokan jalan, tubuh Rae Yoo seakan terhuyung dan Kris terus memperhatikannya dan merasa tidak tega membiarkannya seperti itu. Tubuh Rae Yoo semakin tidak seimbang, Kris beranjak panik dan duduk mendekatinya saat tubuh Rae Yoo akan jatuh ke kursi namun akhirnya ia jatuh di lengan Kris.

Kris tercengang tidak percaya, ia kemudian melihat Rae Yoo yang masih dengan damai tertidur lelap. Supir yang sedang mengendarai mobil ini pun melihat ke arah cermin di hadapannya dan sekilas terkekeh kecil pada kedua sosok dingin itu akhirnya bisa terlihat sedekat itu.

Kris hendak ingin membangunkannya namun ia terpaku sejenak melihat wajah Rae Yoo yang penuh damai sangat terlelap di lengannya membuatnya sedikit bingung antara tidak tega atau harus membangunkannya. Mobil berhenti di depan rumah Rae Yoo dan sang supir bertanya kepada Kris karena Rae Yoo yang sudah sangat terlelap dari tidurnya.

“Nak, apa kau tidak membangunkannya?”

“Ne, aku akan mengangkatnya.” jawab Kris cepat tanpa berpikir lagi, “Ajussi, tolong bantu aku membukakan pintu hingga ke dalam rumahnya.” sambungnya.

“Baiklah.”

Kris mengangkat Rae Yoo yang masih dalam keadaan tertidur ke kamarnya. Sebelumnya ibu Rae Yoo hanya bisa menggeleng heran karena ternyata masih ada yang mempedulikan putrinya yang hanya menyusahkan orang. Tidak hanya mengangkatnya saja, Kris meletakkannya dengan hati-hati di tempat tidurnya, kemudian pelan-pelan melepas sepatunya, dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya agar terjaga tetap hangat. Setelah menyelesaikan tugasnya, Kris menatapnya yang masih terlelap, tatapannya yang kuat menyiratkan berjuta pikiran yang masih tidak di duganya. Rae Yoo bukan siapa-siapanya, ia gadis pertama yang membuatnya harus mempedulikannya, ia bukan bagian terpenting dari hidupnya, namun kehadiran gadis itu seakan masuk tanpa di rencanakan sama sekali.

Kris hendak kembali namun berbalik saat melihat ponsel Rae Yoo yang baru saja di letakkannya di meja samping tempat tidurnya. Ponsel itu bergetar dan menampilkan nama Sehun di sana, tanda bahwa dialah yang memanggilnya.

“Sepertinya kau rajin sekali menelponnya, berbicara apa saja kalian setiap malam?” gumam Kris dengan nada mengejek, kemudian ia mengabaikan ponsel itu dan keluar dari kamar Rae Yoo tanpa menimbulkan sedikit suara.

“Terima kasih sudah merepotkanmu.” ucap ibu Rae Yoo yang baru saja datang berpapasan dengan Kris yang keluar dari kamar Rae Yoo.

“Gwaencanha, ajumma.”  jawab Kris tersenyum simpul.

“Kau sama baiknya seperti Chanyeol, tidak seperti yang Rae Yoo ceritakan kepadaku. ”

“Benarkah? Kamsahamnida.” Kris menaikkan sebelah alisnya, ia penasaran akan hal itu.

“Benar. Jika sedang bosan, ia sering sekali mengomel menceritakan apapun kepadaku, termasuk tentang dirimu.” jelas ibu Rae Yoo berbinar. “Dia bilang bahwa suaramu sangat horor, padahal setelah berbicara seperti ini, itu tidak seperti yang dia katakan.” lanjut ibu Rae Yoo tertawa kecil dan Kris mengusap tengkuknya sembari terkekeh kecil.

“Sejauh itu kau menjelekkanku? Seharusnya kau ingat bawa tubuhmu pendek sekali.”

“Kau sangat tinggi, ia kesusahan karena harus mendongak untuk melihatmu. Dan ia bercerita bahwa baru-baru ini kau menjadi partner-nya dalam tugas bahasa Inggris, aku merasa lega karena rumahmu tidak jauh dari sini. Dan kau bukan lelaki sembarangan, karena kau berteman baik dengan Chanyeol jadi aku bisa mempercayaimu.” Kris masih terheran mendengar penjelasan ibu Rae Yoo, pembicaraan ini seakan terasa begitu dekat, seakan ia sudah mengenal Rae Yoo lebih dalam, ia hanya bisa tersenyum dan menganggukkan kepalanya kepada ibunya.

***

“Tadi malam, Kris mengangkat Rae Yoo yang ketiduran di mobil.” ujar sang supir kepada Chanyeol.

“Ajussi, jinja?!” tanya Chanyeol yang melonjak senang mendengar hal itu.

“Berhentilah.” protes Kris tidak suka.

“Kita memang berhenti sejenak untuk menjemput Rae Yoo.” ujar Chanyeol yang tertawa karena ucapan Kris yang tepat.

Rae Yoo masuk ke mobil dengan gerak cepatnya. Ia melihat Kris yang menatap ke arah jendela, memperlihatkan sikap cueknya yang kuat, hingga gadis itu merasa tidak yakin karena ingin mengatakan sesuatu kepadanya.

“Sunbae..” panggil Rae Yoo memberanikan diri, Chanyeol menaikkan alisnya mendengar suaranya tanpa berbalik ke belakang, dan Kris menoleh kepada Rae Yoo. “Yang semalam, mmm.. gomawo.” ucap Rae Yoo sambil tersenyum kaku.

“No problem.” jawab Kris yang kembali menatap jendela, dan Rae Yoo menatapnya kesal seakan Kris tidak menggubrisnya.

“Ahh, nanti siang kita harus mengerjakan tugas pertama kita. Tadi aku baru saja di beritahu oleh dosenku, nanti biar aku yang mengambil tugasnya.” Kris langsung menoleh berbicara kepada Rae Yoo.

“Kalau begitu, aku butuh nomormu.” Rae Yoo langsung menyerahkan ponselnya kepada Kris, dan Chanyeol yang sudah berbalik ke belakang hanya tersenyum kegirangan melihat kedua sosok terdingin itu.

“Baiklah.” Kris mengetikkan nomornya dan memberikannya kembali kepada Rae Yoo. Gadis itu langsung menyimpan nomornya dan menyeringai kecil saat mengetikkan nama Kris di sana dengan ‘Kris Babo’.

***

Chanyeol baru saja keluar dari kelasnya, mata kuliahnya sudah berakhir dan ia berniat untuk segera pulang. Ia berjalan dikoridor dengan mata yang menghadap lurus kedepan sampai matanya menangkap salah seorang gadis yang berjalan tepat dihadapannya dan melewatinya begitu saja hingga Chanyeol langsung menghentikan langkahnya, terlarut akan pikiran dan pemandangan yang baru saja di lihatnya. Ia tidak salah melihat dan meyakinkan dirinya hingga ia berbalik dan ternyata gadis itu juga berbalik, melakukan hal yang sama seperti Chanyeol.

Chanyeol berjalan mendekatinya dengan wajah penuh senyum atas kebahagiaannya, tidak sia-sia menantikan gadis yang di cintainya itu datang setelah selama setahun lamanya ia menunggu. Gadis itu juga berjalan mendekatinya, senyum yang terukir di bibirnya seakan memiliki ungkapan yang sama seperti Chanyeol rasakan.

“Hyemin-ah,” panggil Chanyeol, mereka sudah saling berhadapan.

“Ne.” jawab Hyemin. Mereka saling tersenyum dan terkekeh kecil, Chanyeol masih merasa kurang, ia ingin sekali melepas kerinduannya dengan memeluknya dengan erat, namun itu tidak mungkin baginya.

“Aku sangat merindukanmu, oppa.” ujar Hyemin berterus terang, ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa yang paling di rindukannya di Seoul adalah Chanyeol. Chanyeol yang mendengarnya merasa sulit mengontrol perasaannya yang melonjak kesenangan, ia benar-benar tidak salah menunggunya untuk waktu yang lama.

“Nado.” jawab Chanyeol, senyumnya tidak lepas dari bibirnya.

“Jika aku pergi jauh lagi, aku tidak akan lupa lagi untuk memberitahukan kepadamu. Kau tahu oppa? Aku tidak suka di Busan, aku tidak menemukan orang yang baik sepertimu.” cerita Hyemin mengeluarkan keluhannya.

“Lalu kenapa kau ke sana?”

“Aku ikut orang tuaku, jadi aku di sini tinggal bersama pamanku.” jawab Hyemin. “Oppa, aku sudah lama tidak melihatmu bermain gitar, apa kau masih berlatih di agensi?” tanya gadis itu membuat  Chanyeol membeku sesaat.

“Aku sudah lama tidak pernah berlatih, appa memerlukanku untuk proyek barunya, jadi aku sangat sibuk.” bohong Chanyeol tidak ingin mengungkapkan kebenarannya. Chanyeol tidak pernah datang ke agensinya sejak Hyemin pergi, ia tidak punya semangat untuk datang ke tempat itu jika tidak ada Hyemin.

“Karena aku sudah kembali, setidaknya kau harus menyempatkan waktumu untuk berlatih, karena aku juga akan berlatih di sana.”

“Baiklah, aku akan meluangkan waktuku.” ujar Chanyeol sambil menganggukkan kepalanya.” Yaa, aku minta nomormu, kau benar-benar menghilang tanpa mengabarkanku sama sekali, dan Rae Yoo bahkan hampir membencimu.” kesal Chanyeol dan Hyemin tertawa sembari menarik lengan Chanyeol.

“Ayo oppa, kita makan siang bersama di suatu tempat.”

***

“Ide yang bagus kita mengerjakan tugas di sini.” ujar Rae Yoo merasa sedikit bahagia bisa berada di suasana bagian halaman kampus.

“Apa kau tidak berpikir buku atau kertas kita akan terkena angin? Ini hanya akan mengganggu konsentrasi kita.”

“Aniyo, kita dapat berpikir jernih dengan suasana sebagus ini. Cepatlah, setelah ini aku akan berlatih dance, dan apa kau tidak ingin berlatih basket? Jangan menyia-nyiakan kegemaranmu.” jelas Rae Yoo, dan Kris hanya bisa menghela nafas berat dan mengalah atas keegoisannya.

Mereka duduk berdampingan di sebuah tempat yang memang di sediakan untuk pembelajaran outdoor. Tempat itu berada di tengah-tengah taman yang di penuhi beberapa pohon dan berbagai jenis bunga di sekelilingnya. Banyak mahasiswa yang memilih mengerjakan tugas mereka di sana, termasuk Kris dan Rae Yoo.

“Kita akan belajar atau makan?” tanya Kris saat Rae Yoo mengeluarkan kotak makanan dan botol air minumnya.

“Bukankah ini sudah siang? Tentu saja kita belum makan. Makanlah, ini dibuat oleh ibuku, kita tidak mungkin mengerjakan tugas dengan perut kosong.” ujar Rae Yoo sembari membuka kotak makanannya yang terisi Kimbap di dalamnya.

“Sepertinya lezat sekali. Mengapa bukan kau yang membuatnya?” tanya Kris saat melihat Kimbap tersebut.

“Memangnya aku istrimu? Aku bahkan bukan pacarmu!” umpat Rae Yoo dalam hati sembari menatap Kris tajam.

“Aku tidak punya waktu untuk mengurus masalah dapur.” kemudian Rae Yoo menjawabnya dengan ketus.

“Setidaknya kau perlu membantu ibumu di dapur.” batin Kris.

Mereka hendak memakan Kimbap buatan ibu Rae Yoo tersebut, namun Rae Yoo hanya memiliki sepasang sumpit lalu ia langsung memberikannya kepada Kris, tanpa memikirkan dirinya memakan terlebih dahulu.

“Kau yang makan duluan.”

“No, ladies first.” tolak Kris.

“Kau saja.” Rae Yoo langsung meletakkan sumpit tersebut di telapak tangan Kris yang terbuka di atas meja.

Tanpa berkata apapun lagi, Kris menerima sumpit itu. Ia mengambil Kimbap tersebut dan memakannya sembari menoleh pada Rae Yoo yang berada di sampingnya yang tengah menatapnya. Lelaki itu terkejut akan tatapannya hingga membuatnya tersedak saat menelan makanannya. Rae Yoo tidak bisa menahan tawanya, ia langsung menepuk punggung Kris berkali-kali sembari memberikan air minum kepadanya.

“HAHAHAAHAAAAA. SUNBAENIM, WAE GEURAE??!! HAHAHAAAA!!”

Rae Yoo tertawa sangat nyaring, Kris meneguk air minum yang di berikan Rae Yoo dan memukul dadanya yang sempat sesak saat tersedak tadi. Ia menatap Rae Yoo kesal yang sibuk menahan tawanya akan insiden kecilnya. Kris mendesah berat mengingat ia sudah mempermalukan dirinya sendiri sebanyak 2 kali di hadapan gadis ini.

“Can you stop it, please?” Kris memohon, masih menatap Rae Yoo dengan dingin.

“Okay, sorry..” jawab Rae Yoo walau masih terkekeh kecil.

“Aku juga bisa menertawakanmu.” tidak mau kalah, Kris mengambil salah satu kimbap dan meletakkannya di mulut Rae Yoo yang terkunci.

“Bukalah mulutmu.” Rae Yoo tidak bisa berbicara karena Kimbap tersebut berada di hadapan mulutnya. Ia memasang tatapan tajam mematikannya kepada Kris dan membuka mulutnya yang langsung saja Kris masukkan Kimbap itu ke dalam mulutnya.

Kris tertawa gembira melihat mulut Rae Yoo yang menggembung penuh dengan Kimbap. Rae Yoo terus mengunyah dengan kesusahan dan menahan satu tangan Kris, memukul lengannya secara beberapa kali dengan sangat kesal.

***

“Apa kakimu sudah sembuh?” tanya Sehun saat melihat Rae Yoo datang pada waktu yang tepat, setelah menyelesaikan tugasnya bersama Kris.

“Aku sudah merasa baikan, kau seperti seorang dokter, oppa!” puji Rae Yoo dan Sehun tersenyum simpul dengan rasa bahagia.

“Baiklah, kita akan berlatih beberapa koreografi yang sudah aku buat. Kau tidak boleh terlalu mengeluarkan tenaga, karena kau baru saja sembuh.” ucap Sehun bak seorang pelatih, Rae Yoo mengangguk mengerti dengan cepat.

Mereka melakukan pemanasan sebelum memulai gerakan, wajah serius Sehun menguar saat ia mulai mengajarkan beberapa gerakan kepada Rae Yoo yang langsung saja menurutinya dengan paham. Rae Yoo tampak menyukai keseriusan Sehun dalam hal dance, dan ini membuatnya merasa lebih nyaman dan kagum pada Sehun, walau ia masih terkalahkan dengan Kai, namun setelah hari ini sepertinya Rae Yoo akan memposisikan Sehun dengan bandingan yang setara terhadap Kai sebagai dancer favoritnya.

Sehun menghabiskan waktu 2 jam untuk mengajarkan Rae Yoo, dan kini mereka beristirahat sejenak di ruangan yang hanya di isi oleh mereka berdua saja. Rae Yoo menyelonjorkan kakinya dan Sehun duduk di sampingnya yang langsung memijat lutut Rae Yoo tanpa mengucapkan apapun, gadis itu hanya bisa tercengang atas kebaikan Sehun.

“Kau tidak perlu memijatnya lagi, oppa.” tolak Rae Yoo baik-baik.

“Aku ingin kau dalam keadaan sehat, jadi anggap saja ini adalah perawatan selanjutnya, aku hanya memijatmu dengan ringan, dan tenang saja, aku tidak menagih apapun untuk hal ini.”

“Yaa, oppa, jadi kau mengincar uangku selama ini?” tanya Rae Yoo.

“Kalau kau cedera seperti ini lagi, aku tidak segan-segan mengambil 50 ribu won darimu, kau pikir tanganku tidak membutuhkan penghargaan atas kerja kerasnya?”

“Katakan saja kau ingin menjadi dance partner-ku hanya karena ingin uangku.” ujar Rae Yoo.

“Yaa! Bukan begitu!” ujar Sehun tidak terima, kemudian mereka tertawa akan lelucon mereka tanpa mengetahui Kai yang membuka pintu ruangan dan langsung saja terperangah melihat tawaan mereka yang begitu akrab terdengar. Ia juga melihat tangan Sehun yang sibuk memijat lutut Rae Yoo. Untuk beberapa saat Sehun mengalihkan matanya ke arah pintu hingga tanpa berlama-lama Kai masuk untuk menghindari kecurigaan mereka jika ia tetap berada di pintu hanya untuk mengintip kedekatan mereka.

“Jongin-ah..” ucap Sehun, dan Rae Yoo membulatkan matanya mendengar langkah kaki Kai.

“Ternyata kalian di sini, kupikir ruangan ini masih kosong.” ucap Kai yang mendekati mereka dan duduk di samping Sehun, “Ohh, lututmu bagaimana? Apa masih belum sembuh?” lanjutnya bertanya pada Rae Yoo. “Kau memijatnya dengan benar, kan?” kemudian Kai bertanya kepada Sehun tanpa menunggu jawaban Rae Yoo.

“Yaa, bisakah kau bertanya satu-persatu? Dan apakah kau tidak lihat, aku bahkan memijatnya lagi.” protes Sehun atas pertanyaan bertubi-tubi Kai.

“Sunbae, Sehun oppa benar-benar menyembuhkanku, dia memang memijatku sekali lagi.” ujar Rae Yoo yang berniat membela Sehun dari Kai.

“Begitukah?” tanya Kai pada Rae Yoo dengan nada tidak yakin, dan Sehun menolak bahunya.

“Aku sudah lama berteman denganmu, jadi apa alasanmu menuduhku sebagai orang licik?” Sehun langsung mengalungkan lengannya ke leher Kai, seakan mencekiknya, dan Rae Yoo hanya bisa tertawa melihat tingkah kekanakan mereka.

“Sebentar lagi anggota akan datang, apakah kalian tetap bergelut seperti itu?” ujar Rae Yoo yang masih terkekeh kemudian Sehun dan Kai langsung menghentikan perkelahian kecil mereka.

.

.

Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, para anggota sudah banyak yang pulang termasuk Sehun yang sebelumnya sudah pulang lebih cepat atas keperluaannya. Saat Rae Yoo keluar dari ruangan, Kai yang masih berada di dalam ruangan yang gelap itu langsung menarik lengan Rae Yoo secara paksa dan kuat hingga gadis itu sulit berkutik. Kai langsung mengunci pintu dan mendorongnya ke dinding dengan kuat, meletakkan kedua tangannya di dinding tepat di sisi kepala Rae Yoo. Kai menundukkan kepalanya hingga membuat jarak wajah Rae Yoo dan wajahnya lumayan dekat. Suasana ruangan itu hanya di terangi oleh biasan bulan dari jendela, hingga Kai dapat melihat wajah panik dan gugup Rae Yoo yang menatapnya takut.

“Sunbae…”

Suara Rae Yoo terdengar bergetar, Kai merasa tidak tega dan langsung melepas tangannya secara perlahan. Rae Yoo menatapnya penuh tanya atas sikapnya yang terlalu tiba-tiba ini. Seakan kehilangan tenaga, ia duduk bersandarkan dinding di samping Rae Yoo yang masih berdiri tanpa henti menatapnya diiringi detak jantungnya yang berpacu lebih cepat.

“Duduklah,” ucap Kai dengan pandangan menghadap ke jendela. Rae Yoo tampak bingung dengan rasa gugup yang masih melekat di benaknya hingga ia menuruti perkataan Kai dan duduk di sampingnya.

“Maaf, aku sangat keterlaluan,” ujarnya, “Ada banyak hal yang ingin kukatakan dan aku ingin kau memahaminya.” lanjut Kai yang masih memasang wajah datar dan matanya tidak lepas dari biasan bulan dari jendela di hadapannya.

“Gwaencanha, aku akan mendengarkannya.” ucap Rae Yoo dan Kai menoleh setelah mendengar suaranya. Ia melihat wajah Rae Yoo sejenak dan perlahan kembali kepada fokus pertamanya pada biasan jendela, tanpa tahu Rae Yoo bergidik gugup karena tatapannya yang hangat.

“Bagaimana aku harus memulainya? Ini sungguh sulit dari yang kubayangkan.” Kai terkekeh kecil, ia menarik nafas untuk melanjutkan kalimatnya.

“Kita tidak saling mengenal dengan baik, bahkan untuk saling bertegur sapa saja tidak pernah meski kita di dalam satu sekolah yang sama. Jadi masing-masing kita mungkin tidak memiliki sebuah alasan yang kuat untuk menyimpan suatu hal.” Rae Yoo mendengarnya dan tampak bingung oleh maksud dari semua perkataannya.

“Aku tidak tahu, mungkin perasaanku terlalu cepat berkembang dan menurutku sangat salah karena aku melewatkan 2 tahun yang berisi banyak kesempatan untuk mengejarmu.”

Rae Yoo tampak tercengang, ia membulatkan matanya menatap Kai yang tersenyum tanpa minat.

“Kau paham maksudku kan? Benar, aku sudah menyukaimu selama itu dan setelah tamat dari sekolah hingga detik ini, jantungku masih berdetak kencang berada di dekatmu.”

Kai melihat ke arah Rae Yoo dengan tatapan intens, bahu gadis itu bergetar seiring kekagetannya saat mendengar pernyataan Kai yang tidak di sangkanya selama ini.

“Apakah aku mengagetkanmu? Kalau kau tidak bisa menerimanya, aku akan tarik kembali perkataanku bahwa kalimat-kalimat tadi tidak benar.” ucap Kai melihat reaksi Rae Yoo yang masih terdiam menatapnya nanar.

Rae Yoo tidak tahan dengan situasi itu, ia tidak akan sanggup mendengar pengakuan Kai selanjutnya, yang akan semakin membuatnya tersayat sangat dalam. Ia langsung beranjak berdiri hendak pergi, namun dengan gerak cepat Kai menahannya dengan menarik lengannya.

“LEPASKAN!!” teriak Rae Yoo dengan amarahnya hingga Kai terkejut.

“Eodiga?” tanya Kai masih memegang lengannya dengan erat.

“Lepaskan, jebal juseyo.” pinta Rae Yoo dengan suara serak dan air matanya yang sudah mendesak untuk keluar.

Kai terkelu, gadis itu menangis karena ulahnya. Ia beranjak berdiri, tanpa melepaskan genggamannya pada lengan Rae Yoo dan mengambil tempat berdiri di hadapannya. Ia bisa melihat tetesan air mata membasahi pipinya hingga Kai merasa sangat bersalah, benar, ini adalah kesalahan terbesarnya karena ia terlambat, benar-benar terlambat.

“Lepaskan, aku ingin pergi!”

Rae Yoo terisak seiring perkataannya, Kai masih terdiam dengan segenap rasa bersalahnya hingga perlahan semakin mendekati Rae Yoo, merengkuhnya ke dalam pelukannya. Gadis itu masih menangis hingga membasahi bajunya, Kai menghelus rambutnya dan menepuk kecil bahunya untuk menenangkannya namun Rae Yoo seakan menolak tindakan halusnya.

“Biarkan aku pulang, lepaskan!” Rae Yoo terus memintanya hingga memukul-mukul dada Kai tanpa tenaga, ia berusaha mendorong tubuh Kai namun nihil baginya, terlalu lemah menghadapi tubuh kekarnya yang memeluknya sangat erat.

“Biarkan aku yang mengantarmu pulang.” ujar Kai, ia tahu ini kesalahannya dan dia harus mengantarnya pulang dan memastikan setelah ini ia akan baik-baik saja.

Ini bahkan seperti pemaksaan, tanpa jawaban Rae Yoo, Kai langsung menautkan tangannya pada tangan Rae Yoo untuk menariknya. Sepanjang berjalan menuju parkiran, Kai tetap tidak melepaskan tangannya pada Rae Yoo, dan pada akhirnya melepasnya setelah mereka masuk ke dalam mobil. Mata Rae Yoo tampak begitu sembab dan ia mengusap air matanya berulang kali menghadap ke arah jendela tanpa ingin menatap Kai sekalipun yang berada di sampingnya yang tengah mengendarai mobilnya sambil sesekali memastikan keadaan Rae Yoo.

“Kang Rae Yoo, bolehkah aku bertanya mengapa kau menangis mendengar pengakuanku? Apakah aku terlalu lancang?” tanya Kai sambil terfokus pada jalan sesekali melihat Rae Yoo, ia sebenarnya merasa takut untuk bertanya karena keadaan Rae Yoo yang tidak baik-baik saja. Gadis itu masih terdiam, walau sebenarnya banyak hal yang ingin di katakannya, namun emosinya terlalu sulit untuk di kontrol saat ini.

“Aku salah, bukan? Kau marah kepadaku? Jika begitu, aku sungguh minta maaf karena sudah membuatmu takut atas kelakuanku yang begitu kasar dan memaksamu. Jika kau tidak suka mendengar pengakuanku, kau dapat melupakannya, jangan menghindariku, itu akan membuatku semakin bersalah dan aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika kau menangis karena aku.”

Kai menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Rae Yoo. Gadis itu tidak menyangka bahwa Kai mengetahui alamat rumahnya, namun raut wajah Rae Yoo tidak menunjukkan sesuatu yang membuatnya kagum akan hal itu. Tanpa berkata apapun, Rae Yoo membuka pintu dan segera turun dari mobil, dengan tergesa-gesa Kai menyusulnya dan menahannya dengan menarik lengannya.

“Rae Yoo-ya..” panggil Kai, Rae Yoo tidak mengeluarkan suaranya dan hanya tertunduk, ia mencoba menghempaskan tangannya agar Kai melepasnya, namun sama sekali tidak bisa. Kai mengambil tempat berdiri di hadapannya tanpa melepaskan tangannya.

“Lupakan, lupakan jika kau tidak suka mendengar pengakuanku. Mungkin untuk sekarang kau tidak bisa menjawab semua pertanyaanku, dan kuharap besok kau tidak mengabaikanku, anggap saja malam ini kita tidak bertemu seperti ini. Tidurlah secepat mungkin, kemudian kau dapat melupakan pengakuan burukku itu untukmu. Mianhae, aku pulang.” ucap Kai, ia merasa lelah setelah semua penjelasan dan permintaan maafnya, dan berharap penjelasannya terakhir ini dapat di terima oleh Rae Yoo, meski harapan itu kecil tanpa satu jawaban pun darinya.

Kai melepaskan tangannya secara perlahan seakan tidak ingin melepaskannya dalam waktu secepat itu. Tatapan Kai tetap saja melekat pada Rae Yoo meski sudah masuk ke dalam mobil, ia merasa berat hati untuk pergi, namun, mungkin kepergiannya adalah yang terbaik pikirnya. Rae Yoo mengangkat kepalanya setelah mobil Kai melaju pergi, ia berkali-kali mengusap air matanya yang mendesaknya untuk mengeluarkannya lagi.

“Kim Jongin, kau pikir semudah itu? Hah?! Siapa Hyemin eonni? Mengapa semudah itu kau mengungkapkan segalanya, kenapa tidak dulu? Kenapa kau harus seterlambat ini?! Bagaimana aku harus mempercayaimu? Apa kau ingin membodohiku? Apa gunanya kau mengutarakan perasaanmu? Jelas kau sedang mempermainkanku!” Rae Yoo mengeluarkan amarahnya yang sedari di tahannya, tangisannya semakin hebat hingga membuat gadis itu semakin rapuh bahkan kakinya tidak memiliki tenaga untuk berdiri dengan tegap.

Tanpa mengetahui apapun, seorang lelaki berjalan mendekati Rae Yoo yang masih menangis tersedu-sedu. Raut wajahnya tampak kecemasan walau sesungguhnya ada kemarahan yang tersirat di matanya. Ia langsung merengkuh Rae Yoo ke dalam pelukannya, membiarkan gadis itu menangis sebanyak-banyaknya. Tidak ada penolakan dari Rae Yoo, karena pelukan ini berbeda dari Kai.

– TBC –

Advertisements

2 thoughts on “FF “A Dumber” [Chapter 4]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s