FF “A Dumber” [Chapter 5]

baru

Title : A Dumber [Chapter 5]

Author : Sabriena2Dgirl

Cast :

Main Cast

  • Kris [Wu Yi Fan]
  • Kang Rae Yoo

Support Cast

  • Park Chanyeol
  • Oh Sehun
  • Kai [Kim Jongin]
  • Choi Hyemin

Genre : Campus Life, Romance, Sad, Humor

Rating : PG-13

PS : HAHAHAAAAH SAYA KEMBALI!!!!! MAAF KALO CHAPTER INI GA MEMUASKAN.

HAPPY READING ^^

***

* Flashback

Kai terburu-buru karena di panggil ke ruang wali kelasnya untuk kepentingan mendadak. Ia setengah berlari di sepanjang koridor dan tanpa sengaja menabrak seorang murid perempuan hingga mengenai bahunya dan menjatuhkan beberapa lembaran kertas yang di pegangnya.

Kai langsung saja berhenti dan berjongkok mengambil lembaran yang terjatuh itu, murid perempuan itu berdecak kesal dan turut mengambil kertasnya juga.

“Maaf, aku tidak sengaja.” ucap Kai mengangkat wajahnya untuk melihat gadis itu. Ia terkesima sesaat pada wajah yang sedang merengut itu tampak begitu manis di matanya.

“Gwaencanha.” ucap gadis itu dengan nada pasrah, ia juga mengangkat kepalanya dan terpana melihat wajah Kai. Ia merasa gugup sesaat, kemudian berdiri untuk menghilangkan kegugupannya.

Kai juga beranjak dan memberikan lembaran kertas itu kepadanya, “Gomawo…yo.” ujar gadis itu sambil menundukkan kepalanya dan segera meninggalkan Kai yang hanya terpaku melihatnya pergi, ia merasa tertarik pada pandangan pertamanya.

Setelah beberapa minggu, Kai tidak henti-hentinya memikirkan gadis itu sampai beberapa kali ia tidak lupa untuk menyinggahi koridor tempat ia bertabrakan dengannya, berharap akan bertemu dan segera saling berkenalan.

Kai sempat putus asa dan hanya bisa berharap suatu hari nanti akan berpapasan kembali dengannya, dan itu terjadi saat sekolah mengadakan sebuah event yang di dalamnya Kai ikut berpartisipasi untuk penampilan dance-nya. Kai tidak menyangka saat melihat sebuah grup dance teman se-agensinya, yang bernama Hyemin, memiliki anggota yang terdapat seorang gadis yang selalu di carinya di koridor, dan melihatnya menari sangat indah. Kai mencoba sedikit bertanya kepada Hyemin hingga ia menyebutkan semua teman-teman dancenya dan mengetahui salah satunya bernama Kang Rae Yoo, gadis yang secara tidak sengaja ia tabrak itu.

Sejak saat itu ia mulai menyukainya secara diam-diam. Kai tidak memiliki keberanian lebih, ini baru pertama kalinya ia menyukai seseorang dan merasa bingung bertindak untuk pertama kalinya.

.

.

Kini Kai, Sehun, dan Chanyeol sedang duduk di ruangan pantry bangunan agensi untuk menghilangkan keletihan mereka sehabis berlatih. Kai baru saja di kenalkan oleh Sehun kepada Chanyeol yang merupakan senior dan alumni dari sekolah mereka.

“Lihatlah..” seru Chanyeol kepada Sehun sambil memperlihatkan sebuah foto di ponselnya.

“Yeppeota..” kagum Sehun terpana.

“Dia sepupuku, Kang Rae Yoo, apa kau tertarik?”

“Dia belum memiliki pacar?” tanya Sehun, raut wajahnya tampak keseriusan.

“Belum, dia tidak mau berpacaran dan ia suka lelaki tampan.” jelas Chanyeol sambil terkekeh.

“Dia lucu sekali. Apakah dia akan menyukaiku?”

“Sepertinya. Kau jelas sangat tampan. Aku akan sering menceritakan tentang dirinya kepadamu.”

Kai yang tepat berada di samping Sehun hanya bisa terkelu, darahnya seakan membeku di sekujur tubuhnya. Ini di tahun terakhirnya dan ia sudah lama menyiapkan dirinya untuk mengungkapkan segalanya kepadanya, tentang perasaannya. Ia tidak bisa berbuat apapun setelah mendengar percakapan mereka. Sehun adalah teman terbaiknya sejak kecil, artinya ia tidak bisa mengambil apa yang disukai olehnya, ia tidak akan mengecewakan Sehun, dan persahabatan mereka akan hancur jika mereka menyukai satu orang gadis yang sama.

Sejak Chanyeol memperlihatkan foto Rae Yoo kepada Sehun, lelaki itu tidak berhenti mengaguminya dan selalu saja berkata kepada Kai bahwa ia benar-benar menyukainya dan ingin memilikinya. Ambisi Sehun sangat kuat, dan hal itu meremukkan perasaan Kai yang seakan memaksanya untuk berhenti menyukai Rae Yoo.

Ia mencoba melupakan Rae Yoo dengan cara menyatakan cintanya kepada Hyemin. Ia tidak memiliki rasa apapun kepada Hyemin, tetapi Hyemin langsung menerimanya karena alasan Kai yang ingin belajar mencintainya, benar, Kai berusaha menyukai Hyemin meskipun ia masih tidak bisa melupakan Rae Yoo.

Setelah lulus, Hyemin pindah ke Busan dan berhubungan jarak jauh dengan Kai, mereka sering berkomunikasi setiap harinya namun Kai masih merasa janggal dan sama sekali belum benar-benar jatuh cinta kepada Hyemin. Ia tidak bisa menghentikan perasaannya setelah di semester 3 masa kuliahnya, ia bertemu kembali dengan Rae Yoo.

*End Flashback

***

“YAAA!! KENAPA KAI?!” amuk Chanyeol yang sangat marah. “BRENGSEK KAU! APA YANG KAU LAKUKAN PADA RAE YOO?!!”

Chanyeol tidak bisa menahan amarahnya, Kris dengan tenaganya menahan Chanyeol untuk tidak keluar dari mobil yang akan menyebabkan bahaya yang memungkinnya memberikan Kai beberapa pukulan. Supir di samping Chanyeol sudah mengunci pintu mobilnya dan peluang Chanyeol untuk keluar dari mobil tersebut sangat kecil.

“AJUSSI, BUKA PINTUNYA!” kilat emosi di mata Chanyeol sangat terlihat, supir tersebut sedikit merasa takut.

“Andwaeyo, ajussi.” perintah Kris tegas.

“HYUNG!” protes Chanyeol. Kris yang masih di kursi belakang mengalungkan lengannya ke leher Chanyeol seakan mencoba mencekiknya.

“KAU MAU PROTES? AKU BUNUH KAU SEKARANG JIKA KAU BERANI MEMPROTESKU!” Kris mengancam dengan nada memarahinya, dan Chanyeol pun terdiam, tampaknya Kris berhasil meluluhkannya.

“Jangan mengutamakan emosimu, kau hanya akan menyulitkan Rae Yoo, apa kau tidak lihat bagaimana sedihnya dia? Kau harus berpikir untuk menenangkannya, bukan membuatnya merasa terjebak dengan kesedihannya.”

Chanyeol terhenyak mendengar anjuran Kris untuknya. Ia hanya bisa menggertakkan giginya sembari melihat pemandangan di hadapannya yang semenjak tadi membuat emosinya memuncak drastis. Setelah melihat Kai pergi, Chanyeol buru-buru keluar dari mobil dan berlari menghampiri Rae Yoo yang menangis hebat di sana. Ia tidak pernah melihat Rae Yoo selemah ini, ia tidak pernah melihat Rae Yoo mengeluarkan air mata sebanyak ini hanya karena seorang lelaki, ia tidak pernah melihat Rae Yoo bisa semarah ini hingga hampir menghabiskan kekuatannya. Dengan rasa prihatinnya, Chanyeol merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya, membiarkannya mendapatkan pegangan terakhirnya dalam keadaan yang terpuruk seperti ini sebagai kakak protektif atau ayah protektifnya dalam keseharian.

Kris yang tadi mengikuti Chanyeol, sekarang hanya berjarak 2 meter dari mereka. Sama halnya dengan Chanyeol, ia terdiam karena tidak pernah melihat seorang gadis menangis sebanyak itu, dan ia seakan ikut merasa terpukul akan tangisannya. Jika berada di posisi Chanyeol, ia pasti akan melakukan hal yang sama, bahkan bisa lebih brutal lagi menyerang Kai, ia mengkhawatirkan hal ini tanpa kesadarannya.

Rae Yoo melepas tubuh Chanyeol yang memeluknya setelah merasa cukup mengeluarkan semua kepahitan yang mencabik-cabik perasaannya. Dia menghapus sisa air mata di pipinya sembari menghela nafas berat.

“Aku sudah lama menyukainya. Setelah ini, aku ingin melupakannya, dan aku tidak ingin menyukai siapapun lagi. Aku tidak ingin merasakan sakit ini lagi. Aku tetap akan menunggu perjodohan dari orang tuaku.”

“Rae Yoo-ya..”

“Oppa, jangan mendorongku lagi. Keberadaan Sehun oppa kini membingungkanku. Aku butuh waktu untuk mempertimbangkannya.”

“Aku tidak akan memaksakanmu lagi.” ucap Chanyeol dan Rae Yoo menatapnya tampak menimbang-nimbang ingin mengungkapkan kebenaran Hyemin, namun ia takut Chanyeol akan terluka seperti dirinya, bukan waktu yang tepat baginya.

“Aku masuk.” Rae Yoo hendak melangkahkan kakinya namun segera berbalik. “Gomawo, oppa. Dan… jangan lakukan apapun kepadanya, aku tahu apa yang dipikiranmu. Ini kesalahanku, bukan dia, jadi jangan mempersulitku.”

***

Hari ini Rae Yoo memutuskan untuk tidak berlatih dance untuk menghindar dari Kai. Semalam benar-benar kejadian terburuknya yang tidak ingin terulang kembali. Pernyataan cinta Kai kepadanya terlalu mengejutkannya, di balik itu, Kai masih memiliki hubungan dengan Hyemin dan berasumsi bahwa Kai benar-benar mempermainkannya, bagai seorang Cassanova. Dia tidak akan menjadi gadis yang di taklukkannya, dia tidak akan jatuh ke lubang yang sama seperti Hyemin, pikirnya.

“Oppa eoddiga?” Rae Yoo menelpon Chanyeol.

“Aku akan pulang telat.”

“Kau tahu Kris di mana?” Chanyeol menaikkan alisnya mendengar pertanyaan itu, ia tersenyum kecil.

“Molla, cari saja di lapangan basket. Tapi kau jangan masuk jika pintu ruangannya terbuka, dan jika pintunya tertutup, mungkin dia di sana.”

“Kenapa begitu?”

“Cepat atau lambat, kau pasti mengetahuinya dari Kris.”

“Baiklah. Aku pergi.”

Tanpa berkata apapun lagi, Rae Yoo menutup panggilannya dan berderap menuju lapangan basket. Ia menebak Kris sudah pasti disana, walaupun ia harus memasang wajah tebal karena semalam ia menangis sangat memalukan yang turut dilihat juga oleh Kris. Ia hanya bisa berharap, Kris akan memahaminya dan tidak akan mengungkitnya.

Ia membuka pintu dengan perlahan dan decitan pintu terdengar jelas oleh Kris yang sedang akan melakukan shooting ke ring basket kemudian menghentikannya sejenak saat melihat kehadiran Rae Yoo.

“Aku ke sini bukan untuk menjadi cheerleader-mu.” ujar Rae Yoo sambil berjalan ke tempat duduk dekat tribun.

“Heii, bukan aku yang berkata seperti itu.” Kris hanya terkekeh kecil dan melanjutkan lemparan bolanya tanpa tahu Rae Yoo tersenyum geli di sana.

“Apa kau tidak bosan selalu bermain sendirian?” tanya Rae Yoo, Kris menoleh kepadanya.

“Tidak buruk juga, mau bermain denganku?” tawar Kris sambil mengangkat bolanya, dan Rae Yoo hanya menyengir kaku.

“Tidak. Aku tidak mau bermain lagi. Basket terlalu melelahkan.”

“Kau pernah berlatih basket?”

“Dulu, sebelum aku mengenal dance. Tidak lama aku langsung mundur dan mempelajari dance.”

“Sudah pasti kau mengetahui beberapa dasar bermain basket, anggap saja kau menemaniku bermain.”

“Aku sudah lupa. Aku tidak mau bermain lagi.”

“Ayolah, kalau tidak anggap saja bernostalgia.”

“Baiklah, tapi ajarkan aku memasukkan bola itu ke dalam ring. Dulu aku selalu gagal memasukkan bola.”

“Tentu saja, karena tinggi badanmu terlalu buruk, jadi aku tidak akan membiarkanmu gagal lagi.”

“Yaaa!”

Kris hanya tertawa puas dan Rae Yoo merengut sambil berjalan ke arahnya dan memukul lengan Kris dengan kesal.

“Yaa, aku bercanda, mian.”

“Palli, ajarkan aku!”

Rae Yoo tersenyum kecil, Kris tidak mengungkit masalahnya tadi malam, dan setidaknya Kris benar-benar membantunya melupakan semua hal-hal tidak penting itu dengan bermain basket bersamanya.

Mereka berdiri tepat di lingkaran depan ring basket, Kris mengajari Rae Yoo untuk melakukan shooting yang benar. Kris yang berada di belakangnya beberapa kali menggeleng keras karena tubuh Rae Yoo yang sangat pendek walau hal itu memudahkannya mengajarinya. Sejenak Kris merasa canggung karena posisi mereka yang terlalu dekat dan Kris harus memegang jari tangan Rae Yoo untuk membenarkannya cara memegang bola. Dan Rae Yoo juga merasakan hal yang sama dengan sentuhan tangan Kris namun kecanggungannya tidak lebih dari yang Kris rasakan.

“Tekukkan kakimu, kemudian kau harus melompat. Ingat, jangan kehilangan fokusmu pada ring basket, kau harus bisa memasukkannya.” ujar Kris tepat di telinga Rae Yoo, kemudian ia menjauh, membiarkan Rae Yoo melakukannya sendiri.

Sesuai arahan Kris, Rae Yoo melempar bolanya dan bola itu pun melambung ke arah ring dan tidak masuk tepat sasaran.

“Jinjja!” umpat Rae Yoo kesal. “Aku tidak mau memasukkannya lagi.” sungutnya meninggalkan tempat berdirinya.

“Baru sekali saja kau menyerah?” Kris mengambil bola basketnya yang menggelinding ke sembarang tempat. “Aku tidak akan mengejek masalah tinggi badanmu lagi jika kau bisa memasukkannya.” ujar Kris, ia bermaksud agar Rae Yoo tidak langsung menyerah walau pada hal kecil.

“Terserah kau saja, memangnya aku peduli.”

‘Astaga, kau bahkan lebih keras dari bola basket ini, kalau kau bukan manusia, sudah kulemparkan ke dalam ring.’

Kris langsung melemparkan bola basketnya ke arah Rae Yoo tanpa aba-aba sama sekali, membuat gadis itu sangat terkejut dan untung saja ia dapat menangkapnya kalau tidak wajahnya bisa saja terluka karena benda bulat itu. Rae Yoo mendecak kesal sambil menatap tajam ke arah Kris, namun lelaki itu bersikap santai dan menunjuk ke arah ring basket, menyuruhnya untuk memasukkan bola sekali lagi ke dalamnya. Dengan kesal, Rae Yoo yang kini berdiri di tengah lapangan melompat dan melemparkan bola itu sekuat mungkin hingga melambung dan masuk tepat pada sasaran.

“Heol~” mulut Kris terbuka, ia tidak percaya dengan yang baru saja di lihatnya barusan.

“Hahaaa, daebak! Kau lihat, kan? Hahaa!” girang gadis itu sambil melompat-lompat. “Ayo kita bertanding!” mendengar Rae Yoo bersemangat sekali, Kris tidak henti-hentinya keheranan.

“Apa kau yakin?”

Rae Yoo mengacuhkannya, ia mengambil bola basket tersebut dan melemparkannya ke arah Kris sama seperti Kris melemparkannya tadi ke arah Rae Yoo tanpa aba-aba apapun. Dan sama beruntungnya, ia dapat menyadari kedatangan bola dan dapat menangkapnya.

“Aku tidak pernah bermain seperti ini. Kau bilang aku tidak boleh menyerah bukan?” tanya Rae Yoo sambil mendekati Kris dan mengambil bola basketnya. Dengan cepat ia berlari menjauhinya membawa basketnya ke tengah lapangan.

Kris mengejarnya dan berusaha merebut bola basket itu dari Rae Yoo, ia merasa sulit karena Rae Yoo benar-benar melindungi bolanya dan terus saja menghalanginya. Dan terlebih ia sangat ragu jika harus melawan Rae Yoo, karena sebelumnya ia tidak pernah bermain secara berdua dengan seorang perempuan, artinya ia harus bermain secara lembut dan semestinya harus mengalah.

“Yaa, kenapa kau tidak bisa merebutnya?” tanya Rae Yoo heran, ia masih melindungi bolanya. Kris tidak menjawab apapun, ia merasa terkalahkan oleh Rae Yoo dan bertekad mengalahkannya.

Hasratnya merebut bola itu terlalu terburu-buru, tanpa sengaja kaki mereka saling tersandung dan jatuh secara bersamaan. Mereka meringis kesakitan pada kaki mereka, dan Rae Yoo membulatkan matanya saat melihat lutut kiri Kris lecet dan mengeluarkan darah karena bergesekkan dengan lantai lapangan.

“Sebentar, aku akan mengobatinya.” ujar Rae Yoo, ia beranjak berdiri dengan kesusahan karena lutut kirinya juga kesakitan, Kris menatapnya khawatir dan ingin menghentikannya namun Rae Yoo tetap berjalan mengambil botol air minum dan tisu di dalam tasnya.

“Rae-yaaa!” Rae Yoo terkejut saat mendengar Kris berteriak memanggilnya, “Lukaku tidak serius!” Kris hendak beranjak.

“Yaa! Tetap disitu!” seru Rae Yoo hingga Kris langsung kembali duduk menurutinya. “Aku hanya membersihkannya saja karena aku tidak punya perban. Kebetulan aku hanya punya tisu.” Rae Yoo berbalik dan berjalan kembali ke arah Kris, ia duduk berhadapan dengan Kris yang menyelonjorkan kakinya.

“Gwaencanha? Bukankah itu bekas cederamu?” tanya Kris memandangnya khawatir.

“Tidak tahu, biasanya di pijat sekali saja sudah membaik.”

“Aku akan memijatnya.” ujar Kris cepat.

“Sebentar, aku harus membersihkan lukamu terlebih dahulu.” seru Rae Yoo seakan tidak ingin di ganggu. Dan ia mulai membersihkannya, tanpa tahu Kris tersenyum simpul melihat ketelatenannya.

“Sudah selesai?” tanya Kris tidak sabaran.

“Yaa, sabarlah!” Rae Yoo sedikit menggertaknya.

“Kenapa kau tidak ada sopannya kepadaku, bukankah aku sunbaenim-mu?” tanya Kris sengit.

“Kau pernah bilang untuk tidak bersikap formal denganmu. Maka dari itu, sejujurnya aku tidak nyaman memanggilmu sunbae.” jelas Rae Yoo dan menyelesaikan membersihkan luka di lutut Kris.

“Jujur sekali.” ledek Kris. “Mana kakimu?” tanyanya kemudian, Rae Yoo menggeser kakinya mendekat ke kaki kiri Kris. “Aneh sekali mengapa harus kaki kiri kita yang terluka?” heran Kris mulai memijati kaki Rae Yoo.

“Kau yang ikut-ikutan. Kaki kiriku sudah lama cedera, tapi kaki kirimu baru saja terluka.” celoteh Rae Yoo menuduhnya.

“Ini naas, kau tahu!”

***

Sebenarnya Chanyeol sudah memiliki janji dengan Hyemin untuk datang bersama ke agensi mereka untuk berlatih kembali, maka dari itu Ia sengaja tidak pulang terlebih dahulu. Ini merupakan suatu kesempatan bagus untuknya karena ia bisa pergi secara berdua dengan Hyemin.

“Chanyeol-ah! Apa kabar? Sudah lama tidak melihatmu disini! Kau juga, Hyemin-ah!” seru salah seorang teman mereka saat baru saja memasuki agensi.

Chanyeol hanya tersenyum setengah terpaksa dan memegang pundaknya, Hyemin menatap ke arah Chanyeol sejenak, bertanya-tanya apakah benar Chanyeol tidak pernah berlatih selama ia pergi. Chanyeol langsung merangkulnya dan menuntunnya berjalan ke arah tujuan ruangan mereka.

“Waah, oppa, aku sangat merindukan tempat ini!” kagum Hyemin saat membuka salah satu ruangan latihan yang kosong yang sering mereka pakai, tempat itu tidak ada perubahan setelah 1 tahun di tinggalkan oleh Hyemin.

“Nado..” gumam Chanyeol tanpa suara, bahkan Hyemin tidak mendengarnya.

“Kalau sudah seperti ini, aku akan sering-sering berlatihan disini.” ujar Hyemin riang dan Chanyeol tersenyum melihat keantusiasannya.

“Apa kau tidak berlatih dance?” Chanyeol mengambil gitar dari dalam tempatnya.

“Aniyo, aku merindukan permainan gitarmu.” ujar Hyemin seolah memintanya untuk memainkannya.

“Ok. Aku akan memainkannya sambil menyanyikan sebuah lagu, kuharap kau mendengarnya dengan baik.” ujar Chanyeol dan Hyemin mengangguk mengerti. Sebelum memulai, hanyeol menarik nafas secara singkat, nyanyiannya kali ini adalah ungkapan perasaannya yang tidak pernah ia sampaikan secara langsung, ia masih ingin menemukan waktu yang tepat untuk mengutarakan secara gamblang kepadanya.

You, do you remember? (Kau, apa kau mengingatku?)

Like I remember you? (Seperti aku mengingatmu?)

Do you spend your life? (Apa kau menikmati hidupmu?)

Going back in your mind to that time? (Mengembalikan ingatanmu ke waktu itu?)

‘Cause I, I walk the streets alone (Karena aku, aku berjalan-jalan sendirian)

 

I hate being on my own (Aku benci diriku)

And everyone can see that I really fell (Dan setiap orang dapat melihatku yang benar-benar jatuh)

And I’m going through hell (Dan seolah aku melewati neraka)

Thinking about you were somebody else (Memikirkan tentangmu yang mungkin sudah bersama orang lain)

 

Somebody wants you (Seseorang menginginkanmu)

Somebody needs you (Seseorang membutuhkanmu)

Somebody dreams about you every single night (Seseorang memimpikanmu setiap malam)

Somebody care for you, without you it’s lonely (Seseorang mempedulikanmu, tanpamu, itu hanya kesendirian)

Somebody hopes that one day you will see (Seseorang berharap suatu hari kau akan melihat)

That somebody’s me (Bahwa seseorang itu adalah aku)

 

How, how could we go wrong? (Bagaimana, bagaimana kita selalu salah?)

It was so good and now it’s gone (Dulu sangat baik dan sekarang itu hilang)

And I pray at night that our paths soon will cross (Dan aku berdoa di malam hari bahwa jalan kita akan terseberangi)

And what we had isn’t lost (Dan apa yang kita miliki tidak hilang)

‘Cause you’re always right here in my thoughts (Karena kau selalu berada disini di pikiranku)

 

Somebody wants you (Seseorang menginginkanmu)

Somebody needs you (Seseorang membutuhkanmu)

Somebody dreams about you every single night (Seseorang memimpikanmu setiap malam)

Somebody care for you, without you it’s lonely (Seseorang mempedulikanmu, tanpamu, itu hanya kesendirian)

Somebody hopes that one day you will see (Seseorang berharap suatu hari kau akan melihat)

That somebody’s me (Bahwa seseorang itu adalah aku)

Chanyeol mengakhiri nyanyian dan petikan gitarnya. Ia rasa sudah cukup mengungkapkan isi hatinya walau tidak secara langsung, tapi ia berharap Hyemin akan mencernanya. Hyemin masih terkesima dengan pesona Chanyeol yang sangat keluar jika sedang bermain gitar. Sementara itu Chanyeol tidak tahu bahwa Hyemin masih berpikir keras ingin mengetahui arti dari setiap baris lirik yang dinyanyikannya, hanya beberapa bagian yang ia ketahui, tidak keseluruhannya. Ia menggerutu kesal di dalam hati karena kemampuan berbahasa Inggris-nya masih belum terlalu bagus.

“Otte?” tanya Chanyeol ia menunggu respon Hyemin.

“Sangat bagus, oppa! Suaramu saat bernyanyi semakin bagus, aku tidak menyangka kemampuanmu meningkat!” seru Hyemin memuji Chanyeol, menutup keingintahuannya dengan menyampaikan pujian yang sejujurnya dari hatinya.

“Apa kau tahu setiap liriknya?” Chanyeol menyengir seakan menangkap apa yang Hyemin pikirkan.

“Tentu saja aku tahu!” tanggap Hyemin cepat, dan Chanyeol masih terkekeh kecil. “Tapi aku tidak pernah mendengar lagu ini, saat kau yang menyanyikannya terdengar bagus.” komentar Hyemin hingga Chanyeol merasa sangat puas dan bangga dengan dirinya sendiri.

‘Lebih baik aku tanyakan pada Rae Yoo saja, sepertinya dia tahu lagu ini.’ batin Hyemin dan menyeringai ke arah Chanyeol.

***

“Yoo-ya, jam 4 nanti kita akan mengerjakan tugas, di tempat biasa.” ujar Kris kepada Rae Yoo yang berada di sampingnya, Chanyeol menaikkan alisnya dan tersenyum walau dalam keheranan.

“Sejak kapan Kris memanggilnya dengan nama singkat? Bahkan aku saja tidak pernah.” pikir Chanyeol, dan supir di sebelahnya ikut tersenyum melihat perkembangan 2 orang dingin di belakangnya.

“Tugas lagi? Haiiishh..” umpat Rae Yoo merasa jenuh.

“Kemarin kita sudah mendapatkan A+.”

“Jinjja?” Rae Yoo membulatkan matanya tidak percaya.

“Apa kau tidak ingin mendapatkan nilai berharga itu lagi?” tanya Kris.

“Tentu saja aku mau!” jawab Rae Yoo semangat, dan Chanyeol berpura-pura mendeham bermaksud mengganggu mereka.

“Sepertinya kau lupa meminum obat batuk.” sergah Kris yang kembali membalas Chanyeol.

“Ne?” Chanyeol berpura-pura bingung dan Rae Yoo segera mendorong tubuhnya dari belakang.

“Aku tahu siasatmu, oppa!”

***

Rae Yoo berjalan ke salah salah satu gedung practice-nya, ia tidak sengaja melihat Hyemin dan Kai yang sedang berjalan secara berdua. Ia memerhatikan Kai yang akan merangkul Hyemin namun Hyemin langsung menyingkirkan tangannya dan langsung memasang raut wajah kesal.

“Ya! Tanganmu berat, jangan kau letakkan di bahuku!” umpat Hyemin dan Kai tersenyum hambar.

“Mian, begitu saja kau marah.” ujar Kai, dan Hyemin terkekeh kecil.

“Kau kan tahu, aku paling tidak suka jika kita sedekat ini di perkarangan kampus.” jelas Hyemin, dan Kai mengangguk mengerti.

“Araa..”

“Yaa, ada apa denganmu? Apakah ada sesuatu yang terjadi?” tanya Hyemin yang merasa tidak nyaman dengan raut wajah Kai yang sangat murung hari ini, tidak seperti biasanya.

“Aniyo.. jangan khawatir.” Kai memaksakan dirinya untuk tersenyum dan kemudian Hyemin tidak ingin menanyakan apapun lagi, mengira ada sesuatu yang di simpannya dan tidak ingin membagikan kepadanya.

Kai memandang Hyemin, ia mendesah kecil, “Kapan aku akan jatuh cinta kepadamu, Choi Hyemin?” batin Kai, ia masih tidak terlepas akan bayang-bayang Rae Yoo, gadis itu benar-benar kelemahannya. Kehadiran Hyemin sama sekali tidak mempengaruhinya untuk terlepas dari rasa cintanya kepada Rae Yoo, ia tidak tahu akan seberat ini ia mencoba untuk melupakannya dan menjadi hal yang tersulit yang pernah di hadapinya.

Kemudian Kai menoleh dan melihat Rae Yoo yang sudah berjalan mendahului langkah mereka. Ia terpaku sesaat menatap Rae Yoo yang semakin menjauh, gadis itu mampu menyayat hatinya secara perlahan-lahan sejak malam itu.

“Wae geurae?” tanya Hyemin melihat Kai yang termenung dan Kai tersadar dari pikirannya.

“Aniyo, kajja!”

.

.

Rae Yoo berlatih secara berdua bersama Sehun. Gerakan mereka semakin hari semakin berkembang baik dan tampak sepertinya mereka akan bisa meraih kemenangan di kompetisi nanti. Rae Yoo mengikuti setiap perintah Sehun dengan serius, aura dinginnya berkuar dengan ekspresinya yang datar, gadis itu tampak sulit untuk mengeluarkan setidaknya satu senyum saja selama berlatih, pemandangan tadi membuatnya bad mood seketika dan Sehun tidak merasa nyaman dengan hal ini.

“Apa yang terjadi denganmu?” sergah Sehun di sela-sela latihan mereka.

“Aniyo.” jawab Rae Yoo singkat dengan senyum yang di paksakan.

“Apa kau yakin?” tanya Sehun yang menangkap ekspresinya yang berkebalikan dengan jawabannya.

“Yakin, 100%!” seru Rae Yoo menganggukkan kepalanya berkali-kali menunjukkan keyakinannya yang kuat.

“Baguslah. Ayo kita akhiri saja latihan hari ini. Aku ingin mengajakmu makan es krim di suatu tempat.”

“Tapi aku sudah pernah bolos, bagaimana jika Lay sunbae akan menegurku dan…”

“Tenang saja, dia sangat memahamiku, dan ia tahu bahwa kita akan mengikuti kompetisi.”

“Tapi oppa…”

Lagi-lagi Sehun memotong perkataannya, “Jangan menolak. Setelah ini kau tidak memiliki kegiatan lagi, kan? Beritahu Chanyeol hyung untuk tidak menjemputmu, karena aku yang akan mengantarmu pulang ke rumah.”

“Oppa…” panggil Rae Yoo benar-benar memohon, ia tidak bisa terlepas dari janjinya dengan Kris yang merupakan hal sangat penting.

“Ikut aku!” Sehun hanya tertawa riang sembari merangkul Rae Yoo seolah menyeretnya dengan paksa agar mengikutinya. Mereka berpapasan dengan Kai dan Hyemin yang baru saja masuk ke ruangan. Seketika Rae Yoo tertawa nyaring ke arah Sehun, namun tawanya seakan mengejek Kai yang memasang raut wajah kelam dan terfokus pada tangan Sehun yang merangkul Rae Yoo.

“Eonni-ya, aku pergi dulu.” Rae Yoo menyapa Hyemin yang membalasnya dengan cengiran yang kaku. Sehun melirik ke arah belakang dan mengucapkan ‘aku berhasil’ tanpa suara, ia tersenyum penuh kemenangan.

‘Terasa sakit, bukan? Inilah bagaimana aku cemburu.’ Rae Yoo menyeringai kecil atas kepuasan hatinya.

.

.

Sehun membawa Rae Yoo ke tempat restoran es krim yang tidak jauh dari kampus mereka. Ini pilihannya yang tepat membawanya ke tempat ini untuk merasakan hal yang manis-manis sebagai obat untuk mengurangi kejenuhan yang ada pada diri gadis itu.

“Rasa coklat!” Sehun memesan, “Kau mau rasa apa?” ia bertanya kepada Rae Yoo yang terlihat ling-lung.

“Samakan saja dengan pesananmu.” putus Rae Yoo setelah merasa bingung. Ia tidak memiliki rasa suka yang spesifik pada es krim, dan ia tidak tahu bahwa Sehun merasa senang karena ia menduga bahwa Rae Yoo menyukai rasa yang sama seperti dirinya.

“Aku baru pertama kali datang ke sini.” ujar Rae Yoo saat mereka baru memilih tempat duduk dekat kaca yang menghadap ke luar.

“Benarkah? Artinya aku tidak salah mengajakmu ke sini.” kagum Sehun merasa sangat senang, Rae Yoo hanya tersenyum membalasnya.

Es krim mereka datang, dan Sehun langsung melahapnya seperti anak kecil yang tidak pernah memakan es krim sebelumnya. Rae Yoo hanya menyengir geli melihat tingkah Sehun yang cukup kekanakkan, lelaki itu seakan tidak tahu bahwa ia sedang berdua dengan seorang gadis dan tidak bisa mengontrol sifat aslinya yang keluar begitu saja.

“Oppa, apa kau tidak bisa pelan-pelan?” tegur Rae Yoo dan Sehun berhenti melahap es krimnya.

“Ne?” tanya Sehun kikuk, Rae Yoo terkekeh kecil sembari memberikan serbet. Rae Yoo menunjuk bibir bawah miliknya dan kemudian menunjuk Sehun, mengabanya bahwa ada noda di bagian bibir bawah Sehun.

Raut wajah Sehun semakin menunjukkan pertanyaan, ia tidak memahami dan kini Rae Yoo hanya tertawa, Sehun tidak bodoh namun betapa lucunya tingkahnya yang tidak terduga ini.

“Bersihkan es krim yang menempel di bibir bawahmu, oppa.” jelas Rae Yoo yang masih terkekeh kecil, akhirnya lelaki itu menyadarinya dan segera mengambil serbet dan membersihkannya.

Sehun tersenyum malu, ia dapat merasakan rongga pipinya mulai memanas. Ia tidak memahami arahan Rae Yoo, ia mengira Rae Yoo menyuruhnya untuk mencium bibirnya karena gadis itu menunjuk bibir miliknya sebelumnya.

“Kau tidak perlu terburu-buru, oppa. Ini bukan musim panas, jadi es krim-mu tidak akan cepat meleleh.” ujar Rae Yoo, dan membuat senyum Sehun mengembang mendengar gadis itu banyak memberikan teguran, hal yang jarang dilakukannya untuknya.

“Baiklah, nona Kang.” Sehun mengangguk sambil tersenyum. “Apa kau suka menikmati es krim di sini?” tanyanya.

“Suka, disini begitu nyaman, tidak terlalu ramai, es krimnya juga lumayan lezat.” ungkap Rae Yoo dan Sehun tersenyum bangga, seakan ia tidak gagal mengajaknya ke sini, secara berdua.

.

.

“Gomawo, oppa.” ucap Rae Yoo saat turun dari mobil. Sehun turut keluar juga dan mengikutinya.

“Gomawo. Aku yang harus mengatakannya.” ujar Sehun dan Rae Yoo mengedipkan kedua matanya dengan singkat.

“Tidak, tidak sekarang..”

“Hari ini tampaknya kita sehabis berkencan. Mengajarimu dance, memakan es krim secara berdua, dan setelah itu mengantarmu pulang sampai di rumah dengan selamat.” Sehun tersenyum tulus, “Tampaknya sedikit berlebihan, tapi aku tidak ingin pulang karena aku merasa lelah dan harus merindukanmu untuk kesekian kalinya, walau keesokan harinya ada beberapa alasan untuk kita bertemu.”

Rae Yoo tidak berani menatap Sehun, ia memandangnya sekali dan mencoba melihat ke arah lain yang tepat namun nihil baginya, Sehun seakan menjeratnya dengan tatapannya yang lekat. Ia memegang pundak Rae Yoo sambil mendekati wajahnya dan mengecup keningnya dengan lembut. Rae Yoo membulatkan matanya, berharap ini hanyalah mimpi dan ia ingin dibangunkan segera untuk memastikan bahwa ini tidak terjadi.

“Masuklah dan cepatlah tidur. Semoga kau mimpi indah, dan kuharap aku dapat singgah di sana untuk berhenti merindukanmu. Annyeong..” pesan Sehun sebelum masuk ke dalam mobil, ia benar-benar menyempurnakan hari ini dengan kecupan di keningnya sebagai perpisahan sementara hari ini, seolah mereka memang telah berkencan.

Mobil Sehun melaju menjauh dari tempatnya. Namun mobil lain yang familiar lewat di depannya dan berhenti di sebuah rumah yang berjarak lumayan jauh darinya hingga hanya meninggalkan semburat cahaya dari lampu mobilnya saja yang terlihat olehnya. Walau cukup jauh, Rae Yoo terus melihat mobil itu dan keluar sosok seseorang dari dalamnya. Walau tampak seperti bayangan, ia mengenalinya dari bentuk tubuhnya. Gadis itu menyadari sesuatu hingga segera berpaling dan masuk ke dalam pagar rumahnya.

“Apakah itu Kris?”

Kini ia hanya merasa takut, ia takut dengan janji yang tidak sengaja ia abaikan hanya karena Sehun. Daripada rasa bahagia setelah menghabiskan waktu seharian bersama Sehun, ia lebih takut karena mengingkari janjinya kepada Kris, ia tidak bisa mengira bagaimana reaksi Kris, dan sebaiknya ia mempersiapkan dirinya untuk menghadapi lelaki itu besok.

***

Seperti biasanya, Rae Yoo menunggu jemputannya dengan tepat waktu. Mobil datang, ia langsung masuk ke dalam mobil dan mendapati Kris seperti biasanya di sampingnya. Rasa takutnya kembali, ia beralih sebentar dan melihat ke kursi depan yang kini kosong, yang biasa di tempati oleh Chanyeol.

“Ajussi, Chanyeol oppa eodisseoyo?”

“Dia tidak masuk, katanya ada keperluan mendadak jadi hari ini dia tidak berangkat ke kampus.”

Rae Yoo sedikit merengut, ia merasa bingung karena seakan terjepit dengan keberadaan Kris, seharusnya Chanyeol disini untuk mencairkan suasana mereka. Rae Yoo berdeham dan memutuskan untuk membuka suaranya terlebih dahulu.

“Kris..”

“Kemana saja kau kemarin?” potong Kris dengan suara dalamnya yang seakan mengintimidasinya, Rae Yoo semakin takut melihat mata Kris yang terlihat penuh amarah.

“Kau tidak menelponku, setidaknya kau mengingatkanku.” Rae Yoo berusaha membela dirinya.

“Bukankah ini hal yang sangat penting?” ucap Kris sakartis.

“Aku tahu ini sangat penting bagimu, tapi maafkan aku, aku lupa.” Rae Yoo benar-benar sedang berbohong dengannya.

“Ini juga penting bagimu, jadi untuk apa kegunaan partner jika sia-sia seperti ini? Apa kau bisa membayar lagi waktuku?”

“Yaa…” panggil Rae Yoo pelan.

“Apa aku bisa mempercayaimu lagi setelah ini?” tanya Kris kecewa.

“Kau benar-benar tidak memaafkanku?”

“Bagaimana aku bisa mempercayaimu, aku tidak tahu apakah kau benar-benar lupa atau sekarang sedang membohongiku.” ujar Kris dan membuat Rae Yoo terdiam. “Kau bilang kau menyerah, tidak akan mencoba menyukai siapapun lagi setelah Kai mempermainkanmu. Dan lihat di sini siapa yang benar-benar terbodohi dan tidak bisa menjaga ucapannya sendiri.” Kris merecokinya.

“Apa maksudmu?!” seru Rae Yoo tidak mengerti.

“Kau memiliki 2 partner, dan kau lebih menyukai dance, bukan? Tentu saja dengan suatu hal yang tidak kau sukai, kau menganggapnya tidak penting dan melupakannya.” telak Kris hingga Rae Yoo memikirkan sosok semalam yang di lihatnya.

‘Benar, ternyata dia.’ batin Rae Yoo, “Kau benar sekali. Aku memang lebih memilih dance daripada jurusanku sendiri.” tanggapnya dengan nada meninggi.

“Aku tidak salah lagi. Setelah aku berpikir, sebaiknya kita tidak perlu bekerja sama lagi.”

“Andwae…” gumam Rae Yoo seakan langsung terpatahkan oleh ucapan Kris tadi.

“Aku tidak berhak mencampuri urusanmu, sepertinya kau merasa terganggu akan kehadiranku. Kau boleh menggantiku dengan partner lain, kemudian aku akan mundur dari projek ini, aku tidak ingin memiliki partner yang mengecewakan lagi.”

“Tidak, kau tidak boleh mundur. Maafkan aku.”

Kris menatapnya sejenak, kemudian beralih mengabaikannya. “Ajussi, hentikan mobilnya, aku turun disini.” perintah Kris dan Rae Yoo menatapnya tidak percaya.

“Ini belum sampai di kampus.” ucap sang Supir dengan kaku, karena mendengar pertengkaran mereka.

“Tujuanku bukan kesana. Berhenti di sini saja.” Kris mengontrol nada suaranya untuk tetap menjaga kesopansantunannya kepada supir paruh baya itu.

Rae Yoo tidak mampu mengeluarkan kata apapun lagi dan menatap Kris dengan pandangan memohon atas kesalahannya. Ia tidak menyangka Kris telah sekecewa ini terhadapnya. Ia kira dengan 1 kesalahan saja dapat di perbaiki kembali namun ia tidak mendapatkan kesempatan berharga itu yang sebelumnya ia sepelekan.

Setelah mobil diberhentikan di suatu pinggir jalan, Kris dengan cepat membuka pintu mobilnya dan secepat itu juga tangan kirinya di tahan oleh Rae Yoo. Kris membulatkan matanya dan melihat tangannya.

“Kau harus tahu satu hal bahwa aku tidak memiliki satu niat pun untuk menyukai lelaki di sekitarku. Aku menjelaskan hal ini agar kau tidak salah paham lagi. Dan Kim Jongin, jangan menyebut namanya di hadapanku lagi.” jelas Rae Yoo dengan nada yang terdengar tajam dan Kris memandangnya dengan dingin.

“Kuharap kau akan memedulikan suatu hal yang penting, karena hal itu juga akan menguntungkanmu.” balas Kris seakan berpesan.

Rae Yoo perlahan melepaskan tangan Kris, membiarkannya pergi begitu saja. Kris sudah bulat dengan keputusannya, tidak ada yang bisa menetralkan apa yang diambilnya. Tatapan amarahnya tertuju pada mobil yang menjauh darinya.

Di dalam mobil, Rae Yoo mengambil beberapa lembar tugas yang baru saja di tinggalkan Kris dengan soal dilengkapi jawaban yang sudah terselesaikan. Ia menatap nanar kepada lembaran-lembaran tersebut.

“Aku tidak pernah merasa sebersalah ini kepada seseorang.”

– TBC –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s