FF “A Dumber” [Chapter 6]

a dumber 2nd poster

Title : A Dumber [Chapter 6]

Author : Sabriena2Dgirl

Cast :

Main Cast

  • Kris [Wu Yi Fan]
  • Kang Rae Yoo

Support Cast

  • Park Chanyeol
  • Oh Sehun
  • Kai [Kim Jongin]
  • Choi Hyemin

Genre : Campus Life, Romance, Sad, Humor

Rating : PG-13

PS : Chapter ini bener-bener comebacknya saya setelah lama hiatus. Never forget, 8 Februari 2015 hari ini adalah hari dimana Kris dan Luhan comeback, anggap aja fanfic yg saya post hari ini dalam rangka menyambut kebersamaan Kris dan Luhan dalam kondisi solo :’)

HAPPY READING ^^

***

“Selamat, tetap pertahankan kerjasama dan nilai kalian.”

“Saem, apa Kris yang memintamu untuk memberitahukan hal ini kepadaku?”

“Iya, maka dari itu aku menghubungimu agar kau mengambil tugas selanjutnya. Sepertinya dia memiliki keperluan, apa kau tahu dia pergi kemana?”

“Dia tidak mengatakan apapun kepadaku.” Rae Yoo terkekeh tanpa minat. “Kalau begitu, kamsahamnida, saem.” Rae Yoo membungkuk, berpamit sebelum keluar dari ruangan akademik.

Rae Yoo menatap lembaran kertas di tangan kanannya yang baru di dapatnya bertuliskan A dan lambang plus disana, nilai itu sangat mengagumkan namun Rae Yoo menatapnya gusar. Lalu tatapannya berganti ke tangan kirinya yang memegang lembaran soal yang baru di dapatnya. Ia ingin marah namun hanya bisa menahannya dengan menggigit bibir bawahnya, artinya ia harus mengerjakannya secara sendirian, tanpa Kris. Sepertinya ia harus tersiksa dengan semua tugas yang menimpanya dalam semingguan ini.

2 hari telah berlalu. Sehari setelah Kris mengeluarkan emosinya kepadanya, ia merasa baik-baik saja. Dan setelahnya, ia merasa cemas tanpa kehadiran Kris yang selalu mengisi tempat duduk di sampingnya di dalam mobil. Ia tidak tahu kekosongan itu terasa sangat hampa dan seolah ingin mencekik dirinya sendiri akan kesalahannya yang membuatnya pergi tanpa kabar apapun. Ia bahkan sempat mengecek lapangan basket indoor dan tetap tidak menemukannya disana. Rae Yoo sudah menceritakan semua yang baru saja terjadi kepada Chanyeol dan ia juga menanyakan tentang keberadaan Kris yang sayangnya tidak Chanyeol ketahui. Ia berkali-kali menduga bahwa kepergian Kris di sebabkan olehnya.

Apa kau benar-benar tidak memaafkanku?

Aku memang salah, mungkin maaf saja tidak cukup bagimu. Bukankah baiknya aku menjelaskan hal ini kepadamu agar kau memahami dan berubah pikiran lalu memaafkanku?

Can you tell me, where did you go?

Sudah 3 pesan yang Rae Yoo kirimkan ke Kakao Talk-nya, satu di akhir adalah pesannya hari ini. Pesan sebelumnya terlihat sudah di baca oleh Kris maka ia tidak akan putus asa, berharap setidaknya ia melihat bahwa Rae Yoo sudah sangat berusaha untuk meminta maaf darinya.

Seperti biasanya Rae Yoo menunggu jemputan Chanyeol di perkarangan kampus, ia mendongak saat mendengar klakson mobil yang sehari-harinya memanggilnya untuk pulang.

“Rae Yoo-ya, chamkan!” ia menoleh ketika mendengar seseorang memanggilnya yang ternyata sedang berlari ke arahnya saat ia mulai beranjak dari bangkunya.

“Sehun oppa?” Rae Yoo keheranan dan lelaki itu berhenti sambil memegang sebelah bahu Rae Yoo untuk menopang tubuhnya yang kelelahan, sibuk mengatur nafasnya.

“Sepertinya kau ingin mengatakan sesuatu, sebaiknya duduk saja, dan atur nafasmu terlebih dahulu.” ujar Rae Yoo sambil menarik lengan Sehun, menyuruhnya untuk duduk, lelaki itu tersenyum.

Rae Yoo memberikan isyarat kepada Chanyeol yang melongokkan dirinya dari jendela untuk menunggunya sebentar karena tampaknya Sehun memiliki keperluan dengannya.

“Ada apa, oppa?” tanya Rae Yoo menghadap ke Sehun.

“Aku merindukanmu.” jawab Sehun secara gamblang, reaksi Rae Yoo hanya berada di matanya. Seharusnya ia menunjukkan reaksi yang lebih besar terhadap lelaki tampan seperti Sehun. Lelaki itu tertawa kecil, “Shireo?”

“Gomawo.” sahutnya dengan senyum dipaksakan dan Sehun hanya tersenyum maklum atas sikap dingin gadis itu.

“Aku bukan ingin mendengarmu berterima kasih, setidaknya kau mengatakan hal yang sama.” jelas Sehun hingga Rae Yoo memajukan bibirnya kesal.

“Hanya ini yang ingin kau katakan?” tanya Rae Yoo, seakan ingin pulang cepat-cepat, Sehun dapat mencerna kata-katanya yang di sampaikan kepadanya tanpa minat.

“Tentang latihan. Sudah 2 hari kau melupakannya dan hari ini juga. Kembalilah.” akhirnya Sehun mengungkapkan inti dari keinginannya.

“Oppa, aku….” Sehun memotongnya.

“Aku menelponmu, kau tidak menjawabnya. Aku ingin menanyakan kenapa tiba-tiba saja kau tidak datang untuk latihan, biasanya kau menghubungiku jika tidak datang. Aku ingin menanyakan alasanmu sekarang tetapi sepertinya kau tidak ingin menceritakannya kepadaku dari telepon yang tidak kau jawab.”

Rae Yoo hanya terkelu.

“Lay hyung akan mengumumkan sesuatu dan besok aku memaksamu untuk datang lebih awal agar kita bisa berlatih.” ucap Sehun dan langsung beranjak berdiri. “Chanyeol hyung sudah menunggumu.”

Gadis itu hanya mendongak dengan pandangan kosong melihat Sehun menarik tangannya untuk berdiri. “Pulanglah.” seperti sebuah boneka, Sehun memutar tubuh Rae Yoo dan mendorongnya agar berjalan ke arah mobilnya. Ia menoleh ke belakang melihat Sehun yang melambaikan tangannya dengan penuh semangat, rasa bersalah kini merambatnya kepada Sehun, ia segera menutupinya, berpaling kembali berjalan dengan pelan.

“Kuharap kau baik-baik saja, Rae Yoo-ya.” gumam Sehun yang merasa khawatir.

Chanyeol mengambil tempat duduk di samping Rae Yoo. Ia duduk di sana sejak Rae Yoo memintanya untuk menemaninya. Sejujurnya Chanyeol merasa keheranan mengapa sepupu kesayangannya itu bisa berubah drastis sejak kepergian Kris, dari kebiasaannya mendengar lagu dengan earphone kini tidak dipasangnya, melainkan mengajak Chanyeol berbicara dan menyuruhnya bertingkah lucu seakan Chanyeol adalah pelawak pribadinya.

“Sepertinya ada yang menyukai anakku. Tetapi anakku menghiraukannya.”

Rae Yoo tertawa lepas mendengar celotehan Chanyeol, lelaki itu benar-benar sukses menjadi ayah keduanya setelah ayah kandungnya.

“Tampaknya Sehun sangat tulus. Apa kau memang menggodanya?”

“ANIIII!” seru Rae Yoo seraya memandang sebal kepada Chanyeol.

“Aku hanya bertanya.” Chanyeol menyerah lalu menopang sikunya di pintu mobil.

“Ia terlalu baik, aku harus berpikir 2 kali.”

“Karena Kris hyung?” Chanyeol seakan memancingnya.

“Aku memiliki banyak tugas, dan kau jangan membuat otakku semakin pecah. Si tower bodoh itu juga tidak kembali-kembali. Lihat saja jika ia pulang kesini, aku akan menenggelamkannya di sungai Han!”

Chanyeol memandang seram kepada Rae Yoo, ini kesekian kalinya ia berkata pedas namun kali ini Chanyeol merasakan hal yang lebih menyeramkan seakan gadis itu ingin menelan Kris hidup-hidup.

“Kau masih tidak bisa menghubunginya?”

“Dia tidak menghubungiku dan panggilanku tidak diangkat olehnya.” jelas Chanyeol sambil memperlihatkan ponselnya dan di sana terdapat daftar panggilan Chanyeol yang tidak diangkat oleh Kris. “Daebak, sebelumnya Kris hyung tidak pernah semarah ini, sepertinya dia sangat membencimu.”

Rae Yoo mendesah geram dan memalingkan wajahnya menghadap jendela di sampingnya.

“Mengapa diantara kalian tidak ada yang berkepala dingin? Apa kau yakin Kris hyung marah hanya karena kau tidak menepati janjinya untuk mengerjakan tugas?”

Mendengar pertanyaan Chanyeol, Rae Yoo menoleh kepadanya dengan pandangan bertanya-tanya. Apa benar ada hal lain yang membuat Kris marah kepadanya? Pikirnya.

“Aku tidak tahu.” gumamnya kikuk seraya kembali menghadap jendela di sampingnya.

***

Sesuai permintaan Sehun, Rae Yoo datang lebih awal ke ruangan practice untuk latihan mereka, ia menurutinya karena sepertinya Sehun memiliki ambisi yang besar untuk mengikuti kompetisi ini. Kai selalu ditunjuk untuk mengikuti kompetisi itu, dan kini Lay, ketua club mereka memberikan kesempatan kepadanya untuk berusaha mengungguli keahlian Kai.

Mereka berlatih selama 1 jam setengah yang dipenuhi dengan koreksi gerakan dan latihan yang benar-benar serius. Mereka kelelahan hingga keringat bercucuran dari sekujuran tubuh. Rae Yoo mengambil tasnya dan mencari handuk di dalamnya.

“Arghh, aku lupa membawa handukku!” seru Rae Yoo kesal di ujung ruangan.

“Mau pakai handukku tidak?” Sehun mengambil handuk dari dalam tasnya dan mengulurkannya kepada Rae Yoo.

“Tidak apa-apa, kau tidak bisa mengelap keringatmu jika aku pakai punyamu.” Rae Yoo menolak dan Sehun tersenyum tulus.

“Kau seorang perempuan, jadi harus terlihat bersih.” Sehun mendekatinya dan mengelap keringat Rae Yoo yang berada di sekitar wajahnya. Tangan Sehun berhenti di pipinya dan menangkap mata Rae Yoo yang sedari tadi melihatnya. Mata mereka bertemu, dan gadis itu segera menurunkan pandangannya dengan kelabakan. Sehun menyeringai mendapati kegugupan gadis itu terhadapnya.

Kejadian manis itu telah dilihat oleh Kai. Awalnya ia membuka sedikit pintu ruangan dengan celah kecil, ia tidak bisa bertahan dan langsung membuka pintu dengan lebar. Sehun dan Rae Yoo terkejut akan kehadiran Kai, namun hanya Rae Yoo yang melangkah mundur menjauh dari Sehun. Kai berdeham sebelum melangkah mendekati mereka yang masih memasang raut wajah yang telah tertangkap basah.

“Ka-kalian sudah lama?” tanya Kai merasa canggung diantara mereka, dan sebenarnya Rae Yoo yang kini lebih merasa canggung dengan pandangannya yang tidak menentu melihat ke arah Kai, lalu pada Sehun, lalu menghindari kontak mata mereka.

“Iya, tadi kami berlatih lebih dulu karena sudah 3 hari Rae Yoo tidak kesini.” jawab Sehun dengan nada santai.

“Ohh, benarkah?” tanya Kai menoleh ke arah Rae Yoo, dan Rae Yoo hanya mengangguk mengisyaratkan bahwa hal itu benar.

“Ahh, semua sudah datang. Sebaiknya kita duduk saja di sana.” ujar Sehun yang langsung merangkul Rae Yoo mengajaknya duduk untuk bergabung dengan yang lainnya.

Kai tidak tahan melihat kedekatan sahabatnya dengan orang yang sangat di sukainya, ingin rasanya menarik Rae Yoo untuk berhenti berhubungan dengan Sehun, walau bagaimanapun sulit baginya karena persahabatannya dengan Sehun adalah yang lebih berharga. Ungkapan cintanya kepada Rae Yoo beberapa lalu adalah kesalahannya, ia tahu bagaimana resikonya yang akan terjadi sewaktu-waktu dan ia sudah bersiap menanggung segalanya.

Semua anggota club sudah berkumpul hingga Hyemin adalah anggota terakhir yang terlambat datang, ia langsung mengambil tempat duduk di samping Kai yang memang kosong. Hyemin menundukkan kepalanya berkali-kali kepada semua orang atas keterlambatannya, lalu ia menyengir kaku saat melihat keberadaan Rae Yoo di antara Sehun dan Kai, namun Rae Yoo membalas senyumnya dengan santai. Hyemin berpikir ini pertama kalinya Rae Yoo melihatnya bersama Kai di tempat yang sama, ia tidak tahu mengapa ia merasa gelisah dengan hal ini sejak Rae Yoo menanyakan hubungannya dengan Kai.

“Sesuai janjiku kemarin, aku akan mengumumkan sesuatu dan ini adalah kabar gembira untuk kalian semua.” ujar Lay, selaku sunbae mereka dan para anggota menunggu penuh antisipasi.

“Cepat katakan, hyung!” sahut Sehun tidak sabar.

“Hmm, kalian mau tidak sabtu ini kita ke pantai dan menginap satu malam, kemudian kita kembali di siang hari? Anggap saja ini pelepas lelah kalian selama berkuliah.” jelas Lay dan wajah para anggota tampak lebih cerah setelah mendengarnya.

“Pasti menyenangkan sekali!” seru Hyemin antusias.

***

“Ke pantai? Sudah pasti Hyemin akan ikut, bukan?” tanya Chanyeol dengan mata yang berbinar, mereka baru saja pulang kuliah.

“Jadi kau ingin ikut?” tanya Rae Yoo menaikkan alisnya.

“Kau benar-benar memahami ayah keduamu ini.” Chanyeol mendekati Rae Yoo dan mencubit kedua pipinya.

“YAA! Kau gila! Kau bahkan bukan anggota dari dance club!” pekik Rae Yoo kesal sambil memegang kedua pipinya yang perih.

“Katakan saja kau harus ditemani oleh seseorang, anggap sebagai permintaan dari orang tuamu.” Chanyeol mengajukan idenya.

“Tapi…” gumam Rae Yoo. ‘Di sana ada Kim Jongin. Kau benar-benar merepotkanku, Park Chanyeol!’ umpatnya dalam hati.

“Tapi apa?” Chanyeol memecah lamunannya.

“Tapi sehari sebelum berangkat, kau harus mengetahui kabar Kris dan beritahukan kepadaku.” Rae Yoo mengajukan permintaannya dan Chanyeol mengembuskan nafasnya tampak berpikir keras. “Kalau bukan karena stresku terhadap tugas-tugas ini, aku tidak akan ikut.” sambung Rae Yoo membelakangi Chanyeol yang masih berpikir akan permintaannya. Tentu saja apapun dia lakukan agar bisa bertemu dengan Hyemin.

Dalam urusan ini, Chanyeol tidak akan menunda-nunda lagi. Ia segera menemui Kris demi memenuhi permintaan Rae Yoo yang sangat merepotkannya. Selama ini ia dapat menghubungi Kris namun Kris melarang keras Chanyeol untuk memberitahukan kepada Rae Yoo tentang kepergiannya yang tiba-tiba setelah ia tidak bisa menahan emosinya pada Rae Yoo waktu lalu.

“Hyung, apa yang harus kulakukan?” tanya Chanyeol setelah menyelesaikan ceritanya.

“Katakan saja yang sejujurnya, aku memang mengerjakan penelitianku.” tukas Kris.

“Penelitianmu belum selesai? Harus berapa lama lagi kau mengerjakan penelitianmu? Sampai kau menua di kampus itu?” tanya Chanyeol bertubi-tubi dengan nada mengejek.

“Aku sudah menyelesaikannya minggu lalu.” jawab Kris dengan santai sambil meneguk teh hijaunya.

“Astaga, hyung! Mengapa kau tega sekali tidak memberitahukan hal ini lebih dulu. Kau tahu, aku tidak sanggup menghadapi Rae Yoo. Setiap hari aku menjadi pelampiasannya, dengan wajah setampan ini, ia selalu memintaku menjadi pelawak pribadinya.” pekik Chanyeol frustrasi.

Kris hampir tersedak oleh minumannya, kemudian memandang Chanyeol mual. Sesaat nada dering dari ponsel Kris berbunyi, langsung saja Chanyeol mengambilnya yang terletak di atas meja. Kris setengah beranjak dari tempat duduknya mencoba merebut ponselnya, nihil Chanyeol sudah melihat isi pesan yang masuk di dalamnya.

“Demi Tuhan, aku pernah pergi selama seminggu, dia tidak menghubungiku sama sekali, tapi sebaliknya aku yang menghubunginya!” ujar Chanyeol keheranan setengah mati. “Dan harga dirimu setinggi apa sampai kau tidak membalas semua pesannya, hyung?”

“Setinggi ukuran tubuhku. 187 cm.” jawab Kris angkuh.

“Baiklah, mulai sekarang aku tidak akan lagi memaksamu untuk menyukai Rae Yoo.”suara Chanyeol berubah menjadi serius, membuat Kris terhenyak dan menatap Chanyeol penuh keyakinan.

“Ide yang bagus, maka aku tidak akan tertekan lagi.” simpul Kris di luar kepala.

“Aku hanya bermain-main.” ujar Chanyeol sambil memperlihatkan deretan giginya yang rapi. “Kau pikir aku menarik kembali? Tentu saja tidak.”

Kris mendesah kesal, “Aku sudah tahu.”

***

Tanpa berlama-lama, Lay menerima Chanyeol untuk bergabung bersama mereka. Tanpa alasan apapun sebenarnya Lay akan langsung menerima kehadiran Chanyeol yang sudah dikenalnya sebelum Rae Yoo masuk ke kampus. Rae Yoo keheranan seakan Chanyeol memiliki daftar semua nama mahasiswa di kampus ini hingga ia mengenal semuanya.

Hyemin terkejut melihat Chanyeol yang akan naik ke dalam bus, dan Chanyeol tersenyum kepadanya. Ia menarik tangan Hyemin untuk masuk ke dalam bus bagian belakang dan memilih kursi yang tepat untuk mereka. Hyemin duduk di dekat jendela dan Chanyeol di sampingnya, gadis itu tampak kebingungan antara merasa bahagia ia dapat bersama Chanyeol dan takut jika Kai melihatnya bersama lelaki lain.

Diujung pintu, Sehun menuntun Rae Yoo naik ke dalam bus, sesungguhnya Rae Yoo tidak suka dengan cara Sehun yang menurutnya berlebihan, namun ia mengerti terhadap sikapnya yang seperti ini sehari-hari. Rae Yoo melihat Chanyeol yang sudah di dalam dan menoleh ke kursi diseberangnya yang masih kosong.

“Kau yang masuk duluan, oppa. Aku juga ingin dekat dengan Chanyeol oppa.”

Mendengar permintaan Rae Yoo, Sehun masuk terlebih dahulu dan duduk di dekat jendela. Saat Rae Yoo sudah duduk di sampingnya, Sehun menoleh melihat Hyemin yang duduk di samping Chanyeol. Ia keheranan, seharusnya ia duduk bersama Kai sebagai pacarnya namun kini mereka duduk terpisah dan Hyemin bersama Chanyeol.

‘Astaga, aku tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya. Sehun oppa sudah melihatmu sekarang. Tinggal menunggu reaksi Kai sunbae.’ rutuk Rae Yoo dalam hati sambil memandang Kai tidak tega yang berada di kursi depan, duduk dengan tenang.

Rae Yoo menggelengkan kepalanya dengan kencang dan Sehun langsung tersenyum melihat tingkahnya. Gadis itu tidak tahu Sehun memandangnya dan hanya mengeluarkan ponsel, membuka Kakao Talk-nya.

Mengerjakan penelitianmu? Apakah susah hanya membalas satu pesan saja dariku? Apa kau masih menghukumku?

“Wae?” tanya Sehun melihat ekspresi wajah Rae Yoo dengan penuh kekesalan saat mengetik pesannya kepada Kris.

Rae Yoo menoleh kepada Sehun dan tersenyum lebar, “Bukan apa-apa, oppa.” ia langsung menyimpan ponsel di sakunya dan hanya di sambut oleh kekehan geli Sehun.

“Ini pertama kalinya kita berpergian sejauh ini. Kau senang tidak?” tanya Sehun, mengajak Rae Yoo mengobrol.

“Aku senang karena bisa mengusir stres terhadap tugas-tugasku, hanya itu saja, tidak ada hal yang spesial terhadap teman-teman di club ini.” Rae Yoo menghela nafasnya, “Kalau tidak ada kau dan Chanyeol oppa, apa yang akan kulakukan disini?”

Sehun langsung merangkulnya dengan gemas, “Aku akan selalu ada untukmu dan tidak akan pernah pergi darimu. Maka dari itu jangan pernah menghindar dariku.”

Hal yang tersulit adalah bagaimana Sehun sudah jelas mengutarakan perasaan kepadanya. Sehun selalu ingin melindunginya, namun ia seakan mencoba menolak semua kebaikannya. Rae Yoo terhenyak akan semua hal tentang Sehun. Ia adalah lelaki yang sangat di idam-idamkan para perempuan dengan ketampanan di sertai kebaikan hatinya, siapa yang tidak akan jatuh cinta. Menurutnya, Sehun masih belum mampu mengambil alih perhatiannya terhadap Kai, ia sangat mengharapkan Sehun dapat melakukannya, namun Rae Yoo tidak bisa memungkiri bahwa ia sangat terjaga berada di dekatnya, sama seperti Chanyeol sebagai kakaknya.

Selama perjalanan, hujan turun cukup deras dan membuat Lay merasa khawatir jika nantinya mereka tidak bisa menikmati pantai. Tentu saja dengan turunnya hujan, semuanya terasa dingin. Setelah menghabiskan waktu berjam-jam, hujan telah berhenti namun meninggalkan tiupan angin yang sedikit kencang dan menggigilkan siapa saja. Mereka sampai di tempat tujuan dan Lay merasa lega, setidaknya mereka dapat menikmati pasirnya walau masih terasa lembab.

Rae Yoo mengeratkan jaketnya saat turun dari bus saat angin langsung menyambutnya. Ia memilih berdiri dari kejauhan, tidak seperti yang lainnya yang sudah berlari berhamburan mendekati tepi pantai dan bermain air disana. Mereka tidak terlalu bermain dengan airnya, dan salah seorang anggota langsung berteriak kedinginan saat kakinya menyentuh air pantai. Melihat hal itu, Rae Yoo hanya menyeringai kecil dan Sehun yang tidak diketahui olehnya berdiri di sampingnya, tersenyum kulum melihat ekspresi wajah Rae Yoo. Setiap ekspresi yang keluar dari wajah Rae Yoo selalu menjadi favoritnya.

“Hei, ayo kita berkumpul!” teriak Lay memandu anggotanya yang langsung mendengarkannya dengan baik dan mereka membentuk lingkaran.

Hyemin khawatir saat menemukan Kai di samping Sehun dan Rae Yoo, dan ia tidak melihat ke arahnya sama sekali. Sejak di dalam bus, Hyemin tidak beranjak sekalipun dan hanya bersama Chanyeol. Ia berpikir bahwa Kai tidak peduli dan tidak mau tahu walau Hyemin berada di dekat siapa saja, setidaknya ia merasa lega namun ingin menyalahkan dirinya secara bersamaan. Ia sangat menyukai Chanyeol dibandingkan kekasihnya sendiri. Meskipun ini akan menyakiti Kai, ia berencana untuk berterus terang kepada Kai secepatnya.

“Ada apa hyung? Apa kita akan bermain?” tanya salah seorang kepada Lay.

“Tentu saja setidaknya ada seseorang yang akan masuk ke dalam sana.” jawab Hyemin yang menunjuk ke arah laut, para anggota tampak takut.

“Ide yang bagus. Aku tahu apa yang harus kita mainkan!” seru Chanyeol semangat.

Atas usulan Chanyeol, mereka bermain Ojumssagae. Permainan dengan menumpuk pasir dan di tengahnya di masukkan sebuah ranting kayu. Cara permainannya, semua pemain secara bergiliran membuang tumpukan pasir tersebut, hingga siapa yang menjatuhkan ranting kayu tersebut maka dialah yang kalah.

Karena berjumlah 20 orang, mereka harus dibagi menjadi 2 grup, tertua dan termuda. Rae Yoo masuk di grup termuda dan ia berada di urutan paling terakhir. Permainan dimulai dari grup tertua karena sebelumnya mereka menang dalam batu-gunting-kertas hingga grup termuda merasa cemas jika salah satu dari mereka menjatuhkan ranting tersebut.

Mereka bermain dengan semangat dan Rae Yoo sudah memiliki perasaan buruk bahwa dia akan menjatuhkan ranting itu karena tumpukan pasir sudah hampir terkikis habis oleh para anggota. Rae Yoo menggigit bibir bawahnya karena kini gilirannya. Para anggota memasang mata dengan lekat saat Rae Yoo mengikis pasirnya dan ranting tersebut jatuh seketika.

Rae Yoo berteriak sambil menjauh saat sorakan anggota mengejeknya, “Aku beruntung sekali hari ini!” dan mendesah dengan kecil, “Aku benci berenang.”

“Hei, ini tidak akan seru jika hanya 1 orang saja yang masuk kesana!” dengan suara melengkingnya, Hyemin memecah suara mereka, dan Rae Yoo menatap Hyemin lega, setidaknya ia tidak sendirian.

“Bukankah ketua harus menemani anggotanya?” sambung Chanyeol menyeringai ke arah Lay yang berdiri tanpa sebuah pemikiran di kepalanya.

“Benar sekali, hyung, ketua harus menderita saat anggotanya menderita.” ujar salah satu anggota dan semuanya bersorak setuju dan menganggukkan kepala mereka dengan senang.

Lay langsung tersenyum polos, “Baiklah, di cuaca seperti ini sangat menyenangkan untuk mandi di sana, bukan?” pernyataan Lay di sambut tawa para anggota dan Rae Yoo hanya tertawa kecil melihat sunbae-nya yang harus pasrah menerima hukuman yang di dapat karenanya.

“Tetapi setidaknya 1 orang lagi akan lebih menyenangkan.” usul Sehun dan semua melihatnya. Sehun tidak lain kalau bukan ingin menemani Rae Yoo.

“Sebaiknya kita tentukan saja melalui gunting-batu-kertas.” Kai turut menyampaikan idenya.

“SETUJU!” sebagian besar bersorak dan ini pertama kalinya Sehun merasa sangat kesal karena Kai menghancurkan usulannya.

‘Aku ingin mengajukan diriku tetapi mengapa kau akhirnya bersuara setelah dari tadi terdiam dan akhirnya merusak segalanya?’ geram Sehun, namun ia menahan amarahnya.

Rae Yoo dan Lay menunggu para anggota mendapatkan salah seorang lagi untuk masuk ke dalam air pantai bersama mereka. Setelah 3 menit, mereka bersorak gembira namun salah seorang tidak merasa senang karena ia akan masuk ke dalam pantai.

“Jongin-ah, selamat bersenang-senang!” pekik beberapa orang mengejek Kai, dan Kai hanya memasang wajah tanpa ekspresi.

Rae Yoo, Kai, dan Lay sudah bersiap. Mereka berlari ke air pantai dengan semangat kecuali Rae Yoo, ia langsung menggigil namun mencoba berlari kecil saat air sudah berada di bawah lututnya. Tanpa melihat kebawah, Rae Yoo tersandung sesuatu hingga menyebabkan ia jatuh terjerembab dan seluruh badannya tertutupi oleh air. Rae Yoo terseret gelombang, menyebabkan ia masuk lebih dalam dan kesulitan menyelamatkan dirinya. Dari kejauhan Chanyeol berlari panik dan mendekati tepi pantai.

“YAA!! RAE YOO TIDAK BISA BERENANG!!!” teriak Chanyeol.

Kai membulatkan matanya dan langsung mencari Rae Yoo yang sebelumnya ia kira dapat berenang. Dengan sigap, Kai mendapatkan Rae Yoo yang kesulitan bernafas dan membawanya ke tepi pantai. Rae Yoo terbatuk-batuk karena sempat terminum air asin, ia membuka matanya secara perlahan dan Kai adalah orang pertama yang dilihatnya dengan raut wajah panik.

“Gwaencanha?” tanya Chanyeol menggebu-gebu, Rae Yoo tidak menjawab karena sibuk mengatur nafasnya yang sesak karena air asin yang masuk ke tenggorokannya.

“Hyung, kita bawa dia ke penginapan.” usul Kai yang disambut cepat dengan anggukan Lay. Tanpa membuang waktu, Kai mengangkat Rae Yoo diikuti dengan rombongan mereka.

Melihat Rae Yoo yang hampir di telan oleh air pantai, Sehun tidak henti-hentinya menyalahkan dirinya. Seharusnya ia berada di sana untuk menyelematkannya, bukan hanya melihat dan terdiam tidak melakukan apa-apa. Namun sekali lagi Kai menjadi penghalangnya dan hal itu membuatnya bagai dihalangi tembok besar yang sulit dirobohkannya.

***

Mata Rae Yoo terbuka secara perlahan. Setelah insiden tadi, ia memilih tidur hanya karena merasa kesal tenggelam di pantai karena tidak bisa berenang. Chanyeol langsung beranjak mendekati tepi tempat tidur Rae Yoo yang kini menatapnya lemah.

“Gwaencanha? Kau tidak sakit kan?” tanya Chanyeol tergesa-gesa sambil memeriksa suhu tubuh Rae Yoo di dahinya.

“Aku benci berenang.” umpat Rae Yoo tidak menggubris pertanyaan Chanyeol.

“Lain kali aku tidak akan membiarkanmu mendekati kolam berenang atau pun pantai.” ujar Chanyeol seakan berjanji.

“Tentu saja. Kau bukan kakak yang berguna jika tidak melindungiku.”

“Hei, apakah kau marah karena bukan aku yang menyelamatkanmu?”

Pintu kamar terbuka dan Kai berdiri disana merasa terkejut dan lega melihat Rae Yoo sudah terbangun. Tanpa keraguan, ia segera masuk dan meletakkan nampan berisi makanan siang untuk Rae Yoo.

“Gomawo.” ucap Chanyeol lebih cepat sebelum Rae Yoo ingin mengatakan hal yang sama. “Kau telah menyelamatkan nyawa Rae Yoo. Gomawo.” ia sangat berterima kasih walau bagaimanapun ia pernah kesal karena Kai sudah pernah membuat Rae Yoo menangis waktu lalu.

“Ini bukan apa-apa, hyung. Akulah yang terdekat, jadi aku harus menyelamatkannya.” balas Kai, “Rae Yoo-ssi, makanlah, agar kau merasa lebih baik.” ia beralih kepada Rae Yoo yang langsung tersadar dari lamunan kecilnya.

“Ne, sunbaenim.” jawabnya dengan suara kecil.

“Baiklah, aku kembali ke bawah.” Kai keluar dari kamar dan Chanyeol menatap Rae Yoo yang terdiam tampak sedang memikirkan sesuatu.

“Apa yang kau pikirkan?” Chanyeol mengguncang bahu Rae Yoo dan gadis itu mendongak.

“Huh? Tidak ada.” kemudian Rae Yoo menundukkan kepalanya.

“Harus sampai kapan kau menyembunyikan semua hal? Apa kau mencoba menyakiti dirimu sendiri?” Chanyeol selalu saja merasa geram jika Rae Yoo tidak pernah jujur dengannya.

“Dia tidak berpikir untuk menyelamatkanku. Karena itu adalah sebuah kebetulan, secara terpaksa ia harus menyelamatkanku.” Chanyeol membulatkan mata mendengarnya. “Kalau dia memang terpaksa menyelamatkanku, dia tidak perlu membawaku sampai ke sini dan mengantarkan makanan. Semua itu menggangguku.” suara Rae Yoo sedikit naik, dan Chanyeol merasa tidak perlu menanyakan apapun lagi.

“Aku menyesal menyukainya.” tambah Rae Yoo sebagai penjelasan terakhir. Chanyeol tidak menyangka jika selama ini Rae Yoo menyukai Kai, bukan Sehun. Seketika Chanyeol menelan ludah rasa bersalah, seharusnya ia tidak mengenalkan Rae Yoo kepada Sehun.

“Makanlah. Aku harus menemui yang lainnya.” Chanyeol memutuskan keluar dari kamar itu, dan hanya diiringi anggukan Rae Yoo.

“Sial, jadi aku harus memakan makanan darinya?” umpat Rae Yoo, ia tetap mengambilnya karena merasa lapar. “Aku juga terpaksa memakan ini!”

***

“Jongin-ah, mianhae.” Hyemin menundukkan kepalanya dengan dalam. “Aku tidak bermaksud menjauh darimu.”

“Kau sudah melakukannya.” Kai memperjelas dan Hyemin menaikkan kepalanya.

“Tidak, aku tidak bermaksud..”

“Mianhae, Hyemin-ah. Kita tidak bisa menjalani hubungan seperti ini.” Hyemin mengerutkan dahinya.

“Aku sangat menyukai Rae Yoo.” ucapan Kai sangat mengejutkan Hyemin. “Sejak SMA.”

Dalam beberapa saat mereka terdiam, kini Kai tertunduk menunggu reaksi Hyemin. Ia sangat siap jika Hyemin ingin merecokinya ataupun memukulnya sampai babak belur atas tindakan bodohnya ini. Dan pemikiran Kai terwujud dengan satu tamparan keras yang di layangkan ke pipinya.

“Mianhae!” ucap Hyemin tersenyum lebar. “Kau tahu maksud dari tamparanku ini?”

Kai hanya menggeleng tidak mengerti.

“Ternyata selama ini kau mengkhianatiku dan kau adalah pria bodoh yang tidak berani mengungkapkan perasaanmu kepada seseorang yang sungguh-sungguh kau sukai, lalu hanya membuang-buang waktu bersamaku.”

Lelaki itu tersenyum lemah sambil memegang pipinya yang perih. Ia merasa pantas menerima tamparan dan omelan Hyemin, kalau tidak, mungkin ia tidak akan pernah sadar atas kebodohannya.

“Cukup melegakan kau masih bisa tersenyum, jadi aku tidak merasa bersalah sedikitpun.” tandas Hyemin dengan menyeringai kecil.

“Sepertinya Chanyeol hyung adalah orang yang tepat untukmu. Setidaknya aku lega karena kita mengakhiri hal ini saat dimana kau telah menemukannya, keyakinan hatimu.” ucapan Kai barusan membuat Hyemin terhenyak memikirkan Chanyeol, benarkah ia adalah keyakinan hatinya?

“Gomawo. Setelah melihatmu lebih senang saat bersama Chanyeol hyung, aku memiliki keberanian untuk jujur tentang hal ini. Apalagi setelah melihatnya tenggelam, aku berpikir untuk lebih melindunginya.” Kai tersenyum mengamati pemandangan di hadapannya dan Hyemin menemukan perbedaan cara tersenyum Kai yang lebih tulus dari biasanya, membuktikan bahwa Rae Yoo benar-benar dapat merenggut perhatian Kai dari pada dirinya.

“Apa kau tidak berpikir bahwa kau sungguh berlebihan?” tanya Hyemin sekilas.

“Bukankah kau yang berlebihan? Kau juga mengkhianatiku.” balas Kai yang tiba-tiba teringat akan tamparan Hyemin tadi. Ia langsung melingkari leher Hyemin dengan lengannya.

“Yaaa! Apa kau sedang membunuhku? Lepaskan aku!” Hyemin mencoba melepaskan diri dengan memukul-mukul lengannya, namun nihil, hingga Kai tertawa puas.

Chanyeol berpapasan melewati balkon setelah keluar dari kamar Rae Yoo. Ia menghentikan langkahnya dan terdiam sesaat melihat Hyemin di peluk seseorang dan hatinya semakin tertusuk saat mengetahui siapa yang memeluknya. Mereka saling tertawa dan Chanyeol semakin perih melihat pemandangan itu. Ia segera meninggalkan tempat itu sebelum tersakiti lebih dalam.

***

Rae Yoo memilih untuk menetap di dalam kamar daripada berkumpul bersama anggota yang sedang mengadakan pesta kecil merayakan perjalanan liburan klub dance untuk tahun ini. Rae Yoo tidak suka keramaian, maka ia mengeluarkan alasan bahwa masih merasa tidak enak badan karena insiden tenggelam tadi pagi. Namun lewat 30 menit, ia merasa bosan dengan kesepiannya. Ia menghabiskan 30 menit sebelumnya dengan mencoba menyelesaikan tugas matematika yang sengaja di bawanya dan memang ingin di kerjakannya. Dalam 30 menit, hanya 1 soal yang terselesaikan dan ia menggerutu akan kebodohannya dalam hitung-menghitung. Ia menatap lama pada soal-soal yang tidak bisa dikerjakannya dan pikirannya terlintas sosok Sehun, baru saja mengingat bahwa Sehun sangat pintar dalam matematika. Tanpa berpikir lama, ia mengambil ponselnya dan mencari kontak Sehun, menghubunginya dengan segera.

Sudah 3 kali Rae Yoo menghubungi Sehun, namun tidak diangkatnya. Rae Yoo benar-benar menyerah dan tidak ingin mencoba menghubunginya lagi.

“Kau tau bahwa aku hampir terseret air, setelah itu kau malah menghindariku. Kejam sekali.” umpat Rae Yoo sambil mengetikkan ucapannya ke dalam pesan untuk Sehun.

Jangan mencariku lagi, karena aku akan juga menghindarimu. Pesan kedua yang dikirimkannya sekali lagi untuk Sehun.

Rae Yoo memutuskan untuk mencari udara segar, ia mengambil jaketnya dan bergegas pergi keluar villa secara diam-diam. Sebetulnya ia tidak akan pergi kemana-mana, karena ia hanya ingin melihat-lihat halaman di sekitar villa yang cukup luas. Lokasi villa ini terletak di tebing, ia dapat melihat langit malam yang terbentang luas dengan bintang-bintangnya. Rae Yoo merasa tidak rugi berjalan di sekitar villa dan ia menemukan sebuah taman yang di penuhi dengan berbagai bunga indah yang di terangi lampu di sudut-sudut penempatan bunga. Ia juga menemukan sebuah kursi disana namun di tempati oleh seseorang. Langkahnya terhenti dan memandangnya sedikit terkejut. Begitu juga orang yang duduk disana dengan jarak 3 meter darinya menoleh saat melihat Rae Yoo berdiri disana dengan tatapan membulat di matanya.

‘Aku akan melewatinya saja.’ pikir Rae Yoo meyakinkan dirinya dan melangkahkan kakinya dengan pelan.

“Kupikir kau akan duduk disini.” ucapnya melihat Rae Yoo mendekat, belum melewatinya.

Rae Yoo menghentikan langkahnya, “Duduklah, dari sini kau bisa melihat banyak keindahan, seperti keindahan kota di bawah sana, dan langit malam ini sangat indah di penuhi bintang.” jelas Kai sambil menepuk kecil tempat di sebelahnya, meminta Rae Yoo untuk duduk di sampingnya.

Ia mendorong dirinya untuk menggelengkan kepala dan menolak tawarannya. Namun mengingat hari ini Kai telah berjasa menyelamatkannya dan ia belum mengucapkan terima kasih, mau tidak mau ia harus menerima permintaannya. Ia melangkah dengan pelan dan duduk di samping Kai.

“Gomawo.” Rae Yoo membuka suara, dan Kai menoleh melihatnya yang sedang tertunduk sambil memainkan kedua tangannya yang saling bertaut, seakan Rae Yoo tidak nyaman berada di sampingnya. “Aku baru sempat mengatakannya, mianhae.”

“Tidak masalah. Aku hanya ingin menolongmu.” jawab Kai tersenyum tipis.

“Apa karena kau menyukaiku?” entah kepercayaan diri dari mana ia dapatkan untuk menanyakan hal itu, yang di pikirannya hanyalah ia ingin mendapatkan kepastian dan ingin segera pergi menghindarinya.

“Benar.” dengan cepat pula jawaban itu meluncur dari mulut Kai.

Rae Yoo segera mengangkat wajahnya dan memandang Kai yang sedang tersenyum ke arah bulan di langit gelap itu.

“Kau sangat sama dengan bulan di atas sana.” Rae Yoo menatap Kai atas pernyataannya. “Bulan itu sangat terang diantara bintang-bintang lain, maka saat orang-orang mendongak menatap langit, pertama sekali mereka akan melihat bulan tersebut barulah memandang bintang.”

“Pandanganku sama. Kau sama terangnya dengan bulan itu, hingga aku hanya melihatmu saja dan menghiraukan yang lain.” Rae Yoo menyimaknya namun mengerutkan dahi menganggap Kai sedang berbicara omong kosong.

“Bulan itu tampak dekat lalu aku mencoba meraihnya, namun tidak bisa. Kupikir semudah itu menggapainya, seharusnya aku harus menaiki roket ke luar angkasa untuk mendapatkannya.” Kai tertawa kecil.

“Jika aku mendapatkannya terlalu mudah, bukankah aku sangat egois, karena hanya aku yang menginginkannya tetapi ia tidak menginginkanku.” lalu Kai menoleh sesaat kepadanya. Tanpa sadar Rae Yoo mengerjapkan matanya, terpana pada tatapan lembutnya.

“Ini kedua kalinya kita bertemu dan keduanya kalinya melihat bulan yang sama. Seakan ini adalah peringatan bahwa aku hanya bisa melihatmu, tidak untuk menggapai atau bahkan memilikimu, karena hal itu sia-sia saja jika aku tidak berusaha mati-matian.”

Rae Yoo tidak pernah membayangkan bahwa Kai menyukainya lebih dari yang dia lakukan. Namun pikirannya berubah begitu saja. Playboy seperti dia bisa kapan saja berkata manis seperti itu.

“Tidak perlu berusaha, setidaknya kau sudah memiliki satu selain aku.” ujar Rae Yoo ketus tanpa melihatnya dengan tangan dilipat di depan dada.

Kai yang mendengarnya terkekeh geli, “Kami baru saja putus.”

“La- lalu, mengapa kau mengatakan hal ini kepadaku?” ia sedikit kaget namun tidak mengurangi rasa kesalnya.

“Aku belum mengatakan semuanya, Kang Rae Yoo-ssi.” sahut Kai menenangkan Rae Yoo. Dengan tangan yang masih dilipat di depan dada, Rae Yoo memutar posisinya benar-benar menghadap Kai, siap mendengar penjelasannya.

“Hyemin sangat menyukai Chanyeol hyung. Aku mengetahuinya sejak dia kembali dari Busan ke Seoul. Setelah hari ini aku melihatnya bersama Chanyeol hyung, aku melepaskannya. Itu kulakukan karena…”

Kai belum menyelesaikan kalimatnya, dan Rae Yoo tiba-tiba saja merasa menggigil menunggu kata-kata selanjutnya. Ia sedikit memindahkan jari tangannya ke lengan, seakan memeluk diri sendiri. Ia tidak menyadari angin malam sedikit berhembus, mungkin ini saatnya ia akan melupakan sosok Kai yang di sukainya selama bertahun-tahun.

“Dari awal aku berpacaran dengannya tetapi masih memikirkanmu. Aku jahat, bukan?”

Rae Yoo tertunduk lalu Kai menoleh melihatnya. Ia larut dalam pikirannya, Kai sangat bodoh tidak mengungkapkan perasaannya sejak awal, setidaknya mereka akan saling menyukai dan tidak akan ada yang tersakiti dan disakiti. Semua akan benar jika Kai memulainya lebih dulu, sayangnya waktu tidak bisa diputar kembali untuk mengulang semuanya.

“Aku tidak ingin melihatmu menangis. Jangan membuatku semakin merasa bersalah.” Kai sedikit merasa panik. Waktu lalu ia sangat kelabakan saat menghadapi Rae Yoo yang menangis.

Kini di saat Rae Yoo ingin menghapusnya, Kai kembali dan mengisinya dengan kejujuran, membuatnya menjadi goyah hingga ingin sekali mengatakan bahwa ia juga menyukainya, memulai segalanya dari awal. Mereka saling menyukai dan mereka akan bahagia. Namun jauh di lubuk hatinya ada sesuatu yang memberatkannya, ia bahkan tidak tahu perasaan yang menjanggal ini akan menyulitkannya. Semua akan selesai dengan kata ‘Aku juga menyukaimu.’, tapi tidak semudah yang di kiranya. Ia bertanya-tanya, perasaan apakah ini?

“Kau bilang kau menyerah, tidak akan mencoba menyukai siapapun lagi setelah Kai mempermainkanmu. Dan lihat di sini siapa yang benar-benar terbodohi dan tidak bisa menjaga ucapannya sendiri.”

Ucapan Kris yang lalu terdengar telak baginya. Bahkan di saat seperti ini kata-kata itu muncul begitu saja di pikirannya. Kata-kata itu seakan mendorongnya agar tidak terjebak di masa lalu yang sewaktu-waktu bisa menyakitinya kembali. Tetapi bukankah seseorang harus berpindah, melihat ke depan lalu berhati-hati menetapkan seorang lagi di kehidupannya? Semua orang berhak menentukan hal itu, namun tampaknya Kris tidak setuju dengan masa lalu ataupun masa depan yang akan di pilihnya. Di saat seperti ini seharusnya si tower bodoh tidak muncul di pikirannya, pikirnya.

“Rae Yoo-ya, gwaencanha?” tanya Kai melihat Rae Yoo yang masih memeluk dirinya sendiri. Rae Yoo tidak menanggapinya, Kai segera melepaskan jaket yang membalut tubuhnya dan memakaikannya kepada Rae Yoo. Akhirnya gadis itu mendongak melihatnya.

“Sudah lumayan hangat kan?” tanya Kai dan Rae Yoo menganggukkan kepalanya sekali.

“Mianhae, ini kesalahanku. Aku hanya ingin mengatakan yang sebenarnya kepadamu. Setiap hari aku merasa sulit karena kau tidak mengetahui apapun yang kurasakan. Tetapi setelah ini, aku merasa takut kau akan canggung terhadapku.” Kai tersenyum tipis, gadis itu pasti akan membencinya.

“Sebuah kejujuran bukanlah hal yang menjadi sebuah kesalahan. Setelah ini, kita harus sering berkomunikasi untuk menghindari kecanggungan di antara kita.” ucapan Rae Yoo memberikan harapan besar bagi Kai. Ia menyunggingkan senyumnya untuk Kai, mungkin seiring berjalannya waktu, Rae Yoo akan menyampaikan kejujurannya dengan cara yang sama seperti dirinya.

***

Sehun melihat satu panggilan tidak terjawab di ponselnya yang baru saja diambilnya di kamar. Panggilan itu dari Rae Yoo. Ia menelponnya kembali namun tidak diangkat. Kemudian ia mencari di seluruh penjuru ruangan hingga bertemu Hyemin dan menanyakan keberadaannya. Rae Yoo tidak di kamarnya, dan mungkin saja ia berada di tempat lain. Sampai akhirnya Sehun menyadari bahwa ia belum mencarinya di luar villa.

Akhirnya ia menemukan gadis itu hingga bibirnya merekah membentuk senyum kemudian memudar begitu saja saat melihatnya bersama seorang lelaki yang sangat di kenalnya, dan bahkan di sebut sahabat. Sehun melihat lelaki itu memakaikan jaket di tubuh Rae Yoo, hingga mereka saling tersenyum satu sama lain. Hatinya terpukul keras. Baru kali ini Sehun tidak bisa menerima apa yang dilihatnya, ia juga tidak menyangka akan sehancur ini. Mengapa Rae Yoo harus berbagi senyumnya untuk sahabatnya?

***

Liburan kecil para anggota dance club sudah berakhir, kini mereka bersiap untuk pulang. Rae Yoo sibuk mencari-cari sosok Sehun yang tidak ia temukan, sampai akhirnya ia langsung naik ke dalam bus dan menemukannya duduk di kursi deretan depan. Sehun duduk bersama Chanyeol, membuat Rae Yoo menaikkan alisnya, seharusnya Sehun memberitahu lebih dulu bahwa ia tidak duduk bersamanya.

Kai naik ke dalam bus secara bersamaan dengan Hyemin. Hyemin melihat Rae Yoo yang kebingungan memilih tempat duduk dan dengan sengaja segera menarik Kai dan mendorongnya hingga mengenai Rae Yoo.

“Mian..” ucap Kai kelabakan dan Hyemin tersenyum lebar kepada Rae Yoo sebagai tanda menyapanya.

“Dekati Rae Yoo.” bisik Hyemin seolah memerintah. “Aku duluan.” Hyemin melangkah menemukan teman duduknya di bagian deretan tengah.

“Kursi di sana masih kosong. Sepertinya kau akan duduk disana. Bolehkan aku duduk di sampingmu?” Rae Yoo sedikit terkejut mendengar permintaan Kai.

“Tentu saja, sunbae.” sahut Rae Yoo merasa lega. Ia langsung mengambil tempat di dekat jendela dan Kai duduk di sebelahnya.

Seharusnya Rae Yoo merasa lebih senang karena Kai berada di sampingnya. Ia sedikit merasa kecewa karena sejak Sehun tidak mengangkat teleponnya, sejak saat itu Sehun mengabaikannya.

“Aku akan selalu ada untukmu dan tidak akan pernah pergi darimu. Maka dari itu jangan pernah menghindar dariku.”

“Pembohong.” telak Rae Yoo setelah mengingat perkataan Sehun saat mereka berangkat. Ia menaruh kepercayaan yang sama seperti Chanyeol sebagai kakaknya. Sejak Sehun mengatakan hal itu, Sehun tidak tahu Rae Yoo memegang perkataannya dengan erat.

– TBC –

Advertisements

One thought on “FF “A Dumber” [Chapter 6]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s