FF “A Dumber” [Chapter 7]

a dumber 2nd poster

Title : A Dumber [Chapter 7]

Author : Sabriena2Dgirl

Cast :

Main Cast

  • Kris [Wu Yi Fan]
  • Kang Rae Yoo

Support Cast

  • Park Chanyeol
  • Oh Sehun
  • Kai [Kim Jongin]
  • Choi Hyemin

Special Appearance

  • Jeon Jungkook

Genre : Campus Life, Romance, Sad, Humor

Rating : PG-13

PS : TBH, udah pengen banget ngelarin FF ini, dan ternyata kehidupan antara semasa sekolah dan kuliah sungguh berbeda :’) disaat itulah real stress dan depresi yang gw rasain. Dan ini penting banget bahwa gw bukan EXO-L lagi, tapi utuh ARMY doang. Sulit untuk gw katakan, mungkin bakal gw buat post khusus curhatan aja kali ya tentang masalah fandom. Dan maaf banget jika ada yang baca FF ini lagi, perlu gw katakan chapter ini hanya sekitar 3ribu words, dan yang chapter2 sebelumnya bahkan sampai sekitar 6ribuan, harap maklum gw udah jarang banget ngeliat EXO jadi terkadang feel untuk nulis kurang dapet tapi gw berusaha banget untuk menuntaskan apa yang gw mulai. Semasa hiatus gw sebenarnya banyak nulis FF Bangtan di sela-sela tugas kampus yang bergelimpangan, dan sudah pasti bakal gw post disini, dan gw perlu berpikir matang2 karena FF dari jaman gw sekolah banyak bgt yg ga bisa di publish karena ga nemu konflik dan akhir cerita. Mungkin (mungkin, ga bisa janji) satu-persatu bakal gw perbaiki, dan berhubung skill editing untuk cover masih pas-pasan, lol. Tambahan, sebelum membaca, kalo ada yang lupa, silahkan baca chapter2 sebelumnya, tapi gw bakal nambahkan last chapter supaya nyambung dikit :’)

HAPPY READING ^^

***

Last Chapter..

Liburan kecil para anggota dance club sudah berakhir, kini mereka bersiap untuk pulang. Rae Yoo sibuk mencari-cari sosok Sehun yang tidak ia temukan, sampai akhirnya ia langsung naik ke dalam bus dan menemukannya duduk di kursi deretan depan. Sehun duduk bersama Chanyeol, membuat Rae Yoo menaikkan alisnya, seharusnya Sehun memberitahu lebih dulu bahwa ia tidak duduk bersamanya.

Kai naik ke dalam bus secara bersamaan dengan Hyemin. Hyemin melihat Rae Yoo yang kebingungan memilih tempat duduk dan dengan sengaja segera menarik Kai dan mendorongnya hingga mengenai Rae Yoo.

“Mian..” ucap Kai kelabakan dan Hyemin tersenyum lebar kepada Rae Yoo sebagai tanda menyapanya.

“Dekati Rae Yoo.” bisik Hyemin seolah memerintah. “Aku duluan.” Hyemin melangkah menemukan teman duduknya di bagian deretan tengah.

“Kursi di sana masih kosong. Sepertinya kau akan duduk disana. Bolehkan aku duduk di sampingmu?” Rae Yoo sedikit terkejut mendengar permintaan Kai.

“Tentu saja, sunbae.” sahut Rae Yoo merasa lega. Ia langsung mengambil tempat di dekat jendela dan Kai duduk di sebelahnya.

Seharusnya Rae Yoo merasa lebih senang karena Kai berada di sampingnya. Ia sedikit merasa kecewa karena sejak Sehun tidak mengangkat teleponnya, sejak saat itu Sehun mengabaikannya.

“Aku akan selalu ada untukmu dan tidak akan pernah pergi darimu. Maka dari itu jangan pernah menghindar dariku.”

“Pembohong.” telak Rae Yoo setelah mengingat perkataan Sehun saat mereka berangkat. Ia menaruh kepercayaan yang sama seperti Chanyeol sebagai kakaknya. Sejak Sehun mengatakan hal itu, Sehun tidak tahu Rae Yoo memegang perkataannya dengan erat.

***

“Mengapa tidak duduk bersama Rae Yoo?” tanya Chanyeol saat Sehun duduk di sampingnya.

“Lalu mengapa kau tidak duduk bersama Hyemin?” Sehun melempar balik pertanyaannya karena merasa tidak nyaman dengan pertanyaan tersebut.

“Aku hanya ingin membebaskannya.” jawab Chanyeol tersenyum hambar, ia memilih menjauhi Hyemin untuk sementara waktu, mulai saat ini.

“Membebaskannya?” tanya Sehun tidak mengerti.

“Aku tidak tahu ada seseorang yang dapat membuatnya tersenyum selain aku, jadi kupikir lebih baik membebaskannya, daripada aku menahannya dengan egoku.” ucap Chanyeol yang masih memperlihatkan deretan giginya, seolah senyumnyalah yang kini menyemangatkan dirinya sendiri.

Sehun memandang Chanyeol kosong, kata-kata yang diucapkan barusan terekam ulang di kepalanya. Ia ingat bagaimana Rae Yoo tersenyum pada Kai malam itu, dan hal itu langsung mematahkannya. Mengingat bagaimana sikap Rae Yoo sangat berbeda saat bersamanya, bahkan gadis itu belum membalas perasaannya sedikitpun, apakah sejak awal hanya ia satu-satunya yang memiliki perasaan? Apakah egonya terlalu besar karena ia hanya mementingkan perasaannya sendiri daripada milik gadis itu? Bukankah harusnya sejak awal ia tidak memaksa kehendaknya?

“Yaa, kau belum menjawab pertanyaanku.” Chanyeol menyikut lengan Sehun yang segera sadar dari lamunannya.

“Kupikir aku sedang membebaskannya juga. Maka dari itu aku duduk disini.” ujar Sehun sambil menghela nafas berat.

***

The next day..

Rae Yoo sibuk membereskan buku-buku dari mejanya. Sesaat lagi mata kuliah selanjutnya akan segera dimulai, maka dengan cepat-cepat Rae Yoo merapikan mejanya dari buku-buku mata kuliah sebelumnya.

“Kris sunbaenim?” seru salah seorang dan Rae Yoo membulatkan mata mendengar pekikan keras itu. Ia segera melihat kedepan dan tersentak kaget hingga tidak menyadari sikunya mendorong bukunya hingga bebas terjatuh.

“Untuk pertama kali, maka terlebih dahulu kau harus mengambil buku itu, dan maaf, aku mengajar Grammar, bukan Phsycology.” terang Kris berkata selayak dosen dihadapan mahasiswanya. Ia berpaling dengan rasa tidak peduli hingga mengundang tawa seluruh mahasiswa. Rae Yoo menatapnya penuh amarah.

“Dia minta dibunuh.” rutuk Rae Yoo dalam hati, sambil bersusah payah mengendalikan emosinya.

“Aku disini sebagai asisten Park sonsaengnim, dan aku akan mengajar selama beliau tidak hadir.” beberapa mahasiswi tersenyum senang mendengar hal itu. “Karena kalian cukup mengenalku, jadi panggil saja aku sunbae, karena disini aku bukan dosen, tetapi hanya seorang pengajar.”

“Cih, katakan saja kau tidak ingin terlihat tua dihadapan hoobae-mu maka kau bisa menggoda mereka semua. Dasar laki-laki genit.” tatap Rae Yoo sinis setelah melihat reaksi teman-teman perempuannya yang terlihat sangat gembira, bahkan teman sebangkunya.

“Rae Yoo-ya, kau benar-benar beruntung bisa menjadi partnernya. Sudah pintar, tampan, seorang atlet basket. Jika aku menjadi dirimu, aku akan mengenalkannya kepada orang tuaku.”

“SHIREO!!!” kesekian kalinya semua pasang mata tertuju pada Rae Yoo dan ia hanya menutup wajahnya dengan buku. Tanpa tahu Kris sudah menyeringai puas.

***

“Sehun-ah!!!” panggil  Kai mengejar Sehun yang sudah terlebih dahulu keluar dari kelas dan Sehun menoleh melihatnya.

“Kudengar couple dance akan dilaksanakan dalam 3 minggu. Bagaimana persiapanmu dengan Rae Yoo?” Sehun terdiam tampak berpikir setelah mendengar pertanyaan Kai.

Setelah kemarin ia berhasil menghindar dari Rae Yoo, ia belum memikirkan apakah ia harus membatalkan kompetisi itu atau tidak. Satu-satunya alasan ia mengikuti couple dance itu karena ia ingin dekat dengan Rae Yoo. Dan sepertinya alasan itu sudah tidak bisa berjalan lagi. Ini semua karena orang yang berada di hadapannya.

“Entahlah…” jawab Sehun singkat dan melangkahkan kakinya namun Kai mengikutinya kemudian merangkulnya.

“Ada apa dengan kalian?” tanya Kai penasaran.

“Kau pikirkan sendiri!” seru Sehun kasar yang langsung melepas rangkulan Kai dengan kasar pula.

Kai terdiam tidak menyangka, selama bersahabat, Sehun tidak pernah sekasar itu padanya. Sepertinya akan lebih baik jika ia membiarkannya sendiri, mungkin ia memiliki masalah dan tidak ingin berbagi dengannya. Namun Kai mencerna sejenak perkataan Sehun barusan, apa yang harus dipikirkannya? Apakah hal itu berhubungan dengan Rae Yoo? Sejak liburan kemarin ia tidak melihat Sehun bersama Rae Yoo dan ia melihatnya hanya ketika berangkat saja. Apakah Sehun melihatnya duduk bersama Rae Yoo saat mereka pulang? Sehun pasti sudah salah paham, pikirnya.

“Jongin-ah mianhae, aku harus memperbaiki diriku, aku tidak ingin membencimu.” gumam Sehun berjalan dengan cepat menuju tempat parkir, kemudian berhenti saat ponselnya mengeluarkan nada dering singkat.

Kita bertemu besok di taman kampus waktu makan siang. Ada hal yang harus kita bicarakan.

“Apakah ini saatnya aku harus melepaskanmu?” Sehun bersandar lemas di mobilnya setelah membaca pesan di ponselnya.

***

Berakhirnya mata kuliah ini adalah yang paling diharapkan Rae Yoo, tidak seperti mahasiswa lain yang terlihat putus asa seakan waktu 2 jam adalah yang paling pendek, sedangkan Rae Yoo menganggap waktu tersebut mencekik lehernya selama 2 jam. Mata Rae Yoo mengikuti gerak-gerik Kris dan saat Kris hampir selesai membereskan bukunya kedalam tas, Rae Yoo langsung menghampirinya dan memukul lengannya menggunakan buku dengan sangat keras.

Kris mengerang kesakitan, menyebabkan beberapa mahasiswi yang tidak jauh dari kelas mendengar dan mencoba mengintip dari jendela dan sisi pintu yang terbuka. Karena Rae Yoo disana, mereka tidak berani masuk.

“Kau puas? Kau menghukumku?!” tanya Rae Yoo murka dan Kris hendak membuka mulut sebelum Rae Yoo melanjutkan, “Aku tahu kau terganggu akan kehadiranku. Haruskah aku menghapus mata kuliah ini dan kembali di semester depan? Kurasa kau akan merasa lebih tenang untuk mengajar.”

Rae Yoo segera berbalik meninggalkannya, namun dengan cepat Kris menarik pergelangan tangannya dan dengan cepat pula Rae Yoo menghempaskan eratannya. Kris tidak menyerah, sekali lagi ia meraih tangan Rae Yoo, membuatnya terhenti sejenak. Dua minggu lalu ia menahannya pergi dengan eratan yang sama seperti yang Kris lakukan saat ini. Apakah mungkin Kris tidak ingin membiarkannya pergi, seperti yang Rae Yoo lakukan waktu lalu? Tidak, mungkin pikirannya sedang kacau, lalu mengapa ia selalu merasakan hal-hal aneh saat Kris menyentuh tangannya, kali ini Rae Yoo merasa sangat dibingungkan.

Kris melepaskan tangannya dan memutar tubuhnya dengan memegang bahunya. Ia melihat mata Rae Yoo yang kosong, tidak tersirat kilatan amarah lagi. Kris tersenyum.

“Tadinya aku hanya bermaksud mengagetkanmu. Maafkan aku jika aku berlebihan.” Dengan senyuman yang masih merekat di wajahnya, Kris mengacak rambut Rae Yoo dan meninggalkannya yang terdiam kaku disana.

“Apa maksudnya?!”

***

“Seenaknya saja dia menyentuhku, memangnya dia siapa?” gumam Rae Yoo sambil berjalan disepanjang koridor gedung fakultas dan sibuk melihat ke ponselnya. Ia baru saja keluar dari kelas dan masih tidak habis berpikir Kris menyentuh puncak kepalanya dan memperlihatkan senyum yang sama saat pertama kali ia melihatnya di perpustakaan. Mengapa ia dapat mengingat setiap momen bahkan hal terkecil saat bersama Kris? Ia akan menjadi orang yang bodoh karena waktunya tersita untuk memikirkan Kris.

Rae Yoo menggeleng keras, “sialan,” rutuknya dan mempercepat langkah kakinya dan tanpa tahu hingga bahunya menabrak seseorang yang berjalan searah dengan dirinya.

Sebuah buku terjatuh dari tangan lelaki itu dan dengan cepat Rae Yoo mengambilnya dan mengembalikannya kepada pemiliknya, “Jwesonghamnida.” ucapnya sambil membungkuk berulang kali dengan menahan rasa malu.

“Kang Rae Yoo?”

Rae Yoo membulatkan mata mendengar namanya dipanggil. Ia segera mengangkat kepala, “Sunbae…” lirih Rae Yoo, dan langsung menghela nafas lega, setidaknya yang ia tabrak bukan orang asing.

“Wae geurae?” mengapa kau terlihat seperti dikejar hantu?” Kai terkekeh kecil melihat Rae Yoo membuang nafas dengan keras.

“Gwaencanha..” Rae Yoo berusaha tersenyum meyakinkannya. “Sepertinya karena aku sudah lapar.” Ia mencari alasan lain.

“Apa kau akan makan siang bersama temanmu?” tanya Kai sambil memegang tengkuknya, setidaknya ia ingin mencoba mengajak makan siang bersamanya.

“Tentu saja tidak!” seru Rae Yoo semangat, “Ma.. maksudku, aku tidak makan bersama temanku.” ia segera menurunkan nada bicaranya.

“Jadi kau akan makan sendirian?” tanya Kai lagi, dan Rae Yoo hanya mengangguk.

“Kaja.”

“Ne?”

“Aku juga membutuhkan teman makan siang.” Kai tersenyum dan melangkah hingga Rae Yoo mengikutinya.

Sesampai di restoran dekat kampus, mereka memilih tempat duduk di dekat jendela. Mereka duduk berhadapan dan Kai tidak hentinya merasa senang karena ini pertama kalinya ia dapat makan secara berdua bersama Rae Yoo. Jika saja Rae Yoo dapat menerimanya, mungkin tidak akan ada kecanggungan diantara mereka setelah Kai mengungkapkan  perasaannya, namun apakah hanya dirinya yang merasa canggung?

“Apa ada hal yang menganggu pikiranmu?” tanya Kai khawatir.

“Aniyo.” Rae Yoo tersenyum namun Kai menangkap sepertinya ada hal yang disembunyikan dan tidak ingin mengatakannya sedikitpun, tetapi mungkin saja..

“Apakah ada masalah dengan Sehun?” tanya Kai yang berpikir mungkin ada hubungannya dengan Rae Yoo atas sikap Sehun tadi.

“Aniyo, sunbae.” Rae Yoo tertawa kecil akan banyaknya pertanyaan yang Kai lontarkan, “Tapi ada apa dengan Sehun oppa? Ia tidak menghubungiku sama sekali untuk berlatih seperti biasanya.” tanya Rae Yoo penasaran karena sepertinya Sehun menghindarinya sejak liburan mereka.

“Aku ingin mengobrol dengannya saat kelas berakhir, ia malah menghindariku dan menolakku dengan kasar. Kurasa ia sedang memiliki masalah dan tidak ingin di ganggu oleh siapapun.” Kai menjelaskan.

“Kuharap dia baik-baik saja, pastikan kau selalu ada disaat ia membutuhkanmu. Bukankah itu namanya sahabat?” Rae Yoo berusaha menenangkannya.

Kai mendapati dirinya merasa lebih nyaman, “Kau benar. Ahh, sering-seringlah berlatih dengan Sehun, kompetisi diadakan 3  minggu lagi.”

“Arraseoyo, sunbaenim.” Rae Yoo memberi hormat bak polisi, hingga Kai tertawa geli melihatnya.

“Sepertinya baru kali ini aku bisa membuatmu tertawa sangat lepas seperti itu.” ungkap Rae Yoo yang merasa berhasil.

“Hahaah, jinjja?” tanya Kai melihat wajah Rae Yoo hingga terhenti, “Chamkanman..” Kai sedikit mencondongkan tubuhnya dan meraih bulu mata Rae Yoo yang terjatuh dipipinya.

“Ahh.. bulu mataku~ gomawoyo sunbae!”

Kris dan Chanyeol melewati sebuah restoran dan melihat dua orang familiar di balik jendela yang tampaknya sudah semakin dekat sejak kepergiannya beberapa waktu lalu. Perasaan aneh ini yang selalu saja Kris rasakan saat Rae Yoo bersama lelaki lain, dan terselebung hasrat ingin menjauhkan mereka semua dari Rae Yoo.

“Astaga, si playboy Kim Jongin itu menggoda adikku lagi!” kesal Chanyeol dan ingin bergegas masuk memisahkan mereka.

“Yaa, jangan ganggu mereka.” Kris menahan Chanyeol untuk tidak gegabah.

“Apa kau tidak lihat, mengapa ia ingin kembali dengan seseorang yang telah membuatnya menangis, untuk pertama kalinya aku melihatnya sebodoh ini dalam urusan asmara.” Kris mendengar omelan Chanyeol dengan cermat namun sesuatu terlintas dikepalanya.

“Kau harus tahu satu hal bahwa aku tidak memiliki satu niat pun untuk menyukai lelaki di sekitarku. Aku menjelaskan hal ini agar kau tidak salah paham lagi. Dan Kim Jongin, jangan menyebut namanya di hadapanku lagi.”

“Mungkin ia tidak akan berubah pikiran jika aku tidak menghilang tiba-tiba.” gumam Kris.

“Apa maksudmu?”

“Masuklah, jangan gunakan kekerasan. Aku pergi duluan.” Kris tidak ingin berlama-lama, dan memilih segera meninggalkan tempat itu.

Chanyeol segera masuk kedalam restoran, tanpa berpikir apapun lagi, ia menghampiri meja Kai dan Rae Yoo berada, hingga Rae Yoo membulatkan matanya penuh kesenangan saat melihat Chanyeol mendekat.

“Oppa, yeogii!” pekik Rae Yoo hingga mengundang mata beberapa orang melihat ke arahnya. Chanyeol yang tadinya berjalan cepat, melambat melihat perubahan yang signifikan pada Rae Yoo.

“Bukankah anak itu tidak pernah berteriak ditempat umum dan benci dengan perhatian orang-orang sekitar. Apa yang terjadi dengannya?” bingung Chanyeol.

“Hyung, duduklah, apa kau sudah makan?” tanya Kai menarik tangan Chanyeol untuk duduk di sebelahnya.

“Huh?” Chanyeol masih berkutat dengan pikirannya.

“Yaa, Kai sunbae sedang bertanya. Apa yang sedang kau pikirkan?”

“HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAAA..” Chanyeol tertawa tiba-tiba hingga Kai dan Rae Yoo menatapnya heran.

“Woaaah, kau pasti benar-benar kelaparan sampai tak sadarkan diri.” ujar Rae Yoo sambil menggelengkan kepala tidak percaya sambil menyuapi kimbab ke mulut Chanyeol.

***

“Kudengar kau telah meneriaki seorang asisten dosen..”

Seperti biasanya mereka pulang bersama, namun tetap dengan keadaan tanpa Kris di dalam mobil. Pernyataan Chanyeol yang sangat tiba-tiba barusan membuatnya mendelik heran. Bagaimana Chanyeol yang berada di fakultas yang berbeda dengannya mengetahui hal itu?

“Mana mungkin..” Rae Yoo sama sekali tidak mempercayainya.

“Seluruh kampus mengetahuinya.” sahut Chanyeol sambil menyentuh layar ponselnya.

“Kalau kau ingin bercanda, ini bukan waktu yang tepat.” Rae Yoo berpikir Chanyeol melontarkan omong kosongnya lagi.

“Kupikir ini waktu yang tepat untuk bercanda. Berita ini sudah masuk ke ke forum kampus. Apa kau tidak memeriksanya?” Chanyeol terkekeh geli kemudian menoleh kebelakang dan memperlihatkan ponselnya pada Rae Yoo.

“MWOYAAA???!!!” kali ini teriakan Rae Yoo membuat supir mereka terlonjak kaget.

“Waah lihatlah bagaimana Kris hyung menahan erat tanganmu! Yaaa tunggu apa lagi, kapan kalian akan bersatu dan menjadi pasangan. Kalian bahkan sangat cocok saat berdua seperti ini!” seru Chanyeol  semangat hingga Rae Yoo menatapnya sumringah.

“Lalu kapan kau akan terlihat sangat cocok dengan Hyemin-mu? Ngomong-ngomong Hyemin-mu sudah pergi kemana lagi?” Rae Yoo mengeluarkan kata-katanya dengan tepat seolah peluru sudah di lontarkan tepat sasaran.

“Mengapa kau pintar sekali menembak balik musuhmu?” keluh Chanyeol merasa sedih.

“Sepertinya kita kedatangan tetangga baru..” gumam Chanyeol. “Pak, berhenti di rumah Rae Yoo saja. Bapak bisa langsung pulang ke rumah.”

“Baiklah, tuan.”

“Mau apa kau ke rumahku?”

“Itu rumah orang tuamu, bukan rumahmu.”

“Aku ingin sekaligus menyambut tetangga baru.”

Chanyeol segera turun dari mobil dan menghampiri seorang anak lelaki yang masih berdiri diluar rumah barunya.

“Chogii.. Apa kau yang akan tinggal disini?”

“Ne, majayo.”

“Kalau begitu, salam kenal, aku tetangga barumu, Park Chanyeol, rumahku berada disana, dan…” Chanyeol melihat ke mobil menunggu Rae Yoo keluar. “YAA apa yang kau lakukan, cepatlah keluar!”

“Kau itu seperti seorang ajhumma, hentikanlah mulutmu itu.” kesal Rae Yoo sambil membanting pintu mobil dengan keras dan berjalan menghampiri Chanyeol.

“Dan ini Kang Rae Yoo, sepupuku, rumahnya tepat disebelah kiri rumahmu.”

“Annyeong..” sapa Rae Yoo kaku, sempat terpaku akan tampang imut lelaki itu saat tersenyum dan menganggapnya semakin imut karena memakai seragam sekolah.

“Aku Jeon Jungkook. Salam kenal.”

“Waah, nama yang bagus. Akan menyenangkan jika kau bisa dekat denganku, kau bisa menjadi adikku. Aku sudah bosan dengan gadis ini, dia selalu tidak mendengarku dengan baik.” Chanyeol tidak berniat menghentikan kata-katanya yang mengalir begitu saja dari mulutnya.

“Yaa Park Chanyeol! Kau itu ajhumma atau anak kecil, berisik sekali!!” Rae Yoo tidak tahan mendengar celotehan Chanyeol. Harusnya ia tidak menyakiti hati Chanyeol jika ia tidak ingin melihat tingkah Chanyeol yang menjadi talkactive 150% sebagai pertahanan dirinya untuk tidak menjadi sedih.

“Ahh baiklah, aku bisa menjadi hyung-mu dan gadis ini bisa menjadi nuna-mu, mengerti?”

“Ahh ne, kamsahamnida.” lelaki itu hanya mengangguk, melihat pertengkaran antara sepupu itu sangat menggelikan hingga membuatnya tersenyum.

“Jeon Jungkook, jangan dengarkan lelaki itu, dia sangat berbahaya. Jika kau perlu sesuatu, aku akan menolongmu.” ujar Rae Yoo menarik lengan Chanyeol dengan mencubitnya sambil berjalan masuk ke dalam rumahnya.

“Kwiyowo..” gumam lelaki berseragam sekolah itu melihat Rae Yoo yang berlalu sambil menyunggingkan senyumnya.

***

Rae Yoo bersumpah untuk terakhir kalinya mengunjungi lapangan basket ini. Ia memiliki jadwal kosong di tengah hari sebelum makan siang dan kemudian akan masuk ke kelas setelahnya. Ia mungkin sudah gila, namun tidak menghentikan niatnya dan tidak berharap akan ada Kris di dalam sana. Ia membuka pintu secara perlahan, berusaha untuk tidak menimbulkan bunyi apapun. Dengan celah yang tidak terlalu kecil, ia mendengar secara jelas dentuman bola yang dimainkan, membuatnya penasaran dan melongokkan kepalanya mencoba melihat siapa yang berada di dalam. Matanya membulat ketika menemukan seorang lelaki tinggi kurus dengan alis yang tebal yang sangat di kenalnya.

“Apa dia tidak memikirkan perasaanku dan kini seenaknya bermain basket?” geram Rae Yoo dengan kepalan tangannya yang di remas kuat hingga kukunya memerah.

“Untuk apa dia di sana? Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, ini terakhir kalinya aku kesini. Aku tidak boleh membatalkannya!” kakinya menginjak-injak lantai dengan emosinya yang berada di ubun-ubun.

“Harga diriku lebih tinggi darinya!” ia menepuk dadanya dengan penuh keyakinan. “Tapi kenapa dia harus disana?!” Rae Yoo memegang kepalanya yang tidak sakit namun kebingungan untuk bertindak.

Rae Yoo membuang napasnya dengan keras dan langsung membuka pintu itu dengan lebar hingga menimbulkan bunyi bising. Lelaki itu langsung menghentikan permainannya dan menoleh ke arah pintu dengan memasang wajah terkejut. Rae Yoo langsung menutup pintu tersebut dan berjalan ke arah tribun.

“Untuk apa kau kesini?” Kris membuka suara.

“Mencari bendaku yang hilang.” jawab Rae Yoo setengah berteriak. “Mendengar suaranya saja sangat mengganggu telingaku.” umpatnya dengan bergumam, namun terdengar oleh Kris.

“Kupikir kau ingin bermain bersamaku. Lagi.” dengan kata-kata penuh penekanan.

Rae Yoo langsung menoleh melihat Kris di tengah lapangan “Bukankah kita tidak saling kenal? Ahh tunggu, apa aku mengenalmu?” ucapan Rae Yoo terdengar sarkartis bagi Kris.

“Ingatanmu sepertinya melemah.” tandas Kris.

“KAU!!” teriak Rae Yoo tidak sanggup menahan emosinya. “Inilah mengapa aku tidak ingin mengenalmu lagi!”

“Akhirnya ingatanmu sudah membaik.”

“Anggap aku tidak ada. Aku sedang mencari bendaku, kemudian aku akan pergi.” Rae Yoo mengacuhkannya, dan kembali dengan kesibukannya yang palsu, mencari bendanya yang sama sekali tidak hilang.

“Mencari bendamu? Apa kau pernah datang kemari disaat aku tidak disini?” Kris bertanya-tanya.

“Aku bahkan tidak tahu mengapa aku harus berpura-pura. Sebaiknya aku harus cepat-cepat keluar dari sini.” pikir Rae Yoo kemudian beranjak dan berjalan ke arah pintu, mengabaikan Kris yang langsung menghentikan permainannya karena melihat ia akan pergi.

Rae Yoo berbalik saat memegang kenop pintu, “Semoga kita tidak akan bertemu lagi.” lalu membuka pintu, “Wah, sepertinya teman-temanmu akan datang kemari.”

Kris membulatkan matanya terkejut, kemudian ia berlari dengan cepat sambil meraih pergelangan tangan Rae Yoo dan membawanya ke ruang ganti. Rae Yoo keheranan setengah mati bahkan nafasnya tertahan di tenggorokan, kenapa Kris menariknya seperti koper yang tidak ada isinya? Kris masih memegang erat pergelangan tangannya selagi mencari-cari suatu tempat untuk mereka bersembunyi hingga akhirnya menemukan gudang dan mereka masuk ke dalam.

Rae Yoo sibuk mengatur pernafasannya hingga matanya melihat tangannya yang masih di pegang erat oleh Kris. Degup jantungnya memang berdebar keras karena kelelahan, namun semakin bertambah hanya karena sentuhan dari Kris.

“YAAA! Apa kau tidak tahu sedang menarik siapa, hah?!! Jelaskan mengapa tiba-tiba kau menarikku kesini?!” Rae Yoo meledak meminta penjelasan, ia sudah sangat kelelahan karena dipaksa berlari-lari.

“Bisakah sebentar saja kau menutup mulutmu dan aku akan menjelaskan hal ini nanti?”

“Mencurigakan sekali, apa yang telah kau lakukan selama kau pergi, eo?”

“Aku minta kau diam!” Kris mengangkat telapak tangannya untuk menutup mulut Rae Yoo namun gagal karena Rae Yoo dengan sigap menepis tangannya.

“Lihat, aku tidak menyangka kau seburuk ini.” gusar Rae Yoo dan Kris tidak menggubrisnya karena mendengar derap langkah kaki yang mendekat ke arah ruangan mereka.

“Aku tidak punya kesalahan apa-apa, jadi untuk apa aku bersembunyi, aku keluar!” seru Rae Yoo hendak melangkah dan Kris langsung menariknya dengan paksa ke belakang pintu hingga wajah mereka saling berdekatan.

Dengan kekuatan yang tidak diduganya, Rae Yoo dengan panik langsung mendorong tubuh Kris hingga ia jatuh terduduk begitu saja. Rae Yoo terkejut saat mendengar suara orang berdatangan terdengar di luar sana dan segera menarik tangan Kris, membantunya berdiri karena tampak ia tidak sanggup melakukannya sendiri dan bersembunyi di balik pintu.

“Kenapa pintu gudang tidak terkunci?”

“Kupikir pintu ini tidak rusak.”

Pintu segera ditutup dan terdengar suara kunci memutar pada kenop pintu. Rae Yoo memasang wajah resah, baru kali ini seumurnya hidupnya ia terkunci di dalam sebuah ruangan. Kris yang masih merasa sakit di bagian pantatnya karena terjatuh tadi hanya mendekati pintu dan mencoba memutar kenop, ia langsung membulatkan mata, memberikan reaksi yang terlambat daripada Rae Yoo.

“Bagaimana kita bisa keluar?”

“Bodoh, mengapa kau bermain basket secara sembunyi-sembunyi jika akhirnya akan seperti ini? Mengapa kemarin kau pergi begitu saja setelah kita bertengkar? Mengapa kau banyak sekali menyimpan rahasia dariku? Mengapa kau terus membuatku bingung hingga aku merasa banyak sekali kesalahpahaman diantara kita? Mengapa ada banyak hal yang tidak aku ketahui tentangmu?!”

– TBC –

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s